Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 64



🌹HAPPY READING🌹


Dengan senyum mengembang, Ibra memasuki toko kue dan berjalan mendekati meja yang di duduki oleh Dee.


"Sayang," panggil Ibra.


DEG


Jantung Ibra seakan lepas dari raganya melihat wanita yang saat ini sedang berbalik menatapnya.


"Z-Zahra," gumam Ibra tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Dee dan Zahra yang melihat kedatangan Ibra berdiri kaget karena kehadiran lelaki itu yang tiba-tiba.


"A-Abi," panggil Zahra lembut menatap Ibra.


Ibra menggelengkan kepalanya. "Ini tidak benar kan?" gumam Ibra bertanya mengenai apa yang dia lihat.


Dee berjalan mendekati Ibra. "Mas," panggil Dee lembut.


Ibra menatap Dee. "Aku berhalusinasi lagi, Sayang," ucap Ibra tidak percaya.


Dee menggeleng. "Tidak, Mas. Kamu tidak berhalusinasi. Dia Zahra," ucap Dee menunjuk Zahra.


Zahra berjalan mendekati Ibra. "Abi," panggil Zahra lembut menggenggam sebelah tangan Ibra.


Ibra menatap Zahra dengan sangat lama. Mata lelaki itu berkaca-kaca ketika kulit tangannya bersentuhan dengan seorang gadis yang selama ini dia rindukan.


Ibra menatap Dee meminta penjelasan. "Sayang," panggil Ibra.


Dee mengangguk. "Iya Mas. Ini Zahra kita, anak yang selama ini kita rindukan," ucap Dee.


Ibra kembali menatap lekat Zahra. Tangannya terulur mengusap lembut wajah Zahra. "Ini anak Abi?" tanya Ibra dengan suara bergetar.


Zahra mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Ini Ara, Abi," jawab Zahra.


Kedua tangan Ibra meraba-raba wajah Zahra. "Anak Abi," gumam Ibra dengan air mata yang jatuh begitu saja di pipinya.


Zahra mengangguk dengan dagu bergetar. "Iya, Abi," jawab Zahra.


Tanpa aba-aba, Ibra langsung membawa tubuh mungil Zahra ke dalam dekapannya. Erat sekali. Pelukan Ibra terasa sangat erat untuk Zahra. Pelukan seorang Ayah yang sangat lama sekali Zahra rindukan.


"Abi, hiks," tangis Zahra pecah dalam pelukan Ibra. Sungguh, tidak ada pelukan lelaki yang lebih nyaman dari ini. Pelukan seorang Ayah yang dengan sangat tulus menyayangi anaknya.


"Ara rindu, Abi," ucap Zahra dalam tangisnya. Dee yang melihat itu ikut menitikkan air matanya. Begitu besar rindu yang ditahan oleh dua orang ini. Begitu besar rasa sayang yang selama ini terpendam.


"Kamu kemana saja, Nak? Kenapa tidak pulang?" tanya Ibra mengusap lembut kepala Zahra.


"Maaf, Abi," ucap Zahra menyesal dengan apa yang dia lakukan.


Beberapa menit berpelukan, Ibra melepaskan pelukannya dan menatap Zahra. Ibra menangkup wajah Zahra dengan kedua tangannya. Mencium lama dahi anaknya yang sudah sangat lama dia rindukan.


"Ceritakan pada Abi, Nak," ucap Ibra.


Zahra memandang Dee. Dee mengangguk menjawab tatapan Zahra.


"Kita duduk dulu, Abi," ucap Zahra menggiring tangan Ibra untuk duduk bersama di kursi yang tadi dia duduki bersama Dee.


"Jadi?" tanya Ibra setelah mereka duduk bersama di kursi.


Zahra menceritakan semua yang dia alami. Saat dia bertemu dengan Bu Sari, hingga dia kembali ke Indonesia.


"Dan kamu tidak mendatangai keluargamu, Nak?" tanya Ibra setelah mendengar cerita Zahra.


Zahra menunduk, tidak berani menatap Ibra yang juga menatapnya lembut. "Maaf, Abi. Aea sempat datang. Saat itu Ara dalam keadaan hamil berat, delapan bulan. Ara duduk di kursi roda dan di bantu Bu Sari untuk datang ke rumah. Tapi Ara mengurungkan niat tersebut saat melihat kalian semua yang hidup dengan sangat bahagia, dan Ara tidak mau menghancurkannya dengan kedatangan Ara, Abi," ucap Zahra menceritakan semuanya.


Ibra menggeleng. Air mata lelaki itu kembali membasahi pipinya. "Apa Abi pernah mengatakan bahwa Ada itu menyusahkan?" tanya Ibra.


Zahra menggeleng menjawab pertanyaan Ibra.


"Apa Abi pernah mengutuk kehadiran Zahra?" tanya Ibra lagi, yang dijawab gelengan kelapa oleh Zahra.


"Apa Abi pernah mengatakan bahwa Zahra adalah pembawa sial dan perusak kebahagiaan semuanya?" tanya Ibra lagi.


"Tidak, Abi," jawab Zahra sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu mengapa kamu membuat pemikiran seperti itu, Nak?" tanya Ibra sendu.


Dee yang melihat itu memegang tangan suaminya. Berharap Ibra tidak akan terpancing emosi karena semuanya. Karena jika hal itu terjadi, maka Ibra akan mengutuk dirinya sendiri.


Zahra yang mendengar suara sendu Ibra mengangkat kepala menatap Ibra. "Maaf, Abi," ucap Zahra dengan mata yang sudah penuh dengan air beningnya.


Beruntung pengunjung toko tidak terlalu ramai saat ini. Karena jika tidak, maka bisa dipastikan mereka semua akan melihat sisi baru seorang Ibrahim Rubino Hebi. Siapa yang tidak mengenal Ibra, Seorang Pengusaha sukses yang terkenal dengan ketegasan dan kedinginanya. Sekarang menangis di depan dua orang wanita berarti dalam hidupnya.


Zahra terisak mendengar penuturan Ibra. Tidak menyangka bahwa semua ini akan berdampak sebesar ini pada kehidupan keluarganya.


"Maaf, Abi. Andai Zahra benar tidak selamat, maka kesedihan Abi tidak akan selarut ini," ucap Zahra.


Ibra menggeleng. "Ya, kamu sangat menyiksa kami, Nak," jawab Ibra yang berhasil membuat Zahra dan Dee menatap Ibra.


"Mas," panggil Dee tidak percaya atas apa yang dia dengar dari mulut Ibra.


"Kamu menyusahkan, kamu pembawa sial, kamu hanya bisa memberi kesedihan!" ucap Ibra.


Tangis Zahra yang tadinya disertai isakan itu, kini tidak mampu mengeluarkan suara apapun setelah mendengar perkataan Ibra.


"Itu yang ingin kamu dengar dari mulut Abi, Nak?" lanjut Ibra lirih.


Zahra menatap Ibra dan menggeleng. "Hiks, maafkan Zahra, Abi, hiks," ucap Zahra menangis dengan menangkup kedua tangannya di dada memohon kepada Ibra.


Ibra memegang tangan Zahra dengan sebelah tangannya yang tidak digenggam oleh Dee. "Tidak ada orang tua yang mengutuk kehadiran anaknya, Nak. Tidak ada," ucap Ibra lembut.


"Zahra sama seperti Al dan Kina, Anak Abi. Meskipun bukan dari rahim yang sama, namun kalian merupakan sumber kehidupan Abi," lanjut Ibra.


Dee mengangguk membenarkan apa yang Ibra ucapkan. "Untuk menjadi Ibu tidak harus melahirkan, Nak," ucap Dee menambah perkataan Ibra.


Zahra mengangguk menatap Ibra dan Dee bergantian. "Terimakasih, Abi, Umi," ucap Zahra.


"Lalu dimana cucu Abi, Nak?" tanya Ibra.


Zahra dan Dee tersenyum. "Sela, Mas. Dia cucu kita," jawab Ibra.


.....


Sela dan Shasa tidak hentinya berceloteh di dalam mobil Kenzo. Sesuai perkataanya tadi pagi, Kenzo mengajak Sela dan Shasa untuk kerumahnya. Kenzo juga sudah izin kepada Kina dan Aska untuk membawa Shasa.


Dua puluh menit, mobil Kenzo sampai di depan sebuah rumah mewah. Sela yang melihat itu berdecak kagum. "Wah, lumah Ayah besal," ucap Sela takjub.


"Ini rumah Sela dan Bunda," jawab Kenzo.


Mereka bertiga turun dari mobil. Kenzo menggenggam tangan mungil Sela dan Shasa disisi kiri dan kanannya.


"Cela mau pipis, Abi," ucap Sela mengapitkan kakinya menahan buang air kecil.


"Biar Shasa antar Sela, Papi. Kamar mandi bawah tangga saja," ucap Shasa menawarkan diri.


Kenzo mengangguk. "Papi akan ke dapur buat makanan. Jika sudah selesai, kalian susul, ya," ucap Kenzo.


Sela dan Shasa mengangguk. Kedua anak itu pergi ke kamar mandi bawah tangga seperti yang tadi Shasa katakan. Sedangkan Kenzo langsung ke dapur untuk memulai aksinya.


"Aku tunggu diluar, ya Sela," ucap Shasa.


Sela mengangguk. Anak itu langsung masuk ke kamar mandi untuk melepas sesaknya.


Sepuluh menit, Sela keluar dengan wajah lega. "Sudah?" tanya Shasa.


"Cudah," jawab Sela.


Saat mereka akan melangkah untuk menyusul Kenzo ke dapur. Sela tidak sengaja melihat kamar yang begitu cantik di sebelah kamar mandi tersebut. Pintu kamar yang terbuka memudahkan Sela untuk melihat.


"Kamal ini indah, Cela mau lihat, Cha," ucap Sela pada Shasa.


Shasa ikut melihat ke dalam. "Wah, ini benar-bensr indah, Sela," jawab Shasa.


"Kalau begitu ayo kita masuk," lanjut Shasa menarik tangan Sela dan mereka memasuki kamar tersebut.


"Kamalnya kecil, tapi indah," ucap Sela mengedarkan pandanganya keseluruh sudut ruangan.


Shasa mengangguk menyetujui perkataan Sela. Kamar ini sangat indah. Warna cat Lilac dipadukan dengan putih dan ungu gelap, cocok sekali. Serta langit-langit kamar yang dibuat seperti awan malam dan gemerlap bintang.


Sela berjalan mendekati sebuah meja kecil. Dia mendapatkan sebuah buku kecil yang sangat indah dan menarik perhatian anak itu.


"D, i, Di, tambah a jadi Dia, l, y, ly, dialy. Z, a, Za, tambah h, Zah, l, a, La, Zahla. Dialy Zahla," gumam Sela mengeja apa yang tertulis di sampul buku kecil itu.


"Zahla? Buna?" tanya Sela bingung pada dirinya sendiri.


"Apa ini punya Buna?" tanya Sela lagi.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz, banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘