
🌹HAPPY READING🌹
Saat ini, Aska tengah senyum-senyum tak jelas di mobilnya. Kina yang melihat itu jadi bingung sendiri.
"Mas Aska kenapa?" tanya Kina polos. Lupa kah wanita itu bahwa semua ini karena dirinya. Karena ucapannya, Aska menjadi orang gila seperti ini.
Aska hanya tersenyum dan menggeleng. Saat di persimpangan, Aska membelokkan mobilnya ke arah kanan. Sedangkan untuk menuju rumah, mobilnya harus belok kiri.
Kina yang melihat itu mengernyit heran. "Mas, kok kita belok kanan?" tanya Kina.
"Kan kita mau ke Dokter kandungan, Sayang. Jadi ke rumah sakit," ucap Aska dengan senyum sumringahnya.
"Siapa yang mau hamil, Mas?" tanya Kina.
"Kamu lah," jawab Aska sedikit ngegas.
"Kok ngegas, santai aja Mas nya. Mas," panggil Kina pelan.
"Hem," jawab Aska sedikit menolehkan kepalanya ke arah Kina.
"Em ..." ucap Kina menjeda sebentar perkataanya. Entahlah, wanita itu tiba-tiba gugup ketika akan menyampaikan maksud perkataanya tadi pagi. Dia kan hanya bercanda untuk membantu Sela san Shasa, tapi suaminya ini malah menganggap serius.
Kina menghela nafasnya. Semakin lama, mobil mereka semakin dekat dengan rumah sakit.
"Mas," panggil Kina lagi.
"Iya Sayang," jawab Aska lembut.
"Mas beneran, mau punya anak lagi?" tanya Kina menatap lekat suaminya itu.
Aska mengangguk yakin. "Umur Shasa sudah cukup untuk punya adik, Sayang. Kenapa? Apa kamu keberatan?" tanya Aska.
Kina lantas menggeleng kuat. "Iya, kita lakukan program hamil," ucap Kina pasrah. Toh tidak apa-apa dia punya anak lagi, kebahagiaanya akan semakin lengkap dengan kehadiran anak ke dua mereka.
Aska memegang erat sebelah tangan Kina. "Aku tahu, tadi kamu hanya bercanda. Tapi apa salahnya kita menjadikan ucapan kamu doa, Sayang. Dan akan kita usahakan," ucap Aska lembut.
Kina mengangguk menatap Aska. Senyum manisnya dia berikan sebagai jawaban dari perkataan Aska. Sungguh, kali ini dia harus menurunkan egonya. Mungkin niat yang tadinya hanya bercanda, sekarang akan mereka wujudkan menjadi kenyataan. Tidak salahnya di coba, bukan? Toh mereka tidak akan kekurangan apapun dengan memiliki anak lagi.
.....
Zahra duduk dengan sedikit gelisah di kursi tunggu karena tatapan tak bersahabat dari beberapa orang tua murid yang asik bergosip. Sejak tadi, wanita itu hanya memperhatikan kelas Sela dan Shasa yang nampak dari tempat tunggu. Dari sana, dia bisa melihat anaknya yang sangat aktif. Terhitunfmg sudah tiga kali Sela maju ke depan untuk menjawab pertanyaan gurunya dan begitu juga dengan Sela.
Zahra melihat ke arah kelompok ibu-ibu sosialita itu, mereka kembali melihat Zahra dengan pandangan meremehkan. Zahra melihat penampilannya dari bawah hingga meraba kerudungnya. "Perasaan pakaian aku tertutup kok, nggak ngetat gitu, kenapa pada dilihatin, ya," bingung Zahra bermonolog sendiri.
"Bukan Ibu yang salah, Bu. Tapi mereka yang memang seperti itu," ucap salah satu orang tua murid yang duduk berjarak satu kursi di sebelah Zahra.
Zahra melihat Ibu tersebut yang nampak anggun menggunakan jilbab Syar'i nya. "Pakaian saya tidak salah kan, Bu...?" tanya Zahra menanyakan pendapatnya.
"Panggil saya Nitami, Bu," ucap Nitami ketika Zahra kebingungan memanggilnya apa.
"Saya Zahra, Bu," ucap Zahra menjulurkan tangannya.
"Ibu jangan pikirkan mereka, memang begitu keadaanya. Untung sekarang ada Bu Zahra, kalau tidak saya sendirian duduk disini. Karena merasa tak nyaman saja jika bergabung untuk bergosip," ucap Bu Nitami.
Zahra mengangguk menyetujui perkataan Nitami. "Anak ibu kelas berapa?" tanya Zahra mencoba dekat.
"Anak saya kelas TK A-1, Bu. Itu disana," ucap Nitami menunjuk kelas anaknya.
"Kelas anak saya disebelahnya, Bu. TK A-2," jawab Zahra.
"Kok saya baru lihat Bu Zahra hari ini, ya?" tanya Nitami sopan.
Tidak lama setelah pembicaraan mereka, bel pertanda pulang berbunyi. Setelah mendengar anak-anak mengucap salam, Zahra melihat para siswa berhamburan keluar dan menuju orang tua mereka masing-masing.
Hati Zahra tersentil. Jika saat pulang sekolah setiap murid mencari orang tuanya seperti ini, lalu anaknya mencari siapa? Pasti Sela merasa sedih akan hal ini. Tapi satu yang dia syukuri, Sela tidak pernah mengeluh dan meminta akan hal itu. Tapi demi anaknya, sekarang Zahra akan selalu menemani Sela jika tidak ada pekerjaan lain.
"Bunaaaaa."
"Bundaaaa."
Teriak Sela dan Shasa berlari ke tempat duduk Zahra. Bu Nitami pamit terlebih dahulu untuk segera pulang bersama anaknya karena sang suami sudah menunggu di luar.
"Oh jadi ini Ibu kamu, Sela. Saya kira kamu memang tidak punya orang tua," ucap salah satu ibu sosialita tadi yang diketahui bernama Nita itu mendekat kepada Zahra bersama anaknya.
Zahra terkejut mendengar penuturan ibu tersebut. "Ibu mengenal anak saya?" tanya Zahra. Sedangkan Sela hanya memandang biasa ke arah Nita seolah dia tidak terpengaruh apa-apa.
"Siapa yang tidak mengenal anak tidak ber ayah ini. Saya kira dia juga tidak punya ibu, eh ternyata ada. Dia kan biasanya selalu numpang sama Shasa, cucunya keluarga Hebi," ucap Nita memandang rendah Zahra.
Tangan Zahra mengepal mendengar penuturan Nita. Saat dia akan menjawab perkataan Nita, dua tangan mungil menghentikannya. Zahra dapat melihat Sela san Shasa yang menghentikan Zahra.
"Hai Ibu Nita," sapa Sela ceria.
"Bunanya Cela cantikan?" tanya Sela lagi.
"Heh, kampungan begitu dibilang cantik," gerutu Nita memandang rendah Zahra.
"Ibu Nita buta, ya? Masa Bunda cantik begini dibilang kampungan?" ucap Shasa dengan gaya polosnya.
"Lihat deh, Bu Nita. Wajah Buna nya Cela putih alami, bibilnya juga melah alami. Buna juga nggak pake lipstick, iya kan Buna?" tanya Sela menatap Zahra yang langsung dianggukki oleh wanita itu.
"Tuh, Buna Cela beda banget cama Bu Nita. Bedak Bu Nita aja lima centi, sekalian bibilnya juga," ucap Sela menunjukan angka lima dengan jarinya.
"Apa kamu bilang?" ucap Nita marah tak terima dengan apa yang dikatakan Sela.
Zahra? Wanita itu rasanya ingin tergelak, tapi dia tahan agar membuat Nita semakin naik pitan.
"Hai kyel," sapa Shasa dan Sela serentak pada anak Bu Nita. Anak lelaki itu hanya tersenyum tanpa mengeluarkan suara.
"Cantikan mana Buna Cela dali Mamanya kyel?" tanya Sela.
"Cantikan Tante ini," jawab Kyel jujur yang semakin membuat wajah Nita merah menahan amarah.
"Ayo pulang, Kyel!" ketua Nita dengan kesal luar busa menarik Kyel untuk segera pulang.
Shasa dan Sela serentak tertawa setelah melihat Nita pergi. Kedua gadis cilik itu ber tos ria seolah memenangkan perlombaan besar.
"Kita hebat kan, Bunda?" tanya Shasa.
Zahra mengangguk setuju. "Untuk kali ini, Bunda bangga sama kalian," ucap Zahra.
Bukannya menasehati, Zahra senang dengan perlakuan anak-anaknya. Toh, anak-anaknya tidak berkata kasar pada orang yang lebih tua. Malah, mereka membuat Nita sadar untuk tidak menghina lagi. Tapi ada satu yang mengganggu pikiran Zahra, yaitu ucapan Nita yang mengatakan bahwa anaknya tidak punya Ayah.
Bahkan anakku memiliki garis keturunan bangsawan Turki. Batin Zahra sombong. Entahlah, naluri manusiawinya ingin sekali memamerkan, tapi itu tdiak mungkin dia lakukan agar semuanya baik-baik saja.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏