
🌹HAPPY READING🌹
"Kok rumahnya begini sih, Ayah?" tanya Sela Kesal.
"Iya, kan nanti mereka nggak nyaman," sambung Shasa yang tidak bisa berkata apa-apa.
Kenzo menghela nafas pelan mendengar perkataan kedua gadis kecil itu. "Ini belum selesai, anak-anakku. Nanti kalau sudah selesai pasti akan bagus," jawab Kenzo gemes dengan mereka berdua.
Sela dan Shasa yang tadi mendengarnya mengangguk mengerti. Setelah itu, dua wajah yang tadinya kesal kini berubah menjadi kembali ceria.
"Nanti selesainya pasti tidak jauh beda dengan rumah kita kan, Ayah?" tanya Sela berbinar.
What? Yang benar saja. Kenzo tidak akan mau rugi sebanyak itu hanya karena kambing sialan itu.
"Kambing itu punya kandang, bukan rumah. Dan yang pasti, kandang ini pasti akan sangat nyaman nantinya untuk kambing-kambing kalian itu," ucap Kenzo yang hanya dianggukki oleh Sela dan Shasa.
"Aku dan Sela mau lihat-lihat, Papi," ucap Shasa yang dianggukki oleh Sela.
"Hati-hati, jangan sampai kenapa-napa. Jangan pernah lepas sepatu kalian, ya," peringat Kenzo sebelum mengizinkan Sela dan Shasa pergi.
"Oke," jawab anak itu serentak. Setelah itu mereka berdua pergi dengan tangan saling bergandengan untuk melihat-lihat perkembangan kandang kambing itu.
Kenzo berjalan sendiri mengelilingi kandang yang belum selesai itu sambil melihat para pekerja. Sesekali Kenzo tersenyum dan membalas sapaan para pekerja disana. Tidak main-main, Kenzo mempekerjakan sepuluh buruh untuk kandang kambing ini.
Langkah Kenzo terhenti ketika melihat salah satu pekerja yang sedang bekerja. Kenzo melihat nasi bungkus masih tertutup rapi disebelah pekerja itu. Kenzo dapat menafsir jika pekerja itu sudah berusia lima puluh tahun keatas. Tapi dia masih kuat bekerja seperti tenaga anak muda.
Kenzo memandangi wajah pekerja itu dengan sedikit lekat. Wajahnya tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang buruh bangunan. Ah, mungkin memang dia tampan dan bersih saat mudanya. Batin Kenzo.
"Pak," sapa Kenzo ramah.
"Eh, Iya Tuan," jawab pekerja itu.
"Nama bapak siapa?" tanya Kenzo. Memang dua tidak mengetahui masing-masing nama pekerja itu, karena yang mengurus semua ini adalah Arman, jadi Kenzo hanya terima beres saja dan mereka siap untuk bekerja.
"Nama Saya Lukman, Tuan," jawab Pak Lukman sopan.
"Jangan panggil Tuan, Pak. Panggil saja Kenzo," ucap Kenzo tak enak karena harus dipanggil Tuan oleh seorang lelaki yang sudah sepantaran dengan Papanya.
"Tapi-"
"Saya akan lebih tak enak hati jika bapak memanggil saya Tuan," ucap Kenzo yang akhirnya dianggukki eh Pak Lukman.
"Baiklah, Kenzo," jawab Pak Lukman.
"Ini sudah sore, kenapa makanan bapak tidak dimakan?" tanya Kenzo menatap nasi bungkus di sebelah Pak Lukman.
"Saya mau bawa pulang, Nak Kenzo. Biar bisa makan berdua dirumah dengan istri saya," jawab Pak Lukman yang membuat Kenzo terdiam.
Bukti cinta. Batin Kenzo setelah mendengar jawaban Pak Lukman.
"Tapi istri Bapak pasti sudah makan dirumah," ucap Kenzo lagi.
"Karena memang harus itu yang dia lakukan," jawab Pak Lukman yang tak dimengerti oleh Kenzo.
Pak Lukman tertawa kecil melihat ekspresi kebingungan Kenzo. "Tadi saat sarapan, saya makan sendiri dan istri saya hanya menemani. Dia pasti sengaja tidak sarapan agar stamina saya cukup untuk bekerja hari ini. Dan sekarang tugas saya untuk memberikan makanan enak pada istri saya dirumah. Meskipun tidak berkecukupan, tapi bersyukur membuat semuanya terasa cukup, Nak Kenzo," jawab Pak Lukman yang membuat Kenzo terdiam.
"Semoga hanya mau yang memisahkan bapak dan istri bapak," ucap Kenzo tulus.
"Aamiin. Dan itu doa wajib saya, Nak Kenzo," jawab Pak Lukman.
"Kalau begitu saya pamit, Pak. Istirahatlah dulu jika bapak lelah," ucap Kenzo dan pergi setelah diiyakan eh Pak Lukman.
Kenzo pergi dan berdiri sedikit jauh dari para pekerja. Dia mengeluarkan ponsel pada saku celananya. Setelah jarinya menggulir beberapa kontak, akhirnya dia menekan tombol memanggil untuk melakukan panggilan.
"Halo, Tuan," jawab seseorang diseberang sana setelah mengangkat panggilan Kenzo.
"Berapa gaji para pekerja untuk pembuatan kandang kambing Sela dan Shasa, Arman?" tanya Kenzo langsung.
"Seratus lima puluh ribu sehari, Tuan," ucap Arman.
"Makannya berapa kali?" tanya Kenzo lagi.
"Kita hanya memberikan makan siang, Tuan," jawab Arman mantap.
Semoga rezeki ini berkah. Batin Kenzo memandangi semua pekerja tersebut.
Saat Kenzo asik memandangi para pekerja, Sela dan Shasa datang dengan senyum mengembang mereka. "Kita sudah selesai, Ayah," ucap Sela.
"Pulang sekarang?" tanya Kenzo.
"Ayo," jawab mereka berdua serentak.
Kenzo menggandeng tangan Sela dan Shasa disisi kiri dan kanannya. Mereka berjalan kaki untuk kembali ke rumah. Ya, Kenzo memang mengajak Sela dan Shasa berjalan kaki kesini, karena jarak rumah ke kandang kambing ini hanya beberapa menit saja, dan masih satu komplek dengan rumah Kenzo. Lagian, Kenzo juga merasa ribet jika harus mengeluarkan mobil atau motornya.
Pak Lukman yang melihat kepergian Kenzo bersama Sela dan Shasa tersenyum tulus. Tadi dia juga sempat bicara dengan Sela dan Shasa, mereka berdua adalah anak-anak baik menurut Pak Lukman.
.....
Setelah melakukan makan malam, Keluarga Kenzo duduk bersama di ruang keluarga.
"Panti bagaimana, Bu?" tanya Zahra yang kini duduk di sofa dengan tangan mengusap rambut Kenzo yang tiduran di pahanya. Sedangkan Sela asik membuat gambar dan mewarnai.
"Baik, Nak. Apalagi sejak Kenzo jadi donatur tetap disana, kebutuhan panti selalu terpenuhi," jawab Bu Sari jujur. Ya, sejak kembali hidup bersama Zahra, Kenzo memang berinisiatif untuk menjadi donatur tetap setelah mengetahui jika Bu Sari bekerja di sana.
"Alhamdulillah," jawab Kenzo dan Zahra bersama.
"Kalau ibu lelah, Ibu dirumah saja. Tidak usah ke panti juga tidak apa-apakan. Zahra takut ibu kelelahan," ucap Zahra khawatir. Karena bagaimanapun juga, Bu Sari adalah wanita yang sangat berjasa dalam hidup Zahra.
"Ibu tidak lelah, Nak. Malahan ibu senang bisa membantu disana," jawab Bu Sari yakin.
"Tapi ibu haru menyeimbangkan dengan istirahat yang cukup, Bu," ucap Kenzo ikut menimpali.
Bu Sari mengangguk dan tersenyum. Dia benar-benar beruntung bisa bertemu dengan Kenzo dan Zahra.
Setelah sedikit berbincang, Bu Sari pamit untuk ke kamarnya karena ingin istirahat.
"Mas," panggil Sela lembut.
Kini diruang keluarga itu hanya Zahra, Kenzo dan Sela.
"Iya Sayang," jawab Kenzo.
"Kita ke Turki yuk. Lihat Ayah," ucap Zahra tiba-tiba dan langsung membuat Kenzo mengubah posisinya menjadi duduk.
"Kenapa? Kamu kangen Ayah?" tanya Kenzo.
Zahra mengangguk. Dan juga khawatir. Batin Zahra.
"Kita tunggu kandungan kamu kuat, ya sayang. Bukannya tidak mau, tapi untuk saat ini kandungan harus benar-benar kuat dulu. Aku hanya tidak ingin kamu dan anak kita kenapa-napa. Lagi pula, Sela sebentar lagi akan memasuki waktu libur. Jadi, kamu sabar ya," ucap Kenzo lembut membujuk Zahra.
"Tapi nanti ketempat Ayah, ya," ucap Zahra.
Kenzo mengangguk pasti. Dia tentu akan membawa kemanapun Zahra pergi. Tapi dia harus memastikan jika kandungan istrinya benar baik-baik saja.
.....
Sedangkan di Turki, Kevin terus menatap Emre yang baru saja datang memberi informasi kepadanya. Lebih tepatnya informasi yang sama. "Tidak ada jejak sama sekali, Kevin," ucap Emre untuk kesekian kalinya setiap Kevin mempertanyakan mengenai perkembangan pencarian Kinzi.
Kevin terdiam. Dia duduk dengan pandangan kosong mendengar penuturan Emre.
"Dimana Kinzi menginap saat dia datang kesini terakhir kali?" tanya Kevin.
"Tempat biasa. Rumah keduamu."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Dan untuk kisah Kevin dan Kinzi, akan publish bulan ini ya, informasinya akan ada di akun Instagram aku. Jadi, jangan sampai ketinggalan ya. Tenang saja, Kevin dan Kinzi akan publish ditempat yang tepat 🤗😉 Spoiler sedikit dulu kisah Kevin dan Kinzi biar kalian nggak penasaran 😉
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏