Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 10



🌹HAPPY READING🌹


Satu kebenaran yang tadi Zahra dapatkan benar-benar membuat pikirannya terusik. Pernikahan yang dia harapkan akan memberikannya kebahagiaan, ternyata hanya sebuah angan-angan.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat dini hari. Namun Zahra masih belum bisa memejamkan matanya. Zahra perlahan turun dari kasur dan menyeret dirinya untuk segera ke kamar mandi.


Setelah selesai mengambil wudhu, Zahra kembali ke kamar dan membentang sajadahnya. Zahra melaksanakan sholat tahajudnya dengan posisi duduk. Disaat sujud terakhir, air mata Zahra tumpah begitu saja tanpa dapat dia cegah. Lama Zahra melakukan sujudnya, hingga beberapa menit Zahra mengangkat kepala dan menyelesaikan sholatnya.


Sedangkan di kamar lain, tidak beda jauh dengan Zahra, Kenzo juga tidak bisa memejamkan matanya. Badannya berguling kesana-kemari mencari kenyamanan. Tapi nihil, rasa kantuk itu tidak menyerangnya sama sekali.


Kenzo mendudukkan badannya karena merasa haus. Dengan perlahan dia turun dari ranjang dan keluar kamar untuk mengambil minum ke dapur.


Saat kaki Kenzo sampai di anak tangga paling bawah, Kenzo melihat kamar Zahra yang masih terang dan pintunya sedikit terbuka. "Apa dia belum tidur?" gumam Kenzo pelan.


Kenzo mengabaikannya dan memilih pergi ke dapur untuk mengambil minum. Saat akan kembali ke kamar, Kenzo yang penasaran memilih untuk berjalan menuju kamar Zahra. Kenzo mengintip dari balik pintu. Dapat dia dengar suara tangis teredam dari kamar tersebut.


Kenzo membuka sedikit pintu dan melihat Zahra yang hanya menangis di atas sajadahnya tanpa berkata apapun.


"Apa aku begitu melukainya?" gumam Kenzo ketika mendengar tangis Zahra yang entah kenapa begitu mengangguk hatinya.


Kenzo menggeleng kuat menepis semua pikiran-pikirannya. Dia tidak ingin hatinya lemah hanya karena ini. "Ingat Kinzi, Kenzo," ucap Kenzo lalu berlalu pergi dari kamar Zahra.


Zahra yang sedang menangis menengok ke arah pintu. Dia tahu, tadi Kenzo melihatnya. Dia mendengar suara pintu yang sedikit bergeser. Tapi Zahra memilih pura-pura tidak tahu. Saat ini, dia hanya ingin merasa lebih lega setelah menangis dan mengadu kepada Sang Pencipta.


"Semoga keikhlasan dan sabar Zahra membuahkan kebahagiaan suara hari nanti. Semoga semua ini bisa membuat Kak Kenzo mencintai Zahra tanpa harus melibatkan siapapun," gumam Zahra menghapus kasar air matanya.


Setelah puas melimpahkan segala bebannya, Zahra memilih untuk ke dapur dan memasak sarapan untuk Kenzo.


"Pakai kursi roda nggak apa kali ya. Kak Ken pasti nggak lihat," gumam Zahra.


Dengan sedikit kesusahan Zahra menaiki kursi rodanya. Setelah berhasil, dia menekan tombol pada pegangan kursi rodanya dan menjalankannya menuju dapur.


Satu setengah jam berkutat dengan peralatan dapur, akhirnya nasi goreng Zahra bisa selesai. Jangan heran jika memasak nasi goreng Zahra bisa selama itu, karena memang itulah keadaanya. Keterbatasan Zahra membuat dia tidak bisa menjadi istri yang pandai dengan urusan dapur.


Zahra mengambil piring dan meletakkan di pahanya, setelah itu dia mengangkat nasi goreng yang sudah dia pindahkan ke dalam wadah. Dengan hati-hati, Zahra membawa nasi goreng ke meja makan.


Zahra meletakkan nasi goreng ke dalam dua piring. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Kenzo. Hari ini dia ingin memulai usaha untuk meluluhkan hati Kenzo dan mengubah rasa dendam itu menjadi cinta.


"Mungkin akan sulit, tapi tidak ada yang mustahil jika Allah berkehendak, bukan?" ucap Zahra menyemangati dirinya sendiri.


.....


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Zahra hanya duduk di meja makan setelah selesai memasak untuk menunggu Kenzo agar mereka bisa makan bersama.


Senyum Zahra terbit ketika melihat Kenzo mulai menuruni anak tangga dengan setelan jasnya. Dahi Zahra berkerut melihat wajah Kenzo yang tidak bersemangat.


"Kak Ken sakit?" tanya Zahra perhatian setelah Kenzo duduk di kursi.


"Bukan urusanmu!" jawab Kenzo ketus.


Zahra meringis pelan merasakan sikunya yang sedikit terbentur lantai. Tapi dia mencoba tersenyum dan menyeret dirinya mendekati Kenzo.


Melihat Zahra yang mendekatinya Kenzo langsung berdiri dan hendak pergi dari sana. Tapi tangan Zahra sudah terlebih dahulu memegang kaki Kenzo.


"Kak Ken," panggil Zahra pelan.


Kenzo hanya diam tanpa membalikkan badannya.


"Setidaknya Kak Ken makan dulu. Zahra sudah siapkan sarapan," ucap Zahra berharap menatap Kenzo.


Kenzo membalikkan badannya dan menatap nasi goreng yang sudah ada di atas meja. Setelah itu dia kembali menatap Zahra. "Baiklah, tapi aku tidak ingin makan dengan melihat wajahmu," jawab Kenzo.


Zahra hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Tidak apa Kenzo tidak ingin melihat wajahnya, tapi setidaknya makanan yang dia buat tidak terbuang sia-sia.


"Zahra akan makan di dapur, Kak," ucap Zahra menahan segala sesaknya.


Kenzo menyentak kakinya hingga tangan Zahra terlepas dari kaki Kenzo. Dia mengambil salah satu piring dan memberikannya pada Zahra. "Pergi ke dapur," ucap Kenzo. "Dan satu lagi, pel rumah sampai bersih. Dan ingat! Jangan coba-coba menggunakan kursi rodamu!" lanjut Kenzo tajam.


Zahra mengangguk. Dengan susah payah, Zahra mendorong piring tersebut di lantai dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan satunya sebagai memberi kekuatan untuk menyeret dirinya.


Zahra sampai di dapur dengan keringat di dahinya. Semua yang dia lakukan menimbulkan lelah yang mempengaruhi daya tahan tubuhnya.


Zahra menyandarkan tubuhnya di balik tembok dapur, tanpa terasa air mata Zahra jatuh saat sesuap nasi goreng itu memasuki mulutnya. "Setidaknya Zahra masih dikasih makan," gumamnya dengan dagu bergetar menahan tangis.


Melihat Zahra yang sudah pergi, Kenzo mulai memakan nasi gorengnya. Tidak bisa dipungkiri, perutnya juga meronta ingin diisi sejak tadi. Tapi memarahi dan membentak Zahra harus dia lakukan terlebih dahulu.


Setelah selesai dengan sarapannya, Kenzo berdiri dan berjalan menuju dapur. Zahra yang menyadari kedatangan Kenzo langsung menghapus kasar air matanya.


Zahra menengadahkan kepalanya menatap Kenzo. "Kak Ken," panggil Zahra.


"Nanti malam persiapkan dirimu. Kita akan ke rumah Papa dan Mama untuk makan malam. Saat aku pulang, kau sudah harus selesai," ucap Kenzo.


Zahra mengangguk dengan senyum manisnya. "Iya Kak," jawab Zahra.


Kenzo berbalik dan hendak pergi dari sana. Tapi pegangan tangan Zahra pada kakinya lagi-lagi menghentikan langkahnya. "Apalagi?" tanya Ken membentak Zahra.


"Sekali saja, izinkan Zahra menyalami suami Zahra," pinta Zahra.


Kenzo menghempaskan tangan Zahra pada kakinya. Setelah itu dia berjongkok di depan Zahra. Dengan kuat, tangan Kenzo mencengkram dagu Zahra. "Menyentuhmu seperti ini saja membuatku muak. Apalagi menyalami tanganku. Bahkan aku sangat jijik!" ucap Kenzo melepaskan dagu Zahra dengan kasar dan segera pergi dari sana.


Zahra hanya tersenyum sendu menatap kepergian Kenzo. "Istrimu ini akan menjadi jalan kamu menuju surga nantinya, Kak."


......................


Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘


Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗