Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 107



🌹HAPPY READING🌹


"Pendonor kehilangan detak jantung, Dokter."


Sedangkan di taman rumah sakit, Dee duduk dengan mata terpejam. Air mata yang keluar dari sudut matanya menandakan kesedihan yang sangat mendalam di hatinya. Tangannya tak henti menggulir butir sajadah diikuti dengan mulut yang tak hentinya mengucap zikir.


Kuatlah untuk aku, Mas. Bertahan untuk Umi, Zahra. Batin Dee berdoa untuk Ibra dan Zahra yang sedang bertarung nyawa di ruang operasi.


Saat asik dengan dzikir-nya, Dee menoleh ketika ada seseorang yang menepuk pelan bahunya. Dee berbalik dan tersenyum.


"Bella," gumam Dee lembut melihat menantunya yang tadi menepuk pelan punggungnya.


Bella tersenyum dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. "Operasinya sudah selesai, Umi," ucap Bella lirih.


Dee meneliti setiap wajah Bella. Ada ekspresi yang tak bisa Dee baca dari wajah Bella.


"Bagaimana, Nak?" tanya Dee bermaksud menanyakan keadaan Zahra dan Ibra setelah operasi.


Bella menggeleng dan langsung berhambur memeluk Dee. "Ayo kita lihat Abi dan Zahra, Umi," ucap Bella menangis memeluk Dee.


"Semuanya baik-baik saja kan, Nak?" tanya Dee pelan berusaha menahan tangisnya.


Bella menggeleng dalam pelukan Dee. Dee yang mengerti memejamkan mata menahan agar air bening itu tidak keluar dari matanya. Sudah cukup rasanya dia menangis.


.....


"Al," panggil Dee ketika mereka sampai di depan ruang operasi.


Dee was-was. Dia melihat semua keluarganya menangis disini.


"Umi," jawab Al lirih yang melihat Dee datang bersama Bella.


Al langsung berjalan mendekati Dee dan memeluk wanita itu. Al menangis hebat dipelukan Dee. "Semuanya baik-baik saja kan?" tanya Dee dengan pandangan kosong ke depan.


Al hanya diam dan terus menangis dipelukan Dee. Dee yang tidak mendapat jawaban apa-apa dari Al melepaskan pelukan anaknya itu. Dia berjalan mendekati Kenzo yang berdiri dihadapan Dokter.


"Bagaimana Ken?" tanya Dee sendu.


"Dokter," panggil Kenzo bermaksud agar Dokter yang menjawab pertanyaan Dee.


Dokter tersenyum. "Operasinya lancar, Nyonya. Taun Ibra dan Nona Zahra, selamat," ucap Dokter yang membuat Dee bernafas lega karenanya.


"Lalu mengapa kalian menangis?" tanya Dee bingung. Bukankah mereka harusnya senang mendengar kabar ini. Tapi, mereka semua menangis seakan kehilangan.


"Begini, Nyonya," ucap Dokter menjeda sedikit perkataanya.


Dee beralih menatap Dokter menunggu penjelasan dari Dokter tersebut.


"Saat operasi berlangsung, Tuan Ibra sempat kritis dan kehilangan detak jantungnya. Sedangkan Nona Zahra mengalami kejang yang hebat, Nyonya," ucap Dokter memulai ceritanya.


Dee menutup mulut tak percaya mendengar perkataan Dokter. Ternyata kegelisahannya beberapa jam yang lalu, inilah penyebabnya.


"Lalu?" tanya Dee hati-hati.


"Keajaiban terjadi diwaktu yang sangat tepat, Nyonya. Semua itu terjadi sebelum proses transplantasi ginjal dilakukan. Kami sempat berniat untuk menghentikannya, tapi karena keyakinan, kami terus melanjutkan operasinya. Hingga, saat Nyonya Zahra sudah menerima ginjal dari Tuan Ibra, keadaan mereka berdua berangsur normal. Detak jantung Tuan Ibra kembali normal, dan tubuh Nona Zahra menunjukkan reaksi yang positif terhadap tranplantasi ginjalnya, Nyonya. Dan ini adalah kejadian langka, Nyonya. Biasanya reaksi tubuh pasien akan terlihat setelah kegiatan transplantasi dilakukan, tapi ini tidak. Sungguh, ini adalah sebuah keajaiban," ucap Dokter menjelaskan dengan tenang.


"Alhamdulillah," ucap Dee bersyukur dengan tangis harus menghiasi wajahnya.


"Kapan saya bisa menemui anak dan suami saya?" tanya Dee.


"Kami akan segera memindahkan Tuan Ibra dan Nona Zahra ke ruang perawatan. Setelah itu, Nyonya dan keluarga bisa melihat keadaan mereka," jawab Dokter tersebut.


Dee mengangguk. "Terimakasih, Dokter," ucap Dee tulus yang dibalas anggukan kepala.oleh Dokter tersebut.


Setelahnya, Dokter kembali masuk ke ruang Operasi untuk segera mengurus kepindahan Ibra dan Zahra keruang perawatan.


"Kamu membuat Umi takut, Bella," ucap Dengan senyumnya menatap Bella yang berada dalam pelukan Al.


"Bella senang, Umi. Hingga tidak tahu harus bagaimana mengatakannya pada Umi. Maaf jika membuat Umi takut, ya," ucap Bella.


Dee tersenyum dan menggeleng. "Umi mengerti, Nak," jawab Dee tulus.


.....


"Sayang," panggil Kenzo lembut menggenggam tangan Zahra.


Kenzo duduk di kursi sebelah kasur Zahra, dengan Sela yang ada di pangkuannya. Anak itu masih lengkap dengan pakaian sekolahnya. Setelah Zahra dipindah ke ruang perawatan, Sela dan Shasa datang ke rumah sakit dengan diantar sopir mereka.


"Kenapa Buna nggak bangun-bangun, Ayah?" tanya Sela menatap Kenzo.


Kenzo tersenyum dan mengecup dahi Sela. "Sabar ya, Nak. Sebentar lagi Bunda pasti bangun," jawab Kenzo.


"Tapi lama," ucap Sela memberenggut kesal karena Bunda kesayangannya tak bangun-bangun.


"Cela mau ketempat Kakek dulu, boleh Ayah?" tanya Sela lagi.


Kenzo mengangguk. "Sela bisa sendiri atau Ayah antar?" tanya Kenzo.


"Cendili. Kan luangan Kakek ada di cebelah," ucap Della langsung turun.


"Cela ke tempat Kakek sebental ya, Buna. Cela pelgi dulu, Acalamu'alaikum," ucap Sela pamit dan segera keluar ruangan Zahra.


Kenzo tersenyum melihat punggung kecil Sela yang sudah menghilang dari balik pintu.


"Lihat, Sayang. Anak kita begitu antusias menunggu kamu bangun," ucap Kenzo.


Kenzo kembali menggenggam tangan Zahra yang terbebas dari infus. Dia mengecup berkali-kali punggung tangan Zahra yang nampak pucat.


"Ayo bangun, Sayang. Kamu nggak kangen sama aku. Kamu nggak kangen sama Sela? Banyak yang menunggu kesadaran kamu, Sayang," ucap Kenzo lembut.


Kenzo mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengecup lama dahi Zahra. Sungguh, lelaki ini sangat merindukan wanitanya. Wanita yang benar-benar memporak-porandakan kehidupannya. Wanita yang benar-benar mencuri hatinya sejak dulu. Wanita yang membuat Kenzo jatuh se jatuh-jatuhnya kedalam cinta wanita ini.


"I love you, Sayang," ucap Kenzo setelah puas mengecup dahi Zahra dan memandangi wjaah teduh Zahra yang nampak sangat damai dan nyaman dalam ketidaksadarannya.


.....


Sedangkan di kamar lain, Dee duduk di kursi sebelah kasur Ibra. Di kanan dan kirinya berdiri dua gadis mungil yang setia memandangi wajah tampan kakek mereka.


Dee menoleh dan tersenyum melihat kedua cucunya itu. "Doakan sebentar lagi Kakek kalian bangun, ya," ucap Dee lembut.


Sela dan Shasa serentak mengangguk. "Iya, Nenek," jawab Sela dan Shasa bersamaan.


"Kalian tidak mau ganti baju pulang?" tanya Dee menatap keduanya.


Lagi dan lagi, Sela dan Shasa menjawab serentak. Mereka serentak menggeleng menjawab pertanyaan Dee.


"Ganti baju dulu. Besok kan harus sekolah pakai baju ini lagi," ucap Dee.


Sela dan Shasa saling pandang. Mereka berdua nyengir tanpa dosa menatap Dee. "Kami udah izin, Nek," jawab Shasa.


"Izin apa?" tanya Dee.


"Izin untuk libul catu Minggu," giliran Sela yang menjawab.


Dee memandang kedua cucunya itu dengan penuh tanda tanya.


"Hehe, jangan bilang para orang tua ya, Nenek. Alasan kami izin sama guru karena mau jagain Kakek dan Bunda Zahra," jawab Shasa.


"Tapi-"


"Cecekali Nenek. Kami mau jaga Kakek dan Buna," ucap Sela dengan wajah melasnya.


"Kalian benar-benar nakal," ucap Dee tersenyum menyentil dahi kedua cucunya secara bergantian.


Mereka hanya berempat ditambah Ibra dalam ruangan Ibra. Sedangkan yang lainnya pulang terlebih dahulu untuk mempersiapkan pakaian dan keperluan lainnya.


Saat asyik bicara dengan kedua cucunya, alunan suara yang terdengar lemah mengalihkan pandangan mereka semua.


"Umi."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘