
🌹HAPPY READING🌹
"Aku akan pulang terlambat. Jadi tidak usah menungguku," ucap Kenzo mengambil tas kerjanya.
Saat akan melangkah keluar kamar, Kenzo menghentikan langkahnya dan berbalik.
Kenzo membungkuk di depan Zahra dan mencium perutnya. "Ayah pergi dulu, ya. Doakan Ayah," ucap Kenzo dan langsung pergi begitu saja tanpa memandang Zahra sama sekali.
Zahra yang melihat sikap Kenzo diam mematung. Bahkan Kenzo melupakan kebiasaanya untuk mengecup seluruh wajahnya sebelum bekerja. "Aku salah apa?" ucap Zahra sendu dengan mata yang berkaca-kaca.
Zahra menengadahkan kepalanya menghalau air mata yang akan jatuh ke pipinya. Bawaan hamilnya membuat dia menjadi lebih cengeng dengan mood yang berubah-ubah.
Tidak ingin larut dengan kesedihannya, Zahra turun ke bawah menyusul Kenzo untuk sarapan bersama.
Saat sampai di anak tangga terakhir, Zahra melihat Kenzo yang keluar rumah tanpa melakukan sarapannya. Tanpa ingat keadaan hamilnya, Zahra berlari mengejar Kenzo.
"Mas," panggil Zahra. Namun terlambat, Kenzo sudah lebih dulu masuk mobil dan pergi meninggalkan pekarangan rumahnya.
"Bunda jangan lali-lali!" teriak Sela dari arah meja makan.
Zahra kalut, dia tidak menghiraukan sama sekali peringat anaknya. Air matanya tiba-tiba jatuh tanpa bisa dicegah. "Kamu kenapa?" monolog Zahra dengan.bahu bergetar. Sakit dan sesak sekali rasanya ketika sang suami kembali bersikap dingin seperti dulu saat mereka pertama kali menikah.
"Nak," sentuhan lembut di bahu Zahra membuat Zahra segera menghapus air matanya dan berbalik. Zahra mencoba tersenyum menatap Bu Sari yang menatap sendu kepadanya.
"Zahra baik-baik aja, Bu," ucap Zahra. Zahra sangat tidak suka melihat pandangan sendu dari orang-orang terdekat.
"Ayo kita sarapan, Nak," ajak Bu Sari. Bu Sari sengaja tidak bertanya untuk saat ini. Dia tahu, Zahra pasti.butuh waktu untuk menceritakannya. Lagi pula, itu adalah urusan suami istri, Bu Sari hanya berharap apapun yang terjadi, mereka dapat menyelesaikan dengan baik.
.....
"Bunda kenapa?" tanya Sela pada Zahra yang baru saja sampai di meja makan.
Zahra tersenyum dan menggeleng. "Tadi Ayah sarapan, Sayang?" tanya Zahra. Meskipun dia tahu suaminya tidak menyentuh sarapan sedikitpun, tapi dia harus tetap bertanya pada anaknya untuk mengalihkan pandangan Sela dari matanya.
Sela menggeleng. "Ayah cuma minum kopi tadi yang dibuatkan nenek Buna. Abis itu pergi," jawab Sela memberitahu.
Zahra hanya mengangguk. "Sekarang Sela makan, ya. Nanti biar Bunda antar sekolah," ucap Zahra mendudukkan dirinya di kursi makan.
"Bial Cela cama Nenek aja, Buna. Kacian Buna nanti capek, kalau Buna capek, dedeknya pasti lemes juga," ucap Sela.
"Iya, Nak. Biar Ibu yang antar Sela sekolah. Kamu hatus banyak istirahat, ya," ucap Bu Sari setuju dengan perkataan Sela.
Zahra berpikir sebentar, tapi tidak lama dia mengangguk mengiyakan perkataan Bu Sari dan Sela. "Zahra titip Sela ya, Bu. Maaf merepotkan Ibu," ucap Zahra tidak enak.
"Sudah kewajiban ibu menemani cucu Ibu," ucap Bu Sari mengusap lembut kepala Sela yang duduk di sampingnya.
Sela mencium berkali-kali perut Bundanya. Anak itu tampak tak rela pergi sekolah. "Sudah, Sayang. Nanti Sela bisa terlambat kalau cium perut Bunda terus," ucap Zahra.
Kini mereka bertiga berdiri di teras rumah. Zahra mengantar Sela ke depan untuk pergi sekolah bersama Bu Sari.
"Buna jangan capek-capek, ya. Jangan bandel ya, Buna. Ingat! Ada Adek Cela dicini," ucap anak itu menasehati Bundanya layak orang dewasa.
"Siap Princess," jawab Zahra lembut.
"Adek baik-baik di dalam, ya. Jangan nakal, nanti kakak masukin batu es bial kamu kedinginan baru tahu raca. Kakak halus cekolah dulu, ya. Bye-bye, assalamu'alaikum," ucap Sela.
"Waalaikumsalam," jawab Zahra.
Setelah melihat mobil pergi, Zahra kembali memasuki rumah. Kakinya melangkah ke arah dapur untuk mengambil kotak bekal. Setelah itu, Zahra membawa kotak bekal ke meja makan dan memasukkan sarapan ke dalam kotak tersebut. Ada nasi goreng lengkap dengan teman-temannya, sandwich bentuk love buatannya dan juga beberapa cemilan ringan.
"Selesai," ucap Zahra senang. Pagi ini dia akan mengantar sarapan untuk Kenzo. Tidak tahu dimakan atau tidak, tapi Zahra harus mengantarnya. Dia tidak mau suaminya itu sakit karena terlalu memikirkan pekerjaan.
Setelah menyiapkan semuanya, Zahra kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya yang lebih tertutup.
.....
Zahra memandang keluar jendela mobil. Melihat banyaknya mobil yang berlalu lalang entah kemana. Saat asik dengan penglihatannya, tiba-tiba perut Zahra terasa sedikit keram. "Aws," ringis Zahra menahan sakit diperutnya.
"Kenapa, Nyonya?" tanya Sopir yang tak sengaja mendengar rintihan Zahra.
Zahra mencoba tersenyum dan menggeleng. "Tidak apa-apa, perut Zahra hanya terasa sedikit keram," jawab Zahra.
"Perlu kita ke rumah sakit, Nyonya?" tanya Sopir lagi khawatir. Karena jika Tuannya tahu Zahra dalam keadaan sakit seperti ini, maka dia akan terkena amukan Kenzo.
Zahra menggeleng. "Tidak usah, Pak. Ini sudah biasa, nanti pasti hilang. Lanjutkan saja ke kantor Mas Kenzo, Pak," ucap Zahra pelan.
"Nyonya yakin?"
Zahra mengangguk yakin. "Iya Pak," jawab Zahra.
Tangan Zahra terus memegangi perutnya yang masih terasa keram. Kenapa kehamilan sekarang sering keram begini, ya? Semoga baik-baik saja. Batin Zahra berharap yang terbaik untuk kandungannya.
Sepuluh menit, mobil memasuki area kantor Kenzo. Kantor tinggi menjulang itu memiliki taman luas di halamannya, sehingga nampak sejuk dan mobil terparkir dengan sangat rapi sesuai tempatnya.
"Terimakasih, ya Pak," ucap Zahra sambil membuka pintu mobil.
"Sama-sama Nyonya. Saya akan menunggu di parkiran khusus," ucap Sopir tersebut yang dianggukki oleh Zahra.
Zahra melangkahkan kakinya memasuki kantor Kenzo. Sapaan dan senyum ramah para pegawai menyambut kedatangan Zahra. Karyawan Kenzo benar-benar menghormati Zahra, sama seperti mereka menghormati Kenzo. Itu semua karena sikap ramah yang ditunjukan oleh Zahra, sehingga mereka senang melihat kehadiran wanita itu.
Ting.
Lift berbunyi menandakan Zahra sampai di lantai khusus ruangan suaminya. Dengan langkah pasti, wanita itu melangkah sambil menjinjing bekal yang tadi sudah dia bawa dari rumah.
"Selamat datang, Nyonya. Selamat pagi," ucap Arman sopan melihat kedatangan Zahra.
"Selamat pagi, Asisten Arman. Mas Kenzo ada didalam kan?" tanya Zahra memastikan.
Arman terdiam sejenak, tapi setelah itu dia mengangguk ragu pada Zahra.
"Kenapa Asisten Arman?" tanya Zahra melihat gelagat aneh Arman.
"Em, Saya akan bertanya dulu pada Tuan apa dia bisa menerima tamu atau tidak, Nyonya," jawab Arman yang membuat Zahra terkejut.
"Apakah seorang istri ini juga termasuk tamu?" tanya Zahra.
"Bu-bukan begitu, Nyonya. Hanya saj-" perkataan Arman terpotong begitu Zahra langsung mendorong pintu ruangan Kenzo dan masuk tanpa permisi.
DEG
Jantung Zahra berdetak kencang melihat pemandangan di depannya. "Mas Kenzo!"
......................
Kenzo kenapa ya? Dia ngapain ya?? Jangan lupa terus ikuti kisahnya ga 🤗
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏