Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 219



🌹HAPPY READING🌹


"Kalau berdoa jangan marah-marah ya, Ayah. Tetap meminta dengan sopan agar Allah tak ikut marah," ucap Sela.


Kenzo tersenyum dan mengangguk. Anaknya itu selalu ingat dengan apa saja yang diajarkan oleh Zahra kepadanya.


Sela pergi meninggalkan Kenzo yang berdiri memandangi musholla. Dengan gontai, kakinya melangkah memasuki musholla itu dan berjalan menuju tempat wudhu laki-laki. Berdoa adalah hal yang harus dia lakukan saat ini.


Selesai dengan kegiatan berwudhu, Kenzo melangkahkan kaki memasuki musholla. Keadaan lelaki itu nampak sangat acak-acakan sekarang ini. Celana Levis selutut dengan kaos oblong dan rambut yang sudah tak karuan.


Kenzo mengangkat tangan sambil mengucap takbir. Dagu lelaki itu nampak bergetar saat mengucapkan bacaan dalam sholatnya. Hatinya berusaha untuk terus menyelesaikan sholat dalam tangis yang siap membanjiri dirinya saat ini.


Kenzo menahan diri pada saat sujud terakhirnya. Lelaki itu menumpahkan tangis yang sejak tadi dia tahan. Bahu lelaki itu bergetar dengan hebatnya. Dengan sekuat tenaga dia menahan suara tangis dalam sholatnya.


Setelah beberapa lama, Kenzo bangun dari sujud nya dan segera menyelesaikan kewajibannya.


"Assalamu'alaikum warahmatullaah," ucap Kenzo lirih menolehkan kepalanya ke arah kanan dan mengulanginya lagi ke sebelah kiri. Menandakan bahwa lelaki itu telah menyelesaikan semua rukun sholatnya.


Kenzo mengusap wajahnya yang basah dengan kedua telapak tangannya. Setelah itu menampung tangan memohon kepada sang pencipta untuk keselamatan anak dan istrinya.


Ya Allah, tidak banyak yang hamba minta. Berikan keselamatan untuk anak-anak dan istri hamba saja rasanya sudah sangat cukup, Ya Allah. Meskipun hamba bukan hamba yang taat akan perintah mu, hamba adalah makhluk mu yang penuh dosa, kabulkan doa hamba untuk istri hamba yang selalu menyembahmu layaknya seorang dewa. Demi anak-anak hamba yang selalu memujamu. Aku pasrahkan semua kehidupanku kepadamu, Ya Allah. Aamiin.


Kenzo menutup doa dengan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya. Setelah selesai, lelaki itu berbalik dan menatap seorang lelaki tua yang juga baru selesai sholat dibelakangnya.


"Apapun masalahmu, jangan pernah putus asa, Nak," ucap lelaki paruh baya itu kepada Kenzo.


"Apa Allah akan mengabulkan doa hamba yang penuh dosa ini, Pak?" tanya Kenzo sendu. Kenzo tidak tahu menahu siapa yang dia ajak bicara. Yang pasti dia butuh tempat untuk bertanya dan bercerita segala kesedihan itu.


"Allah tidak pernah pilih kasih dalam mengabulkan doa hambanya, Nak," jawab Bapak tersebut.


"Termasuk aku yang merupakan seorang pendosa?" tanya Kenzo.


Bapak itu mengangguk. "Tidak ada satu makhluk yang berhak menilai dirinya sebagai seorang pendosa, Nak. Termasuk kamu yang punya diri sekalipun," jawab Bapak itu.


Kenzo mengangguk menghapus air mata diwajahnya. "Nama Bapak siapa?" tanya Kenzo.


"Panggil Pak Jay saja, Nak," jawab Pak Jay menyebutkan nama panggilannya.


"Pak Jay dirumah sakit ada keperluan apa?" tanya Kenzo.


Pak Jay menghela nafas pelan. "Menunggu urusan administrasi istri saya, Nak," jawab Pak Jay mencoba tersenyum menatap Kenzo.


"Istri Bapak sudah sembuh berarti," ucap Kenzo ikut lega.


j mengangguk. "Dan insyaallah tidak akan sakit lagi, Nak," jawab Pak Jay sedikit sendu.


"Satu hal yang harus kamu ketahui, Nak. Setiap hal yang sudah ditentukan Allah, maka itulah yang akan terjadi. Awalnya mungkin memang buruk, tapi ada akhir yang menanti dengan kisah kebahagiaan yang tidak akan pernah kamu duga sebelumnya," lanjut Pak Jay memberi pikiran positif kepada Kenzo.


Kenzo mengangguk. Pak Jay tersenyum dan menepuk pelan bahu Kenzo. "Kalau begitu saya harus pergi dulu," ucap Pak Jay pamit.


Kenzo mengangguk. "Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Kenzo menghela nafas pelan sebentar. Setelahnya lelaki itu berdiri dan melangkahkan kaki keluar mushalla.


Dengan wajah yang terlihat lebih segar, Kenzo berjalan menuju keluarganya berkumpul. Saat kakinya sampai di lobi rumah sakit, dia mendengar suara ambulance rumah sakit terdengar saling bertautan. Terdapat dua ambulan disana. Dan dalam salah satu ambulan, Kenzo melihat lelaki paruh baya yang tadi berbicara dengannya di musholla duduk didalam ambulan itu.


"Pak Jay," gumam Kenzo kaget.


Bertepatan dengan itu, Pak Jay menoleh pada Kenzo dan tersenyum. Setelahnya, kedua ambulan pergi meninggalkan perkarangan rumah sakit.


"Maaf Suster. Ambulan itu bawa orang buat dipindah ke rumah sakit lain atau ,,,"


"Salah satu pasien meninggal, Pak," jawab Suster mengerti pertanyaan Kenzo.


Mata Kenzo membulat. Jadi, yang dimaksud tidak akan sakit lagi oleh Pak Jay adalah kembali pada pangkuan sang maha pencipta.


"Kasian Bapak itu. Tiga hari yang lalu anaknya meninggal, dan sekarang istrinya juga," sambung suster yang membuat Kenzo tertegun.


"Bagaimana anda tahu?" tanya Kenzo.


"Saya adalah suster yang merawat anak dan istrinya. Mereka meninggal karena penyakit yang sama, Pak. Kalau begitu saya permisi," ucap Suster pamit meninggalkan Kenzo yang termenung ditempatnya.


Innailaihi wainnailaihi rojiun. Batin Kenzo.


Kenzo merasa sangat tidak enak hati pada Pak Jay. Lelaki itu yang mengalami kesedihan teramat dalam masih bisa berpikir positif dan menerima dengan sangat ikhlas. Sedangkan dia, belum tentu apa yang akan terjadi tapi sudah memberikan pikiran buruk untuk dirinya sendiri.


Tidak ingin larut dalam pikirannya sendiri, Kenzo melanjutkan langkahnya.


Tadi saat dia ke musholla, Zahra sudah dibawa ke ruang operasi untuk segera ditangani. Dan saat kaki Kenzo sampai diujung lorong ruang operasi, dia melihat anaknya yang menangis histeris di pelukan Dee.


Kenzo memperhatikan sekitarnya, dia melihat Kina, Bella yang juga menangis di pelukan suami mereka.


"Pa, Ma," panggil Kenzo pelan.


Melani langsung melepaskan pelukannya pada Anggara dan beralih pada Kenzo.


"Ada apa, Ma?" tanya Kenzo dengan pikiran kalut.


"Ma, ada apa?" tanya Kenzo lagi saat tak mendapat jawaban dari Melani.


Sela yang melihat kedatangan Ayahnya langsung memeluk erat kaki lelaki itu.


"Ayah," panggilnya dengan suara bergetar karena menangis.


Kenzo bersimpuh untuk mensejajarkan dengan tinggi tubuh anaknya. "Kenapa Nak? Kenapa semua menangis?" tanya Kenzo.


"Hiks, Bunda Ayah," ucap anak itu memeluk erat sang Ayah.


"Umi," panggil Kenzo pada Dee yang berdiri disebelah mereka.


"Tadi, saat pertengahan waktu operasi, Zahra mengalami pendarahan hebat, Nak," ucap Dee mengatakan pada Kenzo.


"La-lalu?" tanya Kenzo dengan mata memerah dan tangan yang terus memeluk anak semata wayangnya itu.


Baru Dee akan membuka mulutnya. Pintu ruang operasi terbuka.


Kenzo yang melihat itu langsung berdiri dan reflek menggendong Sela.


"Bagaimana Dokter?" tanya Kenzo cepat.


"Doa kalian semua bekerja dengan sangat baik. Ibu Zahra bisa melewati pendarahan hebat yang dia alami," jawab Dokter setelah membuka maskernya.


"Tapi maaf, Pak. Hanya sang Ibu yang bisa kami selamatkan."


DEG


Jantung Kenzo berdetak kencang mendengar perkataan Dokter. Kenzo memejamkan mata dengan tangan memeluk Sela semakin erat dalam gendongannya.


Sela yang mendengar perkataan Dokter menatap Dokter itu sendu.


"Dokter masuk lagi aja ke dalam, adik-adik Sela lagi butuh Dokter sekarang, hiks," ucapnya mendorong pelan tubuh dokter itu.


Mereka semua yang mendengar itu tak kuasa menahan tangis.


"Ayah," panggil Sela pada Kenzo.


Kenzo menoleh dengan mata memerah. "Ayah, suruh dokter masuk lagi. Adik pasti sudah nggak sabar mau ketemu Sela sekarang. Ayo minta dokternya masuk lagi, Ayah. Lalu bawa adik kesini. Adik harus ayah azan dulu kan," ucap anak itu menangis menatap Ayahnya.


Kenzo hanya menggeleng dengan tangis tertahannya. Melani yang melihat itu beralih mengambil Sela dari gendongan Kenzo.


"Adik Sela nenek," ucap anak itu dengan tangisnya yang pecah dalam gendongan Melani.


"Sela yang sabar, ya. Sela harus jadi penguat untuk Ayah dan Bunda, Nak," ucap Melani.


Sela menggeleng. Anak itu meronta turun dari gendongan Melani dan beralih mendekati Dee.


"Nenek bilang, kalua kita sayang sama adik, adik pasti juga sayang sama kita kan Nek?" tanya Sela menatap Dee dari bawah yang hanya bisa dibalas anggukan oleh Dee.


"Sela sudah sayang sama adik, tapi kenapa adik nggak mau sayang sama Sela? Kenapa adik nggak mau ketemu Sela, Nek?" tanyanya lagi dengan dagu bergetar.


Dee tak sanggup menjawab hanya bisa menangis. Bella yang melihat itu beralih mendekati Sela.


"Sela kenapa bertanya seperti itu, Nak?" tanya Bella lem itu menghapus air mata di wajah anak itu.


"Sela sayang adik. Ayah juga sayang adik? Tapi kenapa mereka nggak mau ketemu kami, Mommy?" tanya Sela sendu.


"Apa Sela saudara yang jahat? Apa Abang Akbar lebih baik sehingga adik-adik memilih untuk ikut Abang Akbar daripada Sela? Apa Sela nakal, Mommy? Sela janji kalau adik selamat, Sela akan selalu mengalah dan jadi Kakak yang baik. Sela akan lakukan apapun untuk adik-adik. Tapi kenapa mereka lebih pilih Abang Akbar, Mommy hiks?" tangis anak itu mengeluarkan semua yang ada di hati dan pikirannya.


"Bukan begitu, Nak," ucap Bella berusaha untuk tidak menangis keras dihadapan Sela. Anak kecil ini butuh kekuatan, bukan tangis yang semakin membuatnya sedih dan kalut.


Kenzo yang mendengar perkataan Sela kembali mendekat kepada anak itu. Dia bersimpuh mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Sela dan memegang kedua bahu Sela.


"Nak," panggil Kenzo berusaha tenang.


"Adik bukannya nggak sayang sama Sela. Adik bukannya nggak suka sama Sela. Adik bukannya nggak mau main sama sela. Adik kembali pada Allah, karena mereka ingin menjadi jembatan untuk Ayah, Bunda dan kamu di surga nanti, Nak. Mereka bersama Abang Akbar mau menunggu kita di pintu surga, Sayang. Mereka akan menjadi malaikat kita di surga nanti. Mereka ingin kamu menjadi bidadari mereka nanti di surga. Makanya mereka mempersiapkan semuanya bersama Abang Akbar disana," ucap Kenzo mencoba memberi pikiran baik untuk sang anak.


Sela hanya anak kecil yang bisa menangis. Meskipun tadi saat di musholla anak itu menjadi penasehat untuk sang Ayah, tapi sekarang dia hanya anak yang rapuh. Anak kecil yang harus dipaksa kuat untuk mendengar segala berita buruk ini.


"Allah sayang sama orang-orang baik, Ayah. Bunda baik, Ayah baik, kenapa Allah masih kasih kita kesedihan juga? Biasanya kalau orang sayang hanya kasih kita bahagia, tapi kenapa sekarang enggak, Ayah? Apa Allah marah sama Ayah dan Bunda karena Sela nakal? Makanya Allah ambil adik-adik?" tanya Anak itu dengan linglung.


Kenzo menggeleng. "Sela anak Ayah paling baik, Nak," jawab Kenzo membawa tubuh sang anak kedalam pelukannya.


"Sela anak ayah yang paling baik. Sela anak Ayah yang paling Ayah dan Bunda sayang," gumam Kenzo menenangkan sang anak yang terus meracau tak jelas.


Saat Kenzo menenangkan Sela, tepukan di bahunya membuat lelaki itu menoleh kebelakang.


"Kita urus anak-anak kamu, Ken," ucap Ibra yang sejak tadi diam.


Kenzo mengangguk. Dia melepaskan pelukannya pada Sela dan mengusap air mata anak itu. "Sela disini salam Nenek dan yang lain ya. Ayah ada urusan sebentar. Ayah harus segera bawa adik-adik ke tempat yang paling indah, ya," ucap Kenzo yang dianggukki oleh anak itu.


"Ayah," panggil Sela menahan tangan Kenzo yang hendak berjalan menjauhinya.


"Kenapa Nak?" tanya Kenzo.


"Kasih adik-adik rumah yang paling bagus ya, Ayah."


.....


Dengan tangannya sendiri, Kenzo menggendong dua bayi kembar berjenis kelamin laki-laki yang sudah tak bernyawa itu untuk dibawa ke peristirahatan terakhirnya.


Kini mereka masih berada di mobil. Kenzo menolak untuk menidurkan jenazah anak-anaknya di bed ambulan dan lebih memilih menggendong anak-anaknya sendiri.


Segagal ini aku jadi Ayah dan suami untuk anak dan istriku. Batin Kenzo sendu memandangi kedua anaknya yang sudah terbalut kain putih itu.


"Bukan kegagalan Lo, Ken. Ini semua ujian," ucap Al yang memang duduk disebelah Kenzo.


Sedangkan di depan ada Anggara yang membawa mobil dan Ibra yang duduk disebelahnya. Sedangkan Aska memang diminta untuk tetap dirumah sakit bersama yang lain.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Ken," ucap Ibra ikut menimpali.


"Tapi Kenzo adalah kepala keluarga yang gagal, Abi," jawab Kenzo sendu.


"Anak-anak di surga bukan sebuah kegagalan untuk orang tuanya, Ken. Melainkan sebuah keistimewaan," jawab Ibra.


"Harusnya kamu menjadikan mereka sebagai kekuatan kamu. Karena mereka bisa menjadi penyebab kamu melihat surga nantinya," sambung Ibra.


"Bagaimana Kenzo harus menjelaskan pada Zahra nanti, Abi?" tanya Kenzo sendu.


"Zahra bukan wanita yang berpikiran pendek. Dia pasti akan mengerti," ucap Ibra.


"Dan satu lagi, Ken. Keputusan kamu tepat untuk memilih. Jika Abi yang menjadi dirimu, maka Abi juga akan memilih istri Abi untuk diselamatkan. Itu adalah hal sulit yang harus kita pilih sebagai seorang suami dan sebagai seorang Ayah," ucap Ibra.


"Kita bisa menyampaikan semua ini dengan baik-baik pada Zahra, Kenzo," ucap Anggara ikut bersuara.


Kenzo hanya mengangguk meskipun hatinya berkata lain saat ini. Entah mengapa, hati kecilnya mengatakan akan terjadi hal buruk dalam hubungannya dengan Zahra kali ini. Semoga saja kamu mengerti, Sayang. Batin Kenzo dengan segala harapan dan doanya.


Kenzo kembali menatap sendu dua tubuh kecil yang ada di masing-masing gendongan tangannya.


"Padahal gue sangat berharap akan kehadiran mereka, Al," ucap Kenzo sendu pada Al.


"Setiap orang tua pasti mengharapkan kehadiran anaknya, Ken," jawab Al.


"Kenapa mereka harus hadir dalam keadaan tak bernyawa seperti ini?"


......................


Hai teman-teman, untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang sudah publish di aplikasi hijau dengan judul CINTA WANITA MUDA. Semoga kalian suka dan menikmati kisahnya.


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍