
🌹HAPPY READING🌹
Al yang melihat dan mendengar semua itu langsung berjalan mendekati Kenzo.
"BAJINGAN!"
"BUGH."
"BUGH."
"BUGH."
Pukulan tak hentinya dilayangkan Al kepada Kenzo.
"KENZO!" teriak Melani melihat anaknya yang sudah tak berdaya di lantai rumah sakit.
Melani berlari dan memeluk Kenzo. "Sudah Al. Saya mohon hentikan," ucap Melani sendu tak tega melihat anaknya.
Kenzo tak sempat membalas pukulan Al yang sangat mendadak baginya. Kenzo hanya pasrah menerima pukulan Al.
Pandangan Kenzo tak lepas dari Zahra yang duduk di kursi roda dengan keadaan yang sangat kacau. Wajah sembab, hidung merah, bibir pucat, tidak ada lagi rona bahagia yang nampak di wajah Zahra.
Hati Kenzo sakit. Tapi ego dan hasrat balas dendamnya mengalahkan cinta yang ada untuk istrinya itu.
Kenzo mencoba untuk berdiri. Dia berdiri tepat dihadapan Al dan memandang setiap keluarga Hebi dengan pandangan remeh.
"Lo boleh pukul gue, Al. Lo boleh pukul gue. Tapi asal Lo tahu, gue seperti ini karena Lo, bangsat!" ucap Kenzo tajam menatap Al.
"Gue nggak pernah macam-macam sama Lo, Ken!" jawab Al tegas.
Kenzo tersenyum remeh. Tangannya terangkat mengusap bibirnya yang sudah berdarah.
"Lo tahu Al, karena Lo, kembaran gue harus mengalami penderitaan yang bahkan lebih menyakitkan dari adik Lo itu," ucap Kenzo menunjuk Zahra.
"Apa maksud kamu?" tanya Dee yang sejak tadi hanya mendengarkan. Bahkan Dee tidak mencegah ketika Al memukul Kenzo. Hati Dee sudah terlanjur sakit melihat perlakuan Kenzo kepada Zahra. Dan itu benar-benar keterlaluan.
"Tanya pada anak Umi sendiri," ucap Kenzo menunjuk Al.
Dee melangkahkan kakinya mendekati Al. "Al, katakan pada Umi, kesalahan apa yang sudah kamu buat, Nak?" tanya Dee lembut.
Al menggeleng. "Al tidak melakukan apapun, Umi. Al tidak melakukan apapun pada Kinzi," ucap Al yakin.
Dee menatap dalam anaknya. Mencari kebohongan disana, tapi nihil. Dee dapat melihat Al mengatakan yang sebenarnya. Dee sangat tahu, bagaimana anaknya berbohong atau tidak.
"Lo mau bukti dan gue harus ingatin Lo, Al," ucap Kenzo menarik kasar tangan Al ke depan pintu ruangan Kinzi.
Brak.
Kenzo membuka pintu ruangan Kinzi dengan sedikit kasar. "Lo lihat itu, Al. Lo lihat!" ucap Kenzo tegas.
Mata Al membulat melihat Kinzi yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai alat ditubuhnya.
"Ki-Kinzi," gumam Al.
"Kinzi," gumam Dee dan Kina saat ikut melihat keadaan Kinzi. Sedangkan Zahra masih duduk di kursi roda dengan terus mendekap erat Ibra. Tangisnya sudah tidak terdengar, tapi isakan kecil selalu keluar dari mulutnya.
"Kenapa? Kalian semua terkejut? Dan Kinzi seperti ini itu semua gara-gara Lo, Al!" ucap Kenzo tajam tepat di wajah.
"Gue sama sekali nggak pernah berbuat apa-apa sama Kinzi, Kenzo!" ucap Al tegas menolak apa yang Kenzo katakan.
"Nggak berbuat apa-apa lo bilang Al? Dia seperti ini karena Lo menolak perjodohan dengan Kinzi, Al!" teriak Kenzo menatap Al nyalang.
Al terdiam mendengar perkataan Kenzo. Bahkan Al menolak perjodohan itu dengan bicara baik-baik kepada Kinzi, tapi kenapa bisa seperti ini? Al benar-benar tak percaya dengan semua ini.
"Itu semua bukan salah gue, Ken," ucap Al yakin.
"Gue bicara dengan Kinzi baik-baik saat memberikan jawaban mengenai perjodohan itu. Gue sama Kinzi sepakat untuk menerima semuanya dengan lapang dada," lanjut Al memberitahu Kenzo.
"Tapi apa yang terjadi, Al? Kinzi mengalami kecelakaan karena dia frustasi atas penolakan Lo. Dia bahkan sangat bahagia saat mendengar perjodohan itu. Ucapan lo yang sejak kecil memuji Kinzi membuat dia memiliki rasa lebih sebagai teman kepada. Dan dengan mudahnya, Lo bilang kalau Lo lebih memilih wanita lain yang sialnya sudah jadi istri Lo sekarang, Al!" ucap Kenzo dengan nafas yang memburu melupakan semua isi hatinya.
Al tertawa sumbang mendengar perkataan Kenzo. "Kalau memang itu kesalahan gua, kenapa adik gue yang Lo jadikan pelampiasan, bangsat?" tanya Al tajam.
"Karena dia," ucap Kenzo menunjuk Zahra. "Wanita cacat itu, dia anak kesayangan keluarga Hebi. Dia anak Ibra dan Haidee yang paling lemah dan gue dengan leluasa bisa melampiaskan dendam gue. Dia adik kesayangan Lo, kalau dia terluka maka gue pastikan Lo juga kan sangat terluka, Al. Dan gue sudah puas melakukannya!"
"Bugh. Brengsek Lo Ken!" ucap Al kembali melayangkan tinjunya ke wajah Kenzo.
"Kamu salah Kenzo!" teriak Ibra marah.
"Abi," ucap Zahra lemah sambil menggeleng. Dia tahu Ibra akan memberitahu siapa Zahra sebenarnya. Tapi Zahra tidak ingin itu terjadi. Karena jika Kenzo tahu, maka pernikahan Kina dan Al bisa dalam bahaya. Cukup Zahra yang mengalami semuanya. Tapi tidak dengan Abang dan Adiknya.
Zahra menekan tombol pada kursi rodanya dan mengarahkannya mendekati Kenzo. "Zahra," cegah Ibra.
"Zahra harus bicara, Abi," ucap Zahra menguatkan diri.
Zahra melanjutkan kursi rodanya dan berhenti tepat di depan Kenzo yang menyeka darah keluar dari mulutnya.
Zahra menatap Kenzo dengan tatapan sendu. Sedetik kemudian Zahra mencoba untuk tersenyum.
"Apa dendam Kak Ken sudah terbalas?" tanya Zahra menguatkan dirinya.
"Jika kau bisa menggantikan posisi Kinzi, maka aku akan sangat puas!" jawab Kenzo tajam.
Zahra memegang tangan Al yang akan kembali melayangkan tinjunya kepada Kenzo. Al mencoba meredakan emosinya. Dia mundur dan membiarkan Zahra berbicara dengan Kenzo. Sedangkan Melani dan Anggara hanya menatap Zahra dengan pandangan yang sangat bersalah dan menyesal. Andai dari dulu Anggara menghentikan semuanya, maka hal buruk seperti ini tidak akan terjadi.
"Jika itu yang Kak Ken inginkan, kenapa tidak bunuh Zahra setelah mengambil hak Kakak sebagai suami? Bukan itu akan lebih menyakitkan bagi keluarga Zahra?" ucap Zahra lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
Kenzo mengalihkan pandangannya menghindari pandangan Zahra. "Kematian terlalu cepat untukmu, Zahra," ucap Kenzo.
"Tapi bagi Zahra, kematian bahkan lebih menyenangkan untuk Zahra, Kak Ken," ucap Zahra yang mampu membuat mereka semua menatap Zahra tidak setuju dengan apa yang dia katakan, termasuk Kenzo.
"Zahra, jangan bicara seperti itu, Nak," ucap Dee lembut.
"Maka aku tidak akan melakukan itu, Zahra. Kesakitan mu adalah kebahagiaan untukku!"
PLAK.
"Sayang."
"Umi."
"Dee."
Seru mereka semua melihat Dee yang mendaratkan tamparan keras tepat di pipi Kenzo. Bahkan tangan Dee sampai terkena darah di pipi Kenzo.
Dee menatap Kenzo dengan mata yang sudah berkaca-kaca namun nampak kemarahan disana.
"Zahra kami besarkan untuk menjadi seorang ratu, bukan seorang babu yang bisa kau siksa kapanpun!" ucap Dee tegas.
Semuanya diam. Ibra dan Al hanya bisa membiarkan Dee melakukan apapun. Tidak ada yang bisa mengentikan marahnya seorang Haidee.
"Jika memang kau dendam kepada Al, mengapa kau tidak membalaskan dendam mu kepadanya? Jangan bersikap bajingan dengan kasar kepada seorang wanita, Kenzo! Bahkan kau hanya berani pada wanita seperti Zahra. Wanita lembut yang tentunya tidak akan bisa membalas semua perlakuan mu karena semu kekurangannya!" ucap Dee tegas. Sedangkan Zahra hanya bisa meremas gamis Dee yang berdiri tepat di depannya. Tangannya nampak gemetar melihat Dee menampar Kenzo.
"Kau benar-benar bukan seorang lelaki Kenzo. Kau memperlakukan anakku sebagai seekor binantang. Kau membuat anakku membersihkan seluruh rumahmu dengan badannya sendiri. Bahkan pahanya sudah lecet karena dia patuh kepada suami sialan sepertimu! Dan sekarang kau menyakitinya seperti ini, Kenzo. Dimana hatimu? Bukankah kau punya ibu dan saudara perempuan? Harusnya kau bisa pikirkan itu, Kenzo! Bahkan belum kering darah perawan anakku, kau-" ucap Dee terputus karena tangis yang sudah keluar dari mulut Dee.
Zahra yang melihat itu memeluk pinggang Uminya. "Sudah Umi," ucap Zahra dengan suara bergetar.
Dee menggeleng dia menguatkan dirinya dan kembali menatap Kenzo. "Hiks, belum kering darah perawan anakku, bahkan area wanitanya masih terasa sangat perih karena ulahmu, Kenzo. Kau mencampakkannya layaknya binatang. Tidak ada lelaki yang lebih hina darimu, Kenzo!" ucap Dee melanjutkan perkataannya.
Dee menghapus air matanya kasar. Setelah itu dia melepaskan lingkaran tangan Zahra pada pinggangnya dan berjalan maju agar lebih dekat dengan Kenzo.
Dee menatap tajam mata Kenzo saat sudah berada di depannya. "Kau ingat ini baik-baik! Meskipun kau membasuh tubuh anakku dengan darahmu, kata maaf itu tidak akan pernah kau dapatkan!"
......................
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz