Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 222



🌹HAPPY READING🌹


Sedangkan Zahra, dia menangis dengan terisak. Kedua tangannya digunakan untuk menutup wajahnya. "Maafkan aku, hiks."


"Bunda," panggil Sela lembut.


Anak itu melepaskan lilitan tangannya pada badan Kenzo dan berjalan mendekati ranjang Zahra. "Bunda," panggil Sela lagi memegang pelan siku Zahra.


Zahra melepaskan tangan yang menutupi wajahnya untuk menatap Sela.


"Bukankah Bunda pernah bilang, jika anak-anak yang sudah di surga adalah jembatan untuk orang tuanya mendapat Surga. Lalu kenapa sekarang Bunda marah? Ayah melakukan apa yang membuat kita semua nanti berkumpul di surga, Bunda," ucap anak itu dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


Badan Zahra bergetar hebat mendengar perkataan anaknya. "Maafkan Bunda, Nak," ucap Zahra menyesal.


Sela menggeleng. "Bunda nggak salah. Disini masih ada Sela sebagai anaknya Bunda sama Ayah. Bunda harus ikhlasin adik-adik, ya. Kata Nenek, adik-adik akan tenang jika Bunda ikhlas," ucap Sela lagi.


Zahra mengangguk. "Naik kesini, Nak," ucap Zahra menepuk kasur disebelahnya yang kosong.


Dengan sedikit sulit, anak itu memanjat kasur dan duduk di tempat yang tadi ditepuk oleh Zahra.


"Maafkan Bunda sudah egois ya, Nak. Maafkan Bunda sudah melupakan bahwa bukan hanya Bunda yang sedih. Tapi ada Ayah dan Sela juga," ucap Zahra menangkup pipi Sela dengan kedua telapak tangannya.


"Mas," panggil Zahra lembut pada Kenzo.


Kenzo yang sejak tadi diam mengangkat kepala mendengar panggilan Zahra.


"Kemari, Mas," ucap Zahra merentangkan tangan meminta Kenzo untuk mendekat.


Kenzo menurut. Lelaki itu mendekat dan duduk di tepi ranjang yang kosong.


"Maafkan aku, ya," ucap Zahra menyesal.


Kenzo mengangguk. "Bukan salah kamu, Sayang. Kita semua sedang diuji oleh takdir," jawab Kenzo dengan lembut.


"Takdir begitu kejam ya, Mas. Tapi aku masih bersyukur, aku masih punya Sela dan kamu," ucap Zahra menatap Kenzo dan Sela bergantian.


"Sela juga bersyukur punya Ayah dan Bunda," ucap Sela memeluk kedua orang tuanya.


"Ayah, Bunda," panggil Sela setelah melepas pelukannya.


"Iya Nak," jawab Kenzo, sedangkan Zahra hanya diam dan tersenyum dengan wajah sembabnya.


"Sela mau keluar dulu, ya. Mau ajak Nenek sama Kakek ke makam adik. Sela mau liat rumah adik-adik," ucap Sela penuh harap menatap Kenzo.


"Bunda ikut ya?" tanya Zahra.


"Kamu masih belum pulih sekali, Sayang. Nanti kalau Dokter sudah mengizinkan kamu keluar dari rumah sakit, kita akan langsung jenguk anak-anak," jawab Kenzo.


"Tapi Mas-"


"Nurut sama aku, ya," ucap Kenzo cepat memotong perkataan Zahra. Kenzo tidak mau istrinya semakin drop nantinya dan memperlambat masa kesembuhan Zahra.


Zahra menghela nafas dan mengangguk pasrah. "Sela hati-hati, ya. Titip salam Bunda buat adik-adik," ucap Zahra yang langsung dianggukki oleh gadis kecil itu.


Kenzo membantu Sela turun dari tempat tidur dan segera berlari keluar ruangan.


Sekarang, dikamar itu tinggal Kenzo dan Zahra berdua. Mereka saling menatap dengan lembut. Air mata Zahra kembali keluar melihat mata teduh sang suami yang sempat dia benci sebentar tadi.


"Sudah, Sayang. Bukan salah kamu," ucap Kenzo memeluk istrinya yang siap-siap akan menangis. Kenzo memaklumi sikap cengeng Zahra ini, tapi tidak untuk setiap perbuatannya yang membenci takdir.


"Aku gagal sekali jadi Ibu, Mas. Tiga anakku tidak selamat setelah keluar dari rahimku sendiri," ucap Zahra sendu.


"Itu tidak menandakan kamu wanita dan ibu yang gagal, Sayang," jawab Kenzo mengusap lembut punggung Zahra.


"Kamu wanita sehat. Kamu wanita normal, masih banyak kemungkinan kita untuk mendapat anak lagi. Kamu tahu sayang, selagi kamu masih ada di dunia ini, aku iklhas untuk kehilangan apapun, meskipun anak kita sekaligus. Tapi jika kamu tidak ada, hidup aku untuk siapa?" ucap Kenzo lirih.


"Maaf karena sudah menyalahkan kamu, Mas," ucap Zahra.


Kenzo menggeleng. "Mungkin aku egois sebagai lelaki, tapi beginilah aku. Kamu adalah segalanya. Yang meninggal sudah bahagia dipangkuan Tuhan, Kamu dan sela adalah tanggung jawab aku untuk memberi kebahagiaan itu," ucap Kenzo tulus.


"Terimakasih sudah menjadi lelaki hebat aku, Mas," jawab Zahra mengeratkan pelukannya pada pinggang Kenzo.


"Dan terimakasih sudah menjadi wanita kuat untuk aku, Sayang. Tidak ada wanita yang lebih hebat dari istri aku ini," ucap Kenzo mengecup kecil pucuk kepala Zahra.


"Mas sudah beritahu Ayah dan Kakek Murat?" tanya Zahra menengadah menatap Kenzo.


Kenzo mengangguk. "Sebentar lagi mereka akan datang, Sayang," jawab Kenzo.


.....


Sela keluar dari ruangan Zahra dan menemui keluarganya yang duduk di kursi tunggu.


"Nenek, Kakek," panggil Sela. Mereka semua yang ada disana menatap gadis kecil yang tadi memanggil Dee dan Ibra.


"Gimana Ayah sama Bunda, Nak?" tanya Melani dan Dee serentak.


"Alhamdulillah," ucap semua yang ada disana dengan lega.


"Nenek," panggil Sela lagi pada Dee dan Melani.


"Kenapa Nak?" tanya Dee dan Melani serentak.


"Sela mau ke rumah adik-adik, boleh ya?" pintanya memohon.


"Tapi ini sudah mau malam, Nak," jawab Anggara yang sejak tadi hanya mendengar.


"Sebentar saja, Kakek," mohon Sela lagi.


Anggara menghela nafas pelan dan menatap Ibra memberi kode. "Pergi sama Kakek dan Kakek Anggara, ya. Biar Nenek dan Nenek Melani disini saja," ucap Ibra mengizinkan.


Sela mengangguk antusias. Tanpa banyak kata lagi, mereka bertiga pergi meninggalkan rumah sakit untuk menuju makam adik-adik Sela.


.....


Sela berjalan dengan menggandeng tangan kedua kakeknya. Sampai di depan sebuah makam baru yang sangat mungil, sama seperti makam disebelahnya.


"Assalamu'alaikum Abang dan adik-adik," sapa Sela.


Tangan mungil Sela terangkat mengusap lembut nisan mungil itu. "Adik-adik pasti senang sekali, ya Kakek. Karena bisa berkumpul sama Abang di surga. Mereka jahat tinggalin Sela sendiri di dunia," ucap anak itu dengan senyum manisnya. Namun, Anggara dan Ibra dapat melihat raut kesedihan di wajah cantik itu.


Ibra mensejajarkan tubuhnya dengan bersimpuh di sebelah Sela. "Itu artinya, Abang dan adik-adik percaya bahwa Sela mampu untuk membuat Bunda dan Ayah bahagia," ucap Ibra mengusap lembut punggung cucunya itu.


"Apa Sela sekuat itu?" tanyanya pelan.


"Tentu, Nak. Ada kami semua untuk Sela disini," jawab Anggara.


Sela menatap bergantian Ibra dan Anggara dengan senyum manisnya. Setelahnya anak itu kembali menatap lekat makam itu.


Jika mungkin, cepat ajak Kak Sela juga ya. Kakak Sela mau berkumpul bersama kalian. Setidaknya, dalam mimpi temui Kakak, ya. Ajak Abang juga. Batin Sela sendu.


Sungguh, hati anak itu sangat terluka mendengar kabar kematian adik-adiknya. Tapi dia tidak ingin membuat semua orang sedih hanya karena kesedihannya. Dia harus menjadi penyemangat untuk Ayah dan Bundanya..


.....


Kini, semua sudah berkumpul di ruang rawat Zahra. Kevin sudah datang setengah jam yang lalu. Sedangkan Murat tidak bisa ikut karena demi keamanan lelaki itu.


"Jangan bersedih terlalu lama, ya Nak. Kamu tidak sendiri. Allah sedang menaikan derajat kamu, Sayang," ucap Kevin menasehati Zahra yang sudah lebih tenang.


Zahra tersenyum dan mengangguk. "Zahra tidak sabar berkumpul di surga dengan anak-anak Zahra, Ayah," ucap Zahra senang.


"Akan ada waktunya nanti, Nak. Sekarang, ada Sela yang harus kamu bahagiakan," jawab Kevin menatap Sela yang duduk bersama Shasa bermain iPad di sofa ruangan itu.


Zahra mengangguk. Terimakasih ya, Allah. Engkau masih memberikan orang-orang yang sayang sama Zahra. Berilah Zahra selalu keikhlasan dan kesabaran dalam menerima setiap takdir yang telah engkau garis kan. Karena apa ketentuan mu, maka itu yang terbaik untuk setiap umatmu. Batin Zahra dengan segala keyakinan kepada penciptanya.


.....


Kevin duduk diluar ruangan seorang diri dengan kepala disandarkan Kedinding dan mata yang terpejam. Sedangkan yang lain sedang bercengkrama dan saling bercerita di dalam.


Sebuah tepukan yang ada di bahunya membuat Kevin membuka mata.


"Kenzo," panggil Kevin dan mengubah posisi menjadi duduk tegap.


Kenzo mendudukkan dirinya disebelah Kevin. "Setelah ini, kisah ku dan Zahra akan bahagia, Ayah, semoga," ucap Kenzo tiba-tiba yang membuat Kevin heran.


"Itu keinginan kita semua, Ken," jawab Kevin.


Kenzo mengangguk. Mata lelaki itu sedikit berair saat akan membuka suaranya.


"Ada apa, Ken?" tanya Kevin.


Kenzo memutar kepalanya menatap Kevin. "Tolong cari kembaran Kenzo bersama anaknya, Ayah."


...S E L E S A I...


................


Akhirnya kisah Kenzo dan Zahra selesai juga. Seperti kata Kenzo dia akan hidup bahagia bersama Zahra, dan sekarang tugas Kevin untuk membahagiakan kembaran Kenzo. Wah, gimana ceritanya ya? Lihat info di ig aku ya teman-teman mengenai Novel Cinta Wanita Muda.


Kok Kenzo bisa tahu, ya? Yuk cari jawabannya di Novel Cinta Wanita Muda 🤗😉


Semua kisah Kevin dan Zahra selalu update di Instagram aku 🤗😉


Terimakasih buat kalian yang selalu setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow instagram aku @yus_kiz untuk mengikuti kisah novel Cinta Wanita Muda, yaitu Kevin dan Kinzi ya 🤗😉