Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 102



🌹HAPPY READING🌹


"Kamu yakin, Sayang?" tanya Kenzo.


Saat ini mereka berdua sedang berada di mobil menuju tempat penyekapan Sofia. Kenzo memenuhi permintaan Zahra untuk bertemu dengan Sofia. Karena walau bagaimanapun, Zahra adalah orang yang paling berhak untuk mengetahui semuanya.


Mereka tidak pergi berdua saja, ada Dee dan Ibra yang juga ikut di mobil lain yang mengikuti mereka dari belakang.


Zahra mengangguk yakin. "Semuanya harus jelas, Mas," jawab Zahra. Meskipun dalam jantung dan hatinya tidak selaras dengan perkataan mulutnya, tapi Zahra harus berani menghadapi semuanya.


Sebelah tangan Kenzo menggenggam tangan Zahra. "Ingat, Sayang! Kamu tidak sendiri saat ini. Ada aku dan Sela yang akan selalu mendukung kamu," ucap Kenzo meyakinkan Zahra.


"Apa karena ini kamu menikahi aku secepat ini, Mas? Apa karena kamu kasihan dan dan tidak ingin aku sendiri, makanya kamu dengan cepat menikahi aku sebelum aku mengetahui semuanya?" tanya Zahra menatap Kenzo sendu.


Kenzo menggeleng yakin. "Tentu tidak, Sayang. Aku menikahi kamu bukan karena kasihan. Aku menikahi kamu bukan semata-mata karena masalah ini. Aku menikahi kamu karena aku sayang dan cinta kamu, Zahra. Ada atau tidak masalah ini, aku akan tetap menikahi kamu. Ibu dari anak-anak aku," ucap Kenzo yakin.


Kenzo menepikan sebentar mobilnya. Dia juga memberi kode kepada mobil Ibra yang dibelakang mereka untuk melaju didepan lebih dulu.


"Sayang," panggil Kenzo lembut setelah mobilnya menepi.


Tangan Kenzo menangkup kedua pipi Zahra. Ibu jarinya terulur menghapus air mata yang kembali mengalir di pipi Zahra. "Selalu ada hikmah dari semua kejadian, Sayang," ucap Kenzo menatap Zahra.


"Kamu ingat, kamu bukan orang jahat. Sofia tidak ada hubungan apa-apanya sama kamu, Sayang. Tidak ada ikatan darah apapun," ucap Kenzo menatap Zahra.


"Tapi Abi benci aku, Mas," ucap Zahra sendu.


Kenzo menggeleng. "Bukan benci, Sayang. Abi hanya belum bisa menerima semuanya. Abi hanya butuh waktu," jawab Kenzo.


"Mas," panggil Zahra lembut menatap dalam mata Kenzo.


"Iya, Sayang," jawab Kenzo.


"Kalau memang aku tidak di terima lagi, bawa aku dan Sela pergi, ya," ucap Zahra sendu dengan air mata menetes di pipinya.


Kenzo membawa tubuh Zahra kedalam pelukannya. "Kita akan buat kebahagiaan kita sendiri nanti jika itu yang terjadi, Sayang," ucap Kenzo mengusap lembut punggung Zahra.


"Kita lanjutkan perjalanan? Sebentar lagi akan sampai, Sayang," ucap Kenzo.


Zahra melepaskan diri dari pelukan Kenzo. Dia mengangguk menjawab pertanyaan Kenzo untuk melanjutkan perjalanan mereka.


.....


Zahra melihat bangunan lama si depannya. "Apa benar disini, Mas?" tanya Zahra bingung. Pasalnya, rumah yang mereka datangi adalah rumah yang sudah lama tidak berpenghuni.


"Jangan biasakan menilai dari luar saja, Sayang. Ayo masuk," ucap Kenzo menggandeng tangan Zahra memasuki rumah tersebut.


Kaki Kenzo dan Zahra melangkah memasuki rumah tersebut. Di luar sudah ada mobil Ibra, Kevin dan Al. Itu artinya, mereka semua masih ada disini.


"Interior yang indah," gumam Zahra melihat isi dalam rumah yang sangat bertolak belakang dengan luarnya.


Kenzo tersenyum. "Ini tempat Abi, Sayang," jawab Kenzo.


"Tempat Abi?" tanya Zahra tak mengerti.


"Ini tempat yang biasa digunakan Abi untuk menghukum orang atau lawan bisnis yang mengganggunya, Sayang," jawab Kenzo memberitahu dan Zahra hanya mengangguk saja mengiyakan perkataan Kenzo.


Kenzo dan Zahra menaiki tangga. Langkah kaki Kenzo berhenti di depan sebuah pintu besi yang tertutup rapat. "Masuk, Sayang," ucap Kenzo menatap Zahra.


"Sama kamu," ucap Zahra mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Kenzo.


Kenzo mengangguk. Tangannya membuka pintu besi yang tertutup rapat.


Ceklek.


Zahra memandangi mereka semua yang ada disana. Begitu juga Al, Kevin, Aska, Thomas, Ibra dan Dee, mereka memandang pintu yang terbuka.


Zahra memandang Ibra. Lelaki itu tetap tidak mau memandangnya. Zahra mengerti, ini saatnya dia menuntaskan semuanya. Dia tidak mau, hanya karena Sofia, hubungannya dan Ibra menjadi tidak baik sekarang.


Zahra mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang sedang terikat rantai ditangan dan kakinya. Tangan Zahra semakin erat menggenggam tangan Kenzo. "Kamu yakin, Sayang?" ucap Kenzo bertanya sekali lagi.


Zahra memejamkan matanya menghirup nafas dalam. Setelah yakin, Zahra melepaskan tangannya pada Kenzo dan berjalan mendekati Sofia yang kini juga memandangnya.


"Kuatkan Ara, Umi," ucap Zahra yang dibalas anggukan oleh Dee.


Zahra terus berjalan mendekati Sofia dengan pandangan tak lepas dari wanita itu. Pantas saja jika selama hidup, aku lebih memiliki ikatan dengan Umi daripada kamu, Bunda Sofia. Aku tidak menyesal menjadikan Umi Dee sebagai panutan ku. Batin Zahra.


"Za-Zahra," panggil Sofia terbata saat Zahra ada di depannya.


"Apa kabar, Bunda?" tanya Zahra menatap sendu Sofia.


"Kamu mau lepaskan Bunda dari sini kan? Mereka semua menyekap Bunda," ucap Sofia tak tahu diri.


"Aku akan semakin dibenci jika melepaskan mu, Bunda," jawab Zahra lemah.


"Aku Ibumu, Zahra," ucap Sofia.


"Ibu angkat!" sentak Zahra cepat mendengar perkataan Sofia yang mengatakan bahwa dia adalah anaknya. Wanita itu terlihat lebih tegar sekarang. Dia sudah berjanji, tidak akan ada air mata yang jatuh saat berhadapan dengan Sofia.


Mereka semua yang ada disana tersentak kaget mendengar suara Zahra yang membentak Sofia.


"Tapi aku yang membesarkan mu, Zahra!" ucap Sofia menatap benci pada Zahra. Mendengar bentakan Zahra, membuat Sofia marah dan memasang wajah tak bersahabatnya pada Zahra.


"Yang membesarkan ku adalah Ayah Kevin. Ingat, lima belas tahun hidup di Turki, aku hidup bersama Ayah Kevin dan pengasuh. Kamu sibuk menemani Ayah bekerja. Di usia tujuh belas tahun, aku kesini dan hidup bersama Umi dan Abi. Lalu dimana campur tangan anda untuk membesarkan saya?" ucap Zahra bertanya pada Sofia yang terdiam mendengar pertanyaan Zahra.


"Kak," panggil Dee pada Kevin seolah meminta jawaban apakah yang disampaikan Zahra itu benar atau tidak.


Kevin menoleh dan mengangguk pada Dee. "Itu kenyataan. Tidak ada campur tangan Sofia dalam merawat Zahra," jawab Kevin sambil memandang Ibra. Dia harap, Ibra sadar dan paham akan semuanya.


"Jangan jadi anak tidak tahu diri, Zahra! Jika bukan aku yang memungutmu dari panti asuhan, kamu tidak akan menjadi anak orang kaya seperti ini!" ucap Sofia menatap nyalang Zahra.


"Dan saya sangat tidak berharap anda pungut dari panti asuhan!" jawab Zahra dengan nafas memburu.


"Kamu harusnya sadar! Kamu sudah bukan siapa-siapa! Kamu bukan keluarga! Kamu hanya penumpang!"


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Sofia begitu dia selesai mengucapkan perkataan yang menyakitkan itu.


Dee. Nafas wanita itu memburu setelah menampar Sofia. Sedangkan Zahra terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Sofia.


"Jangan pernah mengatakan bahwa anakku adalah anak pungut! Jangan mengatakan bahwa dia itu menumpang! Jangan pernah katakan bahwa dia adalah orang asing! Dia lebih berharga darimu!" ucap Dee menunjuk tepat wajah Sofia.


Saking kuatnya tamparan Dee, sudut bibir Sofia mengeluarkan darah segar yang terasa anyir baginya.


Zahra memutar pandangannya. Menatap satu persatu orang yang ada disana. Perkataan Sofia berputar-putar dipikiran Zahra..


Kamu harusnya sadar! Kamu sudah bukan siapa-siapa! Kamu bukan keluarga! Kamu hanya penumpang!. Kata itu terngiang di telinga Zahra.


"Kamu anak Umi, Zahra," ucap Dee mengerti apa yang dipikirkan Zahra.


"Bagaimanapun keadaannya, kamu anak Umi, anak Abi, anak Ayah Kevin," ulang Dee memperjelas semuanya.


"Jangan terpengaruh olehnya, Nak," ucap Dee lembut mengingatkan Zahra.


Zahra memandang Dee. Menatap lekat wanita yang masih sekarang ini selalu menyayanginya.


Puas memandangi Dee. Zahra beralih menatap Sofia.


PLAK.


PLAK.


Dua tamparan melayang di pipi Sofia secara bergantian. "Aku tidak menyesal melakukan ini," ucap Zahra setelah menampar Sofia.


......................


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘