Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 93



🌹HAPPY READING🌹


Ibra mendongak menahan laju air matanya. Sungguh, rasanya tidak ada tenaga saat ini untuk melakukan apapun.


"Abi tidak tahu harus bagaimana," ucap Ibra lemah dalam pelukan Al.


BRUK.


"ABI."


"Mas."


"IB."


Mereka semua yang ada disana terkejut melihat tubuh Ibra yang ambruk dan jatuh pingsan. Beruntung Al memeluk Ibra, jika tidak, maka tubuh Ibra akan terbentur tiang besar yang digunakan untuk mengikat Sofia.


"Mas, Mas bangun, Mas," ucap Dee dengan suara bergetar membangunkan Ibra.


"Kita bawa Abi ke rumah sakit, Umi," ucap Al yang langsung dianggukki oleh Dee.


"Kamu bawa Abi. Aska, Thomas, bantu, Nak," ucap Dee pada Aska dan Thomas.


Thomas dan Aska membantu Al untuk mengangkat Ibra dan segera membawa tubuh lemah Ibra ke luar dari tempat tersebut.


Dee berbalik menatap Sofia dengan mata tajam. Tidak ada kelembutan saat Dee menatap Sofia. Yang ada hanya rasa benci dan marah yang bergejolak. Dee hanya manusia biasa yang punya emosi. Dee hanya manusia biasa yang bisa memiliki sakit hati kepada sesama manusia.


"Setelah ini, tidak akan ada kebahagiaan dan maaf untukmu, Sofia! Dan aku tidak akan mengizinkan Zahra, anakku untuk bertemu wanita terkutuk sepertimu!" ucap Dee tegas menatap nyalang pada Sofia.


Kevin yang masih ada disana terkesiap melihat Dee yang tidak seperti biasanya. Ini adalah sesuatu baru Dee yang baru Kevin ketahui. Terimakasih telah menyayangi Zahra, Dee. Batin Kevin senang mendengar perkataan Dee yang membela Zahra.


Setelah mengatakan itu, Dee berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut untuk menyusul Ibra.


Kini diruangan itu hanya tinggal Kevin, Sofia dan beberapa bodyguard.


"Kamu puas, Sofia?" tanya Kevin menatap Sofia sendu.


"Maaf," ucap Sofia menunduk tidak berani menatap wajah Kevin.


Kevin menggeleng. "Sudah tidak ada lagi maaf, Sofia. Sudah cukup rasanya segala maaf dan kesempatan untukmu. Sudah cukup rasanya aku mengorbankan hidupku untukmu, Sofia. Sudah cukup rasanya aku melihat hidup Zahra, tersiksa karena sikap biadab dirimu. Aku menahan semuanya, karena aku berharap kamu akan berubah dan menjadi lebih baik, Sofia. Tapi penyakit hatimu itu, sungguh membuatmu buta. Titik hitam itu telah memenuhi kebaikan hatimu hingga menjadi licik dan menjijikan seperti ini, Sofia," ucap Kevin mengeluarkan segala kekecewaannya pada Sofia. Wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya itu.


"Mas Kevin-"


"Diam, Sofia! Selama ini aku diam, dengan harapan segala perubahan baik pada dirimu. Aku diam, dengan harapan kamu benar-benar menyayangi Zahra. Aku diam, dengan harapan kebahagiaan Zahra akan tetap ada, meskipun hanya sedikit. Tapi saat ini, rasanya aku ingin mati saja, Sofia," ucap Kevin menatap Sofia sendu.


"Perempuan yang aku jamin keberadaanya menghancurkan keluargaku," lanjut Kevin lirih.


"Aku memang mencintaimu, Sofia. Tapi aku beruntung, cintaku belum membutakan hatiku. Dan sekarang, aku menyesal menempatkanmu sebagai pendamping hidupku, yang harusnya diisi oleh jodohku, Sofia. Aku akan menceraikan mu!" ucap Kevin dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut tanpa menoleh ketika suara Sofia terdengar nyaring memanggil-manggil namanya.


"Tolong jaga ketat wanita itu. Yang saat ini kalian jaga bukan manusia, tapi siluman," ucap Kevin pada salah satu bodyguard setelah dia sampai di luar.


Kevin memasuki mobilnya. Menghela nafas panjang sebelum benar-benar menjalankan mobilnya. "Ayah kembali, Zahra," gumam Kevin pelan mengingat anak yang sangat dia sayangi.


.....


Keadaan ruang rawat Kenzo saat ini dipenuhi oleh celoteh Sela yang bercerita banyak pada Kenzo. Kini diruangan itu hanya ada Zahra, Kenzo dan Sela. Zahra belum mengetahui apa-apa mengenai Sofia. Yang dia tahu, Bundanya masih berada di Turki bersama Kevin.


"Ayah, mau Cela kacih tahu cecuatu?" tanya Sela dengan nada berbisik. Anak itu berharap Bundanya tidak akan mendengar perkataannya.


"Apa Sayang?" tanya Kenzo ikut berbisik menjawab.


Zahra yang duduk di Sofa hanya melirik sesekali sambil membaca majalah yang ada ditangannya.


"Waktu Ayah tidul telus, Buna cium kening Ayah tiap malam," ucap Sela berbisik.


Mata Kenzo berbinar dengan senyum mengembangnya. Kepalanya menoleh menatap Zahra yang tidak sengaja membuat tatapan mereka bertemu.


Cling.


Kenzo mengerlingkan sebelah matanya menggoda Zahra. Zahra? Dia hanya pasrah. Kenzo tidak sadar dia sedih? Kenzo sadar, dia malah kesal karena sikap anak dan Ayah itu yang kerap melatih kesabarannya.


"Benarkah, Nak?" tanya Kenzo memastikan.


Sela mengangguk antusias. "Bahkan Buna celalu bilang cepeltini ini, Ayah. Kak Ken, bangun, ya. Zahla cayang Ayah dali anak Zahla. Ayo Bangun, cintanya Zahla. Begitu Ayah," ucap Sela menirukan perkataan Bundanya yang sering dia dengar saat dia tidur.


"CK. Cela itu tidak pelnah bohong, Ayah. Kan Cela celing tidul dicini, dan Buna tidul kulci ini cambil elus-elus tangan Ayah," ucap Sela memberitahu posisi tidurnya yang tidur di sebelah Kenzo dan Zahra yang tidur di kursi sebelah ranjang Kenzo.


Senyum Kenzo semakin mengembang mendengar perkataan anaknya itu. Anak kecil itu tidak bisa bohong. Jadi, apa yang dia katakan pasti benar. Oh Tuhan, aku bahagia sekali rasanya. Batin Kenzo senang. Tidak sadar saja Kenzo, bahwa Sela pintar bohong mengenai sandiwara yang dia jalankan bersama Thomas dan yang lainnya. Dan dia masih menganggap anaknya itu polos dan tidak bisa bohong? Yang benar saja, Ken.


"Kalian membicarakan Bunda?" suara Zahra yang mengagetkan Sela dan Kenzo.


Sela terkejut melihat Bundanya yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah ranjang, begitu juga dengan Kenzo.


Sela tersenyum polos dengan wajah tak berdosanya. "Cela tadi lagi celita biaca aja cama Ayah, Buna," ucap Sela. Anak itu benar-benar pintar dalam manipulasi ekspresi.


"Bunda mau pulang dulu, boleh ya?" ucap Zahra tiba-tiba meminta izin.


"Tidak!" bukannya Sela, tapi Kenzo menjawab tegas permintaan izin Zahra.


"Aku harus pulang, Kak. Ambil pakaian dan keperluan lainnya," ucap Zahra.


"Semua sudah tersedia disini, Sayang," ucap Kenzo.


"No! Lagi pula kasian Bu Sari sendiri di rumah," ucap Zahra yang membuat Kenzo mendengus kesal.


"Sela ikut Buna atau disini?" tanya Zahra beralih menatap Sela.


Anak itu nampak berpikir sebentar. "Sela temani Ayah saja, ya, Buna," ucap Sela memohon.


Zahra mengangguk. "Yasudah, Sela jangan bikin ulah, ya. Selepas magrib, Bunda akan kembali," ucap Zahra yang langsung dianggukki oleh Sela.


"Kak, aku pulang dulu, ya," ucap Zahra lembut.


Kenzo meraih tangan Zahra. "Kita nikah, ya," ucap Kenzo tak nyambung menjawab perkataan Zahra.


"Tidak sebelum Kakak benar-benar sehat," ucap Zahra.


"I'am not your brother," ucap Kenzo ketua.


Zahra menaikkan sebelah alisnya. Kenapa pria ini? Batin Zahra bingung.


"Manja?"


"Sayang," rengek Kenzo tanpa mengetahui bahwa Sela saat ini memandang mengejek ke arahnya.


"Baiklah, Mas Kenzo. Kita akan menikah setelah kamu keluar dari rumah sakit, oke," ucap Zahra dengan senyum manisnya dan mengganti panggilannya pada Kenzo.


"Kalau begitu aku pamit dulu. Assalamu'alaikum," lanjut Zahra dan segera berjalan keluar dari ruangan Kenzo.


.....


Di depan ruangan UGD, rumah sakit yang sama dengan tempat Kenzo dirawat, Dee, Al, Aska, Thomas dan Kevin berdiri menunggu Dokter memeriksa Ibra.


Ceklek.


"Bagaimana suami saya, Dokter?" tanya Dee cepat begitu melihat Dokter keluar dari UGD.


"Begini, Nyonya. Ada sebuah tekanan dan syok besar dalam diri Tuan Ibra yang membuatnya lemah. Kami hanya bisa memberi dia beberapa vitamin dan penambah tenaga, tapi obat paling utama adalah keluarganya. Dan satu saran saya, bawa Tuan Ibra ke bagian psikiater. Saya takut, tekanan yang Tuan Ibra alami mempengaruhi semangat dan mentalnya," ucap Dokter menjelaskan kondisi Ibra.


Dee menggeleng tak percaya. "Tapi suami saya baik-baik saja, kan?" tanya Dee linglung.


"Fisik Tuan memang baik, Nyonya. Tapi saya tidak bisa pastikan psikologisnya," jawab Dokter tersebut.


"Abi kenapa, Umi?"


"Zahra."


......................


Maaf karena tidak bisa update beberapa hari ini teman-teman, karena ada beberapa urusan. Dan sekarang, akan sering update lagi. Jangan lupa datang ke pernikahan Zahra dan Kenzo nanti ya, teman-teman 🤗🤗


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘