
🌹HAPPY READING🌹
"Jika saja sedikit hatimu sudah berhasil aku dapatkan, aku akan menggagalkan semuanya, Zahra," ucap Kenzo sendu.
Zahra beralih menoleh kepada Kenzo. Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Kenzo menatap dalam mata Zahra yang dulunya sangat penuh akan cinta, kini terlihat hampa untuknya. "Aku memilih menyerah, Zahra."
DEG
Jantung Zahra berdetak cepat mendengar perkataan Kenzo. Apa benar Kenzo akan menyerah begitu saja dan memulai hidup baru dengan wanita pilihannya?
Bukankah ini yang Zahra inginkan? Tapi mengapa hatinya sangat tidak rela atas apa yang baru saja Kenzo katakan. Ingin sekali Zahra mengucapkan bahwa dia tidak rela jika Kenzo menyerah, tapi hatinya berkata lain.
"Itu bukan urusanku. Mau menyerah atau tidak, itu hak mu," ucap Zahra mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kenzo tertawa sumbang. Tidak aku sangka sekeras ini hati mu, Sayang. Batin Kenzo dengan air bening yang sudah sedikit keluar dari sudut matanya.
"Hanya saja jangan sampai melupakan anakmu," ucap Zahra tiba-tiba.
Kenzo langsung menoleh begitu mendengar perkataan Zahra. "Tidak usah khawatir, Sela satu-satunya wanita dalam hidupku saat ini," ucap Kenzo menjeda ucapannya kala Zahra memandang lelaki itu.
"Bersama Tamara," ucap Kenzo melanjutkan perkataannya.
Zahra hanya mengangguk mengalihkan pandangannya. Begitu besar pengaruh Tamara sampai Kenzo benar-benar melupakannya. Zahra akui, Tamara memang gadis yang baik. Pakaian yang sopan, juga tutu bicara Tamara yang sangat lembut. Lelaki manapun pasti akan jatuh hati jika bertemu Tamara.
"Aku kesini ingin meminta izin," ucap Kenzo setelah mereka tiba-tiba terdiam.
"Untuk apa?" tanya Zahra.
"Aku ingin meminta izin untuk membawa Sela makan malam diluar," ucap Kenzo.
"Aku ingin Sela lebih dekat dengan Tamara. Aku ingin Sela bisa menerima kehadiran Tamara dalam hidupnya. Dan juga, aku ingin Tamara dan Sela memiliki hubungan baik sebagai anak dan ibu sambung," lanjut Kenzo menyampaikan maksudnya kepada Zahra.
"Anakku akan punya Ibu sambung?" tanya Zahra menatap Kenzo.
Kenzo mengangguk. "Tidak baik kan, jika lelaki dan wanita lama-lama memiliki hubungan, bukan? Aku tidak mau timbul fitnah nantinya. Mama dan Papa juga udah setuju, tinggal memperkenalkannya dengan Abi dan Umi," ucap Kenzo.
"Tapi kita belum resmi bercerai, bukan?" tanya Zahra dengan suara pelan yang masih dapat didengar jelas oleh Kenzo.
Dalam hati Kenzo bersorak senang. Sedikit-sedikit, Zahra secara tidak langsung menunjukkan sikap tidak relanya atas kehadiran Tamara.
"Kamu tenang saja, aku akan segera mengurusnya. Aku akan segera membebaskanmu dari pernikahan yang sangat menyakitkan untukmu, Zahra," ucap Kenzo menjelaskan.
Zahra hanya mengangguk. Sebentar lagi hubungan mereka akan benar-benar berakhir. Ini yang Zahra inginkan, tapi mengapa dia tidak rela? Ayolah, jangan munafik atas perasaanmu sendiri, Zahra.
"Pergilah, bawa Sela. Aku harap hubungannya baik dengan calon Ibu barunya," ucap Zahra dengan menahan segala sesak di dadanya.
Kenzo mengangguk. Setelah itu dia berdiri dan memasuki rumah untuk mengajak Sela pergi.
"Sela," panggil Kenzo pada anaknya yang nampak senang bercerita dengan Tamara.
"Iya Ayah," jawab Sela.
"Sela ikut Ayah, ya. Kita makan diluar, yuk," ajak Kenzo pada Sela
"Sama Ibu juga?" tanya Sela antusias.
Kenzo menggeleng. "Kita bertiga sama Tante Tamara, ya," ucap Kenzo.
Bahu Sela menurun mendengar perkataan Kenzo. Dia sangat berharap tadi Bundanya juga ikut. Tapi selang beberapa detik, anak itu kembali tersenyum. Ini yang diinginkan Ibunya, jadi dia akan melakukan sesuatu yang membuat Zahra senang. Mungkin ini akan membantu untuk menyenangkan hati Bundanya, yang benar-benar tidak ingin kembali pada Ayahnya.
"Sela ganti baju dulu ya, Ayah," izin Sela yang dibalas anggukan kepala oleh Kenzo.
Sela pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Zahra memang sudah bisa mengganti pakaiannya sendiri. Anak itu memiliki gaya style sendiri yang membuatnya nampak sangat manis.
Dua puluh menit, Sela keluar kamarnya. Tamara yang baru melihat gaya pakaian Zahra yang sangat menarik perhatiannya, berdecak kagum. Anak Kenzo benar-benar menganggumkan. Batin Tamara kagum.
Zahra memandangi Sela yang pergi bersama Kenzo dan Tamara. Dia memandang sendu kepergian anaknya yang kini nampak senang menggandeng tangan Tamara. Benar-benar sesak. Batin Zahra mengusap dadanya yang terasa tidak ada udara.
.....
Hari telah berganti. Pagi ini Zahra dikejutkan dengan kedatangan Tamara yang ingin menjemput Sela untuk bersekolah. Zahra memperhatikan Tamara dari atas sampe bawah. Zahra benar-benar merasa tidak pantas jika dibandingkan dengan Tamara. Tamara yang merupakan seorang wanita karir, stylish, cantik, postur tubuh yang ideal, serta sopan dengan attitude dan pakaiannya yang tertutup. Tamara benar-benar wanita idaman menurut Zahra.
"Assalamu'alaikum, Zahra," ucap Tamara.
Zahra tersenyum. "Waalaikumsalam," jawab Zahra ramah.
"Aku kesini mau jemput Sela, Zahra. Bolehkan?" ucap Tamara ramah meminta izin pada Zahra.
"K-Kenzo kemana?" tanya Zahra penasaran.
Kena. Batin Tamara menjerit senang.
"Tadi waktu bangunin aku tidur, Kenzo berpesan untuk mengantar Sela sekolah. Dia ada meeting penting pagi ini," ucap Tamara.
"Membangunkan tidur?" tanya Zahra memastikan apa yang dia dengar.
Tamara mengangguk dengan senyum manisnya. "Lewat telpon. Setiap pagi Kenzo pasti membangunkanku lebih dulu, apa lagi setiap Senin dan Kamis. Itu adalah agenda wajib, karena dengan menelpon kami bisa merasakan sahur bersama," ucap Tamara memberi penjelasan.
Seperhatian itu? Sesayang itu Kak Ken kepada wanita sempurna ini. Batin Zahra miris mengingat bagaimana dulu Kenzo memperlakukannya.
Zahra tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum menatap Tamara yang juga tersenyum kepadanya. "Aku akan panggil Sela dulu, ya," ucap Zahra izin.
Tamara mengangguk membiarkan Zahra pergi. Dalam hati, Tamara bersorak senang setelah melihat perubahan wajah Zahra. Perempuan ratu gengsi. Batin Tamara.
.....
"Zahra tidak bawa donat untuk ke warung, Nak?" tanya Bu Sari yang melihat Zahra akan pergi tanpa menenteng donat yang biasanya dititipkan ke warung-warung.
Zahra menggeleng. "Zahra rindu Akbar, Bu," ucap Zahra menatap Bu Sari sendu. Jika suasana hatinya kacau seperti ini, maka Zahra akan pergi ke tempat penyejuk hatinya.
"Apa Kenzo dan yang lainnya tahu mengenai ini, Nak?" tanya Bu Sari.
Zahra menggeleng. "Belum, Bu. Zahra belum bisa menceritakan Akbar. Kita berdua saja cukup, Bu," jawab Sela.
"Jadi kami mau ke tempat Akbar?" tanya Bu Sari.
"Iya, Bu," jawab Sela.
"Ibu titip salam, ya. Ibu tidak bisa menemani kamu bertemu Akbar," ucap Bu Sari tak enak.
"Iya, Bu. Nanti Zahra sampaikan," jawab Zahra.
"Kalau begitu Zahra pergi, ya, Bu. Setelah itu Zahra akan langsung ke toko kue," lanjut Zahra pamit yang dianggukki oleh Bu Sari. Hari ini Bu Sari dapat jatah libur dari panti, karena anak-anak panti sedang mengadakan jalan-jalan bersama keluarga besar pemilik panti. Bu Sari memilih tidak ikut dan ingin istirahat di rumah saja.
"Assalamu'alaikum," ucap Zahra.
"Waalaikumussalam," jawab Bu Sari.
Tanpa mereka sadari, Kenzo mendengar semua yang Zahra dan Bu Sari bicarakan. Kegiatan Tamara menjemput Sela adalah salah satu dari rencana Kenzo.
Tangan Kenzo mengepal mendengar Zahra dan Bu Sari menceritakan nama lelaki lain yang terlihat sangat dekat dengan mereka. "Siapa Akbar?"
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘