
🌹HAPPY READING🌹
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kediaman Ibra baru saja sepi karena Al dan keluarga kecilnya yang baru kembali dari sana.
Dee dan Ibra sudah memberitahu mereka semua mengenai Zahra. Al yang mendengar itu sempat memaksa Dee dan Ibra untuk segera membawanya bertemu Zahra. Tapi Dee menolak, ini sudah terlalu malam. Mungkin besok mereka akan mendatangi rumah Zahra dan Sela. Dengan pasrah Al mengangguk mematuhi perkataan Uminya. Jika dia semakin memaksa, maka bisa-bisa dia yang dimarahi karena itu.
"Sayang," panggil Ibra berjalan mendekati Dee yang duduk di kasur.
"Iya Mas," jawab Dee lembut. Wanita paruh baya itu meletakkan ponsel yang tadi dia mainkan.
Ibra duduk di ranjangnya. Membawa tubuh mungil Dee untuk duduk di pangkuannya. "Terimakasih," ucap Ibra memeluk Dee erat.
"Untuk?" tanya Dee mengalungkan tangannya di leher Ibra. Kedua pasang manusia ini masih saja mesra meskipun usianya sudah menginjak senja.
"Untuk semuanya. Tidak terbayangkan rasanya jika kamu tidak ada di hidupku, Sayang," ucap Ibra tulus memeluk Dee.
Dee tersenyum. Tangannya terulur mengelus lembut rahang Ibra. "Sudah tugas seorang istri membahagiakan suaminya, Mas. Sudah tugas seorang Ibu menjadi malaikat untuk anaknya, dan sudah tugas seorang wanita saling menyayangi wanita lainnya," ucap Dee lembut.
Ibra semakin mengeratkan pelukannya pada Dee. "Sungguh, Sayang. Tidak ada lelaki yang lebih beruntung daripada aku di dunia ini. Karena aku memiliki kamu dalam hidupku, sebagai istri," ucap Ibra senang menatap Dee penuh cinta.
Dee tersenyum dan mengangguk. "Semua suami akan mengatakan hal itu kepada istri yang dia cintai, Mas. Jadi..." ucap Dee menggantung perkataanya.
"Jadi?" beo Ibra menunggu Dee melanjutkan perkataanya.
"Jadi itu hal biasa, buka hal istimewa," ucap Dee tertawa melihat wajah Ibra yang berubah kesal.
Lelaki itu kesal karena perkataan tulusnya dianggap gombal atau bualan biasa oleh istrinya.
"Haha, iya, iya, Mas. Aku juga beruntung, kok," ucap Dee membujuk Ibra.
"Kalau begitu kamu harus dihukum karena udah buat aku kesal," ucap Ibra.
"Lelaki memang bisa mencari kesempatan dalam kesempitan," ucap Dee.
"Memang begitu kodratnya, Sayang," ucap Ibra dan langsung melancarkan aksinya untuk menggempur Dee. Usia boleh bertambah, kulit boleh mulai keriput, rambut boleh mulai memutih, namun tenaga dan cinta Ibra akan semakin muda untuk seorang Haidee Tsabina Hebi.
.....
Sela kini sedang duduk bersama Bu Sari dan Zahra di ruang tamu rumah mereka. Meski hanya duduk di lantai beralaskan karpet, namun mereka sudah sangat bersyukur karena sudah memiliki tempat untuk berteduh.
"Buna," panggil Sela yang kini sedang tiduran dengan paha Zahra sebagai bantalnya.
"Iya Sayang," jawab Zahra mengusap lembut rambut Sela.
"Cela tadi belenang," ucap Sela mulai ceritanya.
"Benarkah?" tanya Zahra ikut senang. Sedangkan Bu Sari ikut tersenyum mendengar ocehan Zahra. Dua sibuk dengan adonan donat ditangannya. Sengaja membawanya ke ruang tamu agar tidak bosan sendiri di dapur.
Sela mengangguk. "Tadi diajalin belenang cama Ayah," ucap Sela.
Zahra hanya bisa tersenyum. Zahra memang membebaskan Sela untuk bertemu Kenzo kapanpun.Tapi untuk kembali, Zahra masih berat untuk mengatakan iya.
"Chaca juga jago belenang loh, Buna. Cela bangga punya caudala kayak Chaca," ucap Sela.
"Sela harus selalu sayang sama Shasa, ya. Jangan sampai melukai hatinya," ucap Zahra.
Sela mengangguk yakin. "Cela cayang cama Chaca Buna, Cangat," ucap Sela.
Kamu harus sayang, Nak. Mereka sangat baik sama Bunda. Tidak ada yang bisa membalas kebaikan dan kelapangan hati para malaikat itu, Nak. Batin Zahra mengingat Al, Dee dan Kina.
"Oh iya, Bu," panggil Zahra pada Bu Sari.
"Iya, Nak," jawab Bu Sari.
"Besok hajatannya Bu Karim, kan?" tanya Zahra mengenai hajatan menikah tetangganya.
"Iya, Nak. Ibu juga lupa kalau besok," jawab Bu Sari yang juga baru ingat.
"Kita belum ada bantu-bantu disana, Bu," ucap Zahra.
"Nanti saja, Nak. Ibu selesaikan ini dulu," jawab Hu Sari.
Bu Sari mengangguk. "Kamu hati-hati ya, Nak," ucap Bu Sari.
Zahra mengangguk. "Sela, Ibu mau ke rumah Neneknya Nabila dulu, ya," ucap Zahra menyebutkan nama salah satu cucu Bu Karim yang seumuran dengan Sela.
"Iya, Buna. Bial Cela cama Nenek di lumah. Tapi Buna jangan pulang malam, ya," ucap Sela mengingatkan Zahra. Karena Zahra jika sudah mengikuti acara seperti itu, pasti akan pulang malam.
Zahra mengangguk. Setelah berpamitan pada Sela dan Bu Sari, Zahra berjalan keluar rumahnya untuk.oergi ke rumah Bu Karim yang berjarak empat rumah dari rumahnya.
"Sela, Nenek masak adonan dulu di dapur, ya," ucap Bu Sari yang selesai dengan adonannya.
Sela mengangguk. "Iya, Nek," ucap Sela.
Setelah kepergian Bu Sari, Sela ingat akan sesuatu yang tadi dia ambil dari rumah Kenzo. "Dialy Buna," gumam Sela.
Anak itu langsung berlari ke kamarnya dan langsung mengambil buku yang tadi disimpan dalam tasnya. Sela duduk di kasur dan mulai membuka buku tersebut.
Mata anak itu menyipit membaca tulisan orang dewasa yang cukup sulit dia pahami. "Cucah cekali bacanya. Kalau tanya Nenek nanti ketahuan Cela ambil Dali lumah Ayah," ucap Sela. Dia baru bisa mengeja, kalau dia eja semuanya, maka itu tidak akan selesai selama satu tahu.
Sela menatap keluar jendela. Dia melihat anak anak usia diatasnya entah bermain apa di halaman luas depan rumahnya.
"Cela minta bantu aja kali, ya. Tidak apa nanti di caci, yang penting Cela tahu icinya," gumam anak itu. Sela turun dari kasur dengan membawa diary tersebut.
Sela sampai di luar dan memandang anak-anak yang berusia sekitar sebelas atau sepuluh tahun itu. Dia kembali memandang buku diary tersebut. "Halus kuat," gumam Sela.
"Kakak," panggil Sela mendekati salah satu anak perempuan disana.
"Tumben kamu keluar Sela, biasanya kamu main dengan boneka lusuh mu itu," ucap anak perempuan tersebut.
Sela tersenyum. "Anna lagi istirahat, Kak," jawab Sela.
"Kenapa kamu kesini?" tanyanya sinis.
"Em ... Cela mau minta tolong," ucap Sela gugup.
"Apa?"
"Bisa bacakan buku ini untuk Cela," ucap Sela menunjukkan diary tersebut.
"Anak bodoh memang tidak bisa membaca, ya. Sini! Biar aku bacakan, untung aku pintar," ucap anak itu sombong. Tapi Sela tidak mengindahkan perkataan anak itu. Yabg penting sekarang, dia bisa tahu apa isi buku tersebut.
Anak perempuan itu mulai membacakan isi buku diary Zahra. Mulai dari biodata Zahra yang ada disana dan bagaimana kehidupan kecil Zahra. Waktu terus berjalan, hingga kini sampai pada cerita Zahra menikah dengan Kenzo.
Awalnya biasa saja, namun Sela langsung menatap anak perempuan tersebut ketika dia membacakan bagian tengang kehidupan pernikahan Ayah dan Bundanya.
"Dia memperlakukan ku dengan sangat kejam. Layaknya binatang, padahal aku adalah istrinya. Tapi entah kenapa, hatiku tetap mempertahankan semuanya karena aku mencintainya."
Sela menggeleng mendengar itu dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. "Itu tidak mungkin, kan. Ayah tidak cejahat itu," ucap Sela lirih.
"Se-Sela, kamu baik-baik saja," ucap anak itu takut melihat Sela menangis disebelahnya.
"Lanjutkan, Kak," ucap Sela memohon.
Anak itu kembali melanjutkan cerita tersebut.
"Jika aku mengandung, mungkinkah dia menerima anakku? Akankah dia menerima anak dari wanita yang sangat dia benci ini?"
"Hiks," tangis Sela semakin pecah medengar hal itu. Sela langsung merebut buku tersebut. Tanpa mendengar anak perempuan tersebut yang memanggil-manggilnya, Sela berlari memasuki rumahnya.
Sela menutup rapat pintu kamarnya. Tubuh anak itu luruh ke lantai begitu saja dengan buku diary Zahra yang ada di pelukannya.
"Ayah jahat, Buna, hiks."
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘