
🌹HAPPY READING🌹
Setelah kepergian Kevin, Kenzo terdiam dan menatap kosong punggung Zahra yang tidur membelakanginya. Tidak bisa dipungkiri, rasa terkejut Kenzo akan jati diri istrinya masih membuatnya syok. Dan satu lagi, eksekusi Sofia yang akan dilakukan malam ini juga membuatnya cukup terkejut. Sungguh, tidak menyangka bahwa kehidupan perempuan yang sudah merawat istrinya akan seperti itu.
Perasaan takut mulai menyeruak ke lubuk hatinya. Kenzo takut dan malu sekaligus untuk.menhhadap istrinya. Zahra, seorang anak bangsawan Turki yang dulu pernah di hinakannya saat dendam itu masih membelit hatinya. Kenzo bangun dan berjalan menuju ranjang. Dia duduk di kursi sebelah ranjang dengan menatap sendu punggung mungil Zahra.
Tangan Kenzo terulur membantu untuk membalikkan badan Zahra. "Jangan tidur begini, Sayang. Bekas operasinya bisa sakit," gumam Kenzo sambil membalikkan badan Zahra.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Kenzo terkejut saat melihat Zahra yang sudah terisak.
Kenzo melihat di kasur bagian pinggang belakang Zahra sebelah kiri, ada darah disana. "Aku panggil Dokter, ga," ucap Kenzo khawatir.
Zahra mengangguk. "Sakit, Mas," ucap Zahra menangis meremas sedikit dadanya. Kenzo mengangguk dan segera berlari keluar ruangan untuk memanggil Dokter. Pikirannya kemana-mana, hingga dia lupa bahwa di ruangan Zahra sudah ada tombol yang langsung menghubungkan untuk memanggil Dokter. Dan akhirnya Kenzo berlari keluar ruangan untuk memanggil Dokter.
Kenzo salah paham? Tentu saja. Sakit yang sebenarnya dimaksud Zahra adalah sakit hati yang dia terima akan semua fakta yang dia ketahui. Bahkan darah yang sudah keluar dari bekas operasinya itu tidak sebanding dengan sakit di hatinya. Bekas operasi bisa diobati dan akan mengering nantinya. Namun sakit hatinya? Sesak itu bahkan masih ada sampai saat ini.
Tapi tidak apa, biar Zahra sendiri yang merasakannya. Jika Kenzo tahu bahwa Zahra mengetahui semuanya, maka itu akan menimbulkan kecanggungan nantinya. Biar Zahra menyimpan semuanya sendiri saat ini.
Sudah terlalu banyak air mata yang keluar karena aku. Sekarang biar aku yang menanggung semuanya. Batin Zahra menangis sambil menahan sesaknya.
Tiga menit, Kenzo kembali dengan seorang Dokter dan dua orang perawat. "Tolong istri saya, Dok," ucap Kenzo.
Dokter mengangguk dan melihat bagian bekas operasi Zahra yang kembali berdarah. "Untuk saat ini, Nona Zahra tidurnya tengkurap dulu, ya. Biar kami mudah membersihkannya. Dan juga, itu akan lebih aman untuk bekas operasi Nona," ucap Dokter tersebut.
Zahra mengangguk. Dengan dibantu Kenzo dan perawat, Zahra membalikkan badannya pelan menjadi tengkurap.
"Tahan ya, Sayang," ucap Kenzo menyemangati Zahra dengan terus membungkuk sambil menggenggam tangan Zahra yang tidak kena infus agar bisa memandang wajah istrinya.
Zahra mengangguk dengan pandangan sendu. Air matanya tetap saja mengalir melihat wajah Kenzo. Wajah lelaki yang kini menjadi alasannya tetap bertahan.
Allah sangat baik, disaat Zahra kehilangan, Dia memberikan Mas Kenzo dengan banyak cinta untuk Zahra. Terimakasih. Batin Zahra tulus menatap Kenzo.
Ini kesempatan dia menangis. Biarlah air matanya jatuh saat ini. Luka bekas operasi ini bisa menjadi tameng Zahra untuk menyembunyikan luka hatinya. Karena dengan menangis, Zahra bisa mengurangi sedikit sakit di hatinya.
Kenzo meringis ketika melihat Dokter membersihkan luka tersebut. Perasaan ngilu menjalar ke tubuhnya saat itu juga. "Sakitnya hanya sebentar, Sayang," ucap Kenzo berusaha menghibur Zahra. Dia bingung, apakah sesakit itu hingga istrinya terus menangis seperti ini.
Sakit ini akan teringat seumur hidup, Mas. Batin Zahra menatap Kenzo.
Tiga puluh menit, Dokter selesai dengan kegiatannya. "Nona Zahra untuk sementara harus tidur seperti ini dulu, Tuan. Nanti saya akan kembali memeriksa, jika sudah kering, maka Nona Zahra bisa tidur seperti biasanya. Dan satu lagi, Tubuh Nona harus dibuat rileks dan jangan mengencangkan kulit punggung dan perut, karena itu akan bahaya untuk bekas operasinya," ucap Dokter memberi penjelasan kepada Zahra dan Kenzo.
Zahra mulai meredakan tangisnya. Dia tersenyum dan mengangguk lemah kepada Dokter. Begitupun dengan Kenzo. "Terimakasih, Dokter," ucap Kenzo tulus.
Dokter tersebut mengangguk dan tersenyum. "Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan, Nona," ucap Dokter tersebut lembut diikuti anggukan oleh perawat di sebelahnya.
"Sayang," panggil Kenzo saat Dokter dan perawat sudah keluar.
Zahra menatap Kenzo tersenyum dengan pipi yang agak tertekan ke bantal. Posisi tengkurap ini membuat mulut Zahra terlihat seperti mengerucut.
"Bibir kamu, Sayang," ucap Kenzo dengan nada memelasnya. Niatnya yang tadi ingin menasehati Zahra agar tidur dengan posisi lebih baik, kini teralihkan ketika melihat bibir istrinya yang nampak menggoda itu.
Zahra tersenyum. Bisa-bisanya disaat seperti ini, lelaki itu malah melihat bibirnya dan berpikiran kotor.
"Setelah sembuh, apapun akan Zahra turuti," ucap Zahra pelan dengan suara serak.
Kenzo mengangguk semangat. "Itu harus, Sayang," ucap Kenzo semangat dan menimbulkan senyum manis di bibir Zahra.
.....
Kenzo bergerak gelisah di sofa ruang inap Zahra. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia memikirkan bagaimana cara agar bisa pergi ke tempat eksekusi Sofia. Sedangkan Zahra sampai sekarang masih membuka matanya. Tidak ada tanda-tanda wanita itu akan memejamkan matanya.
"Sayang," panggil Kenzo mendekat ke ranjang.
"Iya, Mas," jawab Zahra menghentikan kegiatan menggilir butiran tasbihnya. Posisi tidurnya sampai saat ini masih sama seperti tadi menelungkup. Kenzo melarang keras Zahra untuk tidur dengan posisi normal sampai bekas operasinya kering.
"Kamu kenapa seperti gelisah begitu, Mas?" tanya Zahra seolah tidak mengetahui penyebab kegelisahan Kenzo.
Kenzo tersenyum dan menggeleng. "Aku hanya khawatir kamu tidur larut malam, Sayang," jawab Kenzo.
"Seperhatian itu sama Zahra?" tanya Zahra mengejek Kenzo.
"Tidak bisa diungkap dengan kata-kata sayang," jawab Kenzo yakin menatap Zahra.
"Kenapa memandangku begitu, Sayang?" tanya Kenzo gugup menatap Zahra.
Zahra menggeleng. "Apa Mas mau pergi?" ucap Zahra tanpa menjawab pertanyaan Kenzo.
"Tidak, aku akan disini menemani istriku tercinta," jawab Kenzo dengan senyum manisnya. Tangannya terulur mengusap rambut lembut Zahra.
"Zahra mau istirahat, Mas. Mas pergilah! Belikan Zahra sesuatu," ucap Zahra.
"Apa istriku ini sedang mengusir suami tercintanya?" tanya Kenzo menggoda Zahra.
Zahra menggeleng sambil terkekeh pelan. "Apa kamu lupa, Mas? Sejak Zahra dirawat, Mas belum memberiku apapun. Semua buah disini adalah buah tangan orang yang datang membesuk. Apa Mas tidak malu?" tanya Zahra.
"Ah iya juga," gumam Kenzo pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kamu pergilah, Mas. Nanti kembali lagi dengan tangan penuh, ya," ucap Zahra.
"Tapi Sayang-"
"Tidak apa-apa, Mas. Zahra akan tidur setelah ini," ucap Zahra cepat memotong perkataan Kenzo. Zahra hanya ingin memberi kemudahan kepada Kenzo untuk datang ke eksekusi Sofia tanpa harus berbohong kepadanya. Karena dia tidak mau Kenzo berdosa karena telah bohong kepadanya.
"Kamu yakin, Sayang?" tanya Kenzo lagi.
Zahra mengangguk yakin. Dia seolah-olah menutupkan mata pertanda mengantuk agar Kenzo benar-benar tenang saat pergi nanti.
"Baiklah. Aku akan kembali nanti dengan tangan penuh. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi aku, ya. Ponsel kamu aku taruh di sebelah bantal," ucap Kenzo.
Zahra kembali membuka sedikit matanya. "Mas," panggil Zahra pelan.
"Iya Sayang," jawab Kenzo.
"Titip salam untuk orang yang kamu temui nanti ya, Mas," ucap Zahra lalu kembali menutup mata seolah-olah dia akan tertidur.
Kenzo diam. Setelah itu dia mengangguk dan tersenyum. Dia hanya berpikir bahwa orang itu adalah orang yang akan dia temui nanti dijalan atau tempat lainnya. Sebelum benar-benar keluar, Kenzo mengecup pipi Zahra sebentar.
Setelah kepergian Kenzo, Zahra kembali membuka mata, hingga tidak terasa butiran bening itu kembali membasahi sudut matanya. "Doa Zahra menyertai Bunda."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏
Oiya, aku mau kasih tahu novel baru yang nggak kala seru teman-teman.
Siapa yang tak kenal dengan Leonello ? Lelaki sukses yang merupakan pendiri perusahaan macan terkenal yang hampir tersebar di seluruh benua
Kehidupannya begitu sempurna, ia memiliki seorang istri yang begitu cantik dan sangat mendukungnya dengan segala bisnis yang dia lakukan.
Namun suatu hari, Leonello harus bertemu lagi dengan mantan kekasihnya 8 tahun lalu yang membuatnya membenci kata cinta.
Apakah Leonello akan memaafkan cinta pertamanya itu atau dia ingin membalaskan dendam nya dengan seseorang yang membuat hatinya menjadi beku sampai sekarang ?
Atau justru Leonello kembali bertekuk lutut dengan pesona cinta pertamanya yang sukses membuat dirinya merasakan sakit hati yang begitu dalam ?
"Katakan kau membutuhkan uangku!"
"I–iya tuan, aku membutuhkan uang mu."
"Lepas seluruh pakaian mu, merangkak kepadaku seperti seorang bayi!"
"Baik, akan aku lakukan tuan!"
Mampir ya teman-teman, semoga menghibur dan bermanfaat 🤗🙏