Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 203



🌹HAPPY READING🌹


Kenzo, Zahra, Ibra, Dee dan juga Sela masih berjongkok di depan makam kecil itu. Ibra dan Kenzo masih setia menggunakan kaca mata hitam mereka. Entah apa yang mereka sembunyikan dibalik kaca mata itu, hanya mereka yang tahu.


Sela, gadis itu tidak henti-hentinya mengusap batu nisan lelaki kesayangannya setelah sang Ayah.


"Abang," panggil Sela lembut pada makam itu. Anak itu berharap bahwa Akbar akan bisa menjawab segala perkataanya. Tapi dia tahu itu hanya harapan, jadi biar saja di bicara, toh nanti Allah pasti akan menyampaikan pada Abangnya itu.


"Hari ini Sela mau pamit sama Abang. Sela, Ayah, Bunda, Nenek sama Kakek akan ke Turki. Mau ke tempat Ayah Kevin sekaligus liburan, Abang," ucapnya mulai bercerita.


Cuaca nampak panas, tapi gadis kecil itu tidak menghiraukan peluh yang menetes di dahi dari balik jilbab kecilnya.


"Oiya, sekalian juga nanti Sela pergi ke Cappadocia, Abang," ucapnya sedikit berbisik dengan membungkukkan badannya mendekati nisan Akbar.


Zahra dan Dee yang melihat dan mendengar tingkah gadis kecil itu tersenyum lembut. Sedangkan Kenzo dan Ibra hanya diam. Pandangan dari balik kaca mata hitam mereka terus menatap nisan tersebut.


Beginilah Kenzo, dia hanya akan diam jika ke makam bersama dengan keluarganya. Hanya dalam hati dia bisa menyampaikan apa yang ingin dia katakan pada sang anak. Berbeda jika dia datang sendiri, menangis tersedu dan tidur di makam juga sudah Kenzo lakukan.


"Nanti kalau disana Sela ketemu Aunty Kinan, Sela sampaikan salam Abang," ucapnya bagaikan seseorang yang begitu mengenal sosok fiksi Kinan itu.


"Sok yang kenal banget kamu, Nak," ucap Zahra heran.


"Memang kenal, Bunda. Bunda aja yang nggak tahu," jawab Sela kesal.


Dee yang melihat itu mengusap lembut kepala Sela yang berjongkok disebelahnya. "Jangan pernah berhenti bercerita seperti ini sama Abang Sela, ya," ucap Dee lembut.


Sela mengangguk yakin. "Pasti Nenek. Itu adalah agenda wajib," jawabnya yakin.


Sela kembali memfokuskan pandanganya pada makam Akbar. Anak itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya. "Sela baca ini buat Abang, ya. Sela masih belum hafal, nanti kalau sudah hafal Sela nggak akan pakai buku lagi," ucap anak itu membuka buku Yasin.


"Sela mau ngaji sebentar buat Abang ya Bunda, Ayah," ucapnya pada Kenzo dan Zahra agar mau menungguinya sedikit lebih lama lagi.


Zahra dan Kenzo mengangguk. "Mengaji lah, Nak," jawab Zahra.


Dengan mulut mungilnya, suara lantunan Yasin mulai terdengar keluar dari mulut Sela. Sela membaca buku Yasin khusus miliknya yang dibelikan oleh Kenzo dengan tulisan latinnya. Karena jika tulisan Arab, anak itu pasti akan kesulitan. Suara mungil Sela terdengar sangat merdu ditelinga para orang dewasa itu. Meskipun sesekali bacaannya terdengar tidak jelas dan melenceng, tapi anak itu nampak sangat serius dengan bacaanya.


Zahra yang melihat kasih sayang sang anak kepada Abangnya tersenyum haru. Tidak ada keberuntungan yang lebih baik dari keharmonisan seperti ini.


Begitu juga dengan Dee. Wanita itu sampai menitikan air matanya melihat cucu yang pernah berpisah dengannya itu. Mulut Dee terus melafalkan Yasin yang memang sudah dihafalnya, begitu juga dengan orang dewasa lainnya.


Pandangan Dee beralih pada Zahra yang tengah fokus dengan doanya. Siapapun orang tua anak ini, aku bersyukur karena telah dilahirkan anak wanita tangguh ini. Aku percaya, darah yang mengalir dalam diri Zahra dan Sela adalah darah orang pilihan yang memiliki hati baik. Terimakasih telah memberi aku kesempatan menjadi ibu untuk wanita ini, dan menjadu Nenek untuk gadis mungil ini. Batin Dee.


Berbeda dengan Dee, Ibra hanya diam dengan mata yang tak lepas dari nisan Akbar. Hay boy. Kita memang tak pernah bertemu. Tapi percayalah, kamu adalah cucuku, sama seperti Sela, Shasa dan Adam. Kamu adalah Abang untuk adik-adikmu. Maaf jika Kakek jarang kesini. Tapi satu yang pasti, kasih sayang dan doa kakek tak pernah putus untuk kamu, Nak. Batin Ibra tulus.


Tidak terasa satu jam sudah mereka membaca Yasin. Lebih tepatnya Sela yang satu jam, karena yang lainnya sudah selesai sejak setengah jam yang lalu.


"Shadaqallahul-'adzim'," ucap Sela menutup bukunya dan mencium Yasin tersebut.


"Sela sudah selesai, Bunda," ucapnya pada Zahra yang masih setia memperhatikan anak itu dari tadi.


"Pergi sekarang?" tanya Zahra.


Sela mengangguk. "Abang, Sela pamit ya. Nanti Sela bawa oleh-oleh dari Turki untuk Abang. Tenang saja, adik Abang yang baik dan cantik ini akan selalu baik-baik saja," ucap anak itu dengan percaya dirinya.


"Abi, Umi, Mas," ajak Zahra untuk segera berdiri.


Mereka semua mengangguk. Setelah mengucapkan salam, banyak pasang kaki itu melangkah meninggalkan area pemakaman.


Kenzo berbalik sebentar menatap nisan anaknya. Ayah akan menjaga keluarga kita, Nak. Semoga kamu ikut bahagia dengan segala keharmonisan ini. Batin Kenzo sendu. Setelah itu, dia menyusul langkah yang lainnya untuk segera menuju mobil.


.....


Kini mereka semua sudah duduk dengan tenang di bangku kuda besi terbang itu. Sela sejak tadi tak bisa diam. Mulutnya selalu mengumumkan kata wah ketika melihat pemandangan indah atau sesuatu yang sangat mengagumkan baginya.


Mata indah Sela mengerjai lucu melihat awan yang ada disekelilingnya. Anak itu duduk bersama sang Ayah, sedangkan Zahra memilih untuk tidur di kamar pribadi yang sudah disediakan. Kehamilannya membuat dia tidak bisa bergerak banyak, ada dua nyawa yang harus dia jaga dalam perutnya saat ini. Begitu juga Dee dan Ibra yang memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka.


"Ayah, kenapa awan ini berlapis-lapis ya?" tanya Sela.


"Karena kalau nggak berlapis-lapis, langit bisa jatuh Sayang," jawab Ibra sekenanya.


"Kok sejak tadi Sela nggak lihat tiang langit, Ayah?" tanya anak itu lagi.


"Mana ada tiang nya, Nak. Kamu pikir atap rumah," jawab Kenzo.


"Pasti ada dong. Kalau nggak kenapa Langit nggak jatuh-jatuh. Pasti ada tiangnya. Ayah banyak nggak tahunya ih," ucap anak itu kesal.


"Jangan buat kesal deh," ketus Kenzo.


"Tapi Ayah, itu merupakan pertanyaan yang sering Sela tanya sama Bu Wawa, mengenai tiang langit itu. Tapi Bu Wawa cuma jawab kalau itu semua kuasa Allah," ucap Sela memulai ceritanya.


"Tapikan jawabannya nggak buat Sela puas. Nggak paham-paham Sela tuh," ucapnya cemberut dengan bibir bebek andalannya.


"Kamunya aja yang telat mikir," jawab Kenzo.


"Ayah mau tahu satu hal nggak?" tanya Sela menatap lolos Ayahnya.


"Apa?" tanya Kenzo.


"Otak anak itu dari Ayahnya. Jadi kalau Sela suka telat mikir, berarti ..."


"Kamu ngatain Ayah bodoh?!" ucap Kenzo kesal.


"Ih orang Sela bilangnya cuma telat mikir. Ayah aja yang berpendapat sendiri," jawab anak itu cekikikan.


"Suka banget ngeledekin ayah ya," ucap Ke zo menggelitik perut Sela yang ada di pangkuannya.


"Haha Ayah No! Nanti Sela pipis, haha," tawa anak itu terdengar kesegala penjuru pesawat. Pramugari Kenzo yang ada di pesawat merasakan sedikit iri dan juga senang. Iri melihat keharmonisan keluarga itu yang juga merupakan idaman semua orang, bahagia karena ikut bahagia melihat senyum bos mereka.


Kenzo menghentikan kegiatannya. Dia juga tidak ingin jika kejadian waktu dirumah terulang di pesawat. Kan malu jika dilihat oleh lara anak buahnya.


"Sela mau tahu kenapa langit nggak ada tiang?" tanya Kenzo mulai serius.


Sela mengangguk semangat.


"Benar apa kata ibu guru disekolah. Kalau semua itu kekuasaan Allah, Nak. Itu adalah kehebatan Allah yang bisa menciptakan langit tanpa tiangnya. Tidak ada makhluk apapun yang bisa menciptakan yang lebih indah dari ciptaan Allah," ucap Kenzo mulai menjelaskan.


"Sela tahu Walt Disney kan?" tanya Kenzo.


Sela mengangguk. "Yang punya Disney land itu kan Ayah?" tanya Sela.


Kenzo mengangguk. "Sehebat dan sebagus apapun Walt Disney menciptakan dunia Disney, tidak bisa mengalahkan kehebatan Allah yang menciptakan dunia, Sayang. Mungkin sekarang Ayah cuma bisa bilang itu, tapi jika nanti Sela sudah besar, maka disini akan ada kekaguman karena keindahan yang Allah berikan, Nak," ucap Sela meletakkan tangannya di dada Sela menunjukkan hati anak itu.


Sela tersenyum puas. "Tumben Ayah hebat jelasinnya," ucap anak itu jahil.


Telunjuk Kenzo bergerak menoyor dahi gadis kecil itu. "Benar-benar ya," ucap Kenzo lembut.


"Sela sayang Ayah," ucap Sela menatap dalam mata sang ayah.


"Ayah lebih sayang Sela," jawab Kenzo mengecup lembut dahi anaknya.


"Jilbabnya dibuka aja ya?" tanya Kenzo. Meskipun tak panas, tapi tetap saja dia tidak mau anaknya merasakan tak nyaman.


Sela menggeleng. Matanya melirik ke beberapa pelayan laki-laki dan bodyguard Kenzo. "Nggak panas kok Ayah," ucapnya mengerti dengan maksud Kenzo.


Kenzo tersenyum. "Nanti kalau panas, nggak apa-apa kalau dibuka saja ya, Nak," ucap Kenzo.


"Iya Ayah," jawab Sela patuh.


Sela kembali memperbaiki duduknya dipangkuan Kenzo dengan menyandarkan tubuhnya ke badan sang Ayah. Matanya kembali menatap hamparang awan yang sangat luas. Hingga tidak beberapa lama, mata anak itu perlahan mulai tertutup karena kantuk yang melanda. Usapan tangan Kenzo juga membuat Sela nyaman hingga anak itu larut dalam tidurnya.


"Tidur yang nyenyak, Nak "


.....


Setelah mengudara berjam-jam, akhirnya mereka sampai di negara yang sejak tadi menjadi tujuan mereka.


Sela menatap berbinar dengan pandangan didepannya.


"Selamat datang cucu Kakek," ucap Kevin merentangkan tangannya menyambut Sela.


Sela yang senang bukan main langsung berlari memeluk lelaki yang sangat dia rindukan itu. "Sela rindu Kakek!" teriaknya sambil berlari.


Hap.


Dengan rapat tubuh anak itu memeluk erat Kevin. Kevin mengangkat Sela dalam gendongannya dan memutar-mutar tubuh kecil itu. "Kakek juga sangat merindukan kamu, Nak," jawab Kevin mengecup seluruh wajah cucunya itu.


Lain halnya dengan Sela, Zahra memandang heran seorang wanita paruh baya yang datang bersama Kevin.


"Ibu Nende."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏