
🌹HAPPY READING🌹
.
.
.
"Bukankah kamu sudah berjanji untuk memilih anak kita, Mas?" tanya Zahra lagi.
"Maaf karena aku nggak bisa kehilangan kamu, Sayang," jawab Kenzo menunduk.
"LALU BAGAIMANA AKU YANG KEHILANGAN ANAK-ANAK AKU, MAS?!" teriak Zahra tak terima mendengar jawaban Kenzo.
"Anak kita, Sayang," ucap Kenzo sendu menatap istrinya yang sudah menatap marah itu.
"Kamu egois. Kamu membunuh anak aku, Mas. Kamu menyia-nyiakan kehadiran mereka, Mas," ucap Zahra dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Sayang," panggil Kenzo lembut hendak menyentuh pipi Zahra. Namun, belum tangan Kenzo menyentuh pipinya, Zahra sudah lebih dulu memalingkan wajahnya.
"Tinggalkan saya sendiri!" teriak Zahra tegas tanpa mau di bantah.
Kenzo menggeleng kuat. "Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri dalam keadaan seperti ini, Sayang," jawab Kenzo berusaha lembut.
PRANG.
"KELUAR!" teriak Zahra setelah melemparkan vas bunga yang ada di meja sebelah ranjang rumah sakit.
Tangan Kenzo mengepal menahan emosi melihat sikap Zahra. Saat akan maju untuk membujuk Zahra yang sudah berbaring membelakanginya, sebuah tangan mencegah pergerakan Kenzo. "Biarkan Zahra sendiri dulu, Ken," ucap Ibra dengan suara pelan yang tiba-tiba datang.
"Ta-"
"Lebih baik membiarkannya tenang dulu saat ini," ucap Ibra dengan sedikit berbisik.
Kenzo mengalah. Lelaki itu mengangguk dan berjalan keluar bersama Ibra.
Zahra yang mendengar langkah kaki menjauh memutar tubuhnya. Tangis wanita itu kian pecah saat dia sendiri di ruang inap. "Aku sungguh gagal mempertahankan anak-anakku," ucap Zahra sendu dengan tangis yang tak bisa dia tahan.
Kenzo berjalan lunglai keluar dari ruangan Zahra. Lelaki itu mendudukkan tubuh lemahnya di kursi tunggu.
Dari ujung lorong, Sela melihat betapa lusuh keadaan Ayahnya saat ini. "Nenek," panggil Sela pada Dee yang berdiri disebelahnya.
"Iya Nak," jawab Dee lembut. Sedangkan Bu Sari dan yang lain pulang terlebih dahulu untuk membersihkan badan mereka.
"Boleh Sela temani Ayah?" tanya Sela menatap Dee penuh harap.
Dee mengangguk dan tersenyum. "Temani Ayah, Nak," ucap Dee.
Sela mengangguk dan berlari mendekati Kenzo. Sedangkan Ibra sudah lebih dulu bangkit dan berjalan mendekati Dee.
Tangan mungil Sela terangkat menyentuh pundak Kenzo.
Kenzo yang merasakan sentuhan ditangannya mengangkat kepala. Kenzo tersenyum menatap gadis kecilnya yang nampak sangat tegar. "Kemari, Nak," ucap Kenzo sendu membawa tubuh Sela ke dalam pelukannya.
Sela menurut. Anak itu memeluk erat pinggang Ayahnya dengan tangan mungil miliknya. Badan Kenzo bergetar dalam pelukan sang anak. "Maafkan Ayah yang tak bisa menjaga adik-adik, ya," ucap Kenzo penuh sesal.
Sela menggeleng. "Bukan salah Ayah. Allah yang menentukan semuanya," jawab anak itu sesuai apa yang tadi dia dengar dari Dee. Nasehat penenang yang diberikan Dee sangat berdampak baik untuk Sela.
"Bunda marah ya, Ayah?" tanya Sela sendu mengangkat kepalanya menatap Kenzo.
Kenzo menggeleng. "Bunda hanya butuh waktu sendiri, Nak," jawab Kenzo.
"Bukankah saat ini kita harus menemani Bunda, Ayah?" tanya Sela lagi.
"Nanti dulu, ya. Biar Bunda istirahat terlebih dahulu, Nak," jawab Kenzo lembut.
Sela mengangguk. Patuh dan menurut adalah pilihan yang baik saat ini. Dia tidak ingin menambah beban pikiran Ayahnya menjadi lebih sulit karena tingkahnya yang sangat ingin sekali menemani Zahra.
.....
Semua sudah berkumpul di depan ruang rawat Zahra. "Kamu masuklah, Ken. Sejak tadi Zahra pasti belum makan," ucap Ibra menyuruh Kenzo untuk masuk.
Kenzo mengangguk. "Abi sudah menghubungi Ayah Kevin?" tanya Kenzo.
"Nanti akan Abi hubungi," jawab Ibra mengangguk yakin.
Kenzo mengangguk. Kakinya melangkah memasuki ruang rawat Zahra yang sejak tadi tertutup rapat.
Sela yang duduk bersama Dee di kursi tunggu menatap sendu punggung Ayahnya. Dalam hati anak itu terus berdoa agar sang bunda dapat bersikap tenang dan menerima semuanya.
"Sayang," panggil Kenzo saat sampai di ruangan Zahra.
Zahra masih diam. Wanita itu masih terus tidur dengan memunggungi Kenzo.
Melihat reaksi Zahra yang hanya diam, Kenzo kembali berjalan mendekat. Dia melihat lantai sudah bersih dari pecahan vas bunga yang tadi dilempar oleh Zahra. Mungkin Cleaning servis sudah memberikannya saat tadi sore.
Dengan pelan, tangan Kenzo terangkat menyentuh pundak Zahra. "Sayang," panggil Kenzo lembut.
Zahra masih diam. Wanita itu masih enggan untuk berbalik menatap Kenzo.
"Jangan seperti ini, Zahra. Bukan hanya kamu yang kehilangan," ucap Kenzo sedikit tegas.
Mendengar perkataan Kenzo, Zahra dengan perlahan membalikkan tubuhnya. Wanita itu mencoba untuk duduk dengan menahan sedikit sakit yang masih terasa di perutnya.
"Karena kamu yang menyebabkan kedua anakku pergi," jawab Zahra dingin menatap Kenzo tajam.
Kenzo menggeleng lemah. "Tidak ada Ayah yang menginginkan kepergian Anaknya, Zahra," jawab Kenzo lembut.
"Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu, Zahra," jawab Kenzo sendu.
"Dan mengorbankan anak-anakku?" tanya Zahra menatap tajam Kenzo dengan mata memerah menahan tangisnya.
"Anak kita, Zahra. Bukan hanya kamu, aku juga terpukul," ucap Kenzo.
"Lebih baik kamu keluar, Mas!" ucap Zahra pelan namun tajam.
"Tidak untuk kali ini!" jawab Kenzo tegas.
"Hiks, kamu membunuh anak-anakku, Mas!" teriak Zahra dengan kedua tangan menarik-narik jilbab yang sejak tadi menutupi kepalanya.
Wanita itu begitu terpukul karena kehilangan kedua anak mereka sekaligus.
"Sayang, jangan seperti ini," ucap Kenzo sendu memeluk Zahra yang histeris.
Sedangkan diluar, Sela mendengar teriakan Bundanya. "Sela mau masuk, Nenek," ucap Sela memberontak dari pelukan Dee.
"Tapi Nak-"
"Sela mohon, Nenek," pinta anak itu dengan mata berkaca-kaca.
Dee menatap semua yang ada disana. Melihat Sela yang begitu ingin menemui Bundanya, Melani mengangguk memberi isyarat pada Dee agar mengizinkan Sela masuk. Sebenarnya tidak baik untuk Sela melihat semua ini, tapi anak itu juga berhak atas kedua orang tuanya.
"Kita semua masuk," ucap Ibra yang memutuskan.
Mereka semua mengangguk dan masuk menyusul keruangan Zahra.
"ZAHRA!" teriak Ibra melihat Zahra yang memberontak di pelukan Kenzo. Bahkan infus wanita itu sudah terlepas dari tangannya sehingga menyebabkan darah menetes di lantai.
"Bunda," panggil suara lembut menghentikan berontak Zahra.
Tangan Zahra berhenti memukul-mukul dada Kenzo dan beralih menatap gadis kecil yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca penuh kasih sayang.
Zahra hanya diam. Dia hanya menatap Sela tanpa sepatah kata yang terucap dari mulut wanita itu. Sela yang melihat itu berjalan mendekati ranjang Sela. Entahlah, jantung mereka semua yang ada disana berdetak tak karuan akan apa yang selanjutnya terjadi.
"Bunda," panggil Sela lagi dengan menggenggam lembut tangan Zahra.
Dagu anak itu bergetar menahan tangis saat melihat tangan Bundanya yang berdarah karena infus yang dilepas secara paksa.
"KELUAR!"
Sela terlonjak kaget mendengar teriakan Zahra yang menatapnya tajam. Badan anak itu bergetar takut melihat Bundanya.
"Sadar Zahra! Dia anakmu!" ucap Kenzo emosi melihat Zahra yang tak terkendali.
"Tenang, Ken," ucap Al menenangkan Kinzi yang siap untuk marah.
Kenzo menghela nafasnya pelan. "Tinggalkan Kami bertiga," ucap Kenzo masih terus menatap Zahra.
"Tapi-"
"Tinggalkan Kami bertiga, Umi. Kenzo, Zahra dan Sela," ucap Kenzo menjelaskan lagi.
"Lakukan dengan kepala dingin, Ken," ucap Ibra memukul pelan bahu Kenzo.
Ibra memberi kode lewat mata pada mereka semua untuk menuruti perintah Kenzo.
"Papa percaya kamu tidak akan bersikap gegabah, Nak," ucap Anggara memberi ketenangan untuk anaknya.
Kenzo menatap pintu yang kini sudah tertutup. Kini, diruangan itu hanya ada mereka bertiga, Sela, Kenzo dan Zahra.
"Zahra kemari, Nak," panggil Kenzo lembut.
Sela menurut dan menjauh dari Zahra. Anak itu beralih berdiri di sebelah Kenzo dan menatap Zahra sendu.
"Bukan hanya kamu yang terluka, Zahra. Kami juga sama-sama terluka," ucap Kenzo sendu menyamakan tinggi badannya dengan Sela. Hingga dia menengadahkan kepalanya menatap Zahra yang masih terdiam di tempat tidur dengan pandangan sendu.
"Kamu kehilangan anak-anakmu, maka aku juga. Kamu pikir aku orang lain yang tidak ada rasa kehilangan atas semua ini. Aku ini suamimu, Zahra. Dengan menahan sesak aku mengantar kedua anakku ke tempat ternyaman mereka. Dengan kedua tanganku, aku mengubur anak-anakku. Dengan mulutku, aku mengucapkan adzan untuk pertama dan terkahir kali bagi mereka. Dan dengan air mataku, tanah kuburan mereka basah tak terkira. Kamu masih menganggap hanya kamu yang kehilangan?" ucap Kenzo sendu mencoba untuk memberi sudut pandang lain pada Zahra untuk menerima semuanya.
"Kamu lihat anak kecil ini," ucap Kenzo beralih menatap Sela.
"Dia anak kita yang juga kehilangan adik-adiknya. Dia sudah terpukul karena kehilangan kakaknya dulu, apa kamu juga tidak memikirkan bagaimana batinnya ketika melihat kedua jasad adiknya yang sudah tak bernyawa dalam pelukan Ayahnya sendiri?" tanya Kenzo lagi menatap Zahra dengan mata berkaca-kaca.
Sela sudah menangis dalam diamnya. Dagu anak itu bergetar hebat dengan air liur yang sudah menetes ke bawah bibirnya. Dadanya terasa sangat sakit melihat sikap Bundanya.
Sedangkan Zahra, dia menangis dengan terisak. Kedua tangannya digunakan untuk menutup wajahnya. "Maafkan aku, hiks."
"Bunda," panggil Sela lembut.
Anak itu melepaskan lilitan tangannya pada badan Kenzo dan berjalan mendekati ranjang Zahra. "Bunda," panggil Sela lagi memegang pelan siku Zahra.
Zahra melepaskan tangan yang menutupi wajahnya untuk menatap Sela.
"Bukankah Bunda pernah bilang, jika anak-anak yang sudah di surga adalah jembatan untuk orang tuanya mendapat Surga. Lalu kenapa sekarang Bunda marah? Ayah melakukan apa yang membuat kita semua nanti berkumpul di surga, Bunda."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow instagram aku @yus_kiz untuk melihat visual novel Cinta Wanita Muda, yaitu Kevin dan Kinzi ya 🤗😉