Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 220



🌹HAPPY READING🌹


Kenzo berjongkok di depan dua gundukan tanah dengan ukuran mini yang saling berdampingan itu. Mulutnya tak lagi menangis, tapi kedua matanya masih memancarkan kesedihan yang tak ketara. Setelah selesai berdoa, Kenzo tidak langsung pulang dan memilih untuk duduk dulu bersama anak-anaknya yang sudah berbeda dunia.


"Ayo pulang, Ken," ajak Ibra.


Kenzo hanya mengangguk. Bantu Ayah untuk menenangkan Bunda nanti ya, Nak. Batin Kenzo sendu menatap kedua gundukan tanah itu.


Setelahnya, pandangan Kenzo beralih pada gundukan tanah lain yang nampak indah dengan rumput hijaunya. Ayah titip adik-adik kamu ya, Nak. Tolong tetap restui langkah Ayah dalam memberi kebahagiaan untuk Bunda dan Sela, adik kamu. Batin Kenzo.


Ya, makam si kembar memang terletak disebelah makam Akbar. Kenzo sengaja membayar disana karena dia anak-anaknya berkumpul di satu tempat agar mudah untuk mengunjunginya.


Kenzo bertumpu dengan tanah untuk segera berdiri. Dengan kaki yang masih bergetar, Kenzo berjalan meninggalkan makam tersebut bersama Anggara, Ibra dan Al.


Suatu nanti Ayah juga akan berkumpul bersama kalian disana. Tunggu Ayah, Nak. Batin Kenzo saat berbalik menatap tiga makam darah dagingnya yang lebih dulu mengunjungi surga.


.....


"Bunda kapan bangun, Nek?" tanya Sela pada Dee.


Kini hanya mereka berdua di dalam ruangan Zahra. Sedangkan yang lain ke kantin untuk mengisi perut mereka.


"Sela berdoa ya, Nak. Kan tadi ibu Dokter sudah bilang kalau Bunda pasti akan bangun sebentar lagi," jawab Dee lembut.


"Sebentarnya lama ya, Nek. Dari siang sampai sore," jawab anak itu tersenyum pedih.


Dee mengusap lembut kepala Sela. Anak itu sejak tadi tak beranjak sedikitpun dari samping Zahra saat perempuan itu sudah dipindahkan dari ruang operasi.


"Ayo duduk di sofa, Nak. Sela pasti capek berdiri terus," ajak Dee lembut.


Sela menggeleng. "Sela mau jadi yang pertama dilihat Bunda saat bangun nanti, Nek," jawab Sela menolak.


Dee menghela nafas pelan. "Kalau ada apa-apa, Nenek duduk di sofa ya," ucap Dee lembut.


Sela mengangguk. "Nek," panggil Sela sedikit keras.


"Iya Nak," jawab Dee yang sudah duduk di sofa.


"Telponin Mama Kina buat ajak Shasa kesini ya Nek. Sela butuh Shasa buat hibur Bunda," ucap anak itu mengingat sahabat sekaligus sepupunya itu.


Dee mengangguk dan tersenyum. Setelahnya dia menelpon Kina agar meminta Aska untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Sekalian menjemput Adam yang memang mereka tinggalkan bersama pengasuh kepercayaan Bella.


Sela terus memandangi wajah pucat Zahra. "Bunda memang cantik sekali. Pantas saja Ayah tergila-gila," gumam anak itu menyusuri setiap lekuk wajah Zahra yang tertidur dengan matanya.


Karena saking asiknya memandangi wajah Zahra, Sela tidak menyadari bahwa wanita yang dia kagumi itu sudah membuka matanya.


"Sela," panggil Zahra lirih dengan senyum di wajah wanita itu.


Senyum mengembang terbit di wajah Sela. "Bunda!" pekik anak itu senang.


Dee yang tadi bermain ponsel langsung menoleh begitu mendengar pekikan Sela. Dee langsung berdiri dan berjalan cepat mendekati ranjang.


"Umi," panggil Zahra lemah dengan senyum manisnya.


"Alhamdulillah kamu sadar, Nak," ucap Dee bersyukur.


Zahra mengangguk dan bergerak ingin duduk. Tapi kegiatannya terhenti kala merasakan sakit di perutnya. Zahra kembali tidur, tapi tangannya bergerak meraba perut yang sudah terasa tak buncit itu.


"Anak Zahra sudah lahir, Umi?" tanya Zahra dengan mata berbinar.


Sela dan Dee yang mendengar pertanyaan Zahra terdiam. Mereka takut jika harus membuka suara saat ini. Dee tahu, yang berhak untuk mengatakan semuanya hanya suami Zahra sendiri, Kenzo. Ini bukanlah kewajiban ataupun haknya untuk memberitahu Zahra.


"Anak Zahra lahir dengan selamatkan, Umi?" tanya Zahra lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Dee.


Melihat Dee yang hanya diam. Zahra beralih pada Sela. "Nak, adik-adik dimana?" tanya Zahra lembut.


Sela mengedipkan kedua matanya bingung. Anak itu tidak tahu harus menjawab bagaimana.


"A-adik-"


"Iya, adik kembar Sela dimana, Nak? Kok nggak ada di sini? Apa masih dalam inkubator?" tanya Zahra beruntun.


Sela menggeleng. Mata anak itu berkaca-kaca hendak menjawab pertanyaan Zahra.


"Bunda, Adik-"


"Assalamu'alaikum," ucapan Sela terhenti ketika beberapa langkah kaki memasuki ruangan.


"Mas, dimana anak-anak kita?" tanya Zahra tak sabar.


"Kamu sudah sadar, Sayang?" tanya Kenzo tanpa menjawab pertanyaan Zahra.


Zahra tersenyum dan mengangguk. Dia mencoba untuk duduk agar lebih leluasa. Dengan menahan sakit diperutnya dan dengan bantuan Kenzo Zahra bisa duduk bersandar di ranjang.


"Alhamdulilah kamu sadar, Sayang. Terimakasih," ucap Kenzo tulus dengan mata berkaca-kaca.


Zahra mengangguk dan tersenyum. "Anak-anak kita dimana, Mas?" tanya Zahra lagi.


"An-" Zahra yang hendak bertanya lagi reflek menghentikan ucapannya ketika baru menyadari Kenzo datang dengan baju Koko hitam dan celana hitam yang nampak kotor karena tanah.


Zahra juga mengalihkan pandangannya pada Al, Anggara dan Ibra. Baju mereka sama, dan juga nampak kotor, namun tidak sekotor baju Kenzo.


"Kenapa pakai baju ini, Mas?" tanya Zahra khawatir. Pikiran-pikiran buruk itu merambat dalam pikiran Zahra. Apalagi sejak tadi dia tidak mendapat jawaban mengenai keberadaan anaknya.


"Kenzo mau bicara berdua sama Zahra, Umi," ucap Kenzo pada Dee namun ditujukan untuk semuanya.


Mereka semua mengangguk. Dee mengajak Sela dan yang lainya keluar untuk memberi ruang pada Kenzo berbicara dengan Zahra.


Sebelum keluar, si kecil Sela menggenggam telapak tangan Bundanya. "Sela selalu sayang sama Bunda," ucap anak itu yang dibalas senyuman kecil oleh Zahra.


Melihat keluarganya yang sudah keluar, Kenzo kembali menatap istrinya. "Terimakasih sudah bangun, Sayang," ucap Kenzo sendu. Namun mata lelaki itu memancarkan rasa syukur yang tiada tara dia rasakan saat ini.


"Semua karena doa kamu dan anak kita, Mas. Sekarang anak-anak kita dimana?" tanya Zahra tak sabaran.


Kenzo hanya menunduk dalam didepan Zahra. Dia sungguh takut untuk menyampaikan semuanya saat ini.


"Mas," panggil Zahra lembut mengangkat dagu suaminya.


Mata Kenzo dan Zahra saling bertatapan. Setetes air mata jatuh membasahi pipi Kenzo saat menatap naik indah milik istrinya. "Maaf Sayang," ucap Kenzo. Hanya itu yang bisa dia ucapkan untuk saat ini. Dia bingung harus memulai darimana agar tak membuat Zahra sedih.


"Ke-kenapa Mas?" tanya Zahra khawatir.


Kenzo menggeleng. "Maaf Sayang. Tuhan lebih sayang anak-anak kita," jawab Kenzo tak berani menatap Zahra.


DEG


Jantung Zahra serasa ingin berhenti mendengar perkataan singkat Kenzo. Anak-anak? Berarti kedua anaknya tak bisa diselamatkan? Pikir Zahra bertanya-tanya.


"Apa dua-duanya anakku tak selamat, Mas?" tanya Zahra sendu.


Kenzo mengangguk. "Pendarahan yang kamu alami membuat anak kita tak bisa diselamatkan, Sayang," jawab Kenzo dengan memberanikan diri menatap Zahra yang sudah berkaca-kaca.


"Apa tadi Dokter meminta kamu untuk memilih aku atau anak kita?" tanya Zahra. Dia yakin, setidaknya diantara dia dan anaknya pasti ada yang bisa diselamatkan.


Kenzo mengangguk menjawab pertanyaan Zahra.


"Dan kamu mengorbankan anak-anak aku, Mas?" tanya Zahra sendu dengan suara bergetar.


"Bukan hal mudah dalam memilihnya, Sayang," jawab Kenzo pelan.


"Bukankah kamu sudah berjanji untuk memilih anak kit, Mas?" tanya Zahra lagi.


"Maaf karena aku nggak bisa kehilangan kamu, Sayang," jawab Kenzo menunduk.


"LALU BAGAIMANA AKU YANG KEHILANGAN ANAK-ANAK AKU, MAS?!" teriak Zahra tak terima mendengar jawaban Kenzo.


"Anak kita, Sayang," ucap Kenzo sendu menatap istrinya yang sudah menatap marah itu.


"Kamu egois. Kamu membunuh anak aku, Mas. Kamu menyia-nyiakan kehadiran mereka, Mas," ucap Zahra dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Sayang," panggil Kenzo lembut hendak menyentuh pipi Zahra. Namun, belum tangan Kenzo menyentuh pipinya, Zahra sudah lebih dulu memalingkan wajahnya.


"Tinggalkan saya sendiri!"


......................


Hai teman-teman, untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang sudah publish di aplikasi hijau dengan judul CINTA WANITA MUDA. Semoga kalian suka dan menikmati kisahnya.


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍