Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 78



Sesuai perkataan Kenzo, kini Kenzo bersama Tamara dan Arman pergi kesebuah butik muslimah. Tamara menatap malas setiap baju indah yang ada disana. Sungguh, jika Kenzo bukan temannya, maka dia tidak akan mau memakai baju ini.


"Kenzo," panggil Tamara pelan.


"Hem," jawab Kenzo yang asik memilihkan baju untuk Tamara.


"Haruskah aku memakai baju ini? Ini terlalu baik untukku," ucap Tamara memelas kepada Kenzo. Yang benar saja, manusia penuh dosa sepertinya harus mengunakan pakaian terhormat seorang perempuan. Tamara memang bukan manusia baik, tapi dia tidak ingin merendahkan pakaian terhormat ini dengan cara menggunakannya.


"Kau sudah setuju untuk melakukan apapun. Jika Zahra melihatmu dengan pakaian kurang bahan seperti ini, maka aku bisa ditertawakan. Bukannya cemburu, Zahra malah senang melihat aku mendapat wanita jalang nanti," ucap Kenzo santai. Padahal yang dia sampaikan sangat membuat Tamara kesal.


"Begini-begini, aku bukan jalang, ya. Aku masih sholat sebagai laki-laki jika lebaran," jawab Tamara.


Kenzo mengangguk setuju. "Jangan pernah sampai melawan kodrat mu, Thom," ucap Kenzo serius.


Thomas mengangguk dengan mengacungkan jempolnya menatap Kenzo. "Aku masih menyayangi Ibu dan Ayahku, Kenzo," ucap Tamara serius dengan segala keyakinannya.


Beginilah Tamara, menjadi perempuan memang keinginannya, tapi dia tidak akan melawan kodratnya sebagai seorang laki-laki. Dia masih menyayangi kedua orang tuanya.


"Kau coba ini," ucap Kenzo memberikan setumpuk baju yang sudah dia pilih untuk Tamara.


Tamara menerima dengan malas. "Tidak bisakah di nego, Kenzo? Baju panjang saja tidak apa-apa, asal jangan pakai kerudung, ya," ucap Tamara mencoba meminta keringanan pada Kenzo.


"Tidak dan tidak. Ingat! Ini demi brand kecantikanmu," ucap Kenzo.


Tamara menghela nafas pasrah. Jika bukan karena Kenzo menawarkan kerjasama antara brand kecantikannya dan perusahaan Kenzo, maka dia akan menolak permintaan sahabatnya itu.


Lima belas menit, Tamara keluar dari ruang ganti. Dia memberikan pakaian yang tadi dia coba kepada Kenzo. "Bagaimana?" tanya Kenzo.


"Hem," jawab Tamara dengan gaya jutek yang sangat menjengkelkan untuk Kenzo.


Kenzo memberikan pakaian tersebut kepada Arman dan meminta Arman untuk mengurus pembayarannya. Tanpa menunggu waktu lama, Arman selesai melakukan pembayaran, setelah itu mereka pergi meninggalkan butik dan menuju rumah Kenzo.


.....


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kenzo dan Tamara sedang dalam perjalanan menuju rumah Zahra.


"Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?" tanya Kenzo pada Tamara yang sedang mematut hijab yang dia gunakan di cermin yang sudah disediakannya.


"Aku sangat mengerti tugasku, Mas," jawab Tamara sangat lembut.


Bukannya takut, Kenzo malah tertawa. Dia akui, Tamara benar-benar cantik sebagai seroang perempuan. Kenzo yakin, Zahra pasti akan iri karena ini.


"Kau akan tampan jika jadi laki-laki tulen, Thom," ucap Kenzo santai.


Tamara mendelik tajam menatap Kenzo. "Kelainanku ini berpengaruh besar untuk nasib percintaanmu," jawab Tamara ketus.


Kenzo mengangguk setuju. "Terimakasih, Tamara," ucap Kenzo tulus.


Tamara menatap Kenzo tak percaya. Tiga tahu mengenal Kenzo, baru kali ini dia mendengar lelaki itu mengucapkan terimakasih. "Wah, wanita itu benar-benar merubahmu, Kenzo. Aku jadi penasaran secantik apa Zahra itu," ucap Tamara.


"Kau akan iri jika melihatnya," jawab Kenzo.


"Kita buktikan nanti," jawab Tamara yakin. Memang benar, kecantikan Kenzo banyak membuat wanita yang sebenarnya merasa iri akan kecantikannya.


.....


Mobil Kenzo sampai di persimpangan kecil memasuki rumah Zahra. Kenzo dan Tamara keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah Zahra. Kenzo menghentikan langkahnya ketika merasakan Tamara melingkarkan tangannya di lengan Kenzo. "Wanita baik-baik tidak seperti ini. Hilangkan jiwa bar-bar mu," ucap Kenzo melepaskan tangan Tamara.


"Kapan lagi aku bisa menggandeng lengan lelaki tampan ini," jawab Tamar centil.


"Dan ingat, ini bagian dari rencana. Kau serahkan padaku, akan aku buat Zahra mu itu mengakui cintanya. Jadi diamlah," ucap Tamara menginstruksi Kenzo.


Kenzo hanya pasrah. Dia membiarkan Tamara menggandeng tangannya sambil berjalan hingga mereka sampai di rumah Zahra.


"Lepaskan dulu tanganmu," ucap Kenzo.


"Hehe, maaf calon suamiku," jawab Tamara dengan suara selembut sutra.


"Assalamu'alaikum," ucap Kenzo mengetuk pintu. Hingga ketukan ketiga, pintu terbuka dari dalam.


"Alaikumcalam," jawab suara mungil yang sedang membuka pintu tersebut.


Cantik. Itulah kata yang terlintas dipikiran Sela saat melihat wanita yang ada di samping Ayahnya.


"Tante ini ciapa, Ayah?" tanya Sela menatap Kenzo untuk meminta penjelasan.


Belum sempat Kenzo menjawab, Zahra datang menyusul Sela. "Siapa, Nak?" tanya Zahra.


"Ayah, Buna," jawab Sela.


Sama seperti Sela, Zahra mengalihkan pandangannya pada seorang perempuan cantik yang berdiri dengan menggandeng tangan Kenzo. Zahra terdiam, entah mengapa jantungnya berdetak cepat melihat bagaimana wanita itu terlihat sangat dekat dengan Kenzo.


"Tante ini ciapa, Ayah?" tanya Sela lagi.


Tamara dan Kenzo tersenyum. Dia melepaskan tangannya pada Kenzo dan bersimpuh untuk menyamakan tinggi badannya dengan Sela. "Nama Tante, Tamara, Sayang," ucap Tamara lembut memperkenalkan diri.


"Tante cantik," ucap Sela spontan. Entah mengapa, mendengar Sela memuji wanita itu, Zahra merasa tidak suka.


Tamara tersenyum mendengar perkataan Sela. Dia menengadah menatap Kenzo seolah mengatakan bahwa anak kecil saja mengakui kecantikannya. Kenzo yang melihat itu hanya tersenyum dan mengangguk. Saat ini kemampuan aktingnya sedang digunakan dengan sangat baik.


"Tante teman Ayah, ya?" tanya Sela sopan.


Tamara mengangguk dan tersenyum. "Iya, Sayang. Tante teman dekatnya, Ayah," jawab Tamara yang membuat Sela mengangguk mengerti.


Sedangkan Zahra yang mendengar itu menatap Kenzo dengan tatapan yang sulit diartikan. Teman dekat? Apa mereka memiliki hubungan? Batin Zahra bertanya-tanya.


"Sela," panggil Kenzo lembut.


"Iya Ayah," jawab Kenzo.


"Ayah bicara sebentar sama Bunda, ya. Sela bisa main dulu sama Tante Tamara," ucap Kenzo.


"No, no. Sela jangan panggil Tante, ya. Panggil Mama," ucap Tamara yang mampu membuat jantung Zahra semakin berdetak kencang. Jantungnya seakan sedang mengikuti lari kencang saat ini juga.


"Ayo masuk Mama," ucap Sela menggandeng tangan Tamara untuk masuk ke dalam rumah.


"Bisa kita bicara, Zahra?" ucap Kenzo setelah Tamara dan Sela pergi.


"Disini saja," jawab Zahra.


Kenzo menggeleng. "Bukan, mari bicara diluar," ucap Kenzo.


Zahra mengangguk. Dia berjalan terlebih dahulu dan duduk di kursi kayu yang ada di teras rumahnya. Kursi ini sudah lebih baik, karena perabotan rumah Zahra sudah diganti oleh Ibra dengan perabotan yang lebih berkualitas.


"Ada apa?" tanya Zahra setelah mereka berdua duduk.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Kenzo.


"Lebih baik," jawab Zahra.


"Apa hatimu sudah bisa menerimaku, Zahra?" tanya Kenzo menatap Zahra lekat.


Zahra menggeleng menjawab pertanyaan Kenzo. Kenzo yang melihat itu tersenyum kecut. "Walaupun sedikit?" tanya Kenzo lagi.


Zahra mengangguk. "Sedikitpun tidak," jawab Zahra menatap lurus ke depan. Entahlah, rasanya Zahra tidak sanggup untuk sekedar menatap Kenzo.


"Jika saja sedikit hatimu sudah berhasil aku dapatkan, aku akan menggagalkan semuanya, Zahra," ucap Kenzo sendu.


Zahra beralih menoleh kepada Kenzo. Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Kenzo menatap dalam mata Zahra yang dulunya sangat penuh akan cinta, kini terlihat hampa untuknya. "Aku memilih menyerah, Zahra."


DEG


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘