
🌹HAPPY READING🌹
"Kenapa?" tanya Kevin.
Ibra diam. Dia berjalan semakin memasuki kamar milik Kenzo. "Harusnya gue yang tanya gitu sama Lo. Kenapa?" ucap Ibra.
Kevin berbalik. Lelaki itu menghindari kontak mata dengan Ibra yang terasa sangat mengintimidasinya.
"Gue baik-baik aja seperti yang Lo lihat. Ini adalah hari bahagia," jawab Kevin.
"Gue nggak bilang ini hari sedih. Dan gue juga nggak tanya Lo baik-baik aja atau enggak. Kenapa Lo bisa yakin kalau gue memang bertanya mengenai keadaan Lo?" tanya Ibra menaikkan alisnya menatap Kevin.
Kevin terdiam. Dia hanya menatap lurus langit malam tanpa berniat menjawab pertanyaan Ibra sedikitpun.
Ibra yang melihat itu menghela nafas pelan. Kakinya melangkah mendekati sofa yang ada di kamar Kevin dan duduk disana.
Mata Ibra tak lepas dari tubuh Kevin yang membelakanginya. "Lo kurusan, Vin," ucap Ibra.
"Makin baguslah badan gue," jawab Kevin.
"Biasanya, orang makin tua badannya makin nggak berbentuk. Tapi Lo, badan lo masih kayak lelaki usia tiga puluhan," ucap Ibra.
"Itu artinya gue berhasil jaga badan," jawab Kevin.
"Karena nggak ada ngurusin makanya gitu," cibir Ibra.
Kevin hanya terkekeh pelan mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Vin," panggil Ibra serius.
Kevin berbalik dan menatap Ibra. "Kenapa?" tanya Kevin.
"Jujur sama gue. Lo kenapa?" tanya Ibra menatap dalam manik mata Kevin.
"Gue nggak apa-apa," jawab Kevin.
"Jangan kayak perempuan, Vin," ucap Ibra kesal mendengar jawaban Kevin yang membuatnya bingung.
Kevin menghela nafas pelan. Lelaki itu melangkahkan kaki untuk duduk sofa singel yang berada disebelah sofa yang diduduki Ibra.
"Ib," panggil Kevin pelan.
"Hem," jawab Ibra.
"Sebagai lelaki, gue berhak buat jatuh cinta lagi diumur yang sangat terlambat ini?" tanya Kevin serius.
Ibra menatap mata Kevin. Banyak sirat emosi yang tertahan dari mata itu. Sebenarnya apa yang selama ini Lo tahan, Vin?" Batin Ibra.
"Ib," panggil Kevin lagi ketika tidak kunjung mendapat jawaban dari Ibra.
Ibra terkesiap. "Tidak ada batasan usia untuk jatuh cinta, Vin," jawab Ibra.
"Meskipun diusia gue yang begini?" tanya Kevin lagi.
Ibra mengangguk yakin. "Berapapun usia Lo, nggak ada yang melarang untuk jatuh cinta," jawab Ibra lagi.
Kevin mengangguk. Tidak ada apapun yang bisa dia sembunyikan dari sahabatnya itu. Seberapapun keinginannya untuk menyembunyikan, namun hatinya tetap mengatakan untuk bercerita pada lelaki itu. Dia berdiri lalu berjalan menuju meja yang ada di sebelah ranjang. Tangan Kevin bergerak membuka laci kedua. Dia menyingkap salah satu buku yang ada disana dan mengambil sebuah benda kecil yang dia simpan sejak beberapa Minggu yang lalu.
Kevin menggenggam benda itu erat dan membawanya. "Ini Ib," ucap Kevin memberikan benda itu.
"Apa in?" tanya Ibra bingung menerima benda kecil itu.
Mata Ibra membulat sempurna melihat apa yang ada didepan matanya saat ini. "Vin, ini punya siapa?" tanya Ibra.
Kevin diam. Dia menunduk dalam menyembunyikan air mata yang siap keluar kapanpun.
"Vin jawab gue. Ini punya siapa?" tanya Ibra lagi.
Kevin mengangkat kepalanya. Mata lelaki itu memerah karena berair.
Ibra yang melihat itu merubah ekspresinya. Yang tadinya marah, kini sendu karena melihat kesedihan yang sangat ketara pada lelaki.
"Dia hamil, Ib," ucap Kevin pelan.
"Ya dia siapa?" tanya Ibra tak mengerti dengan maksud sahabatnya itu.
Ibra yang melihat sahabatnya begitu tertekan langsung mendekat dan memberikan pundaknya pada Kevin.
Tangis Kevin pecah saat kepalanya jatuh begitu saja di pundak Ibra. Biarlah dia cengeng atau bagaimana sekarang, yang dia butuhkan saat ini hanyalah sandaran seorang sahabat yang tak pernah pergi meninggalkannya.
"Cerita sama gue Vin," ucap Ibra.
Untuk pertama kalinya Ibra melihat seorang Kevin yang selalu tenang dan tersenyum, kini terlihat sangat rapuh dan tak berdaya. Seberat apa beban yang dia tahan hingga menangis tersedu seperti ini.
Badan Kevin sangat bergetar karena tangisnya. Untung kamar lelaki itu kedap suara, jadi tidak akan terdengar seberapapun keras tangisnya keluar.
"Gue brengsek, Ib," gumam Kevin sedih.
Ibra hanya diam. Dia membiarkan sahabatnya itu untuk meluapkan semua kesedihannya saat ini. Bukan nasehat yang dibutuhkan Kevin saat ini, tapi hanya tempat bercerita dan pendengar yang baik untuknya. Lelaki ini terlalu rapuh untuk menerima segala masukan saat ini.
Kevin sesekali memukuli kepalanya sendiri dengan tangis yang terdengar begitu pilu. Setelah beberapa menit lamanya, Kevin mengangkat kepalanya dari pundak Ibra. Lelaki itu menetralkan emosinya dan mencoba untuk menenangkan diri sebentar.
"Sudah sedikit tenang?" tanya Ibra.
Kevin mengangguk. Tangan lelaki itu bergerak menghapus air mata yang masih membanjiri pipinya.
"Sorry Ib. Lo harus lihat gue kayak gini," ucap Kevin.
"Tanggung jawab Lo. Basah baju gue," ucap Ibra menunjukkan baju bagian bahunya yang memang basah karena air mata Kevin.
Kevin terkekeh pelan. "Sesekali nggak apa-apa. Kenang-kenangan buat Lo," ucap Kevin bercanda.
"Seberat apa masalah Lo sampe terlihat putus asa seperti itu, Vin? Selama empat puluh lima tahun kita bersahabat, untuk pertama kalinya gue lihat Lo se rapuh ini, Vin. Bahkan ini lebih rapuh daripada Lo kehilangan Sofia dan ibu Lo," ucap Ibra serius.
"Gue kehilangan nyawa, Ib," jawab Kevin menatap lurus ke depan.
"Jangan menjawab dengan sebuah isyarat yang buat gue nggak paham, Vin. Jangan jadi perempuan," ucap Ibra kesal.
"Saat Lo kehilangan Dee dulu, begitu juga perasaan gue saat ini," ucap Kevin yang membuat Ibra menatapnya serius.
"Siapa?" tanya Ibra mulai paham.
Kevin tersenyum tampan mengingat wanita yang menjadi pengisi seluruh hatinya. "Seorang wanita yang sangat pandai membuat gue jatuh cinta. Seorang wanita yang pandai membuat gue menyesal dengan se dalam-dalamnya. Seorang wanita yang pandai berjuang sendiri, tanpa dukungan siapapun," jawab Kevin.
Mata lelaki itu kembali berkaca-kaca mengingat wanita yang dia campakkan begitu saja tanpa ikut membantu perjuangannya.
Ibra paham sekarang. Sejak tadi Kevin tidak menjawab inti dari pertanyaannya yang menanyakan siapa wanita itu. situ tandanya lelaki itu punya hal lain yang membuat dia tidak bisa menyampaikannya secara langsung.
"Gue nggak tahu siapa perempuan yang buat Lo se gila ini, Vin. Tapi satu hal yang pasti, dia berhasil membuat Lo merasakan cinta yang sebenarnya," ucap Ibra.
"Lalu alat tes kehamilan ini?" lanjut Ibra bertanya sambil menyodorkan alat tes kehamilan yang tadi diberikam Kevin padanya.
"Dia hamil darah daging gue, Ib," jawab Kevin sendu dengan setitik air mata yang tanpa izin jatuh begitu saja membasahi kembali pipinya.
"Sudah berapa lama?" tanya Ibra lagi.
"Dua bulan setelah kematian Sofia. Semuanya terjadi dua bulan setelah kematian Sofia," jawab Kevin.
"Lo tidur dengan wanita?" tanya Ibra tak percaya.
"Ini bukan Lo banget, Vin. Kevin yang gue kenal nggak mungkin melakukan hal benak seperti itu. Apa lagi menghamili seroang wanita diluar pernikahan. Sebejat-bejatnya lelaki, harga dirinya adalah sebuah tanggung jawab Vin. Tapi Lo? Lo membuat seorang anak tidak memiliki nasab hidup di dunia ini!" ucap Ibra sedikit emosi.
"Anak itu memiliki nasab, Ib. Gue adalah Ayahnya," jawab Kevin.
"Tapi anak dari luar pernikahan it-"
"Gue melakukannya saat kami terikat hubungan halal pernikahan!" jawab Kevin cepat memotong perkataan Ibra.
Ibra terdiam. "Ma-maksud Lo?"
......................
Hai teman-teman, untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang akan publish ya. Untuk info publish nya akan author share di Instagram author ya. Nanti akan ada kabar baik dan sedikit kabar tak enak yang tak sesuai keinginan pembaca semua.
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. TERIMAKASIH 🤗🙏