
🌹HAPPY READING🌹
Zahra duduk di kamarnya dengan sebuah buku kisah nabi ditangannya. Matanya dengan jeli mengikuti setiap rangkaian tulisan dengan kata yang terucap dalam hatinya.
Saat sedang asik di sela-sela kegiatannya, pintu kamar Zahra terbuka.
"Adek," ucap Zahra dengan senyum manisnya. Kina memasuki kamar Zahra dengan nampan berisi sarapan ditangannya.
"Saatnya sarapan, Kak," seru Kina dengan nada cerianya.
"Adek nggak bantuin Kak Aska siap-siap ke kantor?" tanya Zahra. Karena ini masih pukul setengah tujuh pagi, dia yakin Aska pasti belum berangkat ke kantor.
"Kak Aska udah besar, dia bisa urus diri sendiri," jawab Kina sekenanya.
"Jangan ngomong gitu ih, Aska suami Adek," ucap Zahra memperingati adiknya yang bersikap layaknya anak kecil, padahal sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu.
Kina menyengir lucu mendengar penuturan Zahra. "Kak Aska udah berangkat tadi, Kak. Katanya ada meeting penting gantiin Abang," jawab Kina jujur.
"Abang nggak ke kantor, Dek?" tanya Zahra.
Kina mengangkat bahu acuh. "Kakak tahu sendiri kan, Abang itu nggak jauh beda sama Abi," ucap Kina.
Zahra terkekeh kecil mendengar perkataan Kina. Benar apa yang dikatakan adiknya itu, bahwa Al tidak beda jauh dengan Ibra yang tidak ingin jauh dengan sang istri.
"Sekarang kita sarapan, ya Kak," ucap Kina yang dibalas anggukan oleh Zahra.
"Umi dimana, Dek?" tanya Zahra saat nasi goreng suapan pertama itu habis dikunyahnya.
"Dibawah sama Abi, Kak," jawab Kina.
Zahra mengangguk mengerti jawaban yang diberikan oleh Kina. Mungkin Ibra dan Dee memang sedang sarapan berdua.
Lima belas menit, sarapan Zahra habis tanpa sisa. Kina yang melihat itu ikut tersenyum. Setidaknya, Zahra tidak kehilangan nafsu makannya.
"Dek, kita kebawah, yuk!" ucap Zahra mengajak Kina.
"Tapi Kakak masih belum pulih," jawab Kina khawatir.
Zahra tersenyum. "Kakak udah baikan, Dek. Bantu Kakak naik kursi roda, ya," pinta Zahra dengan senyum lembutnya.
Kina mengangguk pasrah dan membantu Zahra untuk pindah dari kasur ke kursi roda. Kina mendorong kursi roda Zahra dan mereka menyusul Dee bersama Ibra di meja makan.
"Pagi Umi, Abi," ucap Zahra dengan senyum manisnya.
"Loh, Zahra kenapa keluar, Nak?" tanya Dee khawatir.
"Zahra bosen di kamar, Umi," jawab Zahra.
"Sarapan Zahra habis kan?" tanya Ibra.
Zahra mengangguk dengan senyum manisnya. Sedangkan Kina sudah duduk di kursi sebelah Dee dengan berbagai macam buah yang sudah di potong kecil-kecil bentuk dadu. Dia memakan dengan sangat lahap. Hal itu tidak lepas dari pandangan Zahra. Tangan Zahra terulur untuk mengusap lembut perutnya yang sangat rata tersebut.
Mungkin nggak ya, suatu hari nanti Ara akan seperti Adek? Semoga Ara bisa merasakan hamil layaknya wanita pada umumnya. Batin Zahra berharap atas kehadiran janin dalam rahimnya.
"Umi, Abi, Ara mau minta izin," ucap Zahra pelan.
Ibra, Dee dan Kina serentak melihat kepada Zahra. "Izin apa, Nak?" tanya Ibra.
Zahra memandang mereka semua secara bergantian. "Ara mau izin ke rumah Kak Kenzo," ucap Zahra pelan.
"Abi tidak izinkan!" jawab Ibra tegas.
"Abi, Zahra tidak akan lama. Ada sesuatu yang harus Zahra ambil. Lagian pakaian Zahra masih ada disana, Abi," ucap Zahra memberikan alasan yang masuk akal kepada Kenzo.
"Tidak ada alasan, Zahra!" jawab Ibra kekeuh dengan karangannya.
"Ini untuk terakhir kali, Abi. Izinkan Zahra bertemu dengan laki-laki yang pernah mengucapkan ijab kabul atas na Zahra," ucap Zahra sendu.
Dee memegang tangan Ibra dan mengangguk menatap Ibra yang juga tengah menatapnya. Mengisyaratkan agar Ibra memberi izin kepada Zahra untuk ke rumah Kenzo.
Ibra menghela nafas pelan menetralkan emosinya yang sedikit terpacu mendengar nama Kenzo. "Apa perlu Abi temani?" tanya Ibra lembut.
"Atau Adek yang akan temani Kakak," celetuk Kina menawarkan dirinya untuk menemani Zahra.
Zahra tersenyum dan menggeleng. "Zahra diantar sopir saja, Abi," jawab Zahra.
"Kamu yakin, Nak? Tidak mau Umi temani?" ucap Dee lembut.
.....
Seperti Perkataan Zahra, kini dia sudah berada di depan rumah yang menjadi saksi bagaimana Kenzo memperlakukannya layaknya seekor binatang. Zahra tersenyum sendu mengingat semua itu. Benar-benar tidak ada kemanisan apapun di dalam rumah ini.
"Pak, bisa bantu Ara naik?" pinta Zahra pada sopirnya.
Sopir mengangguk dan membantu Zahra untuk menaiki tangga teras bersama kursi rodanya.
Setelah selesai, Zahra masuk rumah sendiri dengan menekan tombol pada pegangan kursi rodanya.
Hening. Itulah yang dirasakan Zahra. Benar-benar seperti tidak ada kehidupan di rumah ini. Saat Zahra mengedarkan pandangannya melihat sekeliling bagian dalam rumah, pandangannya bertemu dengan seseorang lelaki yang berdiri dengan kedua tangan masuk kedalam saku celananya.
"Kak Ken," gumam Zahra pelan saat melihat Kenzo yang memandangnya dari lantai dua.
Kenzo yang tadi baru keluar kamar dan hendak turun, tiba-tina langkahnya terhenti karena melihat keberadaan Zahra yang tidak pernah dia duga.
Kenzo melangkahkan kakinya menuruni anak tangga satu persatu.
"Ada perlu apa kau kesini?" tanya Kenzo dingin.
Zahra menampilkan senyum manisnya yang membuat Kenzo seketika mengalihkan pandangannya.
"Apa kabar Kak Ken?" ucap Zahra tanpa menjawab pertanyaan Kenzo.
"Katakan tujuanmu datang kesini?" tanya Kenzo lagi.
"Jika Zahra menjawab untuk menemui suami Zahra, apa Kak Ken percaya?" ucap Zahra yang mampu membuat Kenzo memandang dingin kepadanya.
"Sebentar lagi akan menjadi mantan suamimu!" jawab Kenzo ketus.
Zahra tersenyum. "Apa dendam Kak Ken sekarang sudah terpenuhi?" tanya Zahra.
"Kau belum mati!" jawab Kenzo.
Zahra tersenyum sumbang. "Raga Zahra memang masih utuh, tapi bagian dalam Zahra sangat hancur berkeping-keping. Bahkan banyak serpihan kaca yang menambah rasa sakitnya," jawab Zahra berusaha tenang.
"Aku tidak peduli keadaanmu!" ucap Kenzo.
Zahra mengangguk mengiyakan perkataan Kenzo. "Apa Kak Ken percaya bahwa Allah maha membolak-balikkan hati manusia?" tanya Zahra. Kenzo hanya diam tanpa berniat menjawab pertanyaan Zahra.
"Jika nanti ada sedikit penyesalan di dalam hati Kak Ken, tolong jangan bersedih terlalu larut, ya. Jangan jadikan Zahra sebagai alasan kesedihan Kak Ken," lanjut Zahra.
Kenzo mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Zahra yang sangat tulus untuknya. "Selesaikan keperluan mu dan pergi dari sini," ucap Kenzo.
"Zahra kesini ingin mengambil barang yang ketinggalan. Apa surat itu masih ada?" tanya Zahra mengingat surat perceraiannya.
Kenzo pergi meninggalkan Zahra tanpa bicara dan pergi ke kamar kecil Zahra. Sepuluh menit, Kenzo keluar dengan koper dan sebuah map coklat ditangannya.
"Bawa koper mu dan tanda tangani ini," ucap Kenzo melempar map coklat tersebut ke depan Zahra.
Zahra dengan sigap menerimanya. Jika tidak, maka dia akan jatuh dari kursi roda.
"Apa tidak ada rasa di hati Kak Ken sedikitpun setelah apa yang kita lewati?" ucap Zahra.
"Bahkan saat itu aku jijik melakukannya," jawab Ke zo.
Zahra tersenyum lembut. "Tapi wajah Kak Ken menunjukan kenikmatan saat itu," jawab Zahra berani yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kenzo.
Zahra mendorong kursi rodanya mendekati meja dan meletakkan map coklat yang berisi surat perceraian itu di sana.
"Jika Kak Ken ingin Zahra menandatangani surat ini, maka minta baik-baik dan datang ke rumah Abi Ibra. Zahra ingin, ketika menandatangani surat ini, semua orang yang dulu hadir saat Kak Ken meminang Zahra, harus ikut menyaksikan jari Zahra menorehkan bentuk abstrak yang Kak Ken inginkan," ucap Zahra.
"Kau mempermainkan aku?" tanya Kenzo sinis.
Zahra menggeleng dengan senyumnya. "Bukan mempermainkan Kak Ken. Tapi begitulah cara seorang lelaki sejati mengembalikan seorang wanita kepada keluarganya," jawab Zahra.
"Berhenti memakai topeng lelaki brengsek, Kak Ken. Zahra menunggu kedatangan Kak Ken untuk perpisahan kita."
......................
Hai teman-teman, maaf ya aku baru bisa update. Dan terimakasih atas segala doa kalian untuk kesehatan aku. Mulai hari ini aku akan rajin update seperti biasanya untuk kalian semua kesayangan aku. Dan jangan bosan dengan karyaku, ya 🥰🥰🌹🤗
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz