
🌹HAPPY READING🌹
"Jangan gunakan perasaanmu di dalam sana. Manfaatkan akal dan pikiran kamu demi keadilan kita semua," ucap Ibra.
Dee mengangguk. Meski hatinya ragu, tapi dia ingin memastikan sendiri keadaan Sofia.
Sejahat apapun wanita, dia pasti lebih mendahulukan perasaan, Mas. Maaf. Batin Dee saat mereka semua berjalan memasuki tempat eksekusi Sofia.
Mereka semua memasuki ruangan tersebut. Dee menegang melihat Sofia, sedangkan yang lainnya hanya diam tanpa peduli ataupun kasihan kepada wanita itu. Keadaan Sofia sungguh sangat memprihatinkan, kedua tangannya di borgol ke depan hingga menimbulkan sedikit bekas memar. Bahkan, hijab yang biasa menutupi mahkotanya kini sudah lepas dari kepalanya. Rambut wanita itu sudah nampak acak-acakan. Sofia duduk dengan kepala tertunduk dalam di dampingi oleh Polisi wanita di kanan kiri, serta depan belakangnya.
"Sofia," panggil Dee pelan.
Sofia yang mendengar suara memanggilnya seperti bisikan mengangkat kepalanya. Lingkar hitam di sekitar mata, wajah yang penuh lebam dan tubuh yang kurus drastis membuat wajahnya nampak sangat cekung sekali.
Ternyata seburuk ini hukuman, Ya Allah. Batin Dee tak kuat melihat keadaan Sofia.
"Dee," ucap Sofia lirih. Suara wanita hampir tak keluar, lebih terdengar seperti bisikan.
"Bu Polisi, bisa aku bicara dengannya?" pinta Dee pada Polisi yang ada disana.
"Sayang," Panggil Ibra protes.
"Izinkan walau hanya sebentar, Bu Polisi," ucap Dee tetap memohon tanpa menghiraukan peringatan Ibra.
"Anda masih punya waktu, Nyonya. Silahkan," ucap Polisi tersebut mempersilahkan Dee.
Dee berjalan mendekat ke arah Sofia dan duduk berhadapan dengan wanita itu.
Dee mengamati lama wanita di depannya. Pandangannya tak lepas dari wajah Sofia yang nampak menunduk.
"Sofia," panggil Dee.
"Apa kau jijik melihatku, Sofia?" tanya Dee pelan.
"Umi."
"Sayang."
"Dee."
Secara bersama Al, Aska, Kenzo, Kevin dan Ibra memberi protes keras atas perkataan Dee. Jijik? Yang benar saja, harusnya mereka yang jijik melihat wanita ular itu.
Sofia menggeleng lemah dengan kepala yang setia menunduk. "Aku malu, Dee," ucap Sofia dengan suara lirih.
"Bahkan rasanya tidak ada wanita yang lebih hina dari aku, Dee," lanjut Sofia.
Dengan perlahan Sofia mulai mengangkat kepalanya. Dia menatap Dee yang nampak tulus menatapnya. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Dee. Apa kamu tidak jijik melihat keadaan wanita tua yang tidak tahu diri ini?" tanya Sofia sendu.
"Aku memang marah atas perbuatan mu, Sofia. Tapi satu hal yang membuatku berterimakasih padamu," jawab Dee.
"Terimakasih? Bahkan kata itu saja rasanya sangat tidak pantas aku dapatkan, Dee," ucap Sofia.
Dee menggeleng. "Aku berterimakasih karena kau merawat Zahra meski dengan terpaksa," jawab Dee menatap dalam mata Sofia.
Sofia membalas tatapan Dee. Matanya berkaca-kaca ketika mendengar nama Zahra. Anak yang dia jadikan alat untuk melampiaskan rasa iri, benci dan dengkinya terhadap Dee. Sungguh, tidak ada penyakit hati yang lebih berbahaya selain itu.
"Bagaimana keadaan Zahra, Dee?" tanya Sofia dengan suara bergetar. Dia ingat, terakhir kali dia melihat Zahra bersimbah darah karena ulahnya. Bagaimanapun juga, se benci apapun dia terhadap Zahra, tidak bisa Sofia pungkiri, senyum di bibirnya pernah terbit karena tingkah anak itu.
"Anakku baik-baik saja, Sofia," jawab Dee yang membuat Sofia terdiam dan tersenyum.
Sofia mengangguk. "Dia sangat pantas memiliki mu sebagai Ibu, Dee," ucap Sofia.
"Dee," panggil Sofia lirih.
Mata Dee berkaca-kaca mendengar perkataan Sofia. Sedangkan Al, dia berdecak jengah. "Muka dua!" umpat Al terlanjur dengan sakit hatinya kepada Sofia.
"Aku memang bermuka dua. Tapi mohon, jangan hina hijab ini. Hina aku yang berperilaku iblis, bukan mahkota suci ku," ucap Sofia menatap Dee yang mengangguk membalas tatapannya.
Dee tidak menghiraukan umpatan Al. Dee mengangguk mengiyakan permintaan Sofia. Polisi wanita yang ada disana mengambil sebuah hijab instan yang tergelatak di sebelah kursi yang diduduki Sofia. "Kami sudah mencoba memasangkannya, tapi dia selalu memberontak," ucap Polisi wanita yang memberikan hijab tersebut kepada Dee.
"Karena aku menunggumu, Dee. Aku percaya kau pasti datang. Aku ingin kau yang memasangkannya," ucap Sofia menyampaikan alasannya kepada Dee.
Dee mengangguk dan menerima hijab tersebut.
"Jangan berlutut, Dee," ucap Sofia mencegah Dee yang akan bersimpuh agar bisa dengan mudah memasangkan hijab di kepala Sofia.
Sofia menjatuhkan tubuhnya dari kursi dan bersimpuh didepan Dee. "Pasangkan Dee," ucap Sofia mendongak menatap Dee.
Dee mengangguk. Air matanya sudah tak dapat lagi dia tahan melihat keadaan Sofia.
"Kamu cantik, Sofia," ucap Dee selesai dan merapikan sedikit hijab yang Sofia gunakan.
"Terimakasih banyak, Dee. Bagaimanapun juga, ini adalah mahkota yang sudah aku gunakan sejak kecil," ucap Sofia yang dibalas anggukkan oleh Dee.
Sofia kembali duduk dibantu Polisi, dan Dee kembali duduk di kursinya.
"Al," panggil Sofia lirih.
Al hanya diam dan memandang wanita itu. "Maaf atas setiap air matamu dulu, Al. Maaf telah merusak masa kecilmu, Nak," ucap Sofia tulus.
Al yang mendengar itu hanya diam dengan tangan terkepal.
"Ibra, maaf sudah membuatmu menjadi orang jahat selama ini. Maaf telah membuatmu menjadi korban sekaligus tersangka, Ibra. Maaf telah menghancurkan rumah tanggamu. Hukum mati ini adalah permintaanku, Ibra, karena aku sangat pantas mendapatkannya," ucap Sofia beralih menatap Ibra.
Selesai itu, pandangan Sofia beralih pada seorang lelaki yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. "Maaf," ucap Sofia menatap sendu Kevin. Lelaki yang sudah dengan ikhlas menerima dirinya dan memberikan cintanya.
Kevin mengalihkan pandangannya mengindari tatapan Sofia.
Sofia mencoba tersenyum dan menatap Kevin. "Jangan lihat aku, Mas. Aku merasa hina saat ini. Terimakasih atas segala cinta tulus mu, Mas. Terimakasih atas segala kasih sayang dan perhatian mu. Dan maaf, karena gagal menjadi istri terbaik kamu, Mas. Kamu harus memiliki pengalaman buruk karena beristrikan aku. Maaf," ucap Sofia tertunduk dalam.
"Maaf, eksekusi harus segera dilakukan," ucap Polisi itu tegas.
Tanpa ada yang protes, Sofia berjalan di tuntun eh Polisi ke tengah ruangan dan berdiri di dalam lingkaran merah sebagai tempatnya saat ini.
"Apa hukuman ini tidak bisa diganti dengan penjara seumur hidup?" tanya Dee pada mereka semua sebelum pengeksekusi melakukan tugasnya.
"Jangan langgar janjimu, Sayang," ucap Ibra mengingatkan Dee kembali untuk tidak menggunakan perasaanya.
"Dia yang meminta hukuman ini, Dee. Jadi biar dia bertanggung jawab atas semuanya. Aku pun sakit, Dee. Tapi ini yang harus dia terima. Kita memang memaafkannya, tapi hukum harus tetap berjalan. Rasa kemanusiaan sudah tidak bisa lagi mentolerir perbuatannya. Aku memang mencintainya, oleh karena itu semoga saja ini bisa membayar sedikit kesalahannya. Kepergiannya akan lebih baik untuk kita semua, Dee," ucap Kevin menatap Sofia yang kini menatapnya sendu saat mendengar perkataan Kevin.
.....
Sedangkan dirumah sakit, Zahra tidak hentinya melantunkan dzikir dengan butiran tasbih yang silih berganti di tangannya. Air matanya menetes seiring dengan perasaan kehilangan yang menyeruak di dalam hatinya.
Zahra memandang jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga menit. Itu artinya eksekusi itu telah dilakukan. Zahra memejamkan mata membiarkan air bening itu terus membasahi pipinya.
Allahumma fighfirlii wa liwaa lidhayya warham humaa kamaa rabbayaa nii shokhiroo. Batin Zahra menangis sambil mengucap doa untuk wanita yang selama hidup dia anggap sebagai Bundanya.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏