
🌹HAPPY READING🌹
Kenzo sampai di perusahaanya setelah sepuluh menit mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Dia menatap jam tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. "Gagal kerja sama," gumam Kenzo turun dari mobil dan berjalan memasuki kantor dengan langkah tegasnya.
Saat sampai di lantai ruangannya, Kenzo tidak melihat keberadaan Arman diruangan nya. "Kemana lelaki itu?" gumam Kenzo bertanya entah pada siapa.
Tidak mau ambil pusing, Kenzo berjalan memasuki ruangannya.
"Selamat datang, Pak Kenzo."
"Astagfirullah!" ucap Kenzo kaget mengelus dada begitu mendengar sapaan yang tiba-tiba menyambut kedatangannya.
Kenzo melihat tiga orang pria yang duduk di sofa ruangannya. Dan salah satunya adalah Arman, Asisten sekaligus sekretarisnya.
"Arman," panggil Kenzo.
"Klien kita dari Singapure bersikeras menunggu anda disini, Tuan," ucap Arman tak enak. Karena dia sangat tahu, Kenzo paling tidak suka jika ada orang lain selain keluarganya memasuki ruang kerja tanpa seizinnya.
Kenzo terdiam mendengar perkataan Arman. Ah, kali ini biarkan saja. Mereka penting bagiku. Batin Kenzo.
Kenzo tersenyum dan berjalan mendekat. "Selamat datang, Tuan," ucap Kenzo ramah menyalami pria yang dia ketahui adalah rekan kerjasamanya itu.
"Maaf jika tadi sedikit mengejutkanmu, Tuan Kenzo," ucap lelaki itu.
"Ah, tidak apa-apa. Mari, silahkan duduk kembali," ucap Kenzo.
"Terimakasih," jawab klien itu ramah.
"Perkenalkan, saya Marcel, CEO dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan anda, Tuan Kenzo," ucap Marcel memperkenalkan dirinya.
"Dan ini asisten sekaligus asisten saya, Marvin," lanjutnya memperkenalkan seorang lelaki lain di sebelahnya.
"Ah, halo Tuan Marcel, Tuan Marvin. Senang berkenalan dengan anda," ucap Kenzo.
"Kita sepertinya seumuran, tidak usah memanggil Taun," ucap Marcel tak enak.
"Baiklah Marcel, saya Kenzo dan ini asisten saya, Arman" ucap Kenzo yang ikut memperkenalkan dirinya dan juga Arman.
"Anda beruntung memiliki Asisten seperti Arman ini, Kenzo. Dia sangat menjaga privasi atasannya," ucap Marcel kagum. Karena tadi, sejak awal kedatangannya, Arman meminta mereka untuk menunggu di ruang meeting. Tapi, Marcel memaksa untuk menunggu di ruang kerja Kenzo. Alhasil, Arman pasrah tapi tetap menjaga keamanan ruang kerja Kenzo, takut Marcel akan berbuat macam-macam nanti.
Arman menahan senyum mendengar pujian Marcel untuk dirinya. "Karena sayang sayang pekerjaan saya, Tuan Marcel," jawab Arman yang membuat Marcel dan Marvin tertawa mendengarnya. Sedangkan Kenzo hanya menatap Arman datar. Bisa sekali Arman ini menyindirnya dengan sangat halus. Andai ada Sela disini, sudah dipastikan Arman akan habis karena mulut pedas anaknya itu.
"Saya juga minta maaf atas ketidaknyamanan karena menunggu saya, Marcel," ucap Kenzo tak enak karena membuat Marcel menunggunya. Karena benar saja, biasanya para pimpinan perusahaan lain tidak akan mau membuat menunggu selama itu. Marcel adalah pemimpin yang sabar menurut Kenzo.
"Ya, anda membuat saya terlalu lama menunggu. Tadinya saya marah dan berniat membatalkan kerjasamanya begitu saja. Saya merasa anda sudah tidak sopan karena mengabaikan rekan kerja sama anda. Anda tahu bukan, kerja sama ini penting. Baik untuk anda, dan juga untuk perusahaan Saya. Saya juh-jauh dari Singapura hanya untuk kerja sama ini. Tapi nyatanya, sampai disini saya disambut oleh kata menunggu," ucap Marcel.
Hati Kenzo mulai tak nyaman dan tak enak. Tapi dua berusaha terlihat santai, toh ini semua demi anaknya. Jadi dia tidak merasa menyesal sedikitpun walau masih ada sedikit rasa takut akan penolakan kerja sama ini.
"Saya minta maaf karena membuat anda menunggu, Marcel. Tapi saya tidak menyesal untuk itu," jawab Kenzo yakin.
Marcel menganggukkan kepala mendengar perkataan Kenzo. "Jika saya menjadi anda, saya akan melakukan hal yang sama, Kenzo" ucap Marcel yang mampu membuat atensi Kenzo menatapnya tak percaya.
"Lelaki yang menomorsatukan keluarga, adalah lelaki penuh tanggung jawab dan bijak. Karena itu, saya menunggu anda untuk mengatakan bahwa saya ingin, kita melanjutkan kerja sama ini," lanjut Marcel.
Kenzo dan Arman tersenyum sumringah. "Benarkah?" tanya Kenzo.
Marcel mengangguk. Kenzo bersyukur dalam hati atas apa yang dia dapatkan hari ini. Senyum anaknya, dan sekarang rezeki Allah memang tak terduga padanya. Dia yang awalnya pasrah untuk kerja sama ini, akhirnya berbuah manis.
Ternyata benar, usaha dan doa adalah milik kita. Allah yang punya takdir dan kuasa untuk memutuskan segalanya. Batin Kenzo senang mengucap syukur yang sebanyak-banyaknya.
Setelah itu, mereka melanjutkan perbincangan mengenai bisnis dan kerja sama yang akan dilakukan sambil menandatangani kontrak yang sudah disediakan.
.....
Kenzo menghela nafas lega begitu Marcel pamit izin pergi dari perusahaannya. "Akhirnya," ucap Kenzo menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Nggak jadi miskin," sambung Arman. Miskin orang kaya versi miskin orang biasa memang berbeda. Padahal harta Kenzo tidak hanya perusahaan ini, masih ada beberapa hotel, restoran dan sekolah, tapi dia begitu takut kehilangan perusahaan ini. Ini adalah perusahaan yang dia bangun sendiri dengan kerja kerasnya.
Kenzo mengangguk setuju. Dia membenarkan apa yang Arman katakan. "Jika saja kerja sama itu batal, maka setengah aset perusahaan terkuras untuk mengganti kerugiannya," ucap Kenzo.
"Rezeki Sela, Tuan. Jika anda tidak pergi ke sekolah Sela, belum tentu Tuan Marcel mau menerima kerjasama ini dan melihat bagaimana kepribadian anda," ucap Arman.
"Anakku memang ajaib ternyata," gumam Kenzo senang yang masih didengar oleh Arman.
"Tapi kalau Tuan miskin masih aman. Orang tua dan semua mertua Anda kaya, Tuan," ucap Arman.
"Ayah Kevin aku percaya akan membantu. Al begitu juga. Tapi Abi Ibra, aku ragu dengan kakek-kakek yang satu itu," ucap Kenzo
"Kenapa aku?!" sebuah suara dari arah pintu mengagetkan Kenzo dan Arman yang sedang bersantai.
"Ya Salam, Abi," ucap Kenzo tak percaya. Kenzo mengutuk mulutnya yang tak bisa di rem jika bicara.
Arman hanya tersenyum puas melihat wajah bosnya yang menunjukkan raut terkejut dan menyesal akan perkataanya.
"Aku kenapa?" tanya Ibra lagi sambil berjalan menuju sofa.
Kenzo hanya tersenyum tanpa dosa menatap Ibra. "Salah ngomong, Abi," ucap Kenzo.
"Miskin beneran, tahu rasa!" ketus Ibra yang sudah mendudukkan badannya di sofa.
"Tumben sekali Abi datang. Biasanya Abi memintaku datang ke perusahaan Abi jika ingin bertemu," ucap Kenzo heran.
Wajah Ibra berubah serius menatap Kenzo yang duduk didepannya. "Jelaskan pada Abi, siapa Zahra sebenarnya?"
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏