
🌹HAPPY READING🌹
Kenzo, Dee, Ibra, Kevin dan Yana pergi ke tempat dimana kursi roda Zahra ditemukan. Setiap langkah kaki mereka diiringi detak jantung yang tak karuan. Doa selalu terucap dalam diri mereka semua. Kekhawatiran menyelimuti hati mereka.
Ya Allah, selamatkan anakku. Batin Sofia cemas. Tangannya terus menggenggam erat tangan Kevin yang juga diselimuti kekhawatiran yang tidak ketara.
Dee mengedarkan seluruh pandangannya. Matanya selalu dihiasi pemandangan kumuh akibat banjir. Mata Dee memanas melihat keadaan rumah Yana. Mereka memang melewati rumah Yana saat ini. "Mas," panggil Dee menoleh kepada Ibra.
"Iya Sayang," jawab Ibra ikut menoleh.
"Nanti kita masuk ke rumah itu, ya Mas," ucap Dee sambil menunjuk rumah Yana dengan suara bergetar menahan segala tangisnya.
"Itu rumah siapa?" tanya Ibra mengikuti arah tunjuk Dee.
"Rumah saya," jawab Yana yang mendengar pertanyaan Ibra.
Mereka semua yang mendengar itu menghentikan langkahnya. Kenzo ikut menoleh pada rumah yang sudah kumuh itu. "Bisakah kita singgah ke rumah itu nanti?" tanya Kenzo pada Yana.
Yana mengangguk. "Jika keadaanya masih baik, maka kamu bisa melihat semua barang istrimu disana," ucap Yana sendu.
Mereka semua mengangguk mengiyakan perkataan Yana. Setelah itu langkah kaki beberapa orang yang sangat menyayangi Zahra itu kembali berlanjut ketempat tujuan utama mereka.
Sepuluh menit, tim penyelamat wanita yang mengantar mereka memberhentikan langkahnya. "Dibalik terpal itu ada semua barang yang kami temukan," ucap Wanita itu dengan bahasa Yaman kepada Yana dan Dee.
Dee menarik tangan Sofia agar ikut melihat barang-barang tersebut. "Apa ini semua barangnya Dee?" tanya Sofia sendu.
Dee memandang Sofia sayu. Dia mengangguk menjawab pertanyaan Sofia. Tidak sanggup rasanya jika harus berucap untuk saat sekarang ini. Ibra, Kenzo dan Kevin membiarkan Dee dan Sofia membuka penutup tersebut.
"Boleh aku buka ini?" tanya Dee kepada tim penyelamat wanita tersebut.
Wanita tersebut mengangguk. Dee menggenggam erat tangan Sofia, seolah mereka saling memberi kekuatan untuk melihat apa yang akan mereka ketahui saat ini juga.
Dengan tangan bergetar dan perlahan Dee menyingkap penutup tersebut. Tangis Sofia pecah saat matanya menangkap roda kecil yang dia ketahui itu adalah bagian dari kursi roda Zahra.
Dee mengikuti pandangan Sofia. Dengan segala kekuatan dia menahan air mata agar tidak keluar. Dee menyingkap seluruh penutup tersebut. Dan benar saja, kursi roda milik Zahra masih utuh, namun dengan posisi yang terbalik.
"Umi," panggil Kenzo sendu pada Dee.
Dee menoleh pada Kenzo. "Ini belum membuktikan Zahra tidak selamat, Nak," ucap Dee menguatkan mereka semua.
Kenzo berjalan mendekat dan mengambil kursi roda. tersebut. Dia meletakkan kursi roda dengan posisi yang benar. Matanya meneliti setiap inci kursi roda tersebut.
"Ini milik Zahra, Umi, Bunda," ucap Kenzo sendu saat melihat sebuah ukiran di bagian bawah pegangan kursi roda tersebut.
"Ukiran ini adalah ukiran yang Kenzo buat waktu Kenzo melarang Zahra menggunakan kursi roda ini dirumah kami, Umi, Bunda. Maaf," ucap Kenzo menyesal.
'Aku Mencintaimu' itulah tulisan yang ada di sana. Kenzo ingat sekali, ini adalah tulisan yang dia buat saat pertama kali sifatnya dan kata-katanya melukai Zahra dengan sangat dalam.
"Masih ada harapan Zahra buat selamatkan, Umi, Bunda?"tanya Kenzo menatap sendu dengan tangis yang sudah tak bisa dia tahan.
Dee dan Sofia hanya diam. Mereka tidak tahu harus memberi harapan bagaimana lagi. Tapi satu hal yang pasti, harapan itu akan selalu ada diiringi dengan doa yang selalu terucap di hati mereka.
Melihat Dee dan Sofia yang hanya diam, Kenzo beralih pada Ibra dan Kevin yang berdiri diam di belakangnya.
"Abi, Ayah, masih ada harapan Zahra untuk selamatkan?" tanya Kenzo dengan suara bergetar.
Sedangkan Ibra hanya diam melihat semuanya. Ingin sekali menangis mengatakan pada dunia bahwa anaknya pasti selamat. Ingin sekali dia berteriak bahwa anaknya adalah anak yang kuat, hingga tidak ada yang bisa mengambilnya selain Allah yang berkuasa.
Dee yang melihat segala kesedihan Ibra, melepaskan tangannya pada Sofia dan beralih mendekati Ibra. "Mas," panggil Dee sambil menggenggam lembut tangan Ibra.
Ibra memejamkan matanya menahan segala gejolak kesedihannya. Sebelah tangan Dee terulur menghapus air mata yang jatuh di pipi Ibra.
Ibra membuka matanya begitu merasakan sentuhan lembut Dee pada wajahnya. Dia mencoba tersenyum melihat Dee yang juga menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ibra membawa Dee kedalam pelukannya. Hanya dengan ini dia bisa mendapatkan kekuatan baru untuk segala kesedihannya. "Aku harus kuatkan, Sayang," ucap Ibra.
Dee mengangguk. Dia sedih melihat suaminya seperti ini, tapi mereka harus saling menguatkan bukan. "Aku harus jadi Abi yang kuatkan, sayang," lanjut Ibra yang lagi-lagi dibalas anggukan kepala oleh Dee.
"Aku baik-baik saja," ucap Ibra sendu dengan suara bergetar diujung katanya.
"Hiks, Zahra pasti selamat," ucap Dee dengan tangannya yang gak tertahan. Ibra hanya bisa diam dan mengangguk sambil terus memeluk Dee.
Kenzo berdiri dengan mengusap air matanya kasar. "Kenzo pergi sebentar," ucap Kenzo melangkah kakinya.
"Kami menemukan mayat seorang wanita di ujung sana," ucap salah satu tim penyelamat yang datang tiba-tiba.
Langkah Kenzo langsung terhenti. Dia tidak mengerti apa yang tim penyelamat itu katakan. Tapi tiba-tiba saja perasaanya tidak enak mendengar perkataan dalam bahasa Yaman tersebut.
"Dia bilang apa, Bibi?" tanya Kenzo lembut pada Yana.
Dee dan Yana saling pandang. Seolah mereka ragu untuk mengatakan hal tersebut. "Dia bilang apa, Sayang?" tanya Ibra.
"Dee, dia bicara apa?" tanya Sofia ikut penasaran.
Dee dan Yana memandang mereka semua. Tangan Dee berkeringat dingin hendak menyampaikannya. Begitu juga dengan Yana yang sudah tak tenang berdiri di tempatnya.
"Me-mereka menemukan mayat seorang wanita di ujung sana," ucap Yana pelan.
"Antar kami kesana," ucap Ibra tanpa pikir panjang lagi.
Kenzo masih terdiam mematung di tempatnya. Dia berusaha menepis segala prasangka buruk yang ada di hatinya.
"Ayo Kenzo," ajak Kevin.
Kenzo menggeleng kuat. "Kenzo harus cari Zahra, Ayah," ucap Kenzo.
Kevin menahan tangan Kenzo yang hendak pergi. "Kita harus memastikan mayat tersebut," ucap Kevin pelan.
"Tidak Ayah. Tidak ada yang perlu dipastikan. Dia bukan Zahra. Istri Kenzo sekarang menunggu kedatangan Kenzo untuk menyelamatkannya, Ayah. Kenzo harus pergi," ucap Kenzo melepaskan tangan Kevin dan memilih pergi ke arah yang berbeda dengan mereka semua.
Semoga segala prasangka baikmu adalah benar, Kenzo. Semoga Zahra, gadis kuat kita dalam keadaan baik-baik saja. Batin Dee yang melihat kepergian Kenzo.
......................
Akhirnya aku update lagi. Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Aku mau mengucapkan mohon maaf lahir batin ya teman-teman. Semoga kita kembali suci setelah melewati ramadhan penuh berkah ini. Semoga kita semua bisa berjumpa dengan ramadhan tahun depan, dan pastinya kalian kembali bertemu dengan tulisan-tulisan aku berikutnya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz