Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 145



🌹HAPPY READING🌹


"Cela cama Chaca cedih, Nenek," ucap Sela akhirnya menjawab.


"Kenapa?" tanya Kina penasaran. Karena jarang-jarang sekali asa kata sedih di kamus dua gadis licik menurutnya ini.


"Kyel pindah sekolah," jawab mereka barengan dengan nada lemah.


"Kyel siapa?" Dee.


"Anaknya Tante bedak lima centi, Nek," jawab Sela.


"APA?" Zahra dan Kina reflek teriak, hingga membuat Dee, Sela dan Shasa menutup telinga mereka.


"Ih Buna, telinga Cela," gerutu Sela kesal.


"Hehe, maaf Sayang. Tapi kamu bilang Kyel anaknya Bu Nita?" tanya Zahra memperjelas pengetahuannya.


Sela mengangguk dengan wajah lesu. "Iya, Buna," jawab Sela lemah.


"Kapan dia pindah?" tanya Kina.


"Tadi, Mama. Pas masih sekolah tadi, Kyel dijemput sama Mama dan Papanya. Tapi anehnya Mama, Tante bedak lima centi itu sudah nggak ada bedak lagi," ucap Sela menceritakan bagaimana tadi Nita menjemput anaknya.


"Terus yang buat kalian sedih begini apa?" tanya Zahra.


"Meskipun Ibunya jahat, tapi Kyel baik cama kami. Dia beda cama Ibunya," ucap Sela menambahi.


Dee sejak tadi hanya mendengarkan. Dia tidak berniat untuk ikut campur urusan kedua ibu dan anak itu. Saat ini dia hanya terpikir suaminya yang sejak tadi tidak keluar dari ruang kerja.


"Zahra, Kina, Umi susul Abi sebentar, ya," ucap Dee pada kedua anaknya.


"Abi dimana, Nenek?" tanya Shasa.


"Di ruang kerja lagi istirahat. Nenek mau ketemu Kakek dulu, ya," ucap Dee berdiri yang langsung dianggukki oleh kedua cucunya.


"Sudah, kalian nggak usah sedih begitu, mungkin kerjaan orang tuanya Kyel membuat dia harus pindah. Doakan saja yang terbaik buat Kyel," ucap Zahra.


"Iya, jangan sedih. Kalau membuat Kyel tidak nyaman nanti, karena dia merasa sudah membuat kedua temannya ini sedih," ucap Kina ikut menimpali.


Sela dan Shasa hanya mengangguk. "Shasa sama Sela mau main di taman belakang ya, Mama," izin Sela.


"Iya. Nanti kalau makan siang udah selesai, Mama panggil," ucap Kina.


Kedua gadis kecil itu mengangguk patuh. Tapi, sebelum ke taman belakang, Sela dan Shasa lebih dulu masuk ke kamar Shasa untuk ganti baju. Sebelum bermain, mereka selalu mengganti baju terlebih dahulu, karena itu yang diajarkan oleh Kina, Dee dan Zahra.


"Apa Kakak memikirkan sesuatu?" tanya Kina yang melihat Zahra seperti sedang memikirkan sesuatu.


Zahra menatap Kina dan bertanya. "Apa kamu merasa ada yang aneh dengan kepindahan Kyel itu, Dek?" tanya Zahra.


Kina menggeleng. "Jangan dipikirkan, Kak. Mungkin suaminya memang harus pindah dinas atau gimana. Kan dia sendiri yang bilang kalau suaminya konglomerat terkenal," ucap Kina tak ambil pusing.


Zahra hanya menganggukkan kepala mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kina. Meskipun dia masih ragu akan semua ini. Mendengar cerita Sela dan Shasa, membuat Kina langsung mengingat suaminya. Dan dia berharap, pikirannya ini tidak benar. Suaminya tidak akan bertindak merugikan orang lain.


"Ayo kita ke dapur, Kak. Nanti Umi nyusul kita," lanjut Kina mengajak Zahra untuk menyiapkan makan siang yang langsung dianggukki oleh Zahra.


.....


Dee memasuki ruang kerja Ibra. Dia melihat Ibra yang tertidur di sofa ruang kerja. Dee mendekat.


"Mas," panggil Dee tertahan melihat Ibra tidur dengan keadaan pucat dan keringat yang membasahi dahinya.


"Mas, bangun, Mas," ucap Dee mengguncangkan bahu Dee.


Ibra melenguh pelan. "Sayang," panggil Ibra pelan.


Ibra segera mendudukkan tubuhnya dan menatap Dee lembut dengan senyum diwajahnya. "Aku nggak papa, Sayang," ucap Ibra yang melihat Dee khawatir terhadapnya.


"Apa sakit lagi?" ucap Dee mengusap lembut kepala Ibra.


"Hanya sedikit," jawab Ibra mengambil tangan tersebut dan menggenggamnya erat.


"Obatnya sudah diminum?" tanya Dee.


Dee menghela nafas pelan. "Yasudah, kita ke kamar. Aku bakal siapin makan siang. Dan habis itu kamu harus makan obat, ya Mas. Jangan buat aku khawatir," ucap Dee lembut mengusap lembut rahang Ibra.


Ibra mengangguk dan tersenyum. Dia bangun dan berjalan dengan tangan saling bergenggaman dengan Dee.


Ya Allah, panjangkan umur suamiku. Batin Dee menatap sendu Ibra dari samping.


.....


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Sela sudah tertidur di kamarnya. Sedangkan Ayah dan Bundanya sedang duduk bermesraan dengan punggung bersandar ke kepala ranjang.


"Mas," panggil Zahra pelan.


"Iya, Sayang," jawab Kenzo.


"Aku mau tanya, boleh?" ucap Zahra bertanya.


Kenzo mengangguk yakin. "Tanyalah, Sayang. Nggak ada alasan aku untuk melarang," jawab Kenzo.


"Em ..."


"Ada apa, Sayang? Katakanlah. Aku tidak akan marah, Sayang," ucap Kenzo yang melihat Zahra ragu untuk bertanya.


"Tadi Sela dan Shasa cerita, ada teman mereka yang pindah sekolah. Kyel namanya. Kyel itu anaknya Bu Nita yang waktu itu berdebat sama kamu, Mas. Sela bilang juga, kalau Bu Nita pindah dengan keadaan yang menurut aku aneh aja. Dia tidak berdandan seperti biasanya lagi. Itu yang dikatakan Sela dan Shasa," ucap Zahra menceritakan terlebih dahulu.


"Lalu?" tanya Kenzo lagi.


"Em ... Apa kepindahan mereka ada hubungan sama kamu, Mas?" tanya Kenzo.


Apa ini saatnya aku sedikit membuat Zahra terkejut? Ini kesempatanku untuk bertanya. Batin Kenzo seperti mendapat kesempatan emas yang diberikan oleh Kenzo.


"Türk Mücevher," ucap Kenzo yang membuat Zahra langsung menatap suaminya itu. Percayalah, jantung Zahra berdetak kencang mendengar perkataan Kenzo.


Tapi dengan sebisa mungkin Zahra merubah ekspresinya menjadi biasa. Dia tidak ingin terlihat terkejut ataupun takut di depan Kenzo. Jangan lupa, wanita adalah pelakon yang handal. Saat menangis pun, dia masih bisa tertawa dengan kencang. Disaat marah, dia masih bisa menunjukkan perhatian, disaat kecewa, dia masih bisa menunjukkan cinta, dan disaat berkata tidak, ada makna iya yang tersirat dalam gelengan kepala para wanita.


"Nama apa itu Mas?" tanya Zahra polos menatap Kenzo.


Istriku benar-benar tak tahu rupanya. Batin Kenzo.


"Aku dengar, suaminya bekerja di Türk Mücevher sebagai sopir utama disana, Sayang," ucap Kenzo mulai menjelaskan.


"Sopir utama? Sopir truk Mas?" tanya Zahra lagi.


"Bukan, Sayang. Sopir utama di Türk Mücevher adalah sopir pesawat pribadi perusahaan itu. Mereka adalah sopir pilihan yang mendapat keistimewaan disana, Sayang," ucap Kenzo.


"Pilot Mas. Kamu bilangnya sopir, kan aku mikirnya sopir truk," gerutu Zahra kesal memukul pelan dada Kenzo.


"Pilot juga sopir, Sayang. Suami sopir gitu aja kok bangga banget," ucap Kenzo mengingat bagaimana tajamnya mulut Nita dalam menghina istri dan anaknya dengan begitu sombong.


"Terus apa hubungannya sama kepindahan mereka, Mas?" tanya Zahra lagi.


"Emir Geraldi itu dipindahkan menjadi sopir biasa di perusahaan cabang Türk Mücevher yang ada di Turki itu, Sayang. Sopir biasa yang jadwal penerbangannya hanya di negara Turki. Mungkin mereka akan menetap disana," ucap Kenzo lagi.


Sebesar apa perusahaan ku hingga di perusahaan cabang pun memiliki jet pribadi? Aku tidak menyangka ini. Batin Zahra takjub.


"Kenapa kamu bisa tahu semuanya, Mas?" tanya Zahra menengadah menatap Kenzo.


Kenzo menunduk menatap istrinya itu. Hidung mereka hampir saja bertemu, hanya batas jarak satu centimeter.


"Karena aku tahu siapa pemilik Türk Mücevher itu, Sayang."


DEG


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏