Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 31



🌹HAPPY READING🌹


"Belum ada yang terlambat, Pa. Kenzo akan siap-siap dulu," ucap Kenzo yang hendak pergi meninggalkan ruang tamu. Tapi perkataan Anggara rasanya menghentikan waktu Kenzo saat itu juga.


"Zahra sudah pergi beberapa jam yang lalu."


DEG


Kenzo menghentikan langkahnya begitu mendengar perkataan Anggara. Dia kembali berjalan mendekati Melani dan Anggara.


"Maksud Papa?" tanya Kenzo khawatir.


"Ya, Zahra sudah pergi beberapa jam yang lalu," ucap Anggara mengulangi perkataanya.


Kenzo menggeleng yakin. "Zahra nggak akan pergi tanpa izin Kenzo, Pa," ucap Kenzo kekeuh dengan pendiriannya.


Anggara tertawa sumbang mendengar perkataan Kenzo. "Izin kamu bilang? Kamu lupa atas apa yang sudah kamu lakukan? Memperlakukan istri sendiri sebagai seorang jalang!" ucap Anggara memandang tajam Kenzo.


Kenzo menggeleng kuat membantah perkataan Anggara. Dia beralih menatap Melani yang melihatnya dengan pandangan iba.


"Ma, yang dibilang Papa bohongkan, Ma?" tanya Kenzo lirih.


Melani menggeleng. "Itu benar, Nak. Zahra memang memilih untuk pergi. Dia bahkan sudah izin kepada Mama dan Papa," ucap Melani menjelaskan kepada Kenzo.


Sebelum pergi, Zahra memang meminta izin kepada Melani dan Anggara mengenai kepergiannya. Melani sangat memohon agar Zahra tidak pergi, tapi kemauan Zahra yang sudah kuat tidak bisa digoyahkan. Dan Zahra juga tidak mengatakan kemana dia akan pergi pada Anggara dan Melani.


Air bening itu mengenang di mata Kenzo mendengar perkataan Melani. Badannya terasa linglung tidak kuat menopang berat badannya. "Mama bohongkan, Ma? Zahra belum izin kepada Kenzo, Ma," ucap Kenzo sendu.


Melani berhambur memeluk anaknya yang nampak rapuh. Sedangkan Anggara hanya melihat itu semua. Kenzo pantas mendapat semua ini. Bahkan ini semua tidak cukup untuk membayar semua kesalahannya.


"Lepaskan Zahra, Nak," ucap Melani mengusap lembut punggung Kenzo.


"Zahra belum izin kepada Kenzo, Ma. Harusnya dia izin dulukan, Ma," ucap Kenzo sendu dalam pelukan Melani.


Melani hanya bisa diam sambil terus menenangkan Kenzo. Saat akan teringat sesuatu, Kenzo melepaskan pelukannya. "Kenzo harus ketemu Zahra," ucap Kenzo berdiri dan bersiap meninggalkan Melani dan Anggara.


"Kamu mau kemana Kenzo?" teriak Anggara melihat Kenzo yang berlari keluar rumah.


"Kita susul Kenzo, Pa," ucap Melani yang langsung diikuti oleh Anggara.


Kenzo mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah Ibra. Dibelakangnya ada mobil Anggara yang mengikuti dengan kecepatan yang tak kalah tinggi.


"Aku mohon jangan pergi, Zahra. Aku bahkan baru akan memulai semuanya," ucap Kenzo dengan harapan yang sangat besar.


Sepuluh menit, mobil Kenzo sampai di depan rumah Ibra dan bertepatan dengan mobil Ibra, Kevin dan Al yang baru kembali mengantar Zahra dari Bandara.


Kenzo langsung memasukan mobilnya ke dalam pagar dan berhenti tepat dibelakang mobil Kevin.


Kevin yang melihat kedatangan Kenzo langsung menghampirinya.


BUGH.


Tanpa aba-aba Kevin melayangkan pukulannya ke wajah Kenzo. "Lelaki brengsek!" ucap Kevin emosi.


Kenzo hanya diam dan menerima setiap pukulan yang diberikan Kevin. "Kau benar-benar lelaki yang tak punya hati, Kenzo. Setelah merenggut kesucian istrimu sendiri, kau mencampakkannya begitu saja. Dan satu lagi, wanita yang kau permainkan adalah anakku, Kenzo!" ucap Kevin meluapkan emosinya.


Kevin menyeka ujung bibirnya dan hidungnya yang sudah berdarah. Dia mencoba berdiri dan menatap satu persatu keluarga yang ada disana.


"Umi," panggil Kenzo sendu pada Dee. Kenzo tahu, Dee memiliki hati yang lembut. Dia tidak akan tega memisahkannya dengan Zahra.


Dee mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Kenzo.


"Katakan dimana istri Kenzo, Umi," ucap Kenzo sendu.


PLAK.


Satu tamparan keras mendarat di pipi Kenzo hingga kepalanya menoleh ke samping.


Melani dan Anggara yang baru sampai melihat itu semua langsung menghampiri. Anggara hanya diam. Dia tahu, Kenzo sangat-sangat pantas mendapatkan itu semua. Sedangkan Melani hanya bisa berdoa agar anaknya tidak meninggal saat ini juga.


PLAK.


Satu tamparan lagi mendarat di pipi Kenzo. "Apa kesalahan anak saya kepadamu, Kenzo?" tanya Sofia tajam.


Kenzo menatap Sofia dengan pandangan sendu. "Kenzo salah, Bunda," ucap Kenzo.


"Anakku menaruh harapan besar pada pernikahannya. kau tahu, selama hidupnya dia hanya ingin mendapat cinta yang tulus dari suci dari suaminya. Tapi kamu menambah luka yang sejak kecil tidak pernah berhenti dia dapatkan. Gadis lumpuh yang kamu pinang menjadi istri itu sudah tersakiti sejak kecil, Kenzo. Dan sekarang kau membuatnya akan menjadi seorang janda. Umur sekecil itu harus menanggung semuanya, kau benar-benar tidak punya perasaan Kenzo,"" ucap Sofia sendu dengan suara bergetar.


"Mengapa semua kesakitan itu harus pada anakku kamu berikan, Kenzo? Bahkan kamu memperlakukan anakku layaknya seorang pelacur yang sangat rendah," ucap Sofia dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Kevin memeluk Sofia mencoba menenangkan istrinya. "Sekarang kau boleh pergi, Kenzo. Sudah tidak ada gunanya kau disini!" ucap Kevin.


Kenzo menggeleng kuat tidak mau menuruti perkataan Kevin. "Katakan dimana Zahra, Ayah," ucap Kenzo memohon kepada Kevin.


"Untuk apa kau mencari anakku? Untuk kau sakiti kembali?" tanya Kevin sendu.


"Bahkan Kenzo belum meminta maaf, Ayah," ucap Kenzo dengan mata yang sudah berkaca-kaca ketika mengingat apa yang sudah dia lakukan pada Zahra.


Kenzo bersimpuh di kaki Sofia memohon agar mengatakan dimana Zahra berada. "Kenzo mohon, Bunda," ucap Kevin. Sofia menjauhkan kakinya dari Kenzo. Kevin yang melihat itu langsung membawa Sofia masuk kedalam rumah untuk menenangkan istrinya.


Kenzo menegakkan tubuhnya dan beralih menatap Dee. "Umi," panggil Kenzo sendu.


"Umi pasti membenci perpisahan kan? Umi pasti mau bantu Kenzo kan, Umi?" ucap Kevin dengan air mata yang sudah bercampur darah di pipinya.


Dee menggeleng dan mencoba menatap Kenzo. Dee memegang kedua bahu Kenzo dan mengajaknya untuk berdiri. "Tapi perpisahan adalah yang terbaik untuk kalian berdua," ucap Dee menatap Kenzo.


"Dimana istri Kenzo, Umi?" tanya Kenzo lagi menatap Dee dengan tangisnya.


Dee menggeleng. "Bukan hak Umi untuk memberitahumu, Kenzo. Bukankah dulu Umi sudah pernah mengatakan bahwa akan sulit bagimu untuk kembali pada Zahra. Meskipun kau membasuh lukanya dengan darah sekalipun," ucap Dee tegas namun masih lembut.


"Kenzo menyesal, Umi," ucap Kenzo menundukkan kepalanya dalam menyembunyikan tangis yang semakin menjadi itu.


"Kamu memang harus menyesal, Kenzo," ucap Dee.


Dee membuka tas sampingnya dan mengambil map coklat yang tadi dia masukkan kedalam tas tersebut.


"Ini dari Zahra untukmu," ucap Dee.


Kenzo menyeka air matanya dan mengambil pemberian Dee.


"Itu adalah keinginanmu, bukan. Dan Zahra sudah memenuhinya. Dia menandatangani surat tersebut sesuai permintaanmu," ucap Dee.


"Perceraian itu tidak akan pernah terjadi, Umi," ucap Kenzo membuang surat tersebut begitu saja.


"Jika kamu ingin Zahra memaafkanmu, maka turuti keinginannya," ucap Dee dan langsung pergi memasuki rumah.


"Penyesalan memang datang terlambat, Kenzo. Tapi ini yang harus kau terima, keberuntungan itu mungkin ada, tapi harus dengan cara terjal kau meraihnya," ucap Ibra menyusul Dee. Kina dan Bella yang melihat kepergian Dee dan Ibra menyusul mereka memasuki rumah.


Al yang melihat Kenzo langsung menghampirinya bersama Aska. "Jika saja membunuh tidak dosa, gue udah bunuh Lo saat ini juga, Ken," ucap Al.


Kenzo menatap Al dan Aska bergantian. "Dimana istri gue, Al?" ucap Kenzo sendu tanpa menghiraukan perkataan Al.


"Zahra sudah ada ditempat pilihannya. Biarkan adik gue mengejar kebahagiaannya, Ken. Dan mungkin bersama orang baru yang memberinya kebahagiaan," ucap Al yang membuat hati Kenzo berdenyut sakit.


Setelah mengucapkan itu, Al langsung masuk bersama Aska meninggalkan Kenzo sendiri.


Gue percaya cinta Zahra cuma buat gue, Al. Tidak akan ada kata perceraian antara kami. Zahra, jika mungkin maka kembalilah. Batin Kenzo sendu merobek surat perceraian yang dia pungut di tanah.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz