Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 58



🌹HAPPY READING🌹


Kenzo yang mendengar semua perkataan Zahra, tidak bisa menahan emosi akan segala kebodohannya. Kenzo berdiri dan hendak pergi keluar, namun suara mungil menghentikan langkahnya.


"Jangan pelgi, Ayah."


Kenzo menoleh, dia melihat Sela yang menatapnya dengan pandangan sendu. Tangan anak itu masih memegang nampan berisi cangkir plastik dan gelas.


Sela meletakkan nampan di depan Dee dan Zahra. Setelah itu dia kembali berdiri dan berjalan mendekati Kenzo. Tangannya terulur memegang tangan Kenzo. Menahan agar pria itu tidak pergi dari sana.


Anak luar biasa lahir dari rahim kamu, Nak. Batin Dee yang melihat setiap pergerakkan Sela.


Zahra yang melihat itu melepaskan pelukannya dari Dee. Tangannya terangkat menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Ayah jangan pelgi," ucap Sela kepada Kenzo.


Kenzo memejamkan matanya sejenak mendengar nada memohon dari Sela. Menghela nafas berat, Kenzo berbalik dan mencoba tersenyum kepada Sela.


"Ayah harus pergi, Nak. Ada urusan lain yang harus Ayah selesaikan," ucap Kenzo lembut.


"Ulusan apa?" tanya Sela.


"Urusan pekerjaan," jawab Kenzo dengan senyumnya.


"Apa pekeljaan lebih penting dari cemua ini, Ayah?" tanya Sela menatap Kenzo dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf Sela, Ayah harus pergi," ucap Kenzo melepas paksa tangan Sela dari tangannya. Dia tidak sanggup melihat semua ini. Semua kesakitan ini terjadi karena dirinya. Bagaimana Zahra bisa memaafkannya jika dia saja sulit memaafkan dirinya sendiri. Apalagi jika nanti Sela tahu apa yang dia lakukan pada Bundanya. Mungkin Neraka kehidupan itu akan selalu Kenzo rasakan seumur hidupnya, dan itulah penyesalan.


"APA PEKELJAAN AYAH LEBIH PENTING DALI ANAK KANDUNG AYAH CENDILI?"


DEG


Zahra dan Kenzo mematung mendengar teriakan Zahra. Langkah Kenzo yang sudah sampai di ambang pintu terhenti begitu saja mendengar perkataan anaknya. Sedangkan Zahra memandang sendu anaknya yang harus mendapat perjalan hidup seperti ini.


Zahra menggenggam kuat tangan Dee mengeluarkan segala sesak di dadanya. "Sela," panggil Zahra tak percaya atas apa yang dia dengar.


Sela tak mengindahkan panggilan Zahra. Dia terus memandangi Kenzo dengan air yang sudah menganak sungai di pelupuk matanya.


"Apa benal Cela tidak belhalga hingga Ayah pelgi meninggalkan Cela lagi?" tanya Sela lirih.


Dee dan Zahra yang mendengar semua itu menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Sudah Sela," ucap Zahra sudah tidak sanggup mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Sela.


"Apa Buna tidak ingin Ayah disini?" ucap Sela berbalik tanya pada Zahra.


Zahra menggeleng kuat. "Bukan begitu, Nak," ucap Zahra menangis.


Sela berjalan maju menggenggam tangan Kenzo. Dia menarik Kenzo untuk mendekati Dee dan Zahra.


"Lalu bagaimana, Buna?" tanya Sela lirih saat tepat berada di depan Zahra.


"Sela," ucap Dee berusaha menahan anak kecil itu. Anak itu terlalu kecil untuk mengetahui semuanya sekarang.


"Sela boleh masuk kamar dulu, yuk, sama Nenek," ucap Dee berusaha menggapai tangan Sela.


Sela mengelak. Anak itu menatap Bundanya dengan tangis yang sudah tak tertahan. "Buna, apa pelmintaan Cela telalu mahal?" tanya Sela menatap Zahra.


"Bukan, Nak," ucap Zahra menangis.


"Pelmintaan Cela tidak mengelualkan uang banyak kan, Buna?" tanya Sela lagi.


"Kenapa Ayah tidak boleh dicini? Kenapa juga Cela tidak boleh beltemu Ayah, Buna? Apa Cela membawa kebulukan?" sambungnya dengan tangis yang terdengar begitu pilu.


"Bukan begitu, Nak. Terlalu kecil bagi Sela mengetahui semuanya," ucap Zahra.


"Mengapa jadi olang dewaca melepotkan, Buna? Padahal itu hal yang kecil. Kenapa cemuanya di pikilkan jika itu membuat kita bahagia?" tanya Sela yang tidak mendapat respon apa-apa dari orang dewasa yang ada disana.


Sela beralih menatap Kenzo. "Ayah," panggil Sela sendu.


"Apa kacih cayang Ayah mahal?" tanya Cela.


"Nak," ucap Kenzo tak dapat melanjutkan perkataanya.


Sela menghapus air matanya. Anak itu berlari ke kamarnya. Tidak lama, Sela keluar dengan sebuah celengan Ayam ditangannya. "Apa uang Cela ini cukup untuk mendapat kacih cayang Ayah?" tanya Sela menunjukkan celengan Ayam tersebut.


"Hiks, Sela," ucap Zahra menangis pilu mendegar perkataan anaknya.


Kenzo bersimpuh di depan anaknya dengan tangis yang sudah tak tertahan diwajahnya.


"Tidak cukup ya, Ayah?" tanya Sela sendu melihat Kenzo yang hanya diam. Dia sedih karena tabungannya tidak cukup untuk meminta Ayahnya kembali.


"Hiks, jangan bicara seperti itu lagi, Nak," ucap Kenzo memeluk erat Sela.


"Ayah sayang sama Sela, sayang sekali. Apapun pasti akan Ayah berikan untuk Sela," lanjut Kenzo lirih mengusap lembut rambut Sela.


"Hiks, Cela juga cayang Ayah," ucap Sela memeluk erat Kenzo.


Sela melepaskan pelukannya. Anak itu menatap Bundanya yang hanya menatap mereka. "Buna," ucap Sela sendu.


Zahra mengalihkan pandangannya. Dia tidak sanggup jika sudah berhadapan dengan keadaan seperti ini. Tidak pernah dia melihat anaknya sedewasa ini sebelumnya.


Melihat rekasi Bundanya, Sela beralih menatap Dee. "Nenek, bilang cama Buna kalau Cela mau Ayah dicini," ucap Sela sendu. "Cela tau kalau Ayah adalah Ayah kandung Sela. Foto di lumah Nenek membuktikan kalau Ayah adalah Ayah kandung Cela," ucap Sela memberitahu semua apa yang sudah dia ketahui.


Dee mengangguk. "Ayah akan tetap disini, Nak. Tapi biar Bunda bicara dulu dengan Ayah, ya," ucap Dee membujuk Sela.


"Umi," ucap Dee protes mendengar perkataan Dee.


"Selesaikan semuanya dengan baik-baik. Karena ada anak yang harus kalian perjuangkan kebahagiaanya," ucap Dee berdiri dan segera membawa Sela ke salah satu kamar yang ada di rumah Zahra.


.....


"Nenek," panggil Sela pelan. Saat ini Sela sedang duduk bersama Dee di kasurnya. Ternyata kamsrbyang dimasuki Dee tadi adalah kamar Sela sendiri.


"Iya Sayang," jawab Dee.


"Nenek cayang Cela cepelti Nenek cayang Caca, kan?" tanya Sela sendu.


"Kenapa bertanya seperti itu, Sela?" tanya Dee lembut.


Sela menggeleng. "Cela hanya ingin tahu, Nek," ucapnya lembut.


"Sela dan Shasa sama-sama cucu Nenek. Jadi, Nenek, Kakek dan yang lainnya pasti sayang dengan Sela.


"Kalau Cayang, kenapa Cela dan Bunda dibuang?" tanya Sela menatap Dee dengan mata berkaca-kaca.


Air mata Dee jatuh begitu saja mendengar perkataan Sela. Kepalanya menggeleng kuat, tidak membenarkan apa yang dikatakan Dee. "Bukan begitu, Nak," ucap Dee dengan suara gemetar.


"Jika bukan, kenapa Cela cama Buna tidak hidup belsama Ayah, Nek? Kenapa Buna malah tinggal belcama Nenek Cali?" ucap Sela menyebut Bu Sari.


"Ada sesuatu yang belum saatnya Sela ketahui, Nak," ucap Dee memberi perhatian kepada Sela.


"Cecuatu apa, Nenek? Cela dan Buna hidup cucah. Buna cetiap malam halus buat donat untuk di walung. Buna tidul pasti malam telus. Cela cama Buna juga hanya tinggal di lumah kecil begini. Belbeda dengan Nenek dan Ayah. Apa Cela cama Buna menjijikkan?" tanya Sela dengan air mata berurai di pipinya menatap Dee.


"Bukan Sayang, bukan begitu," ucap Dee memeluk Sela. Sungguh, jika saja sudah dewasa untuk mengetahui semuanya, maka Dee sudah menceritakan semuanya saat ini juga.


Dee mengusap lembut punggung Sela. Terkadang ada sebuah kejujuran yang akan memperburuk keadaan yang ada Nak. Jika kamu mengetahui semuanya, Nenek takut kamu akan ikut membenci Ayah kamu, Nak. Batin Dee membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi jika Sela tahu semuanya. Anak ini bukan anak kecil lagi. Dia bahkan lebih dewasa dari kedua orang tuanya sendiri yang tidak bisa mengendalikan egonya.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍