Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 85



🌹HAPPY READING🌹


Pagi ini, Zahra bangun dengan tidak bersemangat. Entah mengapa, tubuhnya terasa panas dingin sejak kedatangan Tamara kemarin. Bukan karena sakit, tapi karena keadaan hatinya yang tak tidak tenang. Kenzo dan Tamara yang akan bertunangan, namun Zahra yang dibuat ketar-ketir oleh suasana hatinya.


Seperti biasa, Zahra membantu Bu Sari untuk mempersiapkan sarapan. Bu Sari memperhatikan gerak-gerik Sela seperti orang tak tenang. Ada kegelisahan yang Bu Sari lihat dari diri Zahra.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Bu Sari.


Zahra menghentikan kegiatannya merapikan piring di meja dan tersenyum sambil menggeleng menatap Bu Sari. "Zahra baik-baik saja, Bu," ucap Zahra mencoba tenang.


"Kamu terlihat seperti orang yang gelisah, Zahra," ucap Bu Sari membantah perkataan Zahra.


Zahra menggeleng. "Zahra tidak apa-apa, Bu. Hanya sedikit pusing saja," ucap Zahra memberi alasan.


"Kalau begitu kamu istirahat saja, biar Ibu yang siapkan sarapan," ucap Bu Sari.


"Zahra kuat kok, Bu. Badan Zahra baik-baik saja. Hati Zahra yang tak tenang," ucap Zahra dengan suara bathin yang begitu gelisah.


"Yasudah, tapi jangan sampai kamu sakit, Zahra," ucap Bu Sari.


"Iya, Bu," jawab Zahra dengan senyumnya.


"Selamat pagi, Buna, Nenek," ucap Sela yang datang dengan wajah semangatnya.


"Selamat pagi, Nak."


"Selamat pagi, Cucu Nenek."


"Semangat sekali pagi ini. Ada apa, Nak?" tanya Bu Sari.


"Iya dong, Nek. Nanti malam, Ayah cama Mama Tamala akan beltunangan," jawab Sela semangat.


Bu Sari yang sudah mengetahui itu semalam dari Zahra hanya tersenyum. "Sela bahagia?" tanya Bu Sari sambil membantu Sela duduk di kursi meja makan.


Sela mengangguk semangat. "Sangat bahagia, Nenek. Karena Buna juga bahagia. Iya kan, Buna?" tanya Sela menatap Zahra.


Zahra tersenyum dan mengangguk. Tidak tahukan Sela jika tubuh Bundanya itu sudah panas dingin saat ini sejak mendengar kabar pertunangan Kenzo.


"Oiya, Buna. Nanti pulang cekolah, Cela diajak Mama Tamala buat cali gaun pesta nanti malam. Bolehkan, Buna?" tanya Sela berharap menatap Zahra.


Lagi-lagi Zahra hanya mengangguk mengiyakan perkataan Sela.


Bu Sari yang melihat itu memandang Zahra sedih. "Apa ini yang kamu mau, Zahra?" tanya Bu Sari lembut.


Zahra tidak menjawab. "Zahra ambil gelas dulu," ucap Zahra berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Bu Sari.


Sela memandang heran pada Zahra. Matanya menatap gelas yang sudah tersusun di gantungan gelas yang ada di depan matanya sendiri. "Nenek, ini gelas," ucap Sela polos menunjuk gelas tersebut.


Bu Sari meletakkan telunjuk di mulut Sela, pertanda meminta anak itu diam. "Bunda lagi galau," ucap Bu Sari setengah berbisik.


"Hihihi, tos dulu, Nek," ucap Sela. Nenek dan cucu itu bertos ria karena rencana mereka memanasi Zahra kembali berhasil pagi ini.


Ya, Bu Sari memang mengetahui semuanya. Tentu saja Bu Sari mengetahui dari Sela. Anak itu selalu bercerita pada Bu Sari mengenai apapun, tidak terkecuali rencananya ini dengan Kenzo dan Tamara.


.....


Sela datang ke sekolah dengan senyum mengembangnya. Pasalnya anak itu sangat senang, malam ini Bunda dan Ayahnya pasti akan kembali bersatu. Rencana mereka pasti akan berhasil nanti.


"Celamat pagi, Chaca," ucap Sela menyapa Shasa sambil meletakkan tasnya di kursi.


"Hai Sela, aku sudah tidak sabar untuk nanti malam," ucap Shasa yang mengetahui bahwa Papinya dan Bunda Zahra akan kembali hidup bersama.


Anak kecil berdua ini memang mengetahuinya. Tentu saja Sela yang bercerita pada Shasa. Persahabatan dan persaudaraan mereka membuat tidak ada rahasia yang mereka miliki satu sama lain. Mereka menjadi tempat saling bertukar cerita, baik sedih dan senangnya.


"Nenek, Kakek, Uncle Kenzo, Mama Kina, Daddy dan Mommy Bella tidak tahukan, Chaca?" tanya Sela.


Shasa mengangkat jempolnya menjawab pertanyaan Sela. "Semua aman, Sel. Tapi ada satu orang yang tahu," ucap Shasa.


"Ciapa?" tanya Sela.


"Daddy," jawab Shasa.


Sela mengangguk-ngangguk mendengar perkataan Shasa layaknya orang dewasa. "Daddy tidak apa-apa, kalna Daddy dan Uncle Thomas belteman juga," ucap Sela yanh dianggukki oleh Shasa.


Setelah itu mereka berdua saling pandang dan tersenyum. "Selamat bahagia," ucap Shasa dan Sela secara bersama. Setelahnya, kedua anak itu saling memeluk satu dengan yang lainnya menyalurkan kasih sayang dan kebahagiaan yang mereka rasakan.


.....


Pukul setengah enam sore, Sela baru pulang dari butik untuk mencari gaun pestanya bersama Tamara. Gadis kecil itu menggandeng dua kantung besar ditangannya ketika turun dari mobil Tamara. Sela hanya pulang diantar oleh sopir perusahaan Tamara, sedangkan Tamara harus mempersiapkan acara untuk nanti malam.


Walaupun berat, tapi Sela berjalan memasuki rumahnya dengan wajah ceria. Jilbab yang anak itu gunakan sudah nampak berantakan. Rambut di sisi kiri dan kanan pipinya sudah keluar dari jilbabnya.


"Acalamu'alaikum, Buna," ucap Sela masuk. Kebetulan pintu rumah terbuka sedikit. Jadi, anak itu tinggal mendorong pintu dan meletakkan belanjaannya di sofa.


"Waalaikumsalam," jawab Zahra yang datang dari kamarnya.


"Sela sudah pulang dari belanjanya, Nak?" tanya Zahra.


Sela memperhatikan wajah Bundanya yang nampak sedikit sembab, terutama di sekitar mata Zahra. Hidung mungil Zahra merah dan bibir, begitu juga dengan matanya.


"Buna," panggil Sela.


"Iya, Nak," jawab Zahra tersenyum.


Sela mengambil sebuah Tote bag yang terpisah, lalu memberikannya pada Zahra. "Ini baju buat Buna nanti. Mama Tamara melancang ini untuk Buna," ucap Sela memberikan pada Zahra.


"Tapi, Nak-"


"Telima aja, Buna. Baju di kantolnya Mama Tamala banyak. Ada bedak-bedak juga. Jadi ini tidak akan buat Mama Tamala lugi," ucap Sela benar adanya. Saat ikut Tamara, memang Sela dibawa ke perusahaan Tamara, dan disana juga ada Kenzo yang memesan baju untuk Zahra dan Sela. Kalian tentu ingat bukan, bahwa Tamara adalah pemilik perusahan fashion dan produk kecantikan.


Dengan ragu, Zahra mengambil Tote bag yang diberikan Sela. "Nanti malam kita halus cantik, Buna."


.....


Malam yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Puncak rencana Kenzo akhirnya datang juga. Kenzo mematut dirinya di cermin. Lelaki itu nampak gagah dengan tuksedo navy yang membalut tubuh atletisnya.


Senyum mengembang di bibir pria itu. "Sebentar lagi, kita bersama, Sayang," gumam Kenzo pelan memandang foto Zahra yang ada di dinding kamarnya. Acara pertunangan memang akan diadakan di rumah Kenzo. Ini semua atas permintaan Kenzo, karena jika di hotel, itu akan menambah rumit nantinya.


"Ken," panggil Al yang datang dari pintu kamar Kenzo.


"Iya Al," jawab Kenzo berbalik menatap Zahra.


"Jika ini tidak berhasil, maka habis hidup Lo, Ken," ucap Al dengan nada mengejeknya. Lelaki itu tidak kalah tampan dengan jas yang membalut tubuh kekarnya.


"Lo raguin gue, Al?" tanya Kenzo.


Al menggeleng. "Gue cuma khawatir. Melihat keteguhan hati Zahra, gue jadi ragu. Dan saat Zahra benar-benar ikhlas, maka Thomas adalah jodoh Lo," ucap Al menatap Kenzo mengejek.


"Ketawa Lo sekarang. Jika nanti gue berhasil, salah satu mobil kesayangan Lo, buat gue," ucap Kenzo.


"Lo pikir adik gue taruhan?" ucap Al tak terima.


"Hehe, becanda Abang Ipar," ucap Kenzo ciut melihat raut wajah serius Al.


Kenzo berbalik menatap pantulan dirinya di cermin. "Hati gue yakin, malam ini adalah saatnya gue bayar kesalahan gue dimasa lalu," ucap Kenzo serius.


.....


Ruang tengah rumah mewah Kenzo nampak sangat ramai. Kenzo dan Tamara sudah berdiri di atas panggung yang dihias sedemikian mewah untuk pertukaran cincin mereka. Lampu hias besar memberi keindahan di seluruh ruangan rumah Kenzi. Dari depan nampak Sela dan Shasa yang membawa kotak cincin, ditemani Mama Kenzo. Kedua gadis kecil itu sangat cantik dengan pakaian muslimah berwarna navy. Serasi dengan pakaian Kenzo, bahkan juga serasi dengan pakaian Zahra, tapi wanita itu tidak menyadarinya.


Tamara yang melihat semua orang mendengus kesal kepada Kenzo. "Kalau ini tidak berhasil bagaimana?" ucap Tamara kesal karena tidak melihat tanda-tanda Zahra akan menggagalkan semuanya.


"Gue masih mau coba lobang, ya Ken," ucap Tamara mengancam dengan nada berbisik.


"Sebentar lagi, Zahra akan datang, Thom," ucap Kenzo yakin. "Lo harus senyum, jangan masam gitu wajah Lo," lanjut Kenzo. Tamara tersenyum cantik mematuhi perkataan Kenzo. Benar-benar totalitas kepribadian ganda Thomas saat ini.


Zahra berdiri di bagian belakang bersama Dee. Kina dan Bella berdiri di depan mendampingi suami mereka masing-masing. Sedangkan Ibra dan Anggara, Papa Kenzo juga berdiri di bagian depan.


Ya Allah, Zahra sangat tidak ikhlas. Batin Zahra menahan semua sesak di dadanya. Entahlah, dia tiba-tiba iri melihat Tamara yang malam ini nampak begitu cantik, sangat serasi dipandang saat berdampingan dengan Kenzo, seperti saat sekarang ini.


Tangan Zahra meremas kedua sisi gaun yang dia pakai. Dan semua itu tidak lepas dari pandangan Dee. "Nak," panggil Dee lembut menyentuh tangan Zahra.


"Iya Umi," ucap Zahra tersenyum.


"Jika tidak sanggup, jangan dilihat," ucap Dee mengerti.


Entah mengapa, mendengar perkataan Dee, rasanya air mata yang sejak tadi Zahra tahan memberontak keluar dari pelupuk matanya.


"Umi," panggil Zahra lirih.


"Kak Ken belum menandatangani surat cerainya, kan Umi?" tanya Dee dengan suara bergetar.


"Secara hukum, kalian masih suami istri, Nak," ucap Dee mengerti perkataan Zahra.


"Apa Zahra berhak membatalkan ini, Umi? Zahra tidak sanggup melihatnya. Zahra tidak rela," ucap Zahra dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


"Tapi Tamara-"


"Zahra rasanya tidak ikhlas, Umi. Sangat," ucap Zahra cepat memotong perkataan Zahra.


Zahra menangkup kedua tangannya di dada. Sebentar lagi cincin itu akan melingkar di jari Tamara. "Umi, restui Zahra, Umi," ucap Zahra menatap Dee.


"Pertahankan pernikahan kamu, Nak," ucap Dee mengusap lembut punggung Zahra.


Zahra berbalik, menatap Kenzo dan Tamara yang ada di panggung. Tanpa sengaja, Zahra menangkap pemandangan bahwa lampu besar yang tergantung tepat di atas kepala Kenzo bergoyang entah kenapa. Kenzo melirik ke pilar besar. Di sana terdapat seperti tali rantai besi yang menjadi pengikat lampu hias besar tersebut.


"KAK KEN."


......................


Jeng.. jeng...jeng 😂😂


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘