Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 57



🌹HAPPY READING🌹


Tidak ingin penasaran, Zahra berdiri dan keluar dari kamar Sela. Tapi sebelum keluar, Zahra memandangi Sela yang sudah dalam posisi sujudnya. Setelah itu dia berjalan menuju pintu dan segera membukanya.


"Waalaikumsa-"


DEG


Mata bulat Zahra bertemu dengan mata seorang lelaki yang sudah lama dia rindukan. Lelaki yang merupakan Ayah dari anaknya.


"K-Kak Ken," gumam Zahra pelan dengan segala keterkejutannya.


"Zahra," panggil Kenzo senang. Senyum tercetak di bibir seksi Kenzo. Mata dua insan yang berbeda jenis itu sudah berkaca-kaca.


Beberapa menit mereka saling berpandangan, hingga Zahra mengakhiri tatapan mereka. Pandangan Zahra teralihkan pada seorang wanita yang sudah tidak lagi muda, namun masih terlihat sangat cantik. Dengan senyum manis dan pipi yang sudah basa karena air bening yang mengalir dari matanya, Dee berdiri di sebelah Kenzo.


"Anak Umi," ucap Dee dengan suara bergetar.


Indah, indah sekali. Suara yang sudah sangat lama Zahra rindukan. Suara yang sudah lama sekali tidak melantukan kata-kata indah untuk nasehat dalam hidupnya.


Zahra memandangi wajah Dee yang nampak sedikit berkerut, namun kecantikan wanita itu tak pudar sama sekali. Aura seorang wanita bijaksana sangat terpancar dari wajahnya.


Umi. Batin Zahra menangis memanggil sambil memandangi Dee yang masih terus menatapnya.


"Maaf."


BRAK.


Setelah mengucapkan itu, Zahra menutup rapat pintu rumahnya. Entah ini salah satu tidak, Zahra hanya terlalu takut akan masa lalunya. Ketakutan yang sama sekali tidak beralasan.


Dee yang melihat itu memegang dadanya yang terasa sakit sekali. Ini bukan Zahranya. Anak yang dia sayangi tidak mungkin seperti ini. Anak yang dirindukan tidak mungkin bersikap seperti ini.


Kenzo yang melihat itu semua hanya bisa mematung tidak percaya.


Penolakan. Itulah yang diterima Kenzo pada akhirnya. Apa yang dia takutkan akhirnya terjadi. Wanita yang selama dia rindukan menolak kehadirannya. Bahkan menolak Dee yang merupakan Ibu yang sangat Zahra sayangi.


Kenzo menoleh melihat Dee yang berdiri mematung dengan dagu bergetar dan air bening yang tak henti keluar dari matanya.


"Umi," panggil Kenzo menyentuh bahu Dee yang bergetar.


Dee menoleh. "Anak Umi tidak seperti itu, Ken," ucap Dee bergetar.


"Anak Umi tidak seperti ini," ulang Dee dengan kepala menggeleng kuat.


.....


Sedangkan di balik pintu, Zahra hanya bisa menangis bersimpuh di lantai. Ingin sekali dia memeluk wanita itu, tapi lagi-lagi ego untuk ingin bahagia itu menguasai hatinya.


Zahra memegang dadanya yang terasa sangat sakit. "Ini sangat sesak, Umi, hiks," ucap Zahra memukul pelan dadanya tersebut.


"Maafkan Zahra, Umi. Maafkan Zahra," ucap Zahra berulang kali menyesali apa yang baru saja dia lakukan.


Tanpa Zahra sadari, Sela melihatnya dari pintu kamar anak itu. Sela berjalan mendekati Zahra dan berjongkok di depan Bundanya. "Bangun Buna," ucap Sela lembut mengulurkan tangannya.


Zahra mengangkat kepala dan menghapus air matanya. "Sela," gumam Zahra lembut menerima uluran tangan anaknya.


Sela membimbing Zahra untuk duduk di lantai. Karena dirumah mereka belum ada kursi untuk duduk di ruang tamu. Setelah memastikan Bundanya duduk, Sela kembali berjalan mendekati pintu.


Zahra yang melihat itu mencoba mencegah Sela. "Sela," ucap Zahra sambil menggeleng.


Sela berbalik badan dan menghadap Zahra. "Cetidaknya jangan cakiti Nenek Dee, Buna," ucap Sela dengan melanjutkan niatnya membuka pintu rumah.


Ceklek.


Dee dan Kenzo menoleh dan melihat sosok anak kecil yang berdiri di depan mereka dengan senyum mengembangnya.


"Waalaikumsalam," jawab Dee dan Kenzo bersamaan.


Dee mensejajarkan tubuhnya dengan Sela dengan kedua lutut sebagai tumpuannya. Tanpa aba-aba, Dee langsung memeluk Sela dan memberi kecupan bertubu-tubi di wajah anak itu.


Sela tersenyum senang mendapat segala perlakuan dari Dee. "Ayo masuk, Nenek, Ayah," ucap Sela dengan menahan segala perasaan mendesak yang ada di hatinya.


Dee dan Kenzo saling pandang. Dee mengangguk, dia berdiri dan mengikuti langkah Sela memasuki rumah kecil tersebut.


"Maaf ya Nenek, Ayah, lumah Cela cama Buna kecil, belum ada kulci juga," ucap Sela yang begitu membuat hati Dee, Kenzo dan Zahra terasa sangat sakit.


Kenzo menggeleng dengan mata berkaca-kaca mendengar penuturan anaknya. Sebesar ini penderitaan akibat dendam tak beralasan yang dia lakukan pada Zahra. Semuanya rusak karena dirinya sendiri. Kedua orang tua dan saudara kembarnya pun selalu meminta untuk membawa Zahra kembali. Tapi saat kini dia sudah bertemu dengan anak dan istrinya, penolakan dan keadaan yang tidak wajar yang dia dapatkan. Sungguh, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada ini bagi Kenzo.


Sela duduk disebelah Zahra dengan wajah polosnya. "Nenek cama Ayah mau minum apa? Bial Cela ambil di dapul," ucap Sela menawarkan minum kepada Dee dan Kenzo. Bukan tanpa alasan anak itu bersikap demikian, dia hanya ingin Bundanya bersikap biasa terhadap keluarganya sendiri.


Dee tersenyum dengan mata berkaca-kaca menatap cucunya. Meskipun bukan cucu kandung, sikap Sela mengingatkan Dee pada Al kecil dulu. Dewasa dan sangat perhatian.


"Air putih saja ya, Nak," ucap Dee.


Sela mengangguk. Sedangkan Zahra hanya diam sejak tadi dengan jari tangan saling memilin.


Sela bangun dan pergi ke dapur. Sampai di balik tembok yang menghubungi ruang tamu dan dapur, Sela mengintip sebentar. Anak itu menghapus air mata yang jatuh begitu saja di pipinya. "Cela hanya ingin belkumpul belcama kelualga Cela," gumam anak itu menatap Dee, Kenzo dan Zahra sendu. Setelah itu dia berbalik dan mengambil empat gelas kecil yang ada di rak bawah tempat kompor. Sela juga mengeluarkan cangkir plastik ukuran kecil yang sudah berisi air dan meletakkannya di nampan.


.....


Sedangkan di ruang tamu, Dee tak hentinya memandangi Zahra yang sedari tadi menunduk. Tangannya Zahra tak henti terangkat untuk menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Kenzo yang juga melihat itu hanya bisa memejamkan mata sebentar menenangkan kegundahan hatinya. Sakit sekali melihat wanita yang dia cintai seakan takut untuk bertemu dengannya.


Dee memegang tangan Zahra yang menghapus air matanya. "Apa ini Zahra, anak Umi?" tanya Dee dengan suara bergetar. Tangan lentiknya berpindah mengusap lembut pipi Zahra.


Zahra hanya diam dengan isakan yang semakin terdengar dari mulut mungilnya.


Tangan Dee berpindah pada dagu Zahra. Mengangkat sedikit dagu Zahra hingga kini wajah Zahra sejajar dengan Dee. Zahra menutup matanya menghindari tatapan mata Dee yang dapat membuatnya terluka.


"Apa Zahra benci Umi?" tanya Dee sendu.


Zahra hanya diam dengan mata terus terpejam. Meskipun terpejam, mata itu selalu mengeluarkan air bening yang terasa asin mengenai bibir Zahra.


"Apa Umi berdosa hingga Zahra menghindari Umi? Apa Umi adalah orang tua yang buruk hingga Zahra tidak mau menatap Umi? Apa Umi-"


"Hiks, hiks, Umi, hiks," ucapan Dee terputus kala Zahra langsung memeluk wanita itu.


Erat. Sangat erat sekali pelukan itu. Pelukan yang sudah sangat lama mereka rindukan. "Maafkan Ara, Umi, hiks," ucap Zahra dengan tangis yang tak dapat lagi dia bendung.


"Hiks, kenapa menghindari dari Umi, Nak?" tanya Dee ikut menangis memeluk Zahra.


Zahra menggeleng. "Zahra hanya tidak ingin kembali menjadi beban. Zahra ingin bahagia, Umi," ucap Zahra sendu dengan tangisnya sambil memandang Kenzo yang duduk di belakang Dee.


"Zahra hanya ingin menghindari kesakitan, Umi, hiks," lanjut Zahra semakin mengeratkan pelukannya pada Dee.


"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Nak," ucap Dee.


Kenzo yang mendengar semua perkataan Zahra, tidak bisa menahan emosi akan segala kebodohannya. Kenzo berdiri dan hendak pergi keluar, namun suara mungil menghentikan langkahnya.


"Jangan pergi, Ayah."


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍