
🌹HAPPY READING🌹
Saat asyik bicara dengan kedua cucunya, alunan suara yang terdengar lemah mengalihkan pandangan mereka semua.
"Umi," alunan suara lembut nan lirih itu terdengar memenuhi ruang inap Ibra.
Dee, Sela dan Shasa menoleh ke pintu dan melihat Kenzo datang bersama wanita yang duduk di kursi roda lengkap dengan hijab langsungnya.
"Zahra."
"Buna."
"Bunda."
Ucap mereka bertiga dengan mata berbinar melihat Zahra yang juga tersenyum bersama Kenzo.
"Dorong kursinya, Mas," ucap Zahra lirih pada Kenzo. Kenzo mengangguk dan mendorong pelan kursi roda Zahra mendekat ke arah ranjang Ibra.
"Kenapa kesini, Nak? Kamu baru sadar dan tidak baik jika kamu banyak bergerak," ucap Dee memperingati.
"Tidak apa, Umi. Zahra sudah merasa lebih baik," jawab Zahra.
"Buna cudah bangun?" tanya Sela dengan mata berbinarnya. Anak itu berlari mendekati Zahra dan hendak memeluknya. Namun semua itu terhenti ketika tangan badan Kenzo bersiap menghalangi tubuh Sela yang akan menabrak Zahra dengan pelukan.
"Ayah!" pekik Sela kesal dengan Kenzo. Anak itu memasang wajah cemberut nya menatap Kenzo kesal.
"Jangan peluk Bunda dulu, Sayang. Jahitan bekas operasi Bunda masih belum kering. Kasihan kalau tubuh gemuk kamu memeluk Bunda, maka Bunda akan kesakitan," ucap Kenzo menjelaskan.
"Cela tidak gemuk!" jawab Sela kesal melipat kedua tangan di dada dengan mata menatap permusuhan pada Kenzo.
Zahra yang paham akan kerinduan anaknya tersenyum. "Mas, tidak apa-apa. Minggirlah," ucap Zahra lemah.
"Tapi Sayang-"
"Tidak apa-apa, Mas. Sela tidak mungkin menyakitiku," ucap Zahra memotong protes dari Kenzo.
Kenzo menghela nafas pasrah dan menggeser tubuhnya agar Sela mudah memeluk Zahra. Dee hanya tersenyum melihat itu, keluarga anaknya yang dulu penuh dengan kesakitan kini sudah menunjukkan kebahagiaan. Ternyata benar, pelangi akan terbit setelah hujan badai yang menerpanya.
"Peluk Bunda pelan-pelan ya, Nak," ucap Zahra merentangkan tangan menahan sakit di bekas operasinya.
Sela mengangguk senang. Anak itu berjalan pelan dan memeluk Zahra yang duduk di kursi roda. Meskipun hanya sebentar, tapi Sela sudah sangat senang akan hal itu. "Kenapa Buna tidak cadal caat Cela ada dicana?" tanya Sela setelah melepas pelukan mereka.
"Bunda sadar karena Ayah," celetuk Kenzo.
Sela hanya melirik Kenzo cuek dengan ujung matanya. Setelah itu, dia kembali menatap Zahra tanpa menghiraukan Kenzo.
"Bunda bangun karena kangen sama anak Bunda ini," ucap Zahra tersenyum.
Sela tersenyum lebar dan menjulurkan lidahnya menatap Kenzo. Anak itu benar-benar kesal dengan Ayahnya yang mengatakan dia gemuk tadi. Padahal badannya sangat ideal sekali kata Mama Tamara.
"Mas," panggil Zahra lemah memberi kode pada Kenzo.
Kenzo mengangguk dan tersenyum. "Sela, ikut Ayah, ya. Shasa juga, ikut Papi keluar, yuk. Kita beli es krim di kantin," ucap Kenzo membujuk Sela dan Shasa.
Dengan patuh Sela dan Shasa mengangguk. Memang tidak sulit untuk membujuk kedua gadis kecil ini. Bermodalkan es krim saja sudah bisa.
kini, tinggal Zahra, Dee dan Ibra yang masih belum sadarkan diri di ruangan itu.
"Umi," ucap Zahra lirih menatap Dee.
"Terimakasih, Umi," ucap Zahra tulus.
Dee menggeleng. "Boleh Umi peluk, Nak? Umi Rindu," ucap Dee tanpa menjawab perkataan Zahra.
Zahra mengangguk. "Pelan ya, Umi," ucap Zahra lembut.
"Terimakasih sudah bertahan, Nak," ucap Dee memeluk Zahra.
"Terimakasih juga buat semuanya, Umi," jawab Zahra dalam pelukan Dee.
Dee mengangguk. Setelah puas, Dee melepaskan pelukannya pada Zahra. Zahra beralih menatap Ranjang dan melihat Ibra masih belum sadarkan diri.
"Umi," panggil Zahra lembut.
"Iya Nak," jawab Dee mendorong pelan kursi roda Zahra agar lebih dekat dengan ranjang Ibra.
"Kenapa Abi belum sadar juga, ya?" tanya Zahra lembut.
Dee tersenyum. "Sebentar lagi, Nak. Abi hanya butuh istirahat," ucap Dee jujur, karena memang itu yang disampaikan Dokter kepadanya.
"Bilang sama Abi agar nggak terlalu lama tidurnya, Umi," ucap Zahra sedikit merengek pada Dee.
"Bilang sendiri, Nak," ucap Dee menunjuk Ibra dengan dagunya.
Zahra beralih menatap Ibra. Jari-jari lentiknya tergerak menyentuh tangan Ibra yang tidak terkena infus. "Cepat bangun ya, Abi. Walaupun sudah tidak memeluk Abi, tapi Zahra ingin tersenyum kepada Abi," ucap Zahra lembut.
"Nak," ucap Dee protes mendengar perkataan Zahra.
Zahra hanya tersenyum menjawab protes yang disampaikan Dee. Itu adanya, ikatan darah yang tidak ada diantara mereka membuat jarak, tapi tidak menghilangkan hubungan diantara mereka. Anak dan Ayah itu akan tetap menjadi hubungan abadi antara Ibra dan Zahra.
"Umi, terimakasih, ya," lagi dan lagi Zahra mengucapkan terimakasih kepada Dee.
"Terimakasih karena telah mengizinkan Abi menjadi penyelamat dan pahlawan dalam hidup Zahra, Umi," ucap Zahra tulus.
"Kami salah, Nak. Dan Umi minta maaf," ucap Dee menunduk.
"Rasanya Zahra berdosa membiarkan Ibu Zahra sendiri menunduk di depan Zahra, Umi," ucap Zahra tidak enak melihat Dee yang menunduk di depannya.
Dee mengangkat kepalanya. Wanita paruh baya yang nampak sangat cantik itu memandang lekat wajah anaknya. "Maaf jika Umi sempat melarang Abi untuk mendonorkan ginjalnya, Nak. Maaf," ucap Dee dengan suara lirih.
Zahra tersenyum. Meskipun masih terasa ngilu di bagian perutnya, Zahra menahan dengan sekuat tenaga. Tangannya tergerak menggenggam lembut tangan Dee. "Itu adalah hal yang wajar, Umi. Umi telah melakukan tugas sebagai istri, dan ibu yang baik," ucap Zahra.
"Itu adalah naluri seorang istri yang takut kehilangan suaminya, Umi. Umi tidak salah, tidak pantas rasanya kata maaf keluar dari mulut Umi. Harusnya Zahra yang minta maaf, Umi. Lagi dan lagi, Zahra membuat Umi harus mengeluarkan air mata dan berkorban untuk hidup Zahra," lanjut Zahra.
"Umi harus mengorbankan salah satu organ tubuh Abi untuk Zahra yang bukan darah daging Umi dan Abi," lanjut Zahra sendu. Dengan sekuat tenaga dia menahan tangisnya. Jika menangis, maka itu akan berpengaruh untuk bekas operasinya.b
"Satu hal yang pasti, Nak. Kewajiban orang tua untuk menyelamatkan anaknya. Maaf Abi juga karena pernah meragukan Zahra," ucap Dee mewakili Ibra.
Zahra menggeleng. "Setelah semua terjadi, tidak pantas rasanya Umi mengucap maaf. Zahra yang harus berterima kasih. Satu hal yang Zahra syukuri, Zahra memiliki Umi dan Abi dalam hidup Zahra," ucap Zahra tulus.
"Kami tetap anak Umi dan Abi. Anak kedua dari keluarga Hebi. Adik dari Albarra, dan Kakak dari Kina. Dan yang pasti, kamu juga memiliki Ayah yang sangat menyayangi kamu, Nak," ucap Dee mengingat Kevin.
Zahra mengangguk. "Zahra bersyukur dengan semua ini, Umi. Takdir sangat baik," jawab Zahra.
Dee tersenyum sendu menatap Zahra yang nampak sangat berbahagia. Takdir sangat baik, rasanya Dee ingin mengutuk takdir yang sudah mempermainkan kehidupan keluarganya. Tapi lagi-lagi, Pencipta selalu mengirimkan seseorang untuk dia terus iklhas dan bersyukur.
"Sayang," suara lirih dan sebuah genggaman tangan membuyarkan lamunan Dee serta Zahra.
"Mas."
"Abi."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘