
🌹HAPPY READING🌹
Kevin, Murat dan Lukman sampai di ruang rahasia yang ada di kediaman Murat. Ruangan ini terletak di bagian dapur paling ujung yang pintunya tertutup oleh pigura besar. Hingga siapapun yang melihat ini tidak akan menyangka jika ada ruangan lain dibaliknya.
Pigura itu memperlihatkan foto Murat dulu sewaktu muda. Pada bagian mata pigura itu, Murat menekannya dan terdengarlah suara pintu terbuka.
Krieeet.
Pintu terbuka dan terlihatlah seorang lelaki yang sedikit lebih tua dari Kevin dengan keadaan yang sangat kacau.
"Baba," panggilnya lirih ketika melihat siapa yang datang.
"Kau masih bicara ternyata, Onur Aku kira kau memang sudah benar-benar mati," ucap Murat menatap datar lelaki itu.
Ya, dia adalah Onur. Adik dari Almarhum Ayah kandung Zahra yang menjadi dalang kematian kedua orang tua Zahra.
Onur mengalihkan tatapannya pada Kevin dan Lukman. Dia menatap benci pad Kevin dan Lukman. Terutama pada Kevin, karena lelaki itulah yang membuat dia tertangkap seperti ini.
"Ada anak tiri juga disini," ucapnya sinis menatap Kevin.
Kevin hanya menatap datar. Lelaki itu nampak berdiri penuh wibawa di depan Onur.
"Anak tiri rasa anak kandung, dan anak kandung sara anak tiri bagaikan setah!" ucap Murat marah mendengar perkataan Onur.
Onur tertawa sumbang dibalik luka wajahnya. Dia menatap Murat dengan pandangan yang sulit diartikan. "Bukankah selama ini kau memang menganggap aku anak tiri? Bahkan kau hanya menyayangi anak sulung dan anak perempuanmu itu!" ucap Onur emosi.
"Kau saja yang buta karena tidak bisa melihat kasih sayang yang aku berikan!" balas Murat tak kalah tegas.
"Aku buta? Aku begini karena Baba yang selalu menyanjung anak sulung Baba itu. Bahkan Baba tidak mengizinkan aku membantunya sedikitpun dalam setiap bisnisnya!"
"Itu karena aku tahu akal bulus mu! Dan sedikit aku lengah, kau langsung menghabisi anakku, bajingan!" teriak Murat penuh emosi. Urat-urat keluar dari tangan yang kulitnya sudah keriput itu.
Lelaki ini sudah delapan puluh tahu, tapi kesehatan yang sangat baik membuat dia masih nampak sangat segar. Hanya tongkat saja yang membantunya saat berjalan.
"Dan aku tidak menyesal melakukan itu!" balas Onur sengit.
"Kevin, Lukman, kalian lakukanlah!" ucap Murat yang berbalik dan bersiap meninggalkan ruangan itu.
"Kau tega membunuh anakmu sendiri, Baba?" tanya Onur menghentikan langkah kaki Murat.
"Lalu bagaimana bisa kau tega membunuh saudara kandungmu dan istrinya, Onur?"
"Setidaknya ada sedikit kasih sayang darimu untukku, Baba," jawab Onur lagi.
"Jika ada kasih sayang, kenapa kau tidak menggunakannya juga saat kau akan membunuh saudaramu?!" tanya Murat marah.
"Kau tahu, karena perbuatan mu, cucuku harus hidup dalam keluarga asing dengan segala kekurangannya!" tambah Murat dengan segala emosi yang tak bisa dia tahan.
"Aku tidak pernah menyesal, Baba. Wanita yang aku cintai lebih menyukai Kakakku sendiri. Kekayaan dan kesuksesan tidak pernah menghampiriku. Pantas saja kan aku iri dengan anak kesayanganmu itu? Setidaknya, jika aku tidak bersatu dengan wanita yang aku cinta, maka Kakakku juga tidak bisa!" ucap Onur marah.
"Tapi apa yang kau lihat? Bahkan cinta mereka sejati sampai maut memisahkan!" jawab Murat tegas.
"Dan aku yang menjadi maut itu. Aku puas telah melakukannya!" ucap Onur dengan tawa terbahak-bahak bagaikan orang yang terkena gangguan jiwa.
"Lakukan Kevin, Lukman!" ucap Murat tegas.
"Baba," panggil Kevin pelan.
"Apa Baba yakin? Dia anak kandungmu," ucap Kevin mempertanyakan keputusan Murat.
Murat tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu.
Kini tinggal mereka bertiga. Onur menatap benci pada Kevin yang berdiri dengan tangan berlipat di dadanya.
"Apa kabar anak tiri?" tanya Onur sinis.
"Dan apa kabar, saudara ipar?" lanjut Onur bertanya pada Lukman.
"Seharusnya kau sadar dengan statusmu sebagai anak kandung Baba. Harusnya kau bisa mengurangi ego mu. Jika saja kau tidak haus akan kekuasaan dan cinta, maka kau akan bisa hidup bahagian saat ini," ucap Kevin menatap datar Onur.
"Kau hanya orang asing yang beruntung dipungut oleh Baba!" ucap Onur tajam.
Kevin tergelak dan mengangguk. "Tapi setidaknya aku tahu diri. Dan aku juga berterimakasih padamu. Karena perbuatan bejatmu itu, aku merasakan jadinya seorang Ayah. Terimakasih untuk itu," ucap Kevin datar.
"Bang Lukman," panggil Kevin pada Lukman yang sejak tadi diam dan memperhatikan mereka berdua. Lukman memang lebih tua sedikit dari Kevin. Dan untuk menghargainya, Kevin memanggil lelaki itu dengan embel-embel Abang. Karena Lukman juga orang Indonesia yang merantau dan hidup lama di Turki.
Kevin kembali berjalan mendekati Onur. "Aku dan Bang Lukman tidak setega itu membunuhmu. Kami.masih punya hati untuk memperlakukanmu layaknya manusia. Dan setelah ini, renungkan kesalahanmu dan nikmati hasil dari perbuatan mu!" ucap Kevin menatap tajam Onur.
Dari arah luar terdengar sirine polisi memenuhi pekarangan rumah Murat.
Onur yang mendengar itu membulatkan matanya.
Kevin tersenyum miring. Lelaki itu berjalan mendekati Onur dan berdiri tepat disebelah lelaki yang terikat rantai itu. Kevin mensejajarkan mulutnya dengan telinga Onur seraya berbisik. "Penjara lebih membutuhkanmu saat ini!"
.....
Setelah mengudara berjam-jam lamanya, akhirnya mereka semua sampai di Indonesia.
"Abi dan Umi tidak singgah ke rumah Zahra dulu?" tanya Zahra pada Ibra dan Dee. Saat ini mereka baru saja turun dari pesawat. Sedangkan si kecil Zahra asik naik diatas koper yang bisa berjalan sendiri itu. Dia nampak lihai dalam menjalankan koper itu, namun itu tidak lepas dari pandangan Kenzo yang tidak mau anaknya kenapa-napa.
"Iya Nak. Umi sama Abi langsung pulang saja, ya. Kasian Abi kamu pasti kelelahan," ucap Dee lembut.
"Kamu juga Sayang," ucap Ibra.
"Iya Mas. Kita berpisah disini, ya Nak. Sopir Abi sudah menjemput di depan," ucap Dee pada Zahra.
Zahra mengangguk lesu. "Kita sama-sama keluar saja, Umi," ucap Zahra yang dianggukki mereka semua.
.....
"Dadah Nenek! Dadah Kakek!" seru Sela pada Dee yang baru saja memasuki mobil mereka.
"Dadah, Nak. Nenek sama Kakek duluan, ya," ucap Dee lembut dari balik jendela mobil.
Sela mengangguk. "Nenek sama Kakek hati-hati ya," ucap anak itu lagi.
"Iya Nak," jawab Dee lembut.
"Abi pamit, Nak. Kenzo, jaga istri dan anak kamu," ucap Ibra yang dianggukki oleh Kenzo.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
"Ayo sayang. Kita naik mobil," ucap Kenzo mengajak Zahra dan Sela menaiki mobil mereka yang memang terparkir di parkiran khusu Bandara.
"Iya Mas. Ayo Sela," ajak Zahra pada Sela. Koper-koper mereka sudah lebih dulu sampai di mobil karena bantuan beberapa petugas bandara yang memang diminta Kenzo untuk membantunya.
Kini keluarga kecil itu sedang berada di dalam mobil.
"Sela kangen Nenek Sari," ucap anak itu tiba-tiba.
"Sebentar lagi kita ketemu Nenek, Nak," jawab Zahra yang duduk dibelakang. Sedangkan di depan sudah ada si ratu kecil yang tidak mau pindah.
"Iya Bunda," jawab Sela lembut.
"Ayah," panggil Sela pada Kenzo.
"Iya Nak," jawab Sela.
"Sela juga rindu Aunty Kinzi," ucap anak itu menatap Kenzo.
Kenzo tersenyum. "Aunty Kinzi lagi kerja di Paris, Sayang. Nanti beberapa bulan sekali pasti datang menemui Sela," ucap Kenzo.
"Tapi ini sudah lama sekali loh, Ayah," ucap Sela. Anak itu menjeda ucapannya seraya berhitung menggunakan jari. "Sudah lima bulan Aunty tidak pulang," sambungnya setelah selesai berhitung.
"Sabar ya, Nak. Nanti Aunty Kinzi pasti pulang," ucap Kenzo.
Sela hanya mengangguk patuh. Tidak ada gunanya juga dia terus bertanya. Toh Aunty nya tidak akan langsung pulang saat ini juga.
Zahra yang mendengar itu tersenyum lembut. Semoga Kak Kinzi selalu baik-baik saja. Batin Zahra.
......................
Hai teman-teman, untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang sudah publish di aplikasi hijau dengan judul CINTA WANITA MUDA. Semoga kalian suka dan menikmati kisahnya.
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍