
🌹HAPPY READING🌹
Kina mengalihkan pandangannya menatap Ibra yang menatap kosong ke depan. Dia berjalan mendekati Al yang bersimpuh di lantai, dan Dee yang duduk di sebelah Ibra.
"Abi," panggil Kina lembut.
Bola mata Ibra beralih menatap Kina yang sudah ikut bersimpuh disebelah Al. "Maaf," ucap Ibra dengan dagunya yang bergetar karena menahan tangis.
Tak terasa air mata Kina jatuh membasahi pipinya. Dia mengerti, Abinya pasti terpukul karena semua ini. Dia juga tahu, masa lalu yang dulu suram itu pasti menjadi penyesalan bagi Abinya saat ini. Secara tidak langsung, semua ini terjadi karena dirinya sendiri.
"Umi," ucap Kina beralih menatap Dee yang duduk di sebelah Ibra.
Dee menggeleng dengan air mata berurai. Rasanya, untuk mengeluarkan suara saja sangat tidak sanggup.
Kenzo yang melihat itu kasihan. Tapi jujur saja, rasa kesal itu masih ada dalam dirinya mengingat bagaimana sikap Ibra setelah tahu semuanya.
"Nak," tepukan dipundak Kenzo membuatnya menoleh kebelakang.
"Bu Sari," ucap Kenzo mencoba tersenyum.
"Berapa lama lagi Zahra akan di operasi?" tanya Bu Sari.
Kenzo menggeleng. Tangannya terus mengelus kepala Sela yang masih berada di gendongannya. Anak itu sudah nampak tenang, suara tangis sudah tidak keluar dari mulutnya, tapi isakkan kecil masih menghiasi bibirnya.
"Belum tahu, Bu. Kenzo minta doanya, ya. Doakan istri Kenzo baik-baik saja," ucap Kenzo sendu.
Bu Sari mengangguk dan tersenyum. "Tanpa kamu minta, Ibu akan selalu mendoakannya. Dia juga anak Ibu," ucap Bu Sari.
"Terimakasih, Bu. Terimakasih banyak sudah menjaga dan menemani Zahra selama ini," ucap Kenzo tulus.
"Tidak ada kata terimakasih untuk tugas seorang Ibu, Nak," jawab Bu Sari.
Bu Sari mengalihkan pandanganya kepada Ibra. Bu Sari sudah tahu semuanya, Dee sudah menceritakan kepada Bu Sari saat pernikahan Zahra akan dilaksanakan. Tapi, dia meminta Bu Sari untuk merahasiakannya.
Bu Sari berjalan mendekati Ibra dan Dee.
"Tuan Ibra," panggil Bu Sari lembut.
Ibra menengadah menatap Bu Sari yang berdiri disebelah Kina.
"Zahra butuh doa dari Ayahnya," ucap Bu Sari yang mampu memancing tangis mereka disana.
Ibra menjawab dengan air mata yang menghiasi pipinya. Nampak sangat jelas sekali rasa terpukul dari wajah yang nelangsa itu.
"Jangan sepeti ini, Tuan Ibra. Lihatlah, ada anak, istri, menantu serta cucumu yang membutuhkan semangat darimu. Kamu boleh terpukul, tapi jangan sampai mengubah apa yang ada pada dirimu. Kamu pemimpin di keluarga ini, bukankah harusnya kamu menguatkan kami? Lantas mengapa sekarang ini kamu yang sangat lemah?" ucap Bu Sari mencoba untuk memberitahu kepada Ibra.
Ibra menatap Bu Sari dengan pandangan sendu. "Maaf," ucap Ibra lirih.
Bu Sari menggeleng. Dia menunjuk Sela yang kini ada di gendongan Kenzo. "Lihat dia. Dia anak kecil, cucu yang harusnya Tuan Ibra semangati. Dia tidak tahu apa-apa, tugas Tuan Ibra untuk memberitahunya dengan sangat baik. Jangan menjadi pengecut dengan selalu mengucap kata maaf, Tuan," ucap Bu Sari sedikit kasar demi menyadarkan Ibra.
Mereka semua yang mendengar itu hanya diam. Mereka mengerti, Bu Sari berbicara seperti itu demi menyadarkan Ibra.
Kenzo menatap Sela yang ada digendonganya. "Sayang," panggil Kenzo lembut.
Sela mengangkat kepalanya dari bahu Kenzo. "Iya Ayah," jawab Sela dengan mata yang masih berair.
"Semangati Kakek Ibra, ya. Bilang sama Kakek Ibra kalau Kakek Ibra tidak salah," ucap Kenzo membujuk Sela.
Sela mengulirkan bola matanya menatap Ibra. Dia melihat Kakeknya yang diam dengan air mata membasahi pipinya. "Kakek kenapa, Ayah?" tanya Sela menatap Kenzo.
"Kakek merasa bersalah kepada Bunda. Zahra bantu yakin kan Kakek kalau Kakek tidak bersalah, ya," ucap Kenzo. Mungkin ini terdengar sedikit konyol. Meminta bantuan anak kecil untuk mengembalikan mental seorang Ibra yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Cela?" beo Sela menunjuk dirinya sendiri.
Kenzo mengangguk. "Sela harus semangati Kakek dan buat Kakak tersenyum, Oke?" tanya Kenzo.
"Kenapa halus Cela, Ayah?" tanya Sela tak bingung.
"Karena melihat Sela, Kakek akan seperti melihat Bunda. Bunda adalah anak kesayangan Kakek, jadi jika Sela bicara dengan Kakek, setidaknya Kakek akan sedikit tenang," ucap Kenzo menjelaskan.
Sela berpikir sebentar. Anak itu nampak lucu dengan pipi, hidung serta mulut yang memerah karena tadi menangis. "Tulunin Cela, Ayah," ucap Sela meminta turun dari gendongan Kenzo.
Kenzo menurunkan Sela. Rasa kesalnya kepada Ibra membuat dia enggan untuk bicara. Semoga dengan Sela, Ibra bisa kembali dan tidak seperti ini lagi. Karena bagaimanapun juga, Ibra adalah salah satu orang yang berjasa dalam kehidupan istrinya. Yang itu artinya, Ibra juga berjasa dalam kehidupan Kenzo. Karena apa yang membuat Zahra bahagia, maka Kenzo juga akan bahagia. Melihat Ibra seperti ini akan membuat Zahra sedih nanti. Oleh karena itu, bagaimanapun juga Ibra harus kembali pulih.
Langkah mungil Sela perlahan mulai mendekat kepada Ibra. Al yang melihat Sela berdiri dan mundur sedikit. Membiarkan keponakannya itu untuk berdekatan dengan Ibra. Sedangkan Kina dan Bu Sari tetap berada di tempatnya. Mereka semua memperhatikan apa yang akan dilakukan Sela.
Tangan mungil Sela tergerak mengusap air mata yang membasahi pipi Ibra. Ibra yang tadinya menunduk, mengangkat kepala ketika merasakan sebuah elusan lembut di pipinya.
"Kakek," panggil Sela lembut disertai senyum manisnya.
Tepat sasaran. Apa yang Kenzo ucapkan terjadi. Melihat Sela, maka Ibra seperti melihat Zahra. Bukan karena apa-apa, senyum manis yang diberikan Sela, sangat persis dengan senyum Bundanya.
Sela tersenyum menatap Ibra. "Ini Cela, Kakek. Anaknya Buna," ucap Sela mengingatkan Ibra.
"Zahra, maaf," ucap Ibra sendu dengan kedua tangan menangkup pipi Sela.
"Kakek Cayang Buna Zahla?" tanya Sela.
Ibra hanya diam. Tapi kepalanya mengangguk menjawab pertanyaan Sela. Mereka semua yang melihat itu tersenyum melihat reaksi Ibra.
"Aku tidak membencimu, Zahra. Aku marah pada diriku sendiri yang sangat tidak berguna. Aku bodoh, aku jahat, aku seorang pecundang, bahkan aku lebih brengsek dari seorang pembunuh. Aku lebih kejam karena membunuh kebahagian keluargaku karena mendatangkan wanita iblis itu," ucap Ibra menyesal dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Alis Sela mengernyit bingung. Dia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Kakeknya itu Kepalanya menoleh kebelakang menatap Kenzo. Kenzo yang juga melihat Sela mengangguk. Sela ingat perkataan Ayahnya tadi, dia hanya perlu memberikan semangat dan mengatakan pada Ibra bahwa dia tidak bersalah.
"Kakek, Buna Zahla juga cayang cama Kakek. Buna Zahla cedih kalau Kakek cepelti ini. Kakek tidak bercalah, jadi jangan menangis, ya Kakek," ucap Sela tersenyum menatap Ibra.
Ibra memandang lama wajah mungil didepannya. "Sela," ucap Ibra lirih.
Sela tersenyum. "Ini Sela, anaknya Buna Zahla yang cantik sepelti nenek Dee dan Aunty Kina," ucap Sela tersenyum.
Ibra memeluk erat tubuh mungil itu. "Maafkan Kakek, Nak. Maaf," ucap Ibra.
"Kakek tidak calah. Buna pelnah bilang cama Cela, meskipun ceceolang itu calah cama kita, kita halus memaafkan. Kalena Allah caja maha pemaaf, Kakek. Kita tidak belhak malah cama maklhuknya," ucap Kina menirukan apa yang pernah Zahra sampaikan dengan suara logat cadelnya.
"Sela memaafkan Kakek? Apa Zahra juga akan memberi maaf?" tanya Ibra.
Sela mengangguk. "Nanti kita temui Buna, ya Kakek?" ajak Sela.
Ibra mengangguk. Dia tersenyum dan kembali memeluk tubuh mungil Sela. Mereka semua yang melihat itu tersenyum senang.
Kamu mendidik anak kita dengan sangat baik, Sayang. Batin Kenzo senang melihat Sela yang begitu dewasa.
Kenzo beralih menatap ruang operasi. Ini sudah tiga jam lamanya, namun Dokter belum juga keluar, lampu operasi juga masih menyala.
Ceklek.
Pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar sambil membuka masker yang dia gunakan.
"Ada apa, Dokter?" tanya Kenzo cepat kepada Dokter. Mereka semua mendekat mendengar penjelasan Dokter.
"Kami berhasil mengeluarkan dua peluru dari tubuh Zahra," ucap dokter memandang mereka semua.
"Kenapa ekspresi mu seperti itu?" tanya Kenzo melihat wajah Dokter yang nampak cemas.
"Salah satu peluru menembus ginjal Nyonya Zahra."
DEG
Waktu serasa berhenti mendengar penjelasan Dokter.
"La-lalu?" tanya Al hati-hati. Sedangkan Kenzo dan yang lainnya sudah terdiam mendengar perkataan Dokter.
"Nyonya Zahra harus kembali melakukan operasi untuk transplantasi ginjal. Kita butuh donor ginjal untuk Nyonya Zahra," ucap Dokter tersebut.
Mereka semua terdiam. Kenzo mengusap kasar wajahnya mendengar perkataan Dokter.
"Ambil ginjal saat, Dokter," ucap Kenzo.
"Jangan gila, Kenzo!" ucap Dee dan Melani secara bersamaan memperingati Kenzo.
"Tapi, Ma, Umi-"
"Jangan gila Kenzo. Ginjal mu itu hanya satu, jangan membuat Zahra semakin marah karena ini," ucap Melani memperingati Kenzo.
"Zahra butuh ini, Umi. Zahra harus hidup," ucap Kenzo lirih.
"Pasti ada cara lain. Kita akan cari pendonor untuk Zahra, Nak," ucap Kevin menenangkan Kenzo.
"Periksa ginjal saya."
......................
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘