
🌹HAPPY READING🌹
Zahra menarik bajunya kebelakang punggung hingga mencetak bagian depan perutnya. "Perutnya agak buncit juga. Harus diet kalau gini," ucap Zahra menghela nafas dalam. Dia tidak ingin Kenzo berpaling karena bentuk tubuhnya yang tidak bagus lagi.
"Zahra harus selalu cantik dan menawan untuk Mas Ke zo tercinta. Apalagi kalau malam," gumam Zahra dengan sembarangan.
"Kan lagi mode ngambek, akan ada balasan nanti. Cepat pulang suami dan anakku," ucap Zahra tertawa senang mengingat pelajaran iseng yang akan dia berikan kepada anak dan suaminya karena sudah mengacak-ngacak pakaian.
Setelah bercermin, Zahra melupakan niatnya untuk tidur. Dia turun ke bawah untuk mengambil beberapa cemilan. Maklum, Zahra hanya manusia biasa. Baru Lima menit yang lalu dia bilang akan diet, niatnya sudah terkalahkan oleh selera yang muncul begitu saja.
Zahra melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan perlahan. Tidak lupa wanita itu bersenandung menyanyikan sholawat.
"Loh, Ibu," ucap Zahra kaget ketika melihat Bu Sari yang berada di dapur.
Bu Sari tersenyum dan menatap Zahra. "Iya Nak," jawab Bu Sari.
"Bukannya Ibu nungguin Sela sama Shasa disekolah, ya Bu? Kok udah pulang aja? Kan belum jam pulang sekolah," tanya Zahra beruntun.
"Ada Nak Kina ternyata yang menemani Sela dan Shasa, Nak. Jadi ibu diminta pulang aja sama Nak Kina tadi, diantar supirnya," jawab Bu Sari menjelaskan.
Zahra hanya mengangguk saja. Dia mengintip apa yang ada ditangan Bu Sari. "Ibu buat apa?" tanya Zahra.
"Ibu mau buat kue kering, Nak. Buat cemilan aja," jawab Bu Sari.
Wajah Zahra berbinar. Dia menatap riang adonan yang ada di tangan Bu Sari. "Nanti Zahra minta ya, Bu," ucap Zahra memelas.
Bu Sari tersenyum dan mengangguk. "Sudah pasti Ibu kasih, Nak. Kamu ini ada-ada aja," ucap Bu Sari terkekeh pelan.
Sedetik kemudian, wajah Zahra berubah murung. Mood wanita itu berubah seketika setelah mengingat perutnya yang sedikit membuncit.
Bu Sari yang melihat itu mengernyit heran. "Kamu kenapa, Nak?" tanya Bu Sari.
Zahra menggeleng. "Zahra nggak jadi minta, Bu," ujar Zahra pelan.
"Loh, kenapa?" tanya Bu Sari.
Zahra kembali menarik bajunya ke punggung sehingga mencetak bagian perutnya. "Buncit," ucap Zahra dengan bibir melengkung kebawah dan mata berkaca-kaca.
"Iya, perut kamu kok agak gede gitu, Nak," tanya Bu Sari tanpa memperhatikan ekspresi wajah Zahra sudah murung.
"Bener, Bu?" tanya Zahra memastikan.
"Eh, bukan begitu, Nak. Maksud Ibu, perut kamu udah normal kok, biasa aja," ucap Bu Sari memperbaiki kalimatnya agar Zahra tidak menangis.
"Zahra harus diet. Nanti kalau makan banyak, perut Zahra makin buncit, Bu," lanjut Zahra lirih.
Bu Sari melongo melihat Zahra. Tidak biasanya wanita itu seperti ini. Dia tidak pernah menjaga pola makan, karena memang perutnya tidak akan pernah buncit sebanyak apapun makanan yang masuk ke perutnya.
"Lebih baik Buncit dari sakit perut, Nak," ucap Bu Sari.
Zahra menggeleng. "Zahra diet aja, Bu. Nanti kalau perutnya buncit, Mas Kenzo nggak seneng lagi lihat tubuh Zahra," ucap Zahra mencebik.
"Kenzo bukan orang seperti itu, Nak," ucap Bu Sari meyakinkan Zahra.
Zahra terus menggeleng. "Ibu buat untuk Sela, Mas Kenzo dan Ibu saja, ya. Zahra nggak mau. Sekarang mau istirahat dulu," ucap wanita itu berbalik dan berjalan menaiki tangga rumahnya.
Lagi dan lagi, wanita itu melupakan niatnya untuk mengambil cemilan dan memakannya di kamar. Dia sekarang lebih memilih istirahat saja. Wanita memang tidak bisa ditebak.
.....
"Bahkan buket ini lebih besar dariku," gumam Kenzo senang.
Sedangkan seorang gadis kecil sedang duduk dengan menatap Kenzo kesal. "Ayah emang nggak lomantis," celetuk Sela.
Setelah pulang sekolah, sela menolak untuk ikut Kina ke rumah Dee. Dia bilang rindu Ayahnya, jadilah Kina mengantar anak itu ke kantor Kenzo. Sebenarnya bukan rindu, Sela hanya ingin merecoki Kenzo di kantornya. Entahlah, saat ini dia ingin sekali mengusili Ayahnya itu. Terbukti dengan tadi siang saat istirahat, Sela melakukan konser tunggal di lantai satu perusahaan Kenzo. Gadis kecil itu mengajak banyak karyawan bernyanyi dan berjoget tak jelas hingga Kenzo terpaksa membiarkan karyawannya istirahat sampai jam tiga sore.
"Ngerti apa tentang romantis? Lagian Ayah helan, kamu tahu darimana goyang-goyang sambil nyanyi kayak tadi?" tanya Kenzo menatap kaca depan mobil untuk melihat Sela.
"Maca bujuk Buna kacih Bunga, Cih. Kan Bunga dikacih cuma buat olang yang udah di culga. Buat Abang Akbar bunga balu cocok," ucap Sela menjawab.
"Ayah mainnya kulang jauh cih, makanya liat tiktok juga, pasti tahu," lanjut Sela menjawab pertanyaan Kenzo.
Kenzo hanya diam menanggapi mulut anaknya yang super super pedas itu. Benar juga apa kata anak ini. Batin Kenzo membenarkan apa yang dikatakan anaknya mengenai bunga tadi.
"Terus ayah harus kasih apa buat Bunda? Bunda marah kan gara-gara kamu juga yang berantakin isi lemari kaus kaki," ucap Kenzo.
"Calah kaus kaki Cela kenapa nggak ketemu," celetuk Sela dengan wajah tanpa dosanya.
"Kaos kaki kamu nggak ketemu, karena kamu meletakkannya sembarangan," jawab Kenzo.
"Salah tangan Cela belalti. Kan tangan Cela yang taruh kaos kakinya dimana," ucap Sela santai.
"Masih juga ngebantah," gumam Kenzo kesal.
"Ayah lupa pacal catu?" tanya Sela mencondongkan wajahnya ke depan.
Kenzo terdiam dan hanya memandang datar anaknya dari kaca yang tengah tersenyum atas kemenangannya.
"Jadi kita harus kasih Bunda apa?" tanya Kenzo lagi.
"Kita buatin Buna masakan spesial. Dan makan baleng-baleng nanti. Itu lebih belhalga dali buket Ayah yang nggak belguna ini," ucap Sela melirik kesal buket bunga besar yang mengambil posisi tempat duduknya.
"Ide bagus. Nanti Sela bantuin Ayah, ya," ucap Kenzo senang yang langsung dianggukki oleh Sela berserta senyuman menghiasi wajahnya.
.....
Dua puluh menit, mobil Kenzo sampai di rumahnya. Kenzo dan Sela langsung turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.
"Telus buketnya, Ayah?" tanya Sela menghentikan langkahnya.
"Kasih buat kuburan kucing dibelakang," cetus Kenzo dan langsung berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sela yang terdiam mendengar perkataan Ayahnya itu.
Sela berpikir sejenak. "Wah, ide Ayah bagus juga. Kalau dimasukin tiktok, kubulannya bica pilal nanti. Kan, buket bunga Ayah mahal," ucap anak itu senang dan kembali keluar rumah meminta bantuan satpam untuk menurunkan buket bunga dan membawanya ke taman belakang rumah.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏