
🌹HAPPY READING🌹
Zahra menyeret tubuhnya dengan cepat menuruni tangga. Hingga dipertengahan tangga, keseimbangannya tumbang. Dengan pasrah Zahra menggulingkan tubuhnya untuk sampai di tangga terakhir.
Air mata Zahra lirih begitu saja saat badannya menyentuh lantai dengan sedikit keras. "Zahra kesakitan, Umi," gumam Zahra mengingat Dee. Entah kenapa, disaat seperti ini, malah Dee yang ada dalam ingatannya, bukan Sofia yang merupakan ibu kandungnya.
Dengan tangis yang tertahan itu, Zahra dengan menahan segala sakit yang dia rasakan pada tubuhnya dan menyeret dirinya untuk segera ke kamarnya.
Tanpa Zahra ketahui, Kenzo melihat semua yang Zahra lakukan. Mulai dari Zahra yang menggulingkan tubuhnya di tangga, hingga dia yang dengan sekuat tenaga menahan tangisnya.
Tepukan di bahu Kenzo menyadarkannya. "Ayo kita lanjutkan, Ken," ucap wanita yang tadi bersama Kenzo.
"Urusanku denganmu sudah selesai. Pergi dan ambil uangmu," ucap Kenzo menyerahkan selembar cek yang dia ambil dari saku jasnya.
"Tapi kita belum menyelesaikannya," ucap Wanita itu kekeuh.
"Pergi atau aku akan menghancurkan hidupmu!" ucap Kenzo tajam.
Wanita tersebut pergi meninggalkan Kenzo dengan perasaan kesal.
Kenzo mencengkram kuat pegangan besi tersebut, matanya memerah menahan kekesalan pada dirinya. "Aku tahu kau tidak bersalah, tapi hanya kau jalan satu-satunya untukku membalas semuanya, Zahra," gumam Kenzo pada dirinya sendiri.
"Jika kau kesakitan, maka keluarga Hebi akan mengalaminya," lanjut Kenzo.
Setelah itu Kenzo pergi meninggalkan rumah dan menuju ke suatu tempat yang membuatnya menjadi lebih tenang.
Sedangkan Zahra, menumpahkan tangisnya di dalam kamar kecil tersebut. Sudah biasa baginya untuk menangis seorang diri seperti ini.
"Waktu kecil, Ara akan menangis kencang agar Bunda sama Ayah bisa mengobati luka ini. Tapi sekarang, untuk mengeluarkan suara pun Ara nggak berani," gumam Zahra sendu dengan terus mengoceh lebam di bagian sikunya.
Zahra mengambil nafas pelan dan membuangnya secara perlahan. "Ara harus kuat, bahkan Umi dulu lebih menyakitkan dari ini ketika Bunda datang dalam kehidupan rumah tangganya bersama Abi," ucap Zahra mengingat kehidupan rumah tangga Ibra dan Dee yang penuh dengan cobaan.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Kak Ken bersikap seperti ini. Pasti ada alasannya," ucap Zahra.
.....
Dee yang sedang menonton televisi di rumahnya bersama Ibra bergerak gelisah tak karuan. Ibra memang sudah memutuskan untuk pensiun dan memberikan jabatannya kepada Al. Hingga apa yang dia inginkan tercapai, yaitu menghabiskan waktu berdua dengan istri tercinta, seperti saat sekarang ini.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ibra yang sedang rebahan dengan paha Dee sebagai bantalnya.
"Nggak tahu, Mas. Aku merasa nggak tenang aja," ucap Dee gelisah.
"Coba istighfar deh, Sayang," ucap Ibra.
Dee dengan patuh mengucapkan berkali-kali istighfar dari mulutnya.
"Gimana?" tanya Ibra lagi.
"Mas, telfon Zahra, ya," ucap Dee memohon kepada Ibra.
"Ngapain Sayang? Zahra lagi mesra-mesraan sama suaminya, kayak kita ini," ucap Ibra membenamkan kepalanya kepada perut Dee.
Plak.
Satu pukulan mendarat di dahi Ibra. "Ini tu siang, pasti Kenzo lagi kerja. Nggak kayak kamu, malah milih pengangguran dari pada kerja," ucap Dee pada Ibra yang sudah mengerucutkan bibirnya layaknya anak kecil yang tidak diberi permen.
"Jangan sok manja," ucap Dee lagi.
Ibra pasrah. Dia mengambil ponsel Dee yang ada sebelahnya. Tangan Ibra dengan lincah mencari kontak Zahra. "Video call atau telfon biasa?" tanya Ibra.
"Telfon biasa aja," jawab Dee.
Ibra mengangguk. Dia menekan tombol hijau untuk memulai panggilan pada Zahra.
Diseberang sana, Zahra yang sudah selesai mengoleskan salep pada lebamnya mengambil ponsel yang ada di sebelahnya.
Senyum terbit di wajah cantiknya ketika melihat Nama 'Umi' tertera di sana.
"Assalamu'alaikum, Umi," ucap Zahra mengangkat panggilan Dee.
"Waalaikumsalam, Nak. Zahra apa kabar?" tanya Dee dengan suara lembutnya dari balik telepon.
Air mata Zahra mengalir mendengar suara Uminya. Suara yang selalu membuatnya tenang. Ikatan batinnya dengan Dee bahkan lebih kuat dari Sofia.
"Zahra kenapa, Nak? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dee ketika mendengar suara Zahra.
Zahra menggeleng, meskipun dia tahu Dee tidak akan bisa melihatnya. "Zahra hanya rindu dengan Umi," jawab Zahra.
Dee diseberang sana tersenyum. "Umi disini juga rindu, Ara. Abi juga," jawab Dee.
Zahra tersenyum. "Adek gimana, Umi?" ucap Zahra menanyakan Kina. Karena yang dia tahu, Kina dan Aska memang tinggal di rumah Dee. Dan tentunya itu atas permintaan Dee sendiri yang tidak bisa di ganggu gugat.
"Kina lagi ke kantor ngantar makan siang buat Aska," jawab Dee.
Zahra hanya tersenyum sendu di tempatnya. Setidaknya Adek bahagia. Batin Zahra senang.
Setelah itu mereka berbincang banyak mengenai apapun. Setidaknya Zahra bisa melupakan kesedihannya sesaat ketika berbicara dengan Dee.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kenzo baru sampai dirumahnya dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuhnya. Jas yang sudah tergantung di lengannya dan dua kancing atasnya yang sudah terbuka, ditambah dengan rambut yang sedikit acak-acakkan menambah ketampanan Kenzo.
Zahra yang mendengar mobil Kenzo mendekat ke pintu utama. Dia mencoba melupakan apa yang terjadi tadi siang.
"Assalamu'alaikum, Kak," ucap Zahra tersenyum menengadah menatap Kenzo yang berdiri di depannya.
Kenzo hanya diam dan tetap melanjutkan langkahnya ke ruang tamu. Merebahkan tubuhnya di sana melepas penat badan dan pikirannya.
Zahra menyeret tubuhnya mendekat Kenzo. Tangannya terulur membuka sepatu yang Kenzo gunakan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kenzo pelan namun tajam.
"Membuka sepatu suami Ara," jawab Zahra tenang.
Kenzo hanya diam membiarkan Zahra melakukan apapun yang ingin dia lakukan.
"Kakak mau makan?" tanya Zahra setelah selesai melepaskan sepatu Kenzo.
"Aku sudah makan!" jawab Kenzo singkat dan padat.
Zahra hanya mengangguk dan terus memandang Kenzo. "Kak, boleh Ara bertanya sesuatu?" tanya Zahra.
"Apa?"
"Jika tidak menginginkan Zahra, lalu mengapa Kak Ken menikahi Zahra?"
Kenzo menegakkan tubuhnya dan duduk dengan mata yang menatap Zahra remeh. "Siapa bilang tidak menginginkanmu? Aku hanya tidak mencintaimu," jawab Kenzo enteng.
"Lalu kenapa menikahi Zahra?" tanya Zahra lagi.
Kenzo hanya diam. Dia tidak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Zahra.
"Kak Ken, cinta itu bisa hadir seiring berjalan waktu," lanjut Zahra lagi.
"Tapi itu tidak berlaku untukku!"
"Sekarang Kak Ken bisa bicara seperti itu. Tapi suatu hari nanti, yang entah kapan datangnya, cinta Kak Ken pasti hanya tertuju untuk Zahra," jawab Zahra yakin.
Kenzo tersenyum remeh. "Kau terlihat murahan dengan mengemis cinta," ucap Kenzo.
Zahra hanya tersenyum kecut. Lagi-lagi kata murahan itu terdengar oleh telinganya. "Bahkan sebagian istri rela menjadi pelacur untuk cinta suaminya, Kak Ken."
Kenzo menatap Zahra lekat. Tidak ada keraguan di mata Zahra ketika mengucapkan itu.
"Kak Ken, jika Zahra sudah mencintai, Zahra tidak akan main-main dalam melimpahkan cinta Zahra. Tapi jika suatu saat Zahra memilih pergi, kepergian Zahra juga tidak main-main, Kak," lanjut Zahra.
Kenzo menatap tajam Zahra mendengar perkataan Zahra. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Karena itu terlalu mudah untuk wanita sepertimu," jawab Kenzo.
"Sebutkan satu alasan yang membuat Zahra tidak bisa pergi dari Kak Ken?"
......................
Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘
Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗