
🌹HAPPY READING🌹
Zahra memasuki kamar Kenzo. Dia melihat suaminya yang tengah berdiri di balkon dengan menatap jauh ke depan.
Zahra berjalan mendekat dan ikut berdiri disebelah suaminya. "Mas," panggil Zahra pelan.
Kenzo hanya menoleh. Setelahnya, lelaki itu kembali melihat ke depan, menatap siang yang kini terasa dingin ditambah dengan suasana hati yang bercampur aduk. Ada kesal, marah, kecewa dan takut dalam hal bersamaan.
"Mas," panggil Zahra lagi dengan menggenggam tangan Kenzo.
"Iya Sayang," jawab Kenzo pelan.
Zahra merubah posisi dengan memeluk Kenzo dari belakang. Menyandarkan kepalanya dipunggung Kenzo dengan tangan memeluk erat perut sang suami. "Mas, terkadang ada hal yang terjadi diluar kendali dan kehendak kita, Mas. Itulah namanya takdir. Kita tidak tahu, apa yang terbaik untuk Kak Kinzi dan Ayah. Yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut kita, baik juga menurut Allah, Mas," ucap Kinzi memberi pengertian agar suaminya dapat meredam sedikit rasa marahnya.
Kenzo berbalik dan membalas pelukan Zahra. Ada sesuatu yang dia sembunyikan agar Zahra tidak melihat air bening yang ada di ujung matanya.
"Mungkinkah ini balasan atas kejahatan ku dulu, Sayang?" tanya Kenzo sendu.
Zahra menggeleng. "Ini hanya cobaan Mas. Kita diminta untuk selalu berserah kepada-Nya," ucap Zahra.
"Dulu, kamu pernah bilang, aku harus berhati-hati atas perlakuanku, karena ada Kinzi dan Mama yang akan mendapat karmanya. Apa sekarang ini adalah wujud dari pernyataan kamu itu, Sayang? Rasanya sungguh sakit sekali. Maafkan aku," ucap Kenzo lirih mengeratkan pelukannya pada Zahra.
Zahra hanya diam tak menanggapi. Benar, dia memang pernah berkata seperti itu pada Kenzo dulu. Tapi dia tidak menyangka bahwa apa yang dia katakan akan terwujud dengan cara menyakitkan seperti ini.
"Mas, bukankah kita sudah bahagia dan melupakan semuanya? Kenapa harus kembali berucap maaf?" tanya Zahra.
"Aku harus bagaimana, Sayang?" tanya Kenzo frustasi.
Zahra melepaskan pelukannya dan menatap Kenzo. Apa yang disembunyikan suaminya akhirnya dia ketahui juga. Zahra melihat air mata itu sudah jatuh membasahi pipi suaminya.
"Tidak ada salahnya kita memberikan apa yang diinginkan Kak Kinzi, Mas," ucap Zahra menatap Kenzo.
"Tidak mungkin, Sayang," ucap Kenzo sendu.
"Tidak ada kembaran yang menikah dengan mertua kembarannya sendiri," lanjut Kenzo.
"Jika mereka saling mencintai apa salahnya, Mas? Tidak ada yang tidak mungkin. Lagi pula, tidak ada hubungan darah antara aku dan Ayah Kevin. Jadi Kak Kinzi sangat berhak untuk hidup bersama Ayah Kevin," ucap Zahra.
"Di hukum negara, kamu adalah anak sah Ayah Kevin, Sayang. Dan pernikahan antara Ayah dan Kinzi, tidak akan pernah terjadi," ucap Kenzo tegas.
"Apa yang membuatnya tidak mungkin, Mas?" tanya Zahra.
"Ayah Kevin itu Ayah kamu, Sayang. Dia itu mertuaku, harusnya kamu tidak perlu bertanya lagi," jawab Kenzo.
"Jika memang mereka berjodoh, apa salahnya?" tanya Zahra lagi.
"Jadi kamu mendukung pernikahan Ayah Kevin dan Kinzi?" tanya Kenzo dingin.
"Tidak ada salahnya memberi kebahagiaan untuk orang yang kita sayangi, Mas," jawab Zahra.
"Itu artinya kamu mengorbankan pernikahan kita, begitu Zahra?" tanya Kenzo tegas.
"Mas, bukan begitu," ucap Zahra.
"Ingat anak kita. Dan jangan membicarakan ini lagi," ucap Kenzo dan pergi menuju ranjangnya.
Zahra menghela nafas pelan. Suaminya memang sangat keras kepala, akan sangat sulit untuk membujuknya.
Tanpa mereka sadari, Kinzi mendengar semua pembicaraan Kenzo dan Zahra. Saat akan pergi ke kamarnya, Kinzi melewati kamar Kenzo. Pintu kamar Kenzo yang tak tertutup dapat, sangat membantu Kinzi untuk mendengar semuanya. Kinzi menyandarkan tubuhnya di dinding luar kamar Kenzo. Menahan sesaknya, wanita itu segera kembali ke kamarnya.
Kinzi menutup rapat pintu kamarnya. Wanita itu langsung mengambil koper yang belum sempat dia keluarkan isinya. Tangannya memegang kuat pegangan koper tersebut.
Kinzi duduk di ranjangnya dan mencoba untuk menenangkan hatinya. Bibirnya berusaha menerbitkan senyum dengan tangan mengusap-ngusap pelan dadanya.
"Mungkin kali ini, kamu harus kembali terluka, Kinzi. Tidak apa-apa, ada rencana lebih baik yang Allah siapkan untukmu," gumam Kinzi dengan air mata yang mengalir tanpa izin membahasi pipinya.
Kinzi menghela nafas banyak menetralkan emosinya. "Mungkin dengan pergi sebentar, semuanya akan baik. Untuk saat ini, biar hatiku yang mengalah. Tidak apa Kinzi, kamu tidak menyerah, hanya saja kamu butuh memberi jeda hatimu untuk kesakitan berikutnya," ucap Kinzi dan melangkahkan kakinya keluar kamar dengan tangan menyeret koper besarnya.
"Saat ini, biarkan doaku yang bekerja di langit sana."
.....
Kinzi melangkah pelan menuruni tangga. Dari pertengahan tangga, dia dapat melihat kedua orang tuanya yang sudah duduk kembali bersama Kevin dan Kenzo. Ada Zahra juga disana. Entah kapan mereka semua berkumpul, yang pasti saat ini, Kinzi hanya perlu pamit kepada mereka semua.
Tidak ada yang buka suara, hanya keheningan yang ada disana. Bunyi langkah kaki dan koper Kinzi mengalihkan pandangan mereka.
"Kinzi, kamu mau kemana, Nak?" tanya Melani khawatir.
Kinzi tersenyum. Dia berjalan mendekati mereka semua, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. "Kinzi mau pamit," ucap Kinzi.
"Kamu mau kemana?" tanya Kenzo.
"Aku mendapat telepon dari agensi di Paris. Aku akan memperpanjang kontrak model muslimah disana. Mungkin untuk beberapa tahun," jawab Kinzi tersenyum.
"Nak," panggil Melani lirih.
"Kinzi tidak apa-apa, Ma. Mungkin memang sudah jalannya begini. Maaf jika nanti Kinzi tidak pulang atau memberi kabar, kesibukan Kinzi disana akan semakin bertambah, Ma. Mama sama Papa nggak usah khawatir, ya," ucap Kinzi menenangkan Anggara dan Melani.
"Kenzo," panggil Kinzi pada kembarannya.
"Jaga Zahra dan calon anakmu, ya. Jangan sakiti dia, rasanya sungguh tak enak," ucap Zahra menjeda perkataanya sambil menatap Kevin sebentar. "Selalu dampingi perjuangan istrimu apapun yang terjadi. Jangan bertengkar hanya karena aku," lanjut Kinzi.
"Kinzi."
"Aku memang pergi karena pekerjaan. Kau tidak usah khawatir, semuanya tidak ada hubungan dengan yang tadi. Aku cukup tahu diri dengan perasaanku yang tak pantas ini. Terimakasih telah menyadarkan ku, Kenzo," ucap Kinzi tulus tersenyum menatap Kenzo.
Kenzo berdiri dan memeluk kembarannya itu. "Bukan aku tidak ingin kamu bahagia, Kinzi. Kamu pasti mengerti, banyak hal yang bisa memberikan kebahagiaanmu, Kinzi," ucap Kenzo mengecup puncak kepala Kinzi.
Kinzi melepaskan pelukannya dan beralih menatap Zahra. "Terimakasih, Zahra. Jaga kembaran ku ini, ya. Dia memang manja, tapi itu hanya padamu," ucap Kinzi tersenyum.
Zahra memeluk kakak iparnya itu. "Pergilah untuk kembali, Kak Kinzi," ucap Zahra pelan.
Kinzi hanya diam tak menjawab. Tangannya mengusap lembut punggung Zahra. "Terimakasih telah mengerti hatiku, Zahra. Tolong jaga calon ponakan ku ini, ya. Dan juga titip salam untuk Sela. Dia tetap gadis kecil kesayanganku," ucap Kinzi yang dianggukki oleh Zahra.
"Uncle Kevin, Kinzi pamit, ya. Tenang saja, Kinzi tidak apa-apa. Hati Kinzi sudah lebih baik sekarang," ucap Kinzi menatap Kevin yang sejak tadi hanya diam.
"Titip salam untuk wanita yang menjadi pilihan hati Uncle nanti, ya. Semoga kebahagiaan menjadi milik kalian nantinya. Dan biar aku yang hidup dengan sisa cintaku ini," lanjut Kinzi membatin.
Kevin yang mendengar itu hanya tetap diam. Entahlah, hati dan pikirannya sedang bertengkar saat ini. Tapi tidak ada yang bisa dia katakan, mengikuti keadaan mungkin akan lebih baik untuk saat ini.
"Ma, Pa, Kinzi pamit, ya. Kinzi sayang kalian semua. Assalamu'alaikum," ucap Kinzi melangkah kakinya pergi.
"Waalaikumsalam."
"Papa antar ya, Nak," ucap Anggara.
Kinzi menggeleng. "Kinzi sudah pesan taksi di luar, Pa. Masih ada tamu yang harus Papa temani. Kinzi pergi, ya," ucap Kinzi dan langsung pergi keluar rumahnya.
Zahra menatap punggung Kinzi yang semakin hilang. Hatinya tak tenang melihat kepergian kakak iparnya itu. Ada belati yang tersembunyi dalam senyum Kakak. Semoga Kakak segera kembali dengan hati yang kembali utuh. Batin Zahra sendu.
......................
Kisah Kevin dan Kinzi berlanjut atau tidak, ya????? Menurut kalian bagaimana????
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏