
🌹HAPPY READING🌹
"Pertahankan pernikahan kamu, Nak," ucap Dee mengusap lembut punggung Zahra.
Zahra berbalik, menatap Kenzo dan Tamara yang ada di panggung. Tanpa sengaja, Zahra menangkap pemandangan bahwa lampu besar yang tergantung tepat di atas kepala Kenzo bergoyang entah kenapa. Zahra melirik ke pilar besar. Di sana terdapat seperti tali rantai besi yang menjadi pengikat lampu hias besar tersebut. Penyambung di ujung tali nampak akan terlepas.
"KAK KEN," teriak Zahra yang melihat kampit tersebut bergoyang hendak jatuh.
Semua orang menatap Zahra. Zahra berlari ke depan dengan sekuat tenaganya. "LAMPUNYA," teriak Zahra memperingati Kenzo. Semua orang melihat ke atas dan melihat lampu besar itu bergoyang dan hendak jatuh.
Kenzo yang melihat itu segera mendorong Tamara menjauh dari dirinya.
HAP
Namun sebuah tubuh memeluk Kenzo dari belakangnya. Kenzo berbalik dan melihat Zahra memeluk erat dirinya.
BRAK
"AYAH."
"KENZO."
"PAPI."
Teriak mereka semua melihat Lampu tersebut menimpa tubuh Kenzo bagian belakang.
Saat melihat Zahra memeluknya dari belakang, Kenzo dengan sekuat tenaganya membalikkan posisi mereka. Hingga akhirnya Lampu itu terjatuh mengenai punggung Kenzo.
Niat Zahra yang mau menyelamatkan Kenzo sekarang malah berbalik. Semua tamu dan keluarga yang hadir mendekat melihat keadaan Kenzo dan Zahra. Zahra membuka matanya melihat Kenzo yang menghimpit tubuhnya. "K-Kak Ken," ucap Zahra lirih melihat mata sayu Kenzo menatapnya dengan tersenyum.
"Sayang," panggil Kenzo lemah. Zahra segera bangun memangku kepala Kenzo.
"Bantu bawa Kak Ken, Abi, Papa," ucap Zahra menatap Ibra dan Anggara.
Kenzo mengangkat tangannya memperingati Ibra dan Anggara yang hendak mengangkatnya. Seolah dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Ayah," panggil Sela dengan tangisnya yang sudah berjongkok di sebelah Zahra.
Kenzo melihat anaknya yang sudah menangis disebelah Zahra. "Ayah baik-baik saja, Nak," ucap Kenzo lemah.
Kenzo merasakan baju bagian belakangnya yang basah. Dia mengangkat tangan ke belakang. Sedikit sakit, tapi Kenzo tetap meraba punggungnya. Setelah itu, Kenzo melihat banyak darah di telapak tangannya. Dan mereka semua yang ada disana menyaksikan itu.
"Kak," panggil Zahra lirih.
"Pinjam tangan kamu, Sayang," ucap Kenzo lemah.
Zahra menggeleng. "Kita harus segera ke rumah sakit, Ayo," ucap Zahra yang akan membantu Kenzo bangun tanpa memperdulikan permintaan Kenzo.
Kenzo menggeleng. "Tangan kamu, Sayang," ucap Kenzo sekali lagi.
Dengan gemetar, Zahra memberikan tangannya pada Kenzo. Kenzo menerima tangan Zahra, menggenggam erat tangan yang sudah sedikit kasar tersebut. "Aku mau membasuh luka yang aku ciptakan dengan darahku sendiri, Sayang," ucap Kenzo sendu.
Zahra menggeleng. "Zahra sudah maafin Kak Ken. Zahra sudah maafin semuanya, kita ke rumah sakit, ya," ucap Zahra dengan tangisnya.
"Umi, bantu Zahra bujuk Kak Ken," ucap Zahra pada Dee yang sudah sangat khawatir di pelukan Ibra.
Dee yang melihat itu tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya masih syok dan khawatir terhadap apa yang terjadi.
"Sela, bujuk Ayah, ya Nak," ucap Zahra pada Sela.
"Ayah, ayo ke lumah cakit. Dalah Ayah banyak, hiks," ucap Sela membujuk Kenzo.
"Ayah baik-baik saja, A-Ayah kuat, Nak," ucap Kenzo.
Kenzo mengusap lembut tangan Zahra dengan tanganya yang berlumur darah. Setelah itu tangan Kenzo terangkat menyentuh pipi Zahra. Hingga noda merah itu mengenai sebagian wajahnya. "Darah dan sakit ini tidak sebanding dengan luka kamu, Sayang. Jika mungkin, maafkan lelaki bodoh ini, Sayang. I love you," ucap Kenzo sendu di sela kesadarannya.
"KAK KEN."
"AYAH."
Teriak Zahra dan Sela melihat Kenzo yang sudah tak sadarkan diri.
Al, dibantu Aska segera mengangkat Kenzo. Entahlah, padahal mereka semua bisa menggunakan ponsel untuk menelpon ambulance. Namu pikiran kalud membuat mereka lupa akan semuanya.
Anggara meminta maaf atas kekacauan yang terjadi kepada tamu undangan. Setelah itu semua keluarga pergi ke rumah sakit. Sedangkan tamu undangan di minta untuk pulang.
.....
"Abang, Suami Zahra pasti baik-baik saja, kan," ucap Zahra pada Al yang duduk di kursi kemudi.
Al diam, yang bisa lakukan hanya menyetir mobil secepat mungkin, namun tetap hati-hati. Sedangkan yang lainnya ada di mobil lain mengikuti dari belakang.
"Nenek," ucap Sela sendu menatap Dee. Sela berada di mobil Ibra dan Dee bersama Bella dan Adam.
"Iya, Nak," jawab Dee.
"Ayah Cela baik-baik saja kan, Nek. Ayah tidak apa-apa kan?" tanya Sela lirih dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.
"Sela berdoa, biar Ayah selalu baik-baik saja, ya," ucap Dee.
"Cela nggak mau jadi yatim lagi, Nek," ucap Sela menangis dan menenggelamkan kepalanya di dada Dee. Menumpahkan tangisnya yang terdengar begitu pilu.
.....
Tiga puluh menit, mobil mereka semua sampai di rumah sakit keluarga Hebi. Al segera turun dan memanggil perawat untuk membantu membawa Kenzo.
"Maaf, kalian semua silahkan tunggu diluar," ucap salah satu perawat.
"Selamat suami saya," ucap Zahra memohon. Gaun wanita itu sudah nampak basah karena noda darah Kenzo.
Sela yang melihat Bundanya menangis sangat tidak kita. "Daddy," ucap Sela sendu pada Al.
Al langsung mengangkat Sela ke gendongannya. "Apa ini akibat dari Cela belbohong sama Buna, Daddy. Apa ini akibat Cela nakal, Ayah halus cepelti ini. Apa ini kalna Cela, Daddy?" tanya Sela dengan isak tangisnya pada Al.
Al menggeleng. "Ini bukan salah Sela. Ini semua takdir, Nak," ucap Al.
"Buna," panggil Sela pada Zahra.
Sela meronta turun dari gendongan Al. Anak itu berjalan mendekati Bundanya yang duduk berjongkok di depan UGD.
Sela bersimpuh di depan Bundanya. Anak itu menangkup kedua tangan di dadanya. "Buna, maaf jika cudah belbohong cama Buna," ucap Sela menunduk tidak berani menatap Zahra.
"Berbohong apa, Nak?" tanya Zahra. Mereka semua yang ada disana hanya diam, membiarkan Sela berbicara dengan Bundanya.
"Cebenalnya peltunangan Ayah dan Mama Tamala itu bohongan, Buna. Itu cemua dilakukan bial Buna mau balik pada Ayah," ucap Sela menunduk.
DEG
Jantung Zahra rasanya ingin lepas dari tubuhnya. Tubuh Zahra serasa lemas mendengar perkataan Sela. Jadi semua ini karena dirinya sendiri? Semua terjadi karena keegoisannya.
"Maaf, Buna. Jangan malah, ya. Maafkan Cela cudah bohongin Buna. Cela dan Ayah hanya ingin kita hidup belcama, Buna. Tidak ada niat lain. Maafkan Cela ya, Buna, mungkin ini akibat Cela dan Ayah udah bohong cama Buna, maafkan Cela ya Buna, hiks," ucap Sela dengan tangisnya. Kedua tangan anak itu masih setia menangkup di dada memohon kepada Bundanya.
Zahra membawa Sela ke dalam pelukannya. Memeluk erat tubuh bergetar anaknya karena menangis. "Maafkan, Bunda, Nak," ucap Zahra lirih.
"Cela ndk mau jadi yatim lagi, Buna, hiks," ucap Sela menangis dalam pelukan Zahra.
Zahra mendongak menghalau air matanya. Hingga akhirnya pandanganya bertemu dengan Al yang menatap sendu pad Zahra. "Abang," panggil Zahra dengan nada bergetar.
Al berjongkok dan memeluk Adiknya itu. "Apa Ara egois, Abang? Ini akibat dari keegoisan Ara, ya, Abang," ucap Zahra sendu.
Al yang melihat itu memeluk Zahra dan Sela. Tidak sanggup dia melihat air mata kembali tumpah di wajah Zahra.
Al menatap Dee dan Ibra yang menatap sendu. Bahkan Dee hanya bisa menangis di pelukan Ibra. Wanita itu sejak tadi hanya diam, namun matanya terus mengeluarkan air mata.
"Sayang," panggil Ibra lembut.
Dee mendongak. "Mengapa perkataanku jadi kenyataan, Mas? Mengapa harus ada noda dulu dalam meminta kata maaf? Aku menyesal pernah mengatakannya," ucap Dee terisak pelan pada Ibra. Ibra membawa istrinya duduk. Dengan setia Ibra terus memeluk Dee.
"Aku masih jadi Ibu yang baik untuk anak-anak, kan Mas?" tanya Dee sendu menatap Ibra.
"Kamu selalu yang terbaik, Sayang."
......................
Semoga Kenzo baik-baik saja ya teman-teman. Biar Zahra dan Dee tidak merasa bersalah 🤗
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘