Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 130



🌹HAPPY READING🌹


"Cela dapat culat ini. Katanya, cetiap kedua Olang tua halus hadil," ucap Sela memberikan surat itu pada Zahra.


Zahra membaca dengan seksama. "Lomba orang tua dan anak," eja Zahra membaca nama acara tersebut.


Sela mengangguk semangat. "Ayah dan Buna halus datang, ya. Dampingi Cela," ucap Sela semangat.


"Pasti, Sayang. Kita akan menangkan perlombaannya," ucap Zahra ikut semangat melihat semangat anaknya yang begitu menggebu.


Bu Sari yang melihat itu ikut tersenyum. Keluarga kecil yang dulunya saling jauh, saling menyimpan rasa sakit, saling terpisah karena sebuah kesalahan dan penyesalan, kini sudah berkumpul dan meraih bahagia bersama.


Bunda, Ayah dan Adik Akbar sudah bahagia, Nak. Nenek harap Akbar disana dapat melihat semua ini, Nak. Batin Bu Sari yang tiba-tiba mengingat Akbar.


Setelah perjalanan singkat, mobil Kenzo sampai di area pemakaman. "Lumah Abang," ucap Sela gembira karena akan bertemu dengan lelaki yang belum pernah dia lihat, namun sangat dia sayangi sepenuh hati yang dia sebut sebagai Abangnya.


Mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki gerbang pemakaman. Sebelum ke pusara Akbar, mereka membeli bunga terlebih dahulu.


"Cela juga mau bunga kecil itu, Buna. Mau ngasih Abang," ucap Sela sambil berjinjit menunjuk sebuah buket bunga kecil yang sangat imut menurutnya.


Zahra mengambilkan bunga tersebut dan memberikannya pada Sela. Setalah mendapat apa yang diiginkan, mereka berjalan menuju pusara Akbar.


"Assalamu'alaikum, Akbar," ucap Kenzo, Zahra dan Bu Sari.


"Acalamu'alaikum, Abang," ucap si kecil Sela.


"Lumahnya Abang belcih, Buna. Padahal cudah lama kita tidak kecini," ucap Sela ketika mata cantiknya tidak menatap rumput liar disekitar makam Akbar. Karena biasanya, setiap dia kesini, pasti sudah ada rumput hijau yang menghiasi pusara Abangnya.


"Iya ya," ucap Zahra yang baru menyadarinya.


"Kemarin aku kesini, Sayang," ucap Kenzo memberitahu.


"Kamu yang bersihin, Mas?" tanya Zahra yang dibalas anggukan oleh Kenzo.


"Terimakasih, Mas," ucap Zahra tulus.


Kenzo menggeleng. "Sudah kewajiban aku mengerjakannya, Sayang. Aku tidak suka kamu mengucapkan terimakasih karena hal ini," ucap Kenzo sedikit tidak suka.


Zahra tersenyum dan mengangguk menanggapi Kenzo yang bicara sedikit ketus. Setelah itu, dia kembali memandang batu nisan yang bertuliskan nama anaknya.


"Apa kabar, Akbar? Maaf ya, Buna baru datang sekarang, Nak," ucap Zahra menyesal. Karena dulu, hampir setiap Minggu dia mewajibkan diri untuk ke makam Akbar. Tapi, karena banyaknya hal yang terjadi, dan berbagai macam permasalahan yang melanda, membuat dia harus mengorbankan waktunya untuk Akbar.


Lagi-lagi, Akbar harus ikhlas jika waktu yang sedikit Bunda ambil ya, Nak. Batin Zahra melanjutkan perkataanya.


"Tapi Akbar harus tahu satu hal. Walaupun Bunda tidak datang, tapi nama Akbar tidak pernah absen dalam doa Bunda. Sedetikpun waktu yang tertinggal, maka nama Akbar yang akan terucap dalam waktu yang sedikit itu, Nak. Dan satu lagi, kami semua sayang Akbar," ucap Zahra menahan air matanya dengan menampilkan senyum manisnya.


"Sela, ayo ngobrol sama Abang, Nak," ucap Zahra pada Sela yang berjongkok disebelahnya.


"Hai Abang. Pasti Abang bahagia banget di culga, ya," ucap Sela.


"Kata Bu gulu di cekolah, culga tempat yang indah. Abang culang, kalena ke culga nggak ajak Cela."


Sela tersenyum dengan menampilkan gigi susunya. "Ayah cama Buna malah, Abang," ucap Sela seolah mengadu pada Akbar. Pandangan anak itu tidak lepas dari tulisan nama Abangnya.


"Abang, cekolah di culga pasti bagus banget, ya. Pasti lebih bagus dali cekolahnya Cela. Lumah Abang dicana pasti lebih bagus dali lumah Ayah dicini. Teman Abang dicana pasti lebih baik dali dicini, ya. Pasti kehidupan Abang di culga bahagia banget. Abang bica pangkuan cama Allah dan Nabi kita," ucap Sela sendu.


"Kenapa Sela sedih, Nak? Harusnya Sela senang karena Abang bahagia," ucap Kenzo.


"Tapi Abang telalu bahagia campai-campai nggak pelnah datang ke mimpi Cela, Ayah. Padahal, cetiap mau tidul, Cela celalu beldoa beltemu Abang. Cela mau lihat, wajah Abang pasti milip banget cama Cela. Cela cantik, dan Abang pasti ganteng," jawab anak itu mengatakan isi hatinya.


Kenzo terdiam mendengar perkataan Sela. Apa ini? Jadi selama ini anaknya itu menyembunyikan perasaan yang besar terhadap Abangnya sendiri. Karena selama mereka hidup bertiga, Sela sama sekali tidak pernah menanyakan Akbar atau mengajak mereka untuk ke makam Akbar.


"Sela dengerin Bunda," ucap Zahra menuntun Zahra untuk menatapnya. Pipi anak itu sudah basah karena air mata yang tanpa izin membasahi pipinya.


"Jika Sela mau ketemu Abang, Sela harus selalu berdoa kepada Allah dan mendoakan Abang. Karena dengan doa kita, maka Abang melihat kita dari atas sana, Nak. Dia akan bangga karena adiknya begitu menyayanginya," ucap Zahra.


"Abang melihat kita dari langit, Buna?" tanya Sela.


Zahra mengangguk. "Iya Nak. Makanya, Sela jangan pernah berhenti berdoa untuk Abang, ya. Sela harus jadi anak yang baik, anak yang Sholeha agar nanti bisa bertemu dengan Abang di surga," ucap Zahra.


Sela mengangguk mantap. "Cela akan lakukan itu agal ketemu Abang nanti, Buna," jawabnya yakin.


"Ini baru adiknya Abang Akbar," ucap Bu Sari yang ikut menyemangati Sela.


Begitu sayang adik kamu, Nak. Kita semua menyayangi kamu. Kamu adalah bagian dari kami. Meskipun tidak bersama, namun kamu selalu bersemayam di hati kami, Nak. Batin Kenzo menatap nama Akbar di nisannya.


Jangan pernah berhenti untuk menatap kami dari atas sana, Nak. Kamu harus ikut merasakan setiap senyum dan kebahagiaan keluarga kita. Batin Zahra.


Setelah puas berada di makam Akbar, mereka memanjatkan doa yang dipimpin oleh Kenzo. Selesai berdoa, mereka semua berdiri dan tak lupa pamit untuk kembali.


.....


Sesuai dengan surat yang diberikan oleh pihak sekolah kemarin, kini Zahra dan Sela sudah berada di dalam kelas anak itu.


Sela nampak diam sejak tadi karena kesal pada sang Ayah. Dia melihat semua teman-temannya yang datang didampingi oleh kedua orang tua mereka. Sedangkan dia hanya ditemani Zahra. Dan yang lebih kesalnya lagi, kelasnya dibagi atas dua kelompok. Sehingga membuat dua dan Shasa harus terpisah kelompok. Karena, kelompok yang didapatkan Shasa itu dipindahkan ke kelas kosong agar ruang kelas menampung semua murid beserta orang tuanya dengan tidak berdesakan.


"Sela masih marah sama Ayah?" tanya Zahra yang dibalas anggukan oleh Sela.


"Pagi-pagi tadi, Ayah dapat telfon mendadak dari kantor, Nak. Ada pekerjaan penting yang harus Ayah selesaikan, Nak," ucap Zahra mencoba membujuk Sela.


Sela diam. Matanya menatap Bu Nita yang tengah menatap remeh kepadanya. Ibu dari temannya itu menatap hina Sela. Karena dia datang bersama sang suami untuk menemani kyel, anaknya.


"Apa pekeljaan Ayah itu lebih penting dari Cela, Buna?"


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏