
🌹HAPPY READING🌹
Punya Ibu juga kamu. Saya kira, selain tidak punya Ayah, kamu juga tidak punya Ibu.
Perkataan Nita di sekolah Sela masih terngiang di kepala Zahra. Sungguh, hatinya sangat sakit mendengar anaknya diperlakukan dengan begitu hina oleh orang lain.
Zahra melepaskan tangan Kenzo yang melingkar di pinggangnya. Dengan perlahan wanita itu bangun dan berjalan keluar kamar.
Zahra berjalan menuju kamar Sela. Di sana, dia melihat Sela dan Shasa yang tidur saling berpelukan. Zahra senang, Sela dan Shasa dapat menjadi saudara sekaligus sahabat yang saling mengerti satu sama lainnya. Tidak ingin membangunkan Sela dan Shasa, Zahra kembali menutup pintu kamar dan berbalik untuk berjalan menuruni tangga. Tujuannya saat ini hanya satu, mengunjungi kamar lamanya yang penuh akan kenangan itu. Awal dari segalanya dimana Sela diciptakan.
Zahra berhenti tepat di depan pintu kamar tersebut. Tangannya dengan sedikit gemetar memegang handel pintu dan membukanya.
Ceklek.
Dengan perlahan, Zahra menggeser pintu dan melihat ruangan sempit itu.
Bola mata Zahra bergerak menatap setiap inci kamar yang nampak sangat berbeda saat ini. Nuansa warna ungu dan Lilac memenuhi kamar tersebut.
"Kamar ini benar-benar berbeda," gumam Zahra. Kakinya melangkah menuju kasur kecil yang ada disana. Dia tersenyum, ternyata kasur itu masih sama seperti kasur yang dia gunakan saat pertama kali memberikan hak Kenzo sebagai seorang suami.
"Hanya warna dan suasana bersihnya saja yang berbeda," ucap Zahra.
Zahra memejamkan mata begitu bayang-bayang tangisnya malam hari memenuhi kamar tersebut. Tangis pilu yang dia adukan pada dinding kamar agar menyampaikan pada Tuhan, Setiap doa yang dia ucapkan ke Bumi agar sampai ke langit masih tersimpan rapi di memori Zahra.
"Dikamar ini, aku selalu meminta ikhlas dan sabar. Tapi kenapa sekarang, aku tidak bisa iklhas orang mengatai anakku? Aku tidak terima," ucap Zahra dengan sendu.
Mata Zahra menatap lemari kecil yang ada disana. Dia berjalan dan membuka lemari tersebut saat sudah berada di depannya.
Kosong. Tidak ada apa-apa disana. Tapi, dahi Zahra mengernyit heran saat melihat sebuah spray yang terbungkus rapi dibagian paling bawah lemari.
Zahra berjongkok dan mengambil bungkusan tersebut.
"Spray apa ini?" tanya Zahra mencoba berfikir. Setahunya, dia sudah mengambil semua barang yang dia miliki agar Kenzo tidak jijik dengan peninggalannya.
Tapi ini? Zahra berusaha mengingat mengenai spray tersebut.
.....
Kenzo meraba kasur sebelah dengan tangannya. Merasa tidak menemukan apa yang ingin dia peluk, Kenzo membuka matanya.
"Sayang," panggil Kenzo ketika tidak melihat Zahra di kasur.
Kenzo bangun dan duduk sebentar mengucek matanya untuk mengumpulkan segala nyawa, agar bersatu dalam tubuhnya.
Setelah sepenuhnya sadar, Kenzo berdiri dan dan berjalan menuju kamar mandi.
"Sayang," panggil Kenzo lagi setelah sampai di depan pintu kamar mandi.
Merasa tidak ada jawaban, Kenzo membuka kamar mandi dan, Kosong. Tidak ada siapa-siapa di kamar mandi.
Kenzo kembali berjalan menuju walk in closet. Nihil, Zahra juga tidak ada disana.
Setelah itu, Kenzo memutuskan untuk turun kebawah menuju dapur. Pikirannya mengatakan pasti Zahra sedang mengambil minum karena haus. Dari tangga, Kenzo dapat melihat lampu dapur mati, itu menunjukan tidak ada siapa-siapa di dapur.
Kenzo memutuskan turun untuk memastikan sendiri. Namun, dianak tangga keempat terakhir, langkah kaki Kenzo terhenti ketika melihat pintu kamar kecil itu terbuka.
"Sayang," gumam Kenzo dengan perasaan tak menentu.
Dengan langkah cepat, Kenzo berjalan menuju kamar tersebut.
"Sayang," panggil Kenzo ketika melihat Zahra akan membuka bungkusan plastik di tangannya.
Zahra yang tadinya fokus berbalik begitu mendengar suara sang suami menyapanya.
"Mas bangun?" tanya Zahra.
Kenzo tidak menjawab. Dia berjalan cepat menuju Zahra dan mengambil bungkusan tersebut dari tangan Zahra. "Ayo ke kamar, Sayang," ucap Kenzo dan langsung menarik tangan Zahra.
"Zahra mau disini, Mas," ucap Zahra melepaskan pegangan tangan Kenzo.
Kenzo menggeleng. "Ini bukan apa-apa, Sayang. Ayok!" ajak Kenzo lagi.
Zahra dengan kekeuh menggeleng. "Mas sudah janji mau mengukir kebahagiaan dirumah ini sama Zahra, kan? Dan sekarang ayo kita mulai dari kamar ini dengan saling terbuka," ucap Zahra menatap dalam Kenzo.
Kenzo berjalan menuju pintu dan menutupnya. Dia tidak ingin nanti tiba-tiba ada keluarga yang terbangun dan melihat serta mendengar pembicaraan mereka. "Tapi tidak dengan kamar ini juga, Sayang," ucap Kenzo lembut setelah berbalik mendekat Zahra.
"Tapi bagi aku, kamar ini sangat berarti, Mas," jawab Zahra.
"Sayang, please!" ucap Kenzo memohon.
"Aku mau tahu bungkusan apa itu, Mas?" tanya Zahra lagi.
Kenzo pasrah. Daripada dia berbohong dan menyembunyikan semuanya, lebih baik saat ini Zahra menangis, dan setelah itu dia akan berjanji membuat Zahra melupakan semua kenangan pahit itu.
Kenzo duduk di kasur. Zahra yang berdiri di depan lemari hanya melihat apa yang akan Kenzo lakukan.
Tangan Kenzo dengan pelan membuka plastik tersebut. "Ini, Sayang," ucap Kenzo setelah mengeluarkan spray tersebut dari plastik.
Zahra mendekat dan melihat spray tersebut. "Ini ..."
Kenzo mengangguk. "Maaf, Sayang. Ini adalah spray yang membungkus kasur saat kita saling memberikan kewajiban dan memenuhi hak sebagai suami istri," ucap Kenzo lirih menatap sendu Zahra.
Zahra mengambil spray tersebut dan mengembangkannya. Ukuran spray singel yang tidak terlalu besar itu memudahkan apa yang akan Zahra lakukan.
"Apa ini tidak pernah dicuci, Mas?" tanya Zahra dengan mata berkaca-kaca melihat warna merah darah yang sudah mengering di bagian tengah spray tersebut.
Kenzo menggeleng menjawab pertanyaan Zahra. "Ini sudah hampir tujuh tahun. Dan ini sudah mengeluarkan bau tak sedap, Sayang. Kainnya juga pasti sudah lapuk. Ayo kita buang," ucap Kenzo melipat kasar spray tersebut dan membungkusnya asal. Dia tidak ingin hanya karena ini, Zahra akan kembali marah kepadanya.
"Mas, tidak Mas!" ucap Zahra menghentikan kegiatan Kenzo.
"Enggak sayang. Ini harus dibuang," ucap Kenzo tanpa mendengarkan Zahra.
"Mas!" panggil Zahra dengan sedikit membentak Kenzo agar laki-laki itu berhenti dengan kegiatannya.
Kenzo memandang sendu Zahra dengan mata berkaca-kaca. "Maaf," ucap Kenzo.
Zahra menggeleng. "Kenapa di buang, Mas? Bukankah selama ini kamu menyimpannya untuk kenangan kita?" tanya Zahra yang benar-benar diluar dugaan Kenzo.
"Kamu tidak marah, Sayang?" tanya Kenzo.
Zahra tersenyum. "Aku berterimakasih, karena kamu menyimpannya dengan sangat baik. Dan juga, merawat kamar ini dengan sangat baik juga, Mas," ucap Zahra menampilkan senyum harunya pada Kenzo.
"Sayang," ucap Kenzo tidak bisa melanjutkan kata-katanya setelah mendengar perkataan Zahra.
"Ayo kita mulai cinta kita disini, Mas," ucap Zahra menatap lekat Kenzo. Sekarang Zahra berani. Tidak ada salahnya, bukan? Seorang istri merayu suaminya sendiri. Itu tidak akan menunjukkan kita menjadi murahan, malah kita akan mendapat pahala berlipat ganda karena itu.
"Banyak tempat yang lebih layak, Sayang," ucap Kenzo.
"Ciptakan kebahagiaan untuk menghapus kenangan buruk dirumah ini, Mas. Dan aku mau, kita memulainya dari kamar ini," ucap Zahra tulus.
Kenzo mengangguk menjawab perkataan Zahra. Kenzo merapatkan tubuhnya kepada sang istri dan menatap teduh mata indah itu. Pandangan mereka saling terkunci menyalurkan perasan cinta dan kasih yang ada diantara mereka.
"I love you, Sayang."
"I love you too, Mas."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Kira-kira apa yang dilakukan Kenzo sama Zahra di kamar itu yaaaa???? Tunggu di next chapter ya teman-teman.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏