Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 162



🌹HAPPY READING🌹


Sela dan Shasa saat ini asik bermain dengan.kambing mereka. Sudah dua jam mereka bergelut dengan kambing-kambing tersebut. Mulai dari memberi makan, minum, bahkan Sela dan Shasa memasangkan berbagai macam aksesoris pada kambing mereka.


Al, Aska, Thomas dan Kenzo yang datang beberapa menit yang lalu memandang kasihan pada kambing-kambing tersebut. Bagaimana tidak, kambing yang terkenal dengan julukan hewan pemalas mandi, malah disiram habis-habisan oleh kedua gadis cilik itu agar lebih wangi.


Setelah selesai meeting mereka, mereka memutuskan segera pergi ke rumah Kenzo untuk makan siang bersama sesuai janji yang sudah mereka buat.


"Anak Lo berdua emang nggak beres, ya," celetuk Thomas menatap Kenzo dan Aska.


"Lo habis berapa duit buat beli ini kambing, Ken?" tanya Al geleng-geleng kepala.


Kenzo menghela nafas pelan. "Satu kartu gue terkuras karena kambing-kambing sialan ini," jawab Kenzo kesal.


"As," panggil Kenzo pada Aska.


"Hem," jawab Aska singkat dengan mata yang terus menatap senyum merekah kedua gadis cilik tersebut.


"Gue udah beli kambing, sekarang giliran ko yang buat rumahnya. Gue udah beli tanahnya di ujung komplek. Lo yang biayain buat bangun rumah megah itu kambing-kambing," ucap Kenzo.


"Kandang kambing doang gampang," ucap Aska enteng.


Kenzo tersenyum penuh arti mendengar perkataan tenang Aska. Nggak tahu aja Lo kerjaan dua bocah ini. Siap-siap terkuras rekening Lo. Batin Kenzo bersorak senang.


"Mama Tamara!" pekik dua bocah itu senang ketika melihat Thomas yang ada teras halaman belakang. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu dengan lelaki unik yang selalu menjadi sasaran jahilnya.


Thomas mendengus kesal mendengar Sela dan Shasa memanggilnya. Dia melirik tajam Kenzo yang merupakan otak dari semuanya. Jika bukan karena menolong Kenzo untuk bersatu dengan Zahra, maka dia tidak akan menjadi Mama Tamara itu.


"Uncle Thomas, oke!" ucap Thomas menekankan pada mereka berdua.


Sela dan Shasa tertawa lucu memperlihatkan gigi susu mereka yang bersih.


Saat mereka akan menjawab kembali, Zahra datang dari belakang dan meminta mereka untuk segera ke meja makan.


"Sela sama Shasa bersihin badan dulu, ya. Badan kalian kotor sama bau kambing," ucap Zahra menghentikan pergerakan kedua gadis kecil itu.


"Oke Bunda," jawab mereka serentak. Dengan riangnya mereka berlari menuju kamar Sela untuk membersihkan diri.


.....


"Ini Mas," ucap Zahra setelah meletakkan piring yang sudah berisi makanan di depan Kenzo.


"Makasi Sayang," jawab Kenzo lembut. Zahra hanya mengangguk. Dia melanjutkan tugasnya untuk memberi makan pada Al dan juga Thomas. Sedangkan Aska diambilkan oleh Kina.


"Gimana sama perempuan yang Lo kerja, Thom?" tanya Kenzo disela makan mereka.


Thomas mengangkat bahu acuh menjawab pertanyaan Kenzo. Walaupun sebenarnya dalam hati, dia sangat ingin membeberkan semua keluh kesahnya dalam memperjuangkan nasib hatinya, tapi dia tidak ingin diejek oleh ke empat teman laknatnya itu.


"Kak Thomas harus semangat. Bagaimanapun bertanya memperjuangkan cinta, pasti ujungnya akan bahagia," ucap Zahra menasehati.


Thomas tersenyum manis sambil mengangguk mengiyakan perkataan Zahra.


Kenzo yang melihat senyum Thomas pada suaminya mendengus kesal. "Jaga senyum Lo!" ucap Kenzo ketus yang membuat mereka semua menggeleng. Tidak pandang bulu, Kenzo memang sangat pencemburu jika ada lelaki lain yang tersenyum pada istrinya. Entahlah, kadar bucin lelaki ini sudah melebihi batas normal.


.....


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh sebelas malam. Kenzo dan Zahra masih asik dengan kegiatannya meraih kenikmatan dalam pernikahan.


"Ahh, Mas Kenh," ucap Zahra pasrah dengan suara indahnya dibawah Kenzo.


Kenzo mengecup seluruh wajah Zahra dengan pinggul yang bergoyang lembut dibawah sana. "I love you, Sayang," ucap Kenzo dengan menghentakkan lama asetnya kedalam rumah ternyaman nya. Memberi makan pada rumah yang selalu dia kunjungi, bahkan hampir setiap malam.


Kenzo ambruk diatas tubuh Zahra dengan keadaan badan mereka masih menyatu. Inilah kebiasaan mereka setelah olahraga malam, menyatu demi sebuah kenikmatan dan ketenangan.


Sepuluh menit, Kenzo mengeluarkan asetnya dari rumah nyaman itu setelah melihat Zahra tertidur di pelukannya. "Tidur yang nyenyak, Sayang," ucap Kenzo memberikan kecupan di dahi Zahra.


Setelah itu Kenzo beralih menatap dan mengusap perut rata Zahra. "Sehat-sehat disana, Nak. Ayah dan Bunda menunggu kedatangan mu," ucap Kenzo lirih. Sungguh, Kenzo tahu bahwa dia saat ini sangat dilarang keras untuk mengunjungi calon anaknya, tapi mau bagaiamana, naluri laki-lakinya semakin meningkat melihat tubuh Zahra yang semakin berisi dan padat. Kenzo melakukannya dengan lembut dan penuh kasih, dia berjanji akan memberikan yang terbaik untuk kehamilan Zahra.


Kenzo mengenakan kembali bajunya. Dia keluar dari kamar untuk pergi ke ruang kerjanya yang ada dilantai satu. Ada beberapa laporan penting yang harus segera dia selesaikan.


Setelah kepergian Kenzo, Zahra membuka matanya. Dia ikut tersenyum dan mengusap perutnya yang tadi diusap oleh Kenzo. "Aamiin," ucapnya pelan dengan senyum mengembang.


Zahra melihat jam dinding kamarnya. "Pasti di Turki masih pukul tujuh. Aku harus memastikan sesuatu sama paman Emre," gumam Zahra.


Zahra berbalik dan mengambil ponselnya yang terletak di meja sebelah ranjang. Dia mencari kontak Emre yang tersimpan di ponselnya. Setelah ketemu, dengan cepat Zahra langsung melakukan panggilan.


"Assalamu'alaikum, Zahra," jawab Emre dari seberang sana setelah menerima panggilan Zahra.


"Waalaikumsalam, Paman. Maaf, Zahra menelpon Paman malam begini," ucap Zahra tak enak.


Emre tersenyum di tempatnya. "Tidak apa. Ada yang bisa Paman bantu?" tanya Emre langsung.


"Bagaimana kerjasama dengan perusahaan suami Zahra paman? Apakah berjalan baik?" tanya Zahra.


"Sejauh ini berjalan lancar, Zahra. Perusahaan saling mendapat keuntungan. Dan suamimu orang yang hebat dalam berbisnis," jawab Emre.


"Suami Zahra memang hebat, Paman," ucap Zahra bangga.


"Kapan kamu akan kemari, Nak? Sudah saatnya kamu melihat langsung semua ini. Türk Mücevher sangat membutuhkan sosok pemiliknya," ucap Emre dengan helaan nafasnya diseberang sana.


.....


Kenzo menuruni tangga dan melangkah menuju ruang kerjanya dengan semangat. Olahraga malamnya kali ini benar-benar membuat moodnya membaik.


Sampai di ruang kerja, Kenzo menepuk dahi karena lupa membawa laptop yang dia tinggalkan di kamar. Dengan sangat terpaksa, Kenzo berbalik dan kembali menuju kamarnya.


Saat sampai di depan kamar, Kenzo membuka pintu dengan pelan karena takut membangunkan Zahra yang masih tidur.


Saat pintu terbuka, sayup-sayup Kenzo mendengar Zahra berbicara melalui telepon.


"Türk Mücevher akan baik-baik saja ditangan Ayah Kevin dan Paman. Tiba saatnya nanti, pasti Zahra akan datang."


DEG


Jantung Kenzo berdetak kencang mendengar perkataan Zahra. Dia menutup pintu kembali dengan pelan. Kenzo bersandar di dinding kamar dengan tangan terkepal menahan emosi dan rasa terkejutnya.


"Jadi selama ini, aku orang bodoh didepan istriku sendiri?"


......................


Ribuan maaf author ucapkan pada pembaca setia semuanya karena baru bisa update. Karena satu bulan ini, author harus menyelesaikan tugas akhir kuliah alis skripsi. Tapi tenang, tugas akhir selesai dan sekarang saatnya kita saling melepas rindu dengan kisah ini, ya. Semoga kalian tetap suka dengan tulisan dan karya aku, ya.


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏


Oiya, aku mau minta pendapat pembaca semua, kisah Kevin dan Thomas dilanjutkan disini atau buat cerita sendiri? Mohon komentarnya ya 🤗🌹