
🌹HAPPY READING🌹
Setelah selesai lomba menggambar dan mewarnai, kini tiba saatnya untuk Ayah dan anak mengikuti lomba 'Sayang Anak'. Lomba ini akan melibatkan antara Ayah dan anaknya, sementara Sang Ibu yang akan menjadi penyemangat bagi Suami dan Anaknya. Perlombaan ini akan diadakan di lapangan outdor Sekolah.
Kini, semua peserta berjalan menuju tempat lomba. Sela berjalan lesu ke lapangan. "Kita nggak ucah ikut lombanya ya, Buna," ucap Sela lemah.
"Loh, kenapa Sayang?" tanya Zahra. Zahra ingin, Sela menikmati setiap perlombaan yang ada.
"Ayah nggak datang, Buna. Lomba Cayang Anak ini dilakukan oleh Ayah dan anak," jawab Sela menjelaskan pada Zahra.
"Kan ada Buna, Nak," ucap Zahra memberi solusi.
Sela menghentikan langkahnya. Reflek Zahra juga ikut menghentikan langkahnya. "Kenapa Nak?" tanya Zahra.
Sela menatap tubuhnya sendiri yang sedikit berisi. Setelahnya dia menatap tubuh Zahra yang langsing. "Lomba ini, Ayah akan gendong anaknya mengelilingi lapangan loh, Buna. Cela nggak mau, tulang Buna nanti bengkok kalna gendong Cela, lebih palah lagi nanti latah," ucap anak itu polos.
Zahra menatap kesal anaknya itu. "Kamu pikir Buna nggak kuat?" tanya Zahra ketus.
"Hehe, Bukannya nggak kuat, tapi kita halus tetap menjaga keindahan tubuh Buna," ucap Sela membingkai tubuh Zahra dari atas sampai bawah dengan tangannya.
"Ada-ada saja kamu. Ayo kita ke lapangan, yang lainnya sudah pada disana," ucap Zahra.
"Eh, eh, eh, eh ada yang nggak punya suami dan Ayah nih," ucap Nita yang lewat bersama ibu sosialita lainnya yang mengehentikan langkah Sela dan Zahra. Sedangkan anak dan suaminya sudah lebih dulu pergi ke lapangan.
Ibu-ibu yang lainnya ikut tertawa mengejek mendengar perkataan Nita.
"Yah, cyetan datang lagi," gumam Sela yang masih dapat didengar oleh mereka semua.
Mata Zahra membulat sempurna mendengar gumaman anaknya itu. Astaga, kenapa mulut anaknya sama seperti Kenzo kalau soal sindir-menyindir? Sungguh mengundang bahaya disaat seperti ini.
"Apa kamu bilang?!" tanya Nita marah menatap Sela.
"Eh, maafkan anak saya, Bu. Dia hanya tidak sengaja," ucap Zahra menyesal.
"Makanya, anak itu diajarin yang benar. Jangan diliatin banget kalau sikapnya seperti anak yang tak punya orang tua. Dasar anak tak jelas kamu!" ucap Nita kasar menatap Sela yang kini juga menatapnya remeh.
Sela menatap Nita dari atas sampai bawah. Anak itu takut, tapi rasa takutnya kalah karena nafsunya untuk membuat Nita sakit hati. "Tante bedak lima centi ngomong apa balusan? Kok Cela nggak dengal? ngomong cama cemut, ya?" tanya Sela mengerjapkan matanya polos yang membuat Nita semakin naik pitan.
Ibu-ibu sosialita yang lain mendengar perkataan Sela tertawa pelan. Mereka tidak menyangka, anak kecil ini berani melawan Nita yang notabennya adalah orang tua murid yang memiliki mulut pedas di sekolah ini.
"Berani kamu mengatakan saya syetan? Benar-benar nggak sopan kamu!" ucap Nita marah.
"Tante Nita bedak lima cen-"
"Panggil saya yang sopan!" teriak Nita dengan kekesalan memuncak.
"Oke, oke Tante. Tenang-tenang," ucap Sela dengan gerakan tangan menyuruh Nita untuk tenang.
Zahra yang melihat anaknya hanya diam. Dia membiarkan Sela mencoba untuk membela dirinya sendiri. Selagi anaknya itu belum keterlaluan, maka dia akan tetap membiarkannya. Kali ini, Zahra bangga atas keberanian anaknya itu.
"Tante Nita yang telholmat, lebih telholmat dari bapak pleciden, ceceolang yang cuka mengganggu ketenangan Olang lain dan juga cuka menggoda manusia, itu adalah Cyetan. Kalena itu adalah tugasnya Cyetan. Jadi, jangan malah kalau Cela bilang Tante Cyetan, kan kerjaan Tante ganggu Cela cama Buna telus!" ucap anak itu ketua diakhir kalimatnya. Sela menatap kesal Nita dengan ujung matanya yang juga menatapnya dengan tatapan marah.
"Berani kamu nasehatin saya, ya. Dasar anak tidak tah-"
"Hust, hust, hust, Cela bukan anak tidak tahu dili, Cela anak Ayah dan Buna kalau Tante mau tahu," jawab Sela cepat memotong perkataan Nita. Dia tidak mau Bundanya kembali sedih karena mendengar perkataan Nita.
"Ayah? Sok punya Ayah kamu!" ucap Nita meledek.
"Emang Cela punya Ayah. Macalah buat Tante," jawab Sela dengan nada mengejek layaknya anak-anak bertengkar.
"Mana Ayah kamu kalau memang punya Ayah?" ucap Nita menantang.
"BERANI KAMU, YA!"
"Jangan pernah menyentuh anak sayang!"
.....
Kenzo uring-uringan diruanganya. Sudah tiga puluh menit dia menunggu, tapi klien yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang.
Kenzo langsung mengambil jas yang dia gantung di sandaran kursi dan berjalan keluar ruangannya.
"Arman," panggil Kenzo.
"Iya Tuan," jawab Arman.
"Saya harus pergi sekarang. Jika klien itu datang, di harus rela menunggu saya sampai saya kembali. Jika tidak, batalkan saja kerjasamanya," ucap Kenzo tegas
"Tapi Tuan-"
"Tidak ada tapi-tapi. Anak saya lebih penting dari ini!" jawab Kenzo yang langsung pergi meninggalkan Arman begitu saja.
Arman menghela nafas melihat sikap Kenzo. "Batal-batal deh kerja samanya, nggak masalah. Lagi pula, Ayah dan mertuanya Tuan Kenzo orang kaya, jadi Tuan Kenzo tidak akan jatuh miskin hanya karena ini," gumam Arman ikut pasrah dengan keputusan Kenzo.
.....
Kenzo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli dengan umpatan pengendara lain, yang penting sekarang dia sampai di sekolah Sela dengan secepatnya.
Sepuluh menit, mobil Kenzo sampai di sekolah Sela. Mobil yang ramai membuat Kenzo sedikit kesusahan mencari tempat parkir, hingga dia menyerahkan begitu saja kunci mobilnya kepada satpam agar membantu memarkirkan mobilnya.
Kenzo berjalan dengan langkah lebar memasuki sekolah dan segera menuju kelas Sela.
"Maaf, perlombaan anak dan orang tua dimana, ya?" tanya Kenzo pada salah satu guru yang dia temui. Karena saat ke kelas sela, dia tidak menemukan siapapun.
Guru wanita tersebut sedikit terpana melihat ketampanan Kenzo. Rambut yang acak-acakan dan sedikit keringat yang membasahi dahinya.
"Halo, perlombaan anak dan orang tua dimana, ya?" tanya Kenzo lagi.
"Eh, i-itu, Pak. Di lapangan outdor," jawab guru tersebut gugup.
Tanpa mengucapkan terimakasih, Kenzo pergi meninggalkan guru tersebut yang menurutnya cukup aneh. Tidak sopan memang, tapi beginilah Kenzo jika dengan perempuan lain. Dingin dan tidak peduli.
Saat akan berjalan menuju lapangan outdor, Kenzo melihat beberapa orang ramai seperti ada keributan. Kenzo mendekat dan membulat melihat anaknya yang melawan seorang wanita dewasa.
Langkah Kenzo terhenti ketika mendengar Sela melawan wanita itu. "Bagus, Nak," gumam Kenzo senang.
Tapi, saat melihat wanita itu mulai mengangkat tangan kepada anaknya, Kenzo langsung membelah kerumunan dengan kasar.
"Jangan pernah menyentuh anak sayang! Sekali tangan anda menyentuh kulit anak saya, maka saat itu bersiaplah menjadi manusia cacat!" ucap Kenzo tajam menatap nyalang Nita.
Sela yang tadinya menunduk dalam pelukan Zahra yang hendak melindunginya mengangkat kepala. "Ayah."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏