
🌹HAPPY READING🌹
Kau brengsek, Kenzo. Umpat Kenzo pada dirinya sendiri. Harusnya, tadi saat menerima telepon dari Zahra, dia langsung mengangkat dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya. Bukannya terus meninggikan ego.
Lima menit setelahnya, mobil Kenzo sampai di ruang sakit. Kenzo langsung keluar mobil dan menggendong Sela berlari memasuki rumah sakit.
"Ibu," panggil Kenzo begitu melihat Bu Sari yang duduk di kursi tunggu depan UGD.
"Nak Kenzo," ucap Bu Sari ikut berdiri.
"Bu, Zahra bagaimana?" tanya Kenzo khawatir.
"Za-Zahra," ucap Bu Sari gugup menatap mata Kenzo yang memancarkan kekhawatiran mendalam.
"Katakan, Bu," ucap Kenzo mendesak.
"Sela biar sama ibu, ya. Lebih baik kamu masuk ke dalam, Ken," ucap Bu Sari mencoba meraih Zahra dari gendongan Kenzo.
"Bu, Zahra benar baik-baik saja kan?" tanya Kenzo lagi sambil memindahkan Sela ke gendongan Bu Sari.
"Masuklah, Nak. Zahra membutuhkanmu," ucap Bu Sari lembut.
Kenzo menghela nafas pelan dan menguatkan hatinya. Telapak tangannya basah karena keringat dingin. Rasanya dia tidak kuat untuk mendengar kabar apa yang akan dia dengar. Beruntung jika kabar baik, namun jika kabar buruk, Kenzo tidak akan berhenti menyumpahi dirinya sendiri yang lebih mementingkan ego daripada istrinya.
Kau tidak akan termaafkan jika terjadi apa-apa pada istri dan anakmu, Kenzo. Batin Kenzo mengutuk dirinya sendiri. Sungguh, dia takut akan mengulangi kesalahan bodoh yang merugikan semuanya.
Dengan pelan, Kenzo memegang pintu UGD. Tangannya nampak gemetar menahan takut dan sesak, kesal bercampur marah menyatu yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
Ceklek.
"Suster," panggil Kenzo pada seorang suster yang ada diruangan tersebut.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster yang sedang membersihkan meja yang berisi peralatan medis itu.
"Istri saya kemana?" tanya Kenzo langsung. Karena saat dia masuk, hanya kekosongan menyambutnya. Tidak ada pasien yang sedang ditangani di ruangan ini. Hanya ada beberapa bilik-bilik yang nampak berisi pasien yang sedang diperiksa. Dan setelah dia lihat, tidak ada wanita yang dia cintai terbaring disana. Perasaan dan prasangka buruk benar-benar menjalar dihatinya.
"Istri Bapak?" tanya Suster itu bingung.
Kenzo berdecak kesal. Mana mungkin suster ini tahu siapa istrinya. "Wanita yang tadi masuk, yang berdarah di kakinya. Berhijab dan cantik," ucap Kenzo memberitahu Suster tersebut.
Suster tersebut nampak berpikir sebentar. Setelahnya dia tersenyum menatap Kenzo. "Apakah Ibu Zahra yang bapak maksud?" tanyanya pelan.
Kenzo mengangguk dalam menjawab perkataan suster tersebut. "Dimana istriku?" tanya Kenzo lagi.
"Ibu Zahra sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Pak," jawab suster tersebut memberitahu.
"Sudah dipindahkan?" tanyanya Kenzo heran. Pasalnya, jika Zahra dipindahkan, pasti akan melewati pintu depan UGD. Dan Bu Sari pasti tidak akan ada di depan jika Zahra sudah dipindahkan.
Tidak ingin berpikir macam-macam, Kenzo segera menampik segala tanda tanya yang ada di benaknya untuk mempersingkat waktu.
"Ruangan mana?" tanya Kenzo cepat.
"Ruang mawar 1, Pak," ucap Suster tersebut.
Setelah mendapat informasinya, Kenzo segera berlari keluar dari UGD. Saat didepan UGD, Kenzo bertemu dengan Bu Sari yang masih duduk diruang tunggu bersama Sela yang sudah bangun dari tidurnya dan duduk disebelah Bu Sari.
"Ayo, Bu. Zahra sudah dipindahkan ke ruang perawatan," ucap Kenzo dan berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Bu Sari dan Sela mengikuti di belakang.
Langkah kaki Kenzo berhenti tepat di depan pintu dengan tulisan Mawar-1 dengan bunga mawar segar yang ada di kantong kecil unik yang bergantung disebelah angka satu. Tanpa pikir panjang, Kenzo langsung membuka pintu tersebut.
Ceklek.
Hening.
Suasana yang Kenzo rasakan ketika memasuki ruangan tersebut. Dahinya berkerut melihat banyaknya kelopak mawar dilantai dengan bentuk hati disertai lilin dan lampu kecil.
"Selamat ulang tahun, suami Zahra."
Kenzo berbalik ketika mendengar suara lembut di belakangnya. Di sana sudah berdiri Sela, Bu Sari dan seorang wanita yang sejak tadi menjadi objek kecemasan Kenzo.
Kenzo memperhatikan Zahra dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Nampak wanita baik-baik saja dan tidak ada tanda-tanda kesakitan ditubuhnya. Setelahnya Kenzo memperhatikan Sela dan Bu Sari yang ikut tersenyum disebelah Zahra. Dengan sebuah kue ulang tahun kecil yang dipegang oleh Sela. Gadis kecil itu nampak sangat senang karena berhasil memberikan kejutan untuk ulang tahun sang Ayah.
Kenzo dapat membaca tulisan 'HAPPY BIRTHDAY OUR BOY' di kue tersebut.
Kenzo beralih menatap Zahra lama dengan tatapan datarnya. Jadi dia dibohongi lagi?
Melihat senyum dibibir anaknya, tidak mungkin untuk Kenzo melunturkan senyum tersebut.
Kenzo berjalan mendekat dan bersimpuh untuk menyamakan tinggi badannya dengan Sela. "Jadi gadis kecil Ayah ini bolos sekolah?" tanya Kenzo mengusap lembut pipi Sela.
Sela tertawa kecil dan mengangguk. "Celamat ulang tahun, Ayah. You ale my helo" ucap Sela dengan gaya cadelnya berbahasa Inggris disertai percaya diri yang tinggi.
"Thank you, Princess," ucap Kenzo mencium dahi Sela.
"Sela sama Nenek keluar dulu, ya. Bunda mau ngomong berdua aja sama Bunda," ucap Kenzo lembut.
Zahra yang mendengar perkataan Kenzo tersenyum senang. Sebentar lagi dia dan Kenzo akan berbaikan. Mungkin mereka memang butuh waktu berdua untuk bicara.
"Baik Ayah. Tapi nanti kalau mau makan kue panggil Cela, Ya," pesannya sebelum keluar dan meletakkan kue di meja ruangan tersebut.
"Iya, Nak. Kenzo titip Sela, Bu," jawab Kenzo dan menitipkan Sela pada Bu Sari.
Bu Sari mengangguk. "Bicaralah dengan kepala dingin, karena amarah hanya akan mendatangkan keburukan untuk kalian," ucap Bu Sari. Setelah itu, Bu Sari dan Sela keluar dari ruangan dan menutup kembali pintu tersebut.
"Selamat ulang tahun, Mas," ucap Zahra lembut.
Kenzo mengangguk dengan wajah datarnya.
"Jadi aku dibohongi?"
DEG
Jantung Zahra berdetak kencang mendengar suara tegas dan dingin Kenzo. Ya Allah, apa Zahra salah lagi? Batin Zahra gelisah dengan apa yang akan terjadi kedepannya. Bukannya memperbaiki, Zahra takut semakin merusak hubungan yang sudah dingin ini.
Harusnya kamu berfikir dulu, Zahra. Batin Zahra lagi.
"Za-Zahra hanya ingin memberi Mas kejutan," ucapnya takut dengan kepala tertunduk.
Kenzo memandangi Zahra yang menunduk menatapnya. "Tatap suamimu ketika bicara dengannya, Zahra," ucap Kenzo tegas.
Zahra mengangkat kepalanya. Pipi wanita itu nampak sudah basah dengan air matanya. Tentu saja, hanya air mata yang bisa Zahra keluarkan saat ini ditengah ketakutannya.
"Maaf, Mas. Zahra ingin memberi kejutan untuk ulang tahun, Mas. Zahra bingung harus beri kejutan bagaimana. Karena jika diucapkan dengan cara biasa, Mas tidak akan memperdulikan Zahra. Zahra tidak bermaksud apa-apa, Mas," ucapnya menjelaskan dengan suara bergetar.
"Dan apa kejutan ini benar? Apa kejutan ini baik untuk anak yang belum lahir itu yang telah kamu jadikan pancingan, Zahra?" tanya Kenzo lagi.
"Maaf Mas," hanya itu yang bisa Zahra ucapkan saat ini. Dia tidak menyangka, akan seperti reaksi yang Kenzo berikan kepadanya.
"Apa kamu sudah senang membuat aku terlihat semakin bodoh dengan kebohongan ini?"
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏