
🌹HAPPY READING🌹
"Cela tidak akan pakca Buna kembali pada Ayah, tapi jangan lalang Cela untuk cayang Ayah, ya Buna. Jangan ambil mimpi Cela ya, Buna," ucap Sela memohon dengan kedua tangan menangkup di depan dadanya.
"Ya Allah, Nak," ucap Zahra menggeleng mendengar segala perkataan anaknya.
Sela melepaskan tangannya dari Kenzo. Dia berjalan mendekati Sela.
Tanpa aba-aba, Sela berlutut di depan kaki Zahra. Anak itu memeluk kedua kaki Bunda yang sangat dia cintai. "Cela tidak dulhaka kan, Buna?" ucap Sela memandang Zahra dengan mata sendu.
"Nak," ucap Zahra berusaha membuat Sela berdiri. Sungguh, bukan ini yang dia inginkan. Dia tidak ingin menjadi orang tua durhaka untuk anaknya. Sudah terlalu banyak kesedihan yang dia berikan kepada Sela, dan sekarang? Bahkan anaknya memohon hanya demi sebuah kasih sayang Ayahnya.
"Izinkan Cela dapat kacih cayang Ayah, ya Buna. Cela tahu, Ayah Cangat jahat dulu cama Buna. Ayah mempelakukan Buna layaknya binatang. Ayah sangat jahat," ucap Sela memeluk kaki Zahra.
Kenzo yang melihat itu tak kuasa untuk menahan air matanya. Begitu juga mereka yang lainnya juga berada disana. Begitu kamu sangat menyayangi Ayah, Nak. Kamu mengemis hanya karena kasih sayang yang akan pasti kamu dapatkan. Batin Kenzo menangis melihat Sela.
"Sela jangan buat Bunda durhaka sama anak sendiri, Nak," ucap Zahra lirih mencoba melepaskan tangan Sela dari kakinya.
Sela menggeleng. "Bunda lelakan, kalau Cela tetap cayang cama Ayah? Bunda ikhlas kan? itu tidak akan menyakiti Buna, kan?" tanya Sela menengadah memandang Zahra.
Zahra mengangguk. "Bunda ikhlaskan, Nak. Hak Sela untuk mendapat kasih sayang Ayah Sela. Maaf jika Bunda egois," ucap Zahra membantu Sela bangun dan berdiri tepat dihadapannya.
Tangan Zahra terulur menghapus air mata yang ada di pipi Sela. "Sela dengar Bunda, ya. Kapanpun Sela bertemu dengan Ayah Sela, Bunda akan izinkan. Bunda tidak akan pernah melarang Sela. Kebahagiaan Sela di atas segalanya, Nak," ucap Zahra.
Sela mengangguk. "Telimakaci, Buna," ucap Sela memeluk Zahra.
Zahra membalas pelukan Sela tak kalah erat. Tidak ada wanita yang lebih beruntung dari aku di dunia ini. Allah menganugerahkan aku anak se bijaksana ini. Tidak ada kenikmatan yang lebih indah dari ini, Ya Allah. Terimakasih. Batin Sela bersyukur atas kehadiran Sela dalam hidupnya.
"Sela," panggil Kenzo lembut.
Sela melepaskan pelukannya pada Zahra. Anak itu beralih menatap Kenzo. "Iya Ayah," jawab Sela tersenyum dengan wajah sembabnya.
"Selain Nenek Dee dan Kakek Ibra, Sela juga punya Opa dan Oma," ucap Kenzo.
"Opa dan Oma?" beo Sela bertanya pada Kenzo.
Kenzo mengangguk. Dia beralih menatap Anggara dan Melani yang duduk di sebelah kirinya, sedangkan Al ada disebelah kanannya. "Ini Opa dan Oma Sela. Orang tua Ayah," ucap Kenzo.
Sela beralih menatap Anggara dan Melani. Senyum manis terbit dibibir anak itu. "Acalamu'alaikum, Opa, Oma," ucap Sela. Tadi dia memang sudah bersalaman dengan Anggara dan Melani, tapi dia tidak tahu menahu jika mereka adalah Opa dan Omanya.
"Waalaikumsalam, Nak," jawab Anggara dan Melani bersamaan.
"Boleh peluk Oma, Sayang?" pinta Melani dengan mata berkaca-kaca merentangkan tangannya pada Sela.
Sela mengangguk. Tubuh mungil Sela berhambur menabrak tubuh Melani. Melani memeluk erat cucunya itu. Cucunya yang sudah lama dia nantikan kehadirannya, akhirnya kini bisa dia peluk dengan nyata. "Oma Sayang Sela," ucap Melani dengan suara bergetar.
Sela mengangguk. "Cela juga cayang Oma," ucap Sela semangat.
Melani mengusap lembut punggung mungil Sela. Melani mengangguk saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan tatapan Zahra. Melani menatap Zahra seolah mengatakan terimakasih pada wanita itu. Zahra mengangguk membalas tatapan Melani.
Lama mereka berpelukan, Sela melepaskannya dan beralih menatap Anggara. "Opa," panggil Sela lembut.
Anggara tersenyum dan mengangguk. Dia merentangkan tangan ketika Sela mendekat. Sela langsung berhambur memeluk Anggara. "Cucu Opa," ucap Anggara senang.
Sela tersenyum dan mengangguk. "Cela juga cayang Opa," ucap Sela dengan senyum manisnya.
Sela melepaskan pelukannya. Lalu dia mengarahkan semua pandangannya dan menatap satu persatu keluarganya. Senyumnya bertemu dengan Shasa yang juga tersenyum tulus menatapnya. Akhirnya, sahabat yang selama ini dekat dengannya merupakan saudaranya sendiri.
Mereka semua tersenyum dan mengangguk. Sela berjalan mendekati Shasa yang duduk di pangkuan Aska.
"Caudala celamanya?" ucap Sela mengajukan jari kelingkingnya kepada Shasa. Shasa tersenyum dan mengangguk. "Saudara selamanya," jawab Shasa ikut menyatukan jari kelingkingnya dengan jari Sela.
"Pingky plomise."
"Pingky promise," ucap Sela dan Shasa bersamaan dengan senyum mengembang diantara mereka.
Mereka semua yang melihat itu ikut tersenyum senang. Semoga persaudaraan kalian saling utuh dan saling menjaga satu sama lain, Nak. Batin Zahra senang melihat Sela dan Shasa yang begitu saling menyayangi.
.....
Senyum mengembang tak luntur dari wajah Kenzo melihat anaknya yang kini sedang berlarian bersama Shasa. Kedua anak itu nampak berlari saling mengejar. Dengan si kecil Adam yang belajar berjalan bersama Al.
Kini, para lelaki duduk di bawah pohon yang ada di depan rumah Zahra. Memandangi Shasa dan Sela, serta Adam yang belajar berjalan. Halaman yang cukup luas membuat Sela dan Shasa puas bermain. Ini pengalaman baru bagi Sela. Karena selama ini, dia hanya bisa melihat teman-teman dekat rumahnya bermain dari jendela. Karena jika dia bergabung, maka hanya hinaan yang akan dia terima.
"Kamu senang Kenzo?" tanya Ibra dengan mata tak lepas dari semua cucunya.
Kenzo menoleh. "Sangat senang, Abi. Tidak ada kebahagiaan lain bagi seorang Ayah selain melihat senyum anaknya," jawab Kenzo menatap Sela.
"Kamu senang, aku yang merasa gagal jadi Ayah," ucap Ibra.
Kenzo menggeleng. "Semua terjadi karena kesalahan Kenzo, Abi. Maaf," ucap Kenzo tulus.
Ibra menggeleng. "Jangan sia-siakan Sela, Kenzo. Dia cukup dewasa untuk mengerti semuanya," ucap Ibra.
Kenzo mengangguk pasti. Tidak mungkin dia akan menyia-nyiakan pengorbanan anaknya yang sungguh luar biasa.
Kenzo dan Ibra sama-sama terdiam. Saat asik melihat Shasa, Sela dan Adam, Kenzo teringat akan sesuatu yang pernah dikatakan oleh Dee. Kenzo menoleh lada Ibra. Menatap lama wajah lelaki yang sudah mulai tua, namun masih tetap terlihat sangat tampan. Apa mungkin lelaki bodoh sekaligus hebat itu Abi? Batin Kenzo bertanya-tanya.
Tidak ingin penasaran, Kenzo memberanikan diri untuk bertanya. "Abi," panggil Kenzo pelan.
"Hem," jawab Ibra dengan pandangan tak teralihkan dari Sela dan Shasa.
"Bagaimana bertindak bodoh dan hebat secara bersamaan Abi?" tanya Kenzo yang mampu membuat Ibra langsung menatapnya.
"Kamu menyindirku?" tanya Kenzo tajam.
Bukannya takut, Kenzo malah tertawa melihat reaksi Ibra. Ternyata benar, lelaki yang bisa dia jadikan guru dalam hal ini adalah mertuanya sendiri.
"Ajari Kenzo, Abi," ucap Kenzo berubah serius.
Ibra menghela nafas pelan. "Yakin kamu akan bisa?" tanya Ibra.
Kenzo mengangguk yakin menjawab pertanyaan Ibra.
"Jadi orang gila dulu, nekat gak terbantahkan."
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘