
🌹HAPPY READING🌹
Pagi telah menyingsing. Zahra membuka matanya dengan perlahan. Pemandangan indah menyambut bola mata Zahra saat melihat wajah Kenzo yang tidur di sofa dengan damai dan tenang.
Tangan Zahra meraba pinggangnya dan mengusap lembut bagian bekas operasinya. "Sudah lumayan kering," gumam Zahra pelan.
"Bismillah," ucap Zahra ketika mencoba membalikkan badannya seperti orang normal lagi. Capek juga tengkurap terus. Batin Zahra sambil meregangkan sedikit kakinya.
Besok bangun tidur cek pesan di ponsel kamu ya, Sayang.
Perkataan Kenzo terngiang di telinga Zahra. Zahra mengambil ponsel yang ada di sebelah bantalnya. Tangan Zahra dengan lihai menekan sandi ponsel.
"Link," gumam Zahra ketika melihat pesan yang dikirim Kenzo berupa link.
Tanpa pikir panjang, Zahra langsung menekan link tersebut. Senyum terbit di bibir Zahra melihat apa yang dikirim oleh suaminya itu.
"Namaku Zahra," gumam Zahra sambil mengetuk namanya dilayar ponsel.
"Sayang lah," gumam Zahra sedikit ngotot entah pada siapa. Tapi bibir wanita itu tidak hentinya menyunggingkan senyum manisnya. Senyum Zahra sangat cerah seolah mengalahkan kecerahan matahari yang bersinar pagi ini.
"Aku juga sayang kamu," ucap Zahra tersenyum lebar sambil mendekap ponselnya ke depan dada. Sungguh, biarlah dia dikatakan udik atau norak oleh orang lain, tapi Zahra sangat senang mendapat pesan kecil seperti ini dari Kenzo. Tidak bisa dipungkiri, hal-hal seperti ini tidak ada duanya.
Zahra meletakkan kembali ponselnya dan menatap Kenzo yang masih nampak nyaman dalam tidurnya. Lelaki itu baru tidur setelah mereka sholat subuh tadi. "Semoga selalu seperti ini sampai Kakek dan Nenek, Mas," gumam Zahra senang.
Dengan pelan Zahra mencoba bangun dan turun dari ranjang.
"Biar saya bantu, Nona," ucap seorang perawat wanita yang tiba-tiba satang bersama troli makanan.
Zahra sedikit terkejut mendengar perawat itu yang tiba-tiba datang. Dia meletakkan jari telunjuk di mulut, meminta agar perawat itu diam supaya tidak membangunkan Kenzo.
"Maaf, biar saya bantu, Nona," ucap perawat itu lagi dengan suara seperti berbisik.
Zahra mengangguk. Perawat tersebut membantu membimbing Zahra untuk bangun dan berjalan menuju sofa bersama dengan tiang infus Zahra.
"Terimakasih, Mbak," ucap Zahra sopan setelah dia duduk di sofa dengan sedikit kesusahan karena masih ada ngilu di bekas operasinya.
"Letak makanannya di meja ini saja, Mbak," lanjut Zahra sopan pada perawat tersebut saat melihat troli makanan.
Perawat tersebut tersenyum dan mengangguk. Tangannya dengan perlahan mengangkat nampan makanan untuk Zahra dan meletakkan di meja dengan perlahan agar tak menimbulkan suara.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Nona," ucap perawat tersebut setelah selesai dengan tugasnya.
Zahra tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih banyak, Mbak," ucap Zahra sopan. Meskipun rumah sakit ini milik Ibra, tapi Zahra selalu bersikap sopan dan ramah kepada setiap pekerja disini. Karena begitulah yang diajarkan oleh Dee.
"Sama-sama, Nona," jawab perawat tersebut sopan dan berjalan keluar sambil mendorong troli makanannya dengan pelan.
Kenzo sedikit menggeliat dalam tidurnya. Lelaki itu nampak tidak terusik sama sekali dengan kedatangan perawat tadi.
Zahra tersenyum cantik menatap Kenzo. "Suami Zahra memang tampan. Tidak salah dulu Zahra menerima pinangannya, walaupun diawali dengan pengalaman buruk," gumam Zahra tersenyum.
Dulu, Zahra mungkin sedikit menyesali keputusannya untuk langsung menerima lamaran Kenzo mengingat segala kesakitan dan air mata di awal pernikahannya. Bahkan, sakit saat surat cerai datang setelah malam pertama mereka masih terngiang di kepala Zahra.
Tapi sungguh, saat ini Zahra bersyukur atas keputusannya yang menerima kembali Kenzo. Tidak hanya karena Sela, tapi Zahra menerima Kenzo karena cinta itu masih sama untuknya.
"Zahra sangat cinta lelaki ini," gumam Zahra dengan jantung berdetak kencang. Entahlah, setiap kali mengungkapkan cintanya, maka jantung Zahra akan berdetak kencang seperti lari maraton.
"Aku juga cinta sekali wanita ini," jawab Kenzo yang tiba-tiba sudah membuka matanya dan menampakkan senyum jahil diwajahnya.
"Mas!" pekik Zahra tertahan karena sedikit terkejut melihat Kenzo yang sudah membuka matanya.
"Cinta aku, Hem?" goda Kenzo mencolek dagu Zahra.
Zahra merona. Pipi wanita itu nampak menunjukkan sembraut merah. Kepalanya menunduk menyembunyikan pipi meronanya dari Kenzo.
Zahra berdecak dan mengangkat kepalanya. Wanita itu mencoba menetralkan kegugupan dan detak jantungnya.
"Kok kayak bunyi musik DJ, Sayang?" tanya Kenzo menatap sekeliling.
Dahi Zahra mengernyit heran. Musik DJ? yang benar saja, mereka saat ini berada di rumah sakit, bukan di diskotik.
"Telinga kamu bermasalah, Mas?" tanya Zahra polos.
Kenzo mendekatkan telinganya ke dada Zahra. "Ternyata dari sini musiknya," ucap Kenzo setelah mendengar dag dig dug dari jantung Zahra.
Plak.
Tangan Zahra dengan pelan memukul lengan Kenzo. Andai saja dia tidak sedang sakit, sudah Zahra amuk lelaki di depannya ini. Sungguh, Zahra sangat malu sekarang. Siapapun, bawa Zahra ke langit ke tujuh sekarang juga.
"Hahahaha," tawa Kenzo pecah ketika melihat ekspresi Zahra. Sungguh, kebahagiaan Kenzo pagi ini terasa lengkap ketika berhasil menjahili istrinya. Kebahagiaan itu sangat sederhana, bukan?
"Ekhem," Zahra berdeham untuk menetralkan malunya.
Tapi itu tetap tidak menghentikan tawa keluar dari mulut Kenzo. "Sudah Mas. Malu," rengek Zahra meminta Kenzo berhenti tertawa.
Kenzo langsung menutup rapat mulutnya dan duduk tenang. "Tawa dihentikan, Bu Bos," ucap Kenzo sambil duduk tegak.
"Oiya, kamu belajar dari anak SMA mana buat seperti itu, Mas?" tanya Zahra penasaran. Karena jujur saja, sejak dia lahir sampai sekarang, baru sekali dia mendapat kejutan berupa link seperti itu.
"Itu mudah, Sayang. Anak SMP juga bisa buatnya" jawab Kenzo.
"Aku nggak bisa," celetuk Zahra.
"Kamu aja yang nggak update," ucap Kenzo yang langsung membuat Zahra melototkan matanya.
"Bukannya aku nggak bisa, Mas. Kamu aja yang sedikit alay kayak sanak SMP," ucap Zahra tidak terima ketika. dirinya dibilang kurang update oleh Kenzo. Walaupun itu ada benarnya juga, tapi Yanga namanya perempuan tidak akan mau disalahkan.
"Tapi kamu senang kan, Sayang," ucap Kenzo mengalah.
Zahra mengangguk semangat. "Terimakasih banyak, ya Mas. Kamu membuat hariku diawali dengan kebahagiaan," ucap Zahra tulus.
"Karena senyum kamu, sumber kebahagiaan aku, Sayang," jawab Kenzo yakin.
"Suami Zahra sudah sangat bucin sekarang," ucap Zahra sedikit meledek.
"Tidak masalah di bilang bucin. Orang aku bucin sama istri sendiri kok, bukannya malu, aku malah dapat pahala, Sayang," ucap Kenzo membanggakan dirinya.
Zahra mengangguk menyetujui perkataan Kenzo. "Sekarang, temani aku sarapan ya, Mas. Kamu juga makan buah dan makanan kemarin yang kamu bawa," ucap Zahra.
"Tapi cuci wajah sama sikat gigi dulu, Sayang. Sebentar, aku ambil wadah dulu," ucap Kenzo berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air dan wadah yang akan digunakan Zahra untuk tempat menggosok giginya.
Perhatian seperti ini yang sangat aku inginkan dari dulu. Batin Zahra senang menatap Kenzo yang berjalan ke kamar mandi.
......................
WELCOME TO BUCIN TIME GUYS 🥳🥳
Gimana pesan Kenzo? Kalian pernah dapat kayak gitu juga nggak? Author sudah pernah doooongggg 🥳🥳😉
Buat yang belum lihat pesan Kenzo, kalian bisa lihat di postingan Instagram author yaa 😉
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏