Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 137



🌹HAPPY READING🌹


Tidak mau menggangu Zahra karena suara mereka berdua, Kenzo menggendong Sela keluar kamar dan menutup pintu kamarnya. "Ini sudah tengah malam, Nak. Tadi Sela udah makan malam juga," ucap Kenzo.


"Lapal Ayah. Cela mau makan nasi goreng buatan Ayah," ucap anak itu memelas dengan wajah sayunya.


"Tunggu besok pagi, ya," bujuk Kenzo.


"HUWWAAAA BUN-"


"Iya-iya, kita makan nasi goreng. Ayo ke dapur," final Kenzo menutup mulut mercon anaknya itu dengan telapak tangannya.


Sela tersenyum senang menatap Ayahnya dengan senyum tak jelas. "Kenapa?" tanya Kenzo heran.


"Jangan banyak tanya, Ayah. Ayo melangkah ke dapul cegela," ucap Sela.


"Cegel cegela cegela, S-E-G-E-R-A," ucap Kenzo meledek Sela sambil memperjelas ejaan huruf kata yang Sela sebutkan.


Sela mendelik tajam menatap Ayahnya itu. Kenzo benar-benar tahu kelemahannya yang tak bisa menyebutkan kalimat yang memiliki huruf 'R' dengan benar.


"Nah, kamu duduk disini, oke. Biar Ayah sendiri yang masak," ucap Kenzo mendudukkan Sela di meja pantry.


"Karena kalau kamu ikut bantuin, dapur ini bisa jadi kapal pecah dan Ayah yang akan kena omel Bunda," lanjut Kenzo terus mengoceh sambil mengambil bahan-bahan yang dia perlukan untuk nasi gorengnya.


Sela hanya menatap Kenzo dengan mata yang terus mengikuti setiap pergerakan Ayahnya itu. Dia mengusap-ngusap perutnya yang sudah terasa sangat lapar.


"Macih lama, Ayah?" tanya Sela pelan.


"Ayah baru akan mengupas bawang dan kamu tanya masih lama? Tahun depan selesainya!" jawab Kenzo ketus pada anaknya itu.


"Nanti aku tinggal bilangin Buna kalau Ayah malah-malah," ucap Sela mengancam.


"Ngancam telus," cibir Kenzo.


"Kalau bica, kenapa enggak," jawab Sela bangga.


Setelah itu mereka berdua hanya diam. Sela dengan tenang memperhatikan nasi goreng yang ada di dalam wajah.


Tiga puluh menit, nasi goreng ala Kenzo selesai. Kenzo menatap berbinar nasi goreng yang sudah dia pindah ke piring.


"Kok pilingnya dua, Ayah?" tanya Sela.


"Ayah kan juga mau makan," jawab Kenzo yang mengangkat piring itu untuk diletakkan di meja makan.


"Ayo turun, saatnya menikmati makanan chef Kenzo," lanjut Kenzo yang langsung dituruti oleh Sela.


Gadis kecil itu meloncat dengan sempurna dari meja pantry. "Benar-benar anak monyet. Jago banget loncat sama gelantungan," ucap Kenzo yang mendapat senyum Pepsodent dari Sela.


"Ayahnya juga monyet, belalti anaknya monyet juga," ucap Sela yang membuat Kenzo mendelik kesal.


"Ayo sini duduk," ucap Kenzo menggeser kursi agar Sela bisa duduk.


"Terimakasih, pelayan," jawab Sela sopan bagaikan seorang putri yang dilayani oleh pelayan pribadinya.


"Sama-sama, Nona Putri," ucap Kenzo menuruti keusilan Sela.


Satu ide terlintas dipikiran anak itu saat dia melihat Kenzo akan menyendok nasi goreng ke mulutnya. Sela langsung turun dari kursi dan kembali berjalan ke dapur. Tidak lama, dia kembali dengan sesuatu ditangannya.


"Cela mau, Ayah makan pakai ini," ucap Sela dengan senyum sumringah memberikan sumpit pada Kenzo.


"Uhuk, uhuk," Kenzo tersedak mendengar perintah Sela dan menatap sumpit itu. Yang benar saja, mana bisa dia makan nasi goreng dengan sumpit. Bisa-bisa subuh nasi goreng ini baru habis olehnya.


"Mana bisa, Nak? Kalau makan mie atau yang lain tidak apa pakai sumpit," ucap Kenzo lembut mengatakan pada Sela.


Mata anak itu berkaca-kaca mendengar penolakan Kenzo. Bibirnya melengkung kebawah bersiap mengeluarkan tangis kerasnya.


"Oke, oke. Ayah makan pakai sumpit," final Kenzo mengalah. Dan detik itu juga, bibir yang tadinya melengkung ke bawah itu kembali terangkat keatas dan menunjukkan senyum sumringahnya.


Dengan kesal, Kenzo memakan nasi gorengnya, sedangkan Sela makan dengan senyum manisnya. Anak itu seakan tidak terpengaruh oleh wajah masam sang Ayah yang seperti siap untuk menerkamnya.


Sela mengerjapkan matanya polos menatap Kenzo. "Tulunan Ayah."


.....


Kini keluarga kecil itu sedang berada di dalam mobil perjalanan menuju sekolah Sela.


Zahra heran dengan anak dan suaminya yang masih nampak mengantuk. Terbukti dengan mata mereka yang sesekali terpejam. Itu nampak lucu bagi Zahra, apalagi saat ini Sela sedang berada di atas pangkuan Kenzo yang memeluk Ayahnya itu layaknya anak koala.


Kenzo memutuskan untuk menggunakan sopirnya hari ini. Tidak baik baginya menyetir dalam keadaan mengantuk seperti ini.


"Kalian kenapa sih? Kok kayak masih ngantuk gitu?" tanya Zahra yang memang tidak tahu apa yang terjadi semalam.


Kenzo dan Sela kompak menggeleng. Mereka ke Bali membuka mata yang tadi terpejam. "Macih jauh cekolahnya, Buna?" tanya Sela.


"Sebentar lagi sampai, Nak," jawab Zahra.


Tidak sampai lima menit, mobil Kenzo sampai di gerbang sekolah Sela.


"Kami pamit, ya Mas," ucap Zahra. Sedangkan Sela, anak itu masih berdiri sempoyongan karena mengantuk.


Kenzo menatap sekeliling. Matanya kembali segar setelah tadi minum beberapa teguk air mineral. Rasa kantuknya tidak separah Sela. Karen baginya, begadang sudah hal yang biasa dia lakukan.


Mata Kenzo berhenti menatap Nita yang berjalan bersama anaknya memasuki sekolah. "Sayang," panggil Kenzo lembut.


"Iya Mas," jawab Zahra.


"Jika perempuan kemarin kembali berulah, kamu hubungi aku, ya," ucap Kenzo.


"Dia nggak berani macam-macam setelah kejadian kemarin, Mas," ucap Zahra. Meskipun Nita macam-macam, dia yakin pasti akan banyak yang membelanya mulai sekarang ini setelah mereka semua tahu siapa dia dan Sela.


Tapi aku tidak bisa tinggal diam, Sayang. Mulut wanita itu benar-benar minta diberi pelajaran. Batin Kenzo.


"Yasudah, kalau gitu aku sama Sela masuk dulu, ya Mas," ucap Zahra pamit.


Kenzo mengangguk. Dia sedikit membungkukkan badannya menciumi wajah Sela. "Belajar yang rajin, Sayang," ucap Kenzo yang hanya dianggukki cepat oleh Sela.


Setelahnya, Kenzo beralih mencium dahi dan kedua pipi Zahra. "Sudah, kalian masuklah," ucap Kenzo.


"Assalamu'alaikum."


"Acalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Kenzo pelan dan dia kembali memasuki mobil setelah memastikan Zahra dan Sela benar-benar hilang dari pandanganya.


.....


Kenzo sampai di kantornya dengan selamat. Langkah kaki tegas itu membawanya ke ruangannya yang berada di lantai dua puluh lima.


"Masuk ke ruangan saya, Arman," ucap Kenzo saat melihat Arman yang berdiri di depan pintu menyambut kedatangannya.


Dengan patuh Arman menurut dan berjalan mengikuti Kenzo.


"Aku ada tugas untukmu, Arman," ucap Kenzo tanpa basa-basi. Bahkan, lelaki itu tidak mengucapkan selamat pagi sedikitpun pada Arman atau sapaan yang lainnya.


Arman juga tidak protes, dia sudah tahu bagaimana kebiasaan bosnya itu yang tidak suka bertele-tela. "Tugas apa, Tuan?" ucap Arman sopan.


"Aku ingin kau selidiki orang ini beserta keluarganya," ucap Kenzo memberikan sebuah foto kepada Arman.


"Aku mau informasinya nanti siap."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏