
🌹HAPPY READING🌹
Tengah malam, Sela terbangun dari tidurnya. Gadis kecil itu ternyata sudah dipindah tidur oleh Ayahnya ke bagian tepi sebelah kanan yang sudah diberi pembatas tambahan.
"Ayah culang," gumam anak itu kesal dengan suara seraknya.
Sela melihat Bundanya yang nyenyak tidur dalam pelukan Kenzo. Anak itu mengelus perutnya yang tiba-tiba terasa lapar malam ini. "Bangunin Ayah aja kali, ya. Bangunin Buna kacian," gumam Sela pelan.
Sela menurunkan pembatas dibagian kasurnya. Anak itu turun dan berjalan mengitari ranjang untuk ke sisi kiri tempat Kenzo tidur. Sedangkan Zahra ada ditengah-tengah mereka.
Tangan mungilnya menepuk-nepuk punggung Kenzo. "Ayah," panggil Zahra pelan.
"Ayah," panggil Sela lagi karena Kenzo tak kunjung memberikan respon.
"Ayah, bangun," rengek Sela mengguncang sedikit punggung Kenzo.
"Ayah tidul kayak olang mati, nggak bangun-bangun," gerutu Sela kesal.
Sela berjalan duduk di sofa. Anak itu menatap sekeliling mencari sesuatu yang bisa dia makan. Dia sungguh lapar sekarang. Dia tidak memiliki keberanian besar untuk turun kebawah sendiri mengambil makanan di dapur.
"Lapal banget," ucap Sela memegangi perutnya.
"Aha," pekik Sela berbinar dengan suara tertahan. Tiba-tiba saja lampu pintar itu menyala terang di atas kepalanya.
Sela kembali turun dan berjalan mendekati Kenzo. Tanpa aba-aba, gadis cilik itu menggigit punggung Kenzo.
"Akkhhh," pekik Kenzo tertahan ketika merasakan punggungnya yang benar-benar sakit. Reflek, Kenzo membuka mata dan menatap Zahra yang masih tidur nyenyak dalam pelukannya.
Kenzo menoleh kebelakang, dia takut ada serangga atau apa yang menggigit punggungnya. Ternyata disana, tepat didepan wajahnya, sang gadis cilik dan licik sedang tersenyum tanpa dosa menatapnya.
Kenzo melepaskan pelukannya pada Zahra dan memberikan guling agar istrinya itu tetap nyaman.
"Kenapa gigit Ayah?" tanya Kenzo menatap kesal anaknya itu. Bahkan Kenzo dapat merasakan kulit punggungnya yang sedikit berbekas karena gigi mungil Sela.
"Hehe, abisnya Ayah nggak bangun-bangun. Cela kapal, Ayah," ucap Sela mengusap perutnya yang datar.
"Sudah dua kali kamu kayak gini. Perut Sela sehatkan?" tanya Kenzo khawatir berjongkok didepan Sela dan mengusap lembut perut anaknya itu. Kenzo menujul-mukul pelan perut Sela dengan jari tengah dan telunjuknya. "Tidak gembung," gumam Kenzo setelah memastikan bahwa Sela memang tidak kembung.
Kenzo menghela nafas pelan. Matanya masih sangat mengantuk, tapi dia tidak mau anaknya sakit perut karena kelaparan. Apa kata orang nanti, anak seorang Kenzo mengalami kelaparan? Bisa-bisa kepala Kenzo pindah ke bokongnya. Tapi, mau membangunkan Zahra juga tidak mungkin. Istrinya itu harus istirahat yang cukup.
"Jadi, Sela mau makan apa?" tanya Kenzo lembut. Kali ini dia tidak mau bertengkar dengan anaknya itu. Karena sudah dipastikan, dia akan kalah melawan mulut berbisa Sela.
"Makan naci goleng buatan Ayah, ya," ucap anak itu memohon.
Kenzo mengangguk melihat wajah anaknya yang sangat menggemaskan itu. Sungguh, jika seperti ini, orang tidak akan menyangka jika Sela memiliki mulut super peda dalam mengkritik orang dan ahli dalam membuat kesal.
Kenzo menggendong Sela dan membawa anak itu keluar kamar untuk segera menuju dapur.
.....
Kenzo menatap Sela yang makan nasi gorengnya dengan sangat lahap. Sejak pertama dia memasakkan Sela nasi goreng itu, sejak saat itu Sela selaku minta dibuatkan nasi goreng olehnya jika Zahra tidak ada.
"Ayah mau?" tawar Sela menyodorkan sendok ke Kenzo.
Kenzo menggeleng. "Sela makan yang cukup, ya. Ayah udah kenyang. Perut Ayah nggak besar kayak kamu," ucap Kenzo menjahili anaknya itu.
"Bagaimana anaknya, biasanya ketulunan olang tuanya," ucap Sela menjawab telak perkataan Kenzo.
"Jawab terus emang, heran," gumam Kenzo.
"Aaarrggghhh," sendawa Sela tak tertahan kala nasi goreng itu telah habis tertelan di mulutnya.
"Perempuan kok jorok," ucap Kenzo mengambil piring tersebut dan meletakkan di wastafel.
"Hehe, kelepasan Ayah," ucap Sela.
"Sudah kenyang?" tanya Kenzo.
Sela mengangguk antusias. Lalu setelahnya, wajah anak itu menunduk dalam dengan jari tangan yang saling bertaut.
"Kenapa Nak?" tanya Kenzo.
"Sela mau nonton baleng Ayah," ucap Sela meminta dengan mata berkaca-kaca.
Kenzo mengangkat alisnya. Kenapa anak ini menangis hanya karena itu? Biasanya juga kayak singa. Batin Kenzo heran melihat anaknya malam ini yang bertingkah seperti bocah labil.
"Ayo nonton," ucap Kenzo menggendong Sela dan membawanya ke ruang keluarga. Karena jika menonton di kamar, dia takut akan mengganggu Zahra yang membutuhkan istirahat banyak.
Kenzo memeluk Sela sambil berbaring di sofa. Kenzo memutar video kartun kesukaan Zahra dari DVD. Karena di jam seperti ini, tidak akan tayangan untuk anak-anak. Tangan Kenzo mengusap rambut Sela yang lembut dan wangi.
"Kenapa anak Ayah manja begini? Biasanya juga buat kesal terus," ucap Kenzo.
Sela mendudukkan tubuhnya dan menatap Kenzo sendu. "Cebental lagi, adik akan lahil. Cela takut Ayah lupain Cela dan cayang cama adik," ucap anak itu dengan mata berkaca-kaca menatap anaknya.
"Ayah tidak mungkin seperti itu, Nak," ucap Kenzo kembali membawa tubuh anaknya yang kini bergetar karena menangis.
"Sela dengar Ayah. Berapapun adik Sela nanti, Sela tetap anak Ayah. Ayah dan Bunda akan tetap sayang sama Sela," ucap Kenzo meyakinkan anaknya.
"Apa Sela tidak senang Bunda hamil?" tanya Kenzo.
Sela menggeleng cepat. "Mana mungkin Cela tidak menyukai hal yang membuat Ayah dan Bunda cenang. Cela hanya takut, nanti Cela tidak dapat kacih cayang Ayah dan Buna lagi," ucap Sela menunduk takut.
"Tapi Cela cuka buat Ayah kecal," ucap anak itu lagi.
"Kekesalan yang Sela buat adalah kasih sayang Sela buat Ayah. Dan keributan kita, adalah bentuk kasih sayang, Nak. Setiap orang punya cara yang berbeda mengungkapkan kasih dan sayangnya," ucap Kenzo membujuk anaknya itu.
"Ayah janji?" tanya Sela mengacungkan jari kelingkingnya pada Kenzo.
"Janji, Nak," jawab Kenzo ikut menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sela.
Sela kembali memeluk Ayahnya. Meskipun mereka sering bertengkar perkara kecil, tapi kasih sayang diantara mereka sangat besar.
Kamu adalah perempuan kesayangan Ayah setelah Bunda. Kamu bidadari Ayah, Nak. Batin Kenzo mengusap lembut rambut Sela.
.....
"Kenzo dan Sela belum turun, Nak?" tanya Bu Sari. Saat ini Zahra dan Bu Sari sedang menyiapkan sarapan di dapur.
Zahra tersenyum. "Ibu liat ke sofa ruang keluarga," ucap Zahra yang langsung dituruti oleh Bu Sari.
"Kenapa mereka tidur disana?" tanya Bu Sari. Dapur dan ruang keluarga memang dekat hingga kita bisa dengan leluasa melihat ke ruang keluarga.
Zahra menggeleng. "Saat Zahra bangun dan turun ke dapur, Zahra sudah melihat Ayah dan anak itu tidur saling berpelukan, Bu. Zahra tidak ingin mengganggu tidur nyenyak mereka. Lagi pula ini hari libur, jadi biarkan saja," ucap Zahra tersenyum lembut.
Saat Zahra membuka mata dan bangun dari tidurnya, dia tidak mendapati anak dan suaminya di ranjang. Dia mencari kemana-mana dan tetap tidak menemukan mereka. Hingga saat turun untuk menuju dapur, senyum terbit di bibir Zahra melihat anak dan Ayah itu saling tidur berpelukkan di ruang keluarga. Sepertinya semalam anaknya kembali menguji kesabaran ayahnya.
"Kamu yang hamil, kenapa Sela yang bertingkah aneh, ya Nak?" tanya Bu Sari bingung.
"Mungkin ikatan batin Kakak dan adiknya, Bu. Sela juga tak mengerti," jawab Sela.
"Kamu jangan capek-capek. Ingat kandungan kamu, ya," ucap Bu Sari menasehati Zahra.
"Iya, Bu," jawab Zahra patuh.
.....
"Kalian kenapa tidur di sofa ruang keluarga?" tanya Zahra.
Saat ini, keluarga kecil itu sudah duduk bersama di meja makan. Pukul delapan mereka baru terbangun, hingga sekarang jam sembilan, Kenzo dan Sela baru sarapan. Sedangkan Zahra sudah sarapan tadi lagi bersama Bu Sari.
"Cela nonton baleng cama Ayah," jawab Sela.
"Tumben akur?" tanya Zahra curiga.
"Halus Akul dong Buna," jawab Sela semangat. Kekhawatiran anak itu benar-benar hilang saat ini dan membuat hatinya menghangat. Kenzo yang melihat itu tersenyum senang minat senyum anaknya.
Saat mereka asik dengan suasana hangat sarapan, seseorang datang bertamu ke rumah Kenzo.
"Selamat pagi," sapa orang itu riang dengan wajah cerianya.
"Aunty Kinzi!" teriak Sela senang melihat kedatangan Aunty kesayangannya itu.
"Hai ponakan Aunty yang sangat cantik. Apa kabar!" tanya Kinzi.
"Cehat banget, Aunty," jawab Sela semangat.
"Kamu kapan pulang, Kinzi?" tanya Kenzo.
"Semalam," jawab Kinzi singkat.
Kinzi berjalan mendekati Zahra dan saling mengecup pipi kiri dan kanan. "Apa kabar Kak?" tanya Zahra.
"Baik Zahra. Sangat baik," ucap Kinzi ruang.
"Kenzo," panggil Kinzi pada kembarannya itu.
"Kenapa?" tanya Kenzo.
"Aku mau bicara penting, berdua," ucap Kinzi.
"Tidak apa kan Zahra?" tanya Kinzi tak enak menatap istri kembarannya itu.
Zahra tersenyum. "Tentu boleh, Kak," jawab Zahra ramah.
"Ayo ke ruang kerjaku," ucap Kenzo dan langsung diikuti oleh Kinzi.
.....
"Ada apa, Kinzi?" tanya Kenzo. Kini kedua kembaran itu sudah berada di ruang kerja Kenzo.
"Aku ingin menikah, Kenzo," ucap Kinzi tiba-tiba yang menerbitkan senyum dibibir Kenzo. Akhirnya kembarannya itu kembali membuka hati.
"Dengan siapa?"
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏