Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 192



🌹HAPPY READING🌹


Pagi ini adalah hari yang sangat cerah untuk si kecil Sela. Pasalnya, dia akan menjalankan rencananya untuk mencari uang agar bisa naik balon udara di Cappadocia. Anak itu menyandang tas punggungnya yang berisi beberapa kertas dan pakaian. Dia akan melakukan apa yang dua suka nanti di rumah Nenek dan Kakeknya bersama Shasa.


Setelah semua siap, anak itu mengambil iPad yang ada di kasurnya. Dia akan melakukan panggilan video Dengan sahabat sekaligus sepupunya itu.


"Assalamu'alaikum, Shasa," ucap Sela ketika wajah Shasa memenuhi layar iPad-nya.


"Waalaikumsalam. Shasa udah siap nih," jawab Shasa diseberang sana yang sudah siap dengan pakaian rapinya. Kedua anak ini benar-benar kompak sekarang.


Sela terkekeh. "Iya. Ini Sela mau berangkat juga. Shasa tunggu Sela dirumah, ya. Sela mau jalan dulu," ucapnya pamit.


"Iya. Sela hati-hati ya," ucap Shasa.


Sela mengangguk. "Assalamu'alaikum," ucap Sela menutup telepon setelah mendapat jawaban salamnya dari Shasa.


Sela menyimpan iPad nya di dalam tas. Setelahnya anak itu melesat keluar kamar dengan wajah gembira.


Kaki mungil Sela menyusuri tangga satu persatu. Saat sampai di dapur, anak itu melihat Bunda dan Ayahnya yang terus menempel. Lebih tepatnya hanya sang Ayah yang mengganggu Bundanya.


"Ck, Ayah kayak nggak ada kerjaan," ucapnya sinis menatap Kenzo yang memeluk Zahra dari belakang di meja pantry.


Kenzo dan Zahra sama-sama menoleh. Kedua orang dewasa itu terkejut melihat anaknya yang sudah sangat rapi pagi-pagi begini. "Sela udah mau pergi, Nak?" tanya Zahra lembut.


"Iya Bunda. Shasa udah nunggu di rumah," jawab Sela.


"Itu rambut kenapa nggak ditutup?" tanya Kenzo. Ya, sekarang ini Sela memakai hijab pashmina mini miliknya dengan gaya poni yang dikeluarkan di depan. Dia dan Shasa sudah berjanji untuk memakai pakaian seperti ini. Kedua anak itu benar-benar kompak dalam hal apapun.


"Ini tu gayanya, Ayah. Ayah nggak tau gaya emang," jawab Sela ketus.


Zahra tersenyum. Dia geleng-geleng melihat anaknya yang memakai gamis dengan hijab yang begitu, kekinian sekali memang. "Nggak apa-apa, Nak. Tapi nanti kalau udah balig, hijabnya harus tertutup ya," ucap Zahra.


"Siap Bunda," jawab Sela senang dengan mengacungkan jempolnya.


"Ayah," panggilnya beralih pada Kenzo yang sama sekali tak melepaskan lilitan tangannya di pinggang Zahra.


"Hem," jawab Kenzo berdeham.


"Minta uang buat bensin mobil," ucapnya polos menampung tangan pada Kenzo.


"Mobilnya kan baru sekali ini dipakai, Nak. Pasti ada bensinnya," jawab Kenzo. Ya, Mini Cooper yang menjadi hadiah untuk Sela memang baru pertama kali dipakai sejak mereka beli enam bulan yang lalu. Sela yang waktu itu tak sengaja melihat Mini Cooper di jalanan membuat matanya tak henti menatap mobil itu. Hingga Kenzo yang merupakan ayah baik, dia sangat peka. Mobil itu terparkir di halaman rumah mereka sehari setelahnya. Hari itu adalah hari dimana Sela dan Kenzo sangat kompak tanpa pertengkaran.


"Nanti kalau habis gimana, minta duit Ayah," rengeknya lagi.


"Dasar nggak modal," cibir Kenzo yang mengeluarkan dompet dari saku belakang celana pendeknya.


"Nih," ucap Kenzo memberikan selembar uang merah pada Sela.


Dengan senyum mengembang anak itu menerima. "Terimakasih Ayah baik," ucap Sela.


"Ada maunya aja, baru muji!" gerutu Kenzo.


Zahra hanya bisa tersenyum. Dia tak hentinya memandangi gadis kecilnya yang kini nampak sangat cantik. "Sela nggak sarapan dulu, Nak? Bunda buatin roti panggang, ya," ucap Zahra.


"Nggak usah, Bunda. Sela udah mau jalan. Nanti sarapan dirumah Nenek dan Kakek. Sela pamit dulu Ya Ayah, Bunda," jawab Sela dan tak lupa menyalami tangan Kenzo dan Zahra bergantian.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Gadis kecil aku udah gede, Mas," ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca menatap Sela yang berjalan keluar rumah.


"Gadis kecil kita, Sayang," ralat Kenzo.


Zahra mengangguk. "Dia benar-benar meniru gaya Aunty kesayangannya, Kak Kinzi," ucap Zahra yang membuat Kenzo hanya terdiam.


.....


"Kita ke rumah Mama Kina dulu, ya Pak," ucap Sela setelah dia duduk di kursi belakang Mini Cooper berwarna coklat dan krem itu.


"Siap Nona," jawab sopir dengan lembut.


"Pak, ini yang bensin tadi dikasih sama Papa," ucap Sela menjulurkan uang yang tadi diberikan Kenzo padanya.


"Itu kan untuk mobilnya Ayah. Ini yang untuk mobil Sela, Pak. Bapak ambil, ya," ucap anak itu dengan segala kebijakannya.


Pak Sopir hanya bisa terkekeh mendengar ucapan polos anak majikannya itu. "Baiklah, Nona," jawab Sopir menerima selembar uang merah itu.


.....


Mobil Sela berhenti tepat didepan rumah Shasa. Dia turun dari mobil dan langsung berlari memasuki rumah itu.


"Assalamu'alaikum Mama, Papa!" teriaknya nyaring begitu sampai di meja makan.


"Waalaikumussalam," jawab Kina dan Aska yang sedang menikmati sarapan mereka.


"Wah, anak Mama udah cantik aja pagi-pagi," goda Kina yang membuat gadis kecil itu bersemu.


"Kalian kayak akan kembar sekarang," sambung Kina yang juga melihat pakaian yang dikenakan Shasa saat menuruni tangga sama dengan pakaian Sela. Gaya hijabnya sama, namun warna saja yang membedakan. Sela memakai warna mint, sedangkan Shasa memakai warna peach.


"Mama, Papa, Shasa sama Sela langsung ke rumah Nenek, ya," ucap Shasa sambil menyandang tas punggungnya.


"Kalian hati-hati ya. Sampai rumah Nenek nanti jangan nakal. Sarapan dulu disana baru ajak Kakek main kuda," nasehat Kina.


"Jangan buat Kakek dan Nenek repot juga," sambung Aska.


"Siap!" jawab kedua anak itu serentak.


"Kalau gitu kami pamit dulu, ya. Assalamu'alaikum," pamit Shasa menyalami tangan Aska dan Kina diikuti oleh Sela.


"Waalaikumsalam," jawab Kina dan Aska.


"Benar-benar super model cilik," gumam Kina kagum dengan selera pakaian kedua gadis kecil itu


"Bibit-bibit unggul, Sayang," celetuk Aska.


"Dan nanti kita akan tambah bibit unggul selanjutnya," sambung Aska jahil yang mendapat delikkan dari Kina.


.....


"Assalamu'alaikum," salam Sela dan Shasa begitu memasuki rumah Dee dan Ibra.


"Waalaikumsalam. Wah, cucu-cucu Nenek udah sampai ternyata," ucap Dee yang sedang duduk di ruang tamu bersama Ibra. Kedua orang yang sudah paruh baya itu masih nampak cantik dan tampan.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Ibra.


Sela dan Shasa lantas menggeleng. Ibra memperhatikan penampilan kedua cucunya dari atas hingga bawah. "Benar-benar kamu waktu muda, Sayang," ucap Ibra pada Dee tanpa mengalihkan pandangannya pada Sela.


"Cucunya Dee gitu loh," jawab Dee bangga.


"Ya sudah, kalau gitu kita sarapan. Nenek udah masak sarapan spesial untuk kalian," lanjut Dee semangat.


.....


Setelah selesai sarapan, kedua gadis kecil itu langsung mengganti gamisnya dengan pakaian santai yang sudah mereka bawa dari rumah. Kini, mereka sudah berada di ruang keluarga.


"Kakek," panggil Sela yang duduk di karpet bulu bersama Dee dan Shasa. Sedangkan Ibra duduk di sofa sendiri dengan keranjang anggur di pangkuannya.


"Kenapa Sayang?" tanya Ibra.


Sela dan Shasa saling pandang dan tersenyum. Shasa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Ini Kakek," ucap Shasa memberikan kertas kepada Ibra.


Dee yang melihat tindakan kedua cucunya itu hanya geleng kepala.


Ibra membaca tulisan anak usia enam tahun di kertas itu. Mata Ibra membola membaca isi surat tersebut. "Kalian mau Kakek beli kambing-kambing kalian itu?"


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏