
🌹HAPPY READING🌹
Bu Nende mengangguk. "Pergilah, jemput anakmu. Mungkin lain waktu kita bisa mengobrol banyak," jawab Bu Nende ramah.
Zahra mengangguk. "Kalau begitu saya permisi, Bu. Assalamu'alaikum," ucap Zahra pamit.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Nende memandangi punggung Zahra yang menjauh dari pandangannya.
Setelah Zahra sudah tak terlihat oleh pandangannya, Bu Nende memegang sesuatu yang terpasang di telinganya sambil berucap "Dia sangat cantik dan baik," ucap Bu Nende dengan senyum mengembangnya.
Terdengar tawa kecil di balik alat yang ada ditelinga Bu Nende. "Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengannya. Suamimu juga mengatakan hal yang sama mengenai yang lainnya. Saya berterimakasih atas kerja kalian ini," ucap seseorang diseberang sana.
Terbit senyum Bu Nende mendengar ucapan tulus dari orang tersebut. "Sudah tugas kami, Tuan," jawab Bu Nende.
"Terimakasih," jawab seseorang diseberang sana dan langsung memutus sambungan dengan alat yang terpasang ditelinga Bu Nende.
.....
Zahra dan Sela tidak langsung pulang. Mereka akan langsung ke kantor Kenzo untuk makan siang bersama atas permintaan lelaki itu.
Mobil yang membawa Zahra dan Sela sampai di depan kantor Kenzo. Anak dan Ibu itu turun dan memasuki kantor dengan senyum membalas sapaan para karyawan.
Sela, gadis kecil itu menyapa setiap orang yang dia lewati dengan senyum dan tangan yang tak hentinya melambai.
"Halo Om ganteng."
"Halo Tante genit."
"Halo Tante cantik."
"Halo Om tampan."
"Hai Tante Luna cantik. Lama tak jumpa."
Kira-kira begitulah sapaan Sela kepada para karyawan Kenzo. Meskipun tidak mengetahui nama para karyawan tersebut, Sela akan memanggil dengan panggilan yang terlintas di otaknya.
"Mulutnya udah bisa genit, ya," ucap Zahra ketika mereka berdua memasuki lift. Mulut anak itu juga baru berhenti menyapa orang saat sudah memasuki lift.
"Kita harus saling menyapa, Bunda," ucap Sela mendongak menatap Bundanya.
"Tapi bukan kayak gitu juga sapaannya," jawab Zahra.
"Terserah Sela dong. Yang pentingkan mereka senang. Kita tuh dapat pahala kalau buat orang senang dan tersenyum. Masa Bunda nggak tahu sih," ucap anak itu dengan segala ke sok tahuannya.
"Iya-iya, kamu yang paling benar," jawab Zahra mengalah. Dia bukan Kenzo yang bisa dengan mudah membalas setiap kata menyebalkan keluar dari mulut anaknya itu.
Ting
Lift berbunyi. Mereka sampai dilantai ruang kerja Kenzo.
"Assalamu'alaikum," ucap Zahra dan Sela bersamaan memasuki ruang kerja Kenzo.
"Waalaikumsalam," jawab Kenzo bersama dengan Arman yang juga berada disana.
"Kalian sudah datang," ucap Kenzo senang.
"Kita akan lanjutkan nanti, Arman," ucap Kenzo beralih pada Arman.
Arman yang paham akan perkataan Kenzo pamit undur diri.
"Bagaiman sekolahnya, Nak?" tanya Kenzo pada Sela.
"Baik, Ayah. Tapi sepi nggak ada Shasa," jawabnya cemberut.
"Tiga hari lagi Shasa juga pulang," jawab Kenzo memberitahu.
Sela hanya mengangguk lesu. Tiga hari sekolah tanpa sepupunya membuat harinya tak menyenangkan.
"Kita nggak bisa ikut susulin Shasa, Ayah?" tanya Sela pada Kenzo.
"Yang nggak bisalah!" jawab Kenzo ngegas.
"Biasa aja kali jawabnya. Jangan pake urat juga!" jawab Sela tak kalah ngegas.
Saat akan menjawab kembali, Kenzo langsung menutup mulutnya melihat Zahra yang sudah melotot tajam menatapnya. "Hehe, kita cuma bercanda, Sayang," ucap Kenzo.
"Ayah emang gitu, Bunda. Suka banget buat aku kesal. Kan jadinya aku ngomong keras-keras. Ternyata benar kata Mama Kina, lelaki itu emang cuma buat wanita emosi," ucap Sela sinis menatap Ayahnya.
Mata Kenzo melebar menatap anaknya. Sungguh, dua ingin sekali memberi cabe mulut anaknya yang pedas itu. "Benar-benar uji kesabaran, Ya Allah," ucap Kenzo dramatis mengusap pelan dadanya.
"Ayah ngatain aku setan?!" tanya Sela tak terima.
"Siapa yang bilang kamu setan?" tanya Kenzo balik.
"Nenek bilang yang menguji kesabaran kita itu setan," jawab Sela ketus.
BUGH
Zahra langsung memukul lengan Kenzo. "Ngatain anak sendiri setan. Kamu orang tuanya tahu," ucap Zahra.
Sela meledek Kenzo yang kena omel Zahra dengan memeletkan lidahnya dengan mata yang dibuat-buat juling. "Rasain," ucap Sela berbisik dan langsung berjalan menjauh.
Melihat istrinya yang sudah turun tangan, Kenzo hanya bisa diam dan pasrah. Melawan Sela adalah pilihan yang salah untuk kesehatan hatinya. Anaknya itu benar-benar ajaib dengan segala tingkahnya membuat orang kesal.
.....
Kini diruangan itu hanya Zahra. Karena sebentar saja sebentar, Ayah dan anak itu sudah berbaikan. Dan sekarang mereka pergi keluar bersama untuk membeli makan siang. Tadi Kenzo sudah menawarkan untuk memesan makanan online, tapi Sela merengek ingin membeli langsung di restoran yang ada di seberang perusahaan Kenzo.
Zahra melihat sekeliling ruang kerja Kenzo. Bibirnya tersenyum melihat foto pernikahan mereka yang terpajang besar di dinding sebelah kiri. Foto itu memenuhi dinding tersebut. Kadang Zahra berpikir, apa sebangga itu Kenzo memiliki dirinya yang cacat saat itu. Karena di foto, jelas sekali Zahra duduk di kursi roda. Dan foto yang satunya lagi, Kenzo menggendong Zahra ala bridal style.
"Ternyata senyum itu emang tulus ya, Mas. Memang kamu aja yang egois saat itu," ucap Zahra senang.
Zahra berjalan menuju lemari kaca diruangan Kenzo ketika melihat sesuatu yang menari penglihatannya.
Tapi belum sampai, kaki Zahra merasakan hal yang aneh ketika menginjak lantai. "Kenapa lantainya terbuka begini?" tanya Zahra pada angin sekitarnya.
Zahra merendahkan tubuhnya pelan dengan lutut sebagai tumpuannya. "Pintu," gumam Zahra ketika mengangkat lantai tersebut sedikit.
"Ruang apa ini?" tanya Zahra lagi dengan segala kebingungannya.
Dengan segala penasarannya, Zahra menggeser sedikit pelan lantai tersebut hingga bisa membukanya sedikit lebih lebar.
Tanpa pikir panjang, Zahra melangkahkan kakinya mengikuti tangga yang menjadi penghubung ruangan Kenzo ke ruangan tersebut. "Tangganya banyak banget," keluh Zahra melihat begitu banyak tangga.
Dengan memegangi perutnya, Zahra melangkahkan kakinya satu persatu. Sepanjang menuruni tangga, Zahra ditemani oleh cahaya lampu gantung tradisional.
"Kamu mau juga ya, Nak," ucap Zahra mengusap perutnya. Karena kebetulan sekali perutnya tidak merasa keram ketika menuruni tangga sebanyak ini.
Sampai pada anak tangga terakhir, tubuh Zahra menegang melihat pemandangan di depannya.
.....
Kenzo dan Sela selesai membeli makan siang. Mereka berjalan memasuki ruangan Kenzo kembali karena tidak mau Zahra menunggu.
"Itu apa, Ayah?" tanya Sela polos melihat lubang dilantai setelah memasuki ruangan Kenzo.
Pandangan Kenzo beralih dan tubuhnya menegang melihat itu.
"Ya Allah, jangan sampai," gumam Kenzo melihat sekeliling ruangan berharap Zahra ada di dalam.
Kenzo langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi Arman. Dia berharap bukan Zahra yang membukanya. "Apa kamu melihat istri saya, Arman?" tanya Kenzo langsung tanpa basa-basi.
"..."
"Keruangan saya sekarang!" ucap Kenzo tanpa mendengar jawaban Arman.
"Permisi, Tuan," ucap Arman yang memang langsung memasuki ruangan Kenzo.
"Bawa Sela keluar sebentar, Arman. Temani dia makan. Saya harus mengurus sesuatu," ucap Kenzo.
"Tapi Ayah-"
"Sela sama Uncle Arman dulu, ya. Ayah ada urusan sebentar," ucap Kenzo membujuk Sela.
Sela mengangguk patuh. Perutnya juga sudah sangat lapar sekarang ini.
Arman menatap sekeliling ruangan Kenzo. Mata Arman membola melihat lantai yang menjadi pintu penghubung ruang rahasia dengan ruangan Kenzo terbuka.
"Tuang."
"Biar saya yang tangani. Tolong temani Sela," ucap Kenzo berusaha tenang.
Arman mengangguk patuh. Lelaki itu membawa Sela keruanganya untuk makan bersama.
Setelah Sela pergi bersama Arman, Kenzo langsung menuruni tangga ruang rahasia itu dengan langkah cepat.
Lima belas tangga terakhir, Kenzo melihat Zahra yang berdiri mematung.
"Sayang!"
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏