Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 63



🌹HAPPY READING🌹


Senyum tidak henti-hentinya terbit dari bibir kecil Sela. Anak itu duduk dengan sangat tenang di mobil Kenzo. Kenzo yang melihat semua itu ikut tersenyum senang.


Berbeda dengan Kenzo dan Sela, Zahra hanya duduk di belakang dengan seribu bahasa diamnya. Ya, tadi Sela juga memaksa Zahra untuk ikut bersamanya.


Biar sekalian Buna pelgi kelja. itulah pemaksaan yang tadi dikatakan oleh Sela. Jika tidak, maka anak itu akan mengeluarkan jurus yang diajarkan oleh Dee.


Kenzo melihat kebelakang melalui kaca depan mobilnya. "Ekhem," ucap Kenzo berdeham mencairkan kediaman mereka.


Sela yang mengerti itu langsung menoleh. "Ayah haus?" tanya Sela polos. "Cela ada minum. Ini," lanjut Sela memberikan boto minum yang ada di saku sebelah tasnya.


Kenzo menggeleng. "Bukan itu, Sayang," jawab Kenzo sambil memberi kode pada Sela mengenai Zahra yang duduk di kursi belakang.


Sela menoleh dan melihat Zahra. "Buna mau duduk di depan?" tanya Sela.


Zahra yang tadi melihat keluar menoleh. "Tidak, Nak. Disini terasa lebih nyaman," jawab Zahra.


Sela hanya mengangguk. Tadi sebelum masuk mobil, anak itu meminta Zahra untuk duduk di depan sebelah Ayahnya. Namun, Zahra menolak dengan lembut dan terdengar sangat tegas di telinga Kenzo dan Sela.


"Ayah," panggil Sela lembut.


"Iya, Nak," jawab Kenzo.


"Ini adalah mimpi Cela tiap hali," ucap Sela dengan harapan agar Kenzo dan Zahra mengerti akan keinginannya.


"Cetiap hali, Cela celalu mau diantal cekolah cama Ayah dan Buna. Dan catu halapan Cela yang paling becal," ucap Sela menjeda ucapannya.


"Apa Nak?" tanya Kenzo penasaran. Sedangkan Zahra hanya mendengarkan dari bangku belakang. Dia benar-benar memasang baik-baik telinganya untuk mendengar setiap perkataan Sela.


"Cela celalu belhalap, cebelum cekolah, Cela cudah beltemu dengan Ayah, bial bica antal Cela cekolah kayak cekalang," ucap Sela tersenyum manis bergantian menatap Zahra dan Kenzo.


"Walaupun cedikit telambat, tapi Cela cenang," lanjut Sela yang membuat Zahra dan Kenzo semakin terdiam.


Sela memandangi Zahra yang mengalihkan pandangannya ke luar mobil. Cemoga Buna mengelti. Batin Sela.


Maaf, Nak. Bukannya Bunda tidak mengerti. Hanya saja terlalu cepat untuk kembali padanya. Batin Sela mengerti akan segala maksud perkataan anaknya.


"Sela," panggil Kenzo lembut.


"Iya Ayah," jawab Sela.


"Seterusnya, kita akan seperti ini, Nak. Ayah akan selalu mengusahakan sebuah senyuman di wajah Sela," ucap Kenzo.


Sela mengangguk senang. "Telimakaci, Ayah," ucap Sela memeluk lengan Kenzo yang bebas dari stir mobil.


Kenzo mengangguk dengan senyumnya. Tidak sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan Zahra.


Kling.


Kenzo mengedipkan sebelah matanya menggoda Zahra. Zahra membulatkan matanya dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari kaca mobil.


Bisa-bisanya dia bertindak seperti itu. Batin Zahra kesal dengan kelakuan Kenzo.


Kenzo tersenyum senang karena berhasil menggoda Zahra. Berhenti munafik, Sayang. Batin Kenzo dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.


Lima belas menit, mobil Kenzo sampai di depan sekolah Sela.


"Cela cekolah dulu, ya, Ayah, Buna," ucap Sela menyalami tangan Kenzo dan Zahra bergantian. Tidak lupa dia mengecup punggung tangan kedua orang tuanya.


Kenzo bersimpuh mensejajarkan tinggi badannya dengan Sela.


"Nanti pulang sekolah Ayah jemput, ya. Kita main ke rumah Ayah, sama Shasa juga," ucap Kenzo.


Sela mengangguk senang dan langsung memeluk Kenzo. "Cela tunggu Ayah dicini caat pulang ya, Ayah," ucap Sela.


Kenzo mengangguk. Tidak lupa dia mencium kening Sela sebelum anak itu benar-benar pergi. "Acalamu'alaikum, Ayah, Buna," ucap Sela.


Setelah memastikan Sela benar-benar hilang dari pandangan mereka, Zahra memilih untuk segera pergi dari sana.


Tapi belum sempat dia melangkah, pergelangan tangannya sudah dicekal oleh Kenzo.


"Lepaskan!" ucap Zahra tegas menatap Kenzo tajam.


"Aku akan antar kamu kerja, Zahra," ucap Kenzo lembut.


"Lepaskan atau saya teriak!" ucap Zahra tegas.


"Kamu teriak, bibir saya akan mendarat di bibir kamu," ucap Kenzo mengancam balik Zahra.


Zahra memandang Kenzo dengan tatapan permusuhan layaknya anak kecil. Bukannya takut, Kenzo malah gemas sendiri dengan ekspresi Zahra.


"Jangan berekspresi seperti itu, kamu membangkitkan semangatku untuk menciumu sekarang," ucap Kenzo yang mampu membuat Zahra merubah ekspresinya seratus delapan puluh derajat.


Zahra yang tadinya menatap tajam, kini hanya menatap datar pada Kenzo. Sial, gimanapun wajahnya tetap aja menggemaskan. Batin Kenzo.


"Lepas tangan saya, Kak Ken!" ucap Zahra.


"Aku yang akan mengantar kamu kerja, Zahra," ucap Kenzo kekeuh dengan keinginannya untuk.mengantar Zahra bekerja ke toko kue.


Zahra menggeleng. "Jangan mentang-mentang saya memberi izin Kak Ken untuk bertemu Sela, bukan berarti Kak Ken dengan mudah mengatur saya. Ingat! Saya ini seorang janda! Jangan membuat orang-orang berpikir buruk tentang saya!" ucap Zahra tegas yang mampu membuat Kenzo terdiam.


Melihat Kenzo yang diam, Zahra menghentakkan tangannya dari tangan Kenzo hingga terlepas.


"Ingat ini, Kak Ken!" ucap Zahra menjeda ucapannya sambil menunjuk wajah Kenzo. "Tidak mungkin untuk memuluskan kembali kaca yang sudah pecah berkeping-keping!" lanjut Zahra dan langsung pergi meninggalkan Kenzo dengan segala keterdiamannya.


Kenzo tersenyum getir melihat tangannya yang tadi dihempas oleh Zahra. "Kamu benar, Zahra. Tidak mungkin kaca yang pecah akan mulus kembali. Tapi dia bisa diganti dengan kaca yang lebih bagus," gumam Kenzo.


"Tunggu waktunya, Zahra. Ada saat dimana kamu akan mengakui semua perasaan yang kamu simpan," lanjut Kenzo. Kenzo masuk ke mobilnya dan mulai menjalankan kendaraan besi tersebut.


.....


Ibra menjalankan mobilnya dengan senyum tampan di wajah pria yang sudah tak lagi muda tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Dia baru saja kembali dari perusahaan karena ada rapat penting dengan para petinggi perusahaannya atas permintaan Al.


Saat berhenti di lampu merah, Al tidak sengaja melihat sebuah toko bunga yang cukup ramai. Ketika lampu hijau sudah datang, Ibra membelokkan mobilnya untuk ke toko bunga tersebut.


"Bunga untuk wanita paling spesial," gumam Ibra setelah memarkirkan mobilnya di depan toko bunga.


Baru kaki Ibra akan melangkah memasuki toko bunga, tidak sengaja matanya menatap seorang wanita yang sangat dia kenal, sedang duduk bersama seorang wanita yang membelakanginya.


"Sayang," gumam Ibra. Ibra tentu mengenal jelas wanita itu. Dia istri yang sangat dia cintai, Dee.


"Siapa wanita yang bicara dengan Dee?" tanya Ibra pada angin yang berhembus.


Mengurungkan niatnya untuk memasuki toko bunga, Ibra membelokkan langkah kakinya memasuki toko kue tersebut.


Dengan senyum mengembang, Ibra memasuki toko kue dan berjalan mendekati meja yang di duduki oleh Dee.


"Sayang," panggil Ibra.


DEG


Jantung Ibra seakan lepas dari raganya melihat wanita yang saat ini sedang berbalik menatapnya.


"Z-Zahra."


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz, banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘