
🌹HAPPY READING🌹
"Bantu apa Buna?" tanya Sela semangat. Dia akan sangat senang jika memang terlibat langsung dalam mengembalikan Ayahnya seperti dulu.
Zahra tersenyum, lalu tatapannya beralih pada Bu Sari yang sejak tadi mendengarkan apa yang dibicarakan oleh anak dan ibu itu. "Bantuan Ibu juga," ucap Zahra dengan senyumnya.
"Ibu?" tanya Bu Sari tak percaya menunjuk dirinya sendiri.
Zahra mengangguk semangat. "Lihat tanggal," ucap Zahra menunjuk kalender digital yang ada di dinding masuk dapur. Sela dan Bu Sari lantas mengarahkan kepala mereka ke arah kalender dengan bingung. "Tidak ada apa-apa dicana, Buna," ucap Sela bingung.
Senyum Zahra seketika luntur mendengar perkataan anaknya itu. Dia menghela nafas pelan mencoba bersabar, anaknya ini masih kecil, jadi sangat wajar jika dia lupa. "Ini hari ulang tahun Ayah, Sayang," ucap Zahra memberitahu yang disambut teriakan heboh dari Sela dan senyuman manis Bu Sari.
"Ayah ulang tahun?!" pekik Sela senang yang dijawab anggukan oleh Zahra.
Kemarin malam, Zahra sangat ingin menyelesaikan semua masalahnya dengan Kenzo dan bicara baik-baik dengan lelaki itu. Karena dia ingin dihari spesial ini, hubungannya dan Kenzo harus sudah baik-baik saja. Tapi sikap dingin Kenzo padanya tidak bisa Zahra hangatkan dengan mudah. Zahra hanya bisa menahan semuanya dan bersabar untuk Kenzo. Tapi hari ini, dia akan menyelesaikan semuanya dengan Kenzo. Meskipun dengan cara yang sedikit berbahaya, dia pastikan suaminya akan kembali menjadi Kenzo yang sangat mencintainya, dan ayah yang cerewet pada anaknya.
"Kok Buna balu bilang cih, kan Sela bisa siapin kado buat Ayah dali kemalin-kemalin," ucap Sela protes.
"Maaf Nak," hanya itu yang bisa diucapkan Zahra sambil tersenyum manis pada Sela. Tidak mungkin dia akan mengatakan apa yang penyebabnya baru memberitahu ini semua pada Sela. Masih terlalu kecil bagi Sela untuk mengetahui semuanya. Meskipun dia yakin, anaknya itu sangat peka dan mengerti, tapi tetap saja, Zahra tidak mau lagi anaknya bertambah dewasa sebelum pada usianya. Biar saja Sela pusing saat ini hanya karena memikirkan tugas sekolahnya, bukan karena urusan orang tuanya.
"Jadi apa rencana kamu, Nak?" tanya Bu Sari.
Zahra tersenyum menatap Sela dan Bu Sari, setelahnya perempuan itu menjelaskan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
.....
Emre duduk diruanganya sambil memeriksa perkembangan kerjasama perusahaan dengan beberapa beberapa perusahaan lain di berbagai negara. Dengan jeli, matanya terus bergerak mengikuti arah layar laptop didepannya. Nampak lelaki itu kadang tersenyum, terkekeh, bahkan tak jarang dia mengumpat sendiri ketika melihat layar bercahaya itu.
Dahi Emre mengerut dalam ketika selesai memeriksa semuanya, tapi dia tidak menemukan datanya dengan perusahaan Kenzo. "Apa apa ini?" monolog Emre bertanya-tanya. Karena setiap perusahaan yang bekerjasama dengan Türk Mücevher, secara otomatis akan langsung terhubung pada sistem yang sedang dia lihat ini.
Buru-buru Emre menutup layar laptopnya dan beralih pada komputer di depannya. Tangannya menggerakkan mouse untuk membuka email. "Empat hari yang lalu," gumamnya setelah melihat email pembatalan kerjasama mereka.
"Apa ini? Mereka membatalkan kerjasama?" ucap Emre tak percaya.
Emre mengambil ponselnya dan menghubungi Kevin.
"Kau dimana, Kevin?" tanya Emre langsung setelah Kevin mengangkat sambungannya.
"Aku baru sampai di perusahaan, sekarang aku diruangan, Emre. Ada apa?" tanya Kevin.
"Aku akan keruangan mu. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan," ucap Emre.
"Ya datanglah," jawab Kevin singkat.
"Hem," ucap Emre dan memutus sambungan telepon mereka.
Emre menghela nafas pelan dan segera berdiri dari duduknya. Lelaki itu berjalan keluar ruangannya dan menuju ruangan Kevin.
Ruangan bawah tanah yang memang khusus untuk mereka ini begitu sangat nyaman dan elegan. Tidak kalah dengan ruangan lainnya. Bahkan, salah satu dinding penting mereka berlapis berlian khas dari perusahaan itu sendiri, Türk Mücevher. Dinding itu berisi segala rahasia dari perusahaan yang hanya dibisa dibuka oleh orang tertentu, dan tentunya Zahra. Meskipun Zahra belum pernah menginjakkan kaki di perusahaan ini, tapi Kevin mengatur semuanya, hingga hanya Zahra yang memiliki kuasa penuh di tempat ini.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Emre langsung masuk begitu saja keruangan Kevin. Lelaki itu berjalan dengan tegasnya menuju kursi yang ada diseberang Kevin, hanya meja yang membatasi mereka.
"Ada apa?" tanya Kevin.
Emre diam sebentar memperhatikan penampilan Kevin yang nampak kurang segar. Padahal ini masih pagi, tapi lelaki itu sudah kusut dan tak bersemangat, tentu Emre mengetahui apa penyebabnya. Cinta memang membuat orang gila. Batin Emre.
Emre menghela nafas sebentar dan menatap Kevin. "DK Group memutus kerjasamanya dengan kita," ucap Emre langsung memberitahu ke intinya.
Emre mengangguk. "Perusahaan suaminya Zahra," ucap Emre lagi.
"Tapi kenapa?" tanya Kevin heran. Pasalnya, kerjasama mereka sangat menguntungkan kedua perusahaan, jadi tidak mungkin Kenzo memutuskan kerjasamanya begitu saja. Pasti ada sesuatu yang tidak beres disini.
"Nanti aku akan menghubungi Kenzo, Emre," ucap Kevin.
Emre mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu aku keluar dulu," ucap Emre berdiri dari duduknya.
"Emre," panggilan Kevin menghentikan langkah Emre yang akan meninggalkan ruangan Kevin.
Emre berbalik dan menatap sahabatnya itu. "Ada apa?" tanya Emre.
Emre dapat melihat tatapan sendu Kevin dari sorot matanya. Banyak hal yang disimpan pria didepannya ini, tapi dia hanya melampiaskan dengan kerja, kerja dan kerja tanpa ingin berbagai sedikit cerita.
"Bagaimana Kinzi?" tanya Kevin pelan menanyakan perkembangan informasi mengenai Kinzi.
Emre menggeleng pelan. "Belum ada kemajuan, Kevin. Jujur saja, Kinzi bagaikan hilang bak ditelan bumi," ucap Emre lirih. Karena sudah seminggu pencarian mereka, tidak ada informasi yang sangat diinginkan oleh Kevin dan Emre.
"Jangan hentikan pencariannya, Emre. Terus lakukan," ucap Kevin berbalik membelakangi Emre.
Emre mengangguk. "Jika nanti sudah tidak sanggup untuk menahannya sendiri, maka bagilah sedikit kesedihanmu itu, Kevin. Karena pasti atau tidaknya, Hatimu juga butuh ruang untuk kesedihan yang akan kau rasakan selanjutnya," ucap Emre lembut memberitahu Kevin.
Kevin termenung mendengar perkataan Emre. Setelah melihat Emre keluar dari ruangannya, dia hanya tersenyum miring dengan kesedihan yang ketara terlihat diwajahnya.
"Aku hanya takut disalahkan jika bercerita, Emre. Kesedihanku tidak seringan itu untuk mudah dimengerti orang lain," gumam Kevin sendu.
Tangannya menatap sebuah foto kecil yang dia ambil dari saku jasnya. "Kau memang mencuri hatiku, gadis kecil," gumam Kevin berbicara seolah gadis cantik difoto itu mendengarkan apa yang dia katakan.
Tidak ingin larut dengan kesedihannya, Kevin menyimpan kembali foto tersebut dan segera mengambil ponselnya yang ada di atas meja untuk menghubungi Kenzo.
.....
Kenzo tersenyum di ruang kerjanya mendapat balasan proposal kerjasamanya dari berbagai perusahaan yang diterima oleh perusahaan tersebut. Saat asik menatap laptopnya, ponsel yang berada di atas mejanya berdering.
"Ayah Kevin," gumam Kenzo begitu mengambil ponselnya dan melihat nama Kevin yang tertera disana.
"Assalamu'alaikum, Ayah," ucap Kevin setelah menekan tombol hijau menerima panggilan Kevin.
"Waalaikumsalam, Ken. Bagaimana kabarmu?" tanya Kevin dari seberang sana.
"Alhamdulilah baik, Ayah. Ayah bagaimana?" tanya Kenzo balik.
"Aku baik. Zahra baik-baik saja?"
Kenzo terdiam sebentar, setelah itu dia tersenyum dan mengangguk ditempatnya, meskipun dia tahu Kevin tidak akan melihat itu. "Zahra baik-baik saja Ayah, mungkin" jawab Kenzo dalam hati saat kata terakhirnya.
"Em, Syukurlah kalau begitu. Aku hanya ingin bertanya, apa benar kamu membatalkan kerjasama kita, Ken?"
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏