
Halo teman-teman, setelah sekian purnama, melewati banyak musim, melampaui banyak hari dan Minggu, akhirnya aku update lagi. Maaf baru bisa update teman-teman, semoga kalian tetap suka dengan novel ini dan tidak bosan dengan ceritanya.
🌹HAPPY READING🌹
"Begitu juga aku, Mas. Aku melakukannya hanya karena suamiku. Aku tidak mau kamu sakit dan kelelahan karena itu. Aku nggak mau lihat kamu tidak tidur berhari-hari karena perusahaan. Aku hanya mau suamiku baik-baik saja, hiks," ucap Zahra menjelaskan maksud hatinya. Tubuh wanita itu terduduk lemas dilantai karena tidak kuat lagi menahan semuanya.
Kenzo memejamkan mata sejenak mendengar perkataan Zahra. Dia beristigfar dalam hati menetralkan emosinya. Dia tidak marah, hanya saja sedang terluka saat ini.
Kenzo bersimpuh dan memegang kedua pundak Zahra. "Bangun, Sayang," ucap Kenzo lembut.
Zahra mengangkat kepalanya. Kenzo dapat melihat air mata yang begitu deras membasahi pipi istrinya. "Maafkan, Zahra. Bukan maksud Zahra seperti itu. Zahra tidak mungkin melukai harga diri suami Zahra sendiri. Bukan itu maksud Zahra, hiks," ucap Zahra lirih.
Untuk beberapa menit, kedua pasang mata itu nampak saling memandang. Mata nan saling berair itu menunjukkan betapa dalam kesedihan yang mereka tahan karena semua ini. Betapa berat rindu yang selama ini mereka tahan karena keegoisan dan salah paham yang tidak segera diselesaikan.
"Maaf," ucap Kenzo akhirnya dengan kepala tertunduk.
Zahra menggeleng. "Maaf juga karena perbuatan Zahra yang membuat Mas tersinggung. Zahra minta maaf," ucapnya ikut menyesali semua yang terjadi.
Kenzo mengangkat kepalanya dan mengangguk. "Mulai sekarang dan seterusnya, bolehkah aku meminta satu hal, Sayang?" tanya Kenzo.
"Katakan, Mas," jawab Zahra yakin.
"Jangan pernah rahasiakan apapun lagi. Salahku memang, karena menyembunyikan identitas mu sendiri, dan aku minta maaf untuk itu. Mulai sekarang, seburuk dan untuk apapun, bisakah kita saling terbuka dan berbicara satu sama lainnya?" ucap Kenzo bertanya menatap Zahra lekat.
Zahra mengangguk yakin mengiyakan perkataan Kenzo. Tentu, tentu saja dia akan sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Bukankah itu yang dia minta dulu? Tapi rahasia kembali harus dibuat untuk saling menjaga satu sama lain. Tanpa mereka ketahui akibatnya akan fatal untuk hubungan mereka.
Kenzo membawa tubuh Zahra kedalam dekapannya. Kedua orang itu saling berpelukan erat melepas rindu.
"Ayo bangun, Sayang," ucap Kenzo setelah melepas pelukannya dan menuntun Zahra untuk kembali berdiri.
"Jangan jadikan calon anak kita pancingan lagi ya, Sayang. Percayalah, kamu segalanya dan yang paling utama. Dan maaf, jika tadi aku sempat mengabaikan mu," ucap Kenzo menyesal.
Zahra tersenyum dan menuntun tangan Kenzo untuk menyentuh perutnya. "Dia baik-baik saja, Mas. Dia selalu menyemangati bundanya untuk membujuk Ayahnya yang sedang ngambek ini," ucap Zahra gemas melihat wajah Kenzo saat ini.
Kenzo membungkukkan badannya mengecup pelan perut Zahra. "Maafkan Ayah ya, Nak. Cup," ucap Kenzo dan kembali mencium perut Zahra lagi.
"Selamat ulang tahun, Ayah," ucap Zahra menyelamati Kenzo. Harusnya ucapan itu dia katakan tengah malam tadi, tapi berhubung suami tercintanya itu sedikit murung, jadilah dia mengucapkan tengah hari begini.
Kenzo tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan Zahra. "Apa malam ini aku akan mendapat hadiah yang sangat spesial?" tanya Kenzo menatap jahil Zahra. Kedua tangannya kini sudah melingkar sempurna di perut Zahra mengikis jarak antara mereka berdua.
Bukannya takut, Zahra malam dengan berani membalas rangkulan tangan Kenzo. Kedua tangan Zahra melilit dileher Kenzo seolah menantang lelaki itu. "Siapa takut," ucapnya memainkan alisnya naik turun.
Zahra dengan sigap membalas perbuatan Kenzo. Dia menikmati setiap perlakuan suaminya itu. Helaian rambut Kenzo masuk ke celah jari-jari Zahra, karena tangan wanita itu yang mengusap lembut leher dan rambut Kenzo menyalurkan kenikmatan peraduan dua benda kenyal itu.
Kenzo melepaskan pertemuan bibir mereka saat merasakan Zahra mulai kehabisan oksigennya. Kenzo tersenyum melihat wajah Zahra yang memerah dengan nafas yang tak beraturan. Bahkan, dahi wanita itu sudah dibasahi oleh sedikit keringat yang mengalir dari balik hijabnya.
"Nanti kita lanjut di rumah, ya. Tidak baik berbuat mesum dirumah sakit," ucap Kenzo jahil yang langsung mendapat pukulan dari Zahra.
"Mulutnya nggak disaring banget," ucap Zahra malu mendengar ucapan suaminya itu. Meskipun mereka hanya berdua, tapi tetap saja dia malu mendengarnya.
Kenzo hanya terkekeh kecil dan kembali memeluk istrinya itu. "Aku bahagia sekarang, Sayang," ucap Kenzo.
"Dan aku lebih bahagia, Mas," jawab Zahra membalas pelukan Kenzo.
"Kalau udah baikan kini, anaknya dilupain," ucap seorang gadis kecil yang sudah berdiri dengan bersedekap dada, bersama dengan Bu Sari disebelahnya.
Zahra reflek segera melepaskan pelukannya dan menatap Sela yang berdiri dengan wajah kesalnya. Sedangkan Kenzo hanya acuh, bahkan tangan lelaki itu tetap melingkar di pinggang Zahra. Sikap jahil dan menyebalkanya kembali untuk melawan mulut pedas anaknya itu.
" Sela, Ibu, sejak kapan kalian datang?" tanya Zahra khawatir sambil mencoba melepaskan tangan Kenzo dari pinggangnya.
Bu Sari tersenyum. Dia ikut bahagia melihat Zahra dan Kenzo sudah berbaikan lagi. "Baru saja, Nak. Sela memaksa untuk melihat Ayah dan Bundanya," jawab Bu Sari.
Sela, gadis kecil itu ikut mengangguk. "Cela takut teljadui pelang dunia nanti antala Ayah dan Buna. Coalnya lama banget, makanya Cela macuk," ucap anak itu menambahkan jawaban Bu Sari.
Mata Sela menelisik setiap sudut kamar inap itu. Pandangan berbinarnya terhenti ketika melihat kue ulang tahun yang masih utuh. "Ayo potong kue, Buna," ucapnya heboh dan langsung menyeret Zahra untuk mendekat ke kue ulang tahun itu.
Dengan wajah yang sangat kesal, Kenzo terpaksa melepaskan tangannya dari pinggang Zahra. Gadis kecil itu benar-benar selalu menguji kesabarannya. "Mengganggu saja," gerutu Kenzo.
Bu Sari yang mendengar itu hanya tertawa pelan. Sedangkan Zahra hanya bisa geleng kepala. Jika sedang ngambek, Kenzo sangat menakutkan dan dingin melebihi es batu. Jika sedang mood baik begini, maka sikap tengil dan tingkah jahilnya akan selalu meladeni tingkah usil Sela.
......................
Ribuan maaf author ucapkan pada pembaca setia semuanya karena baru bisa update. Semoga kalian tetap suka dengan tulisan dan karya aku, ya.
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏