Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 96



🌹HAPPY READING🌹


"SAH"


Kata itu terdengar menggema di taman belakang kediaman Ibra. Kenzo, lelaki itu mengucap syukur setelah lancar mengucapkan ijab kabul untuk mengikat kembali janji suci dengan wanita pujaannya.


Zahra, wanita cantik dengan kebaya putih membalut indah tubuh mungilnya berjalan menuju tempat Kenzo. Disebelah kanan dan kirinya ada Sela dan Shasa sebagai pengiring pengantin wanita ini. Sela dan Shasa nampak sangat anggun dengan kebaya peach membalut indah tubuh mungil kedua gadis cilik ini.


Kenzo melirik Zahra yang semakin mendekat tanpa kedip. Sungguh, wanita yang dia cintai benar-benar cantik dengan aura anggun yang dia miliki. Polesan makeup natural bold menghiasai wajah cantik Zahra hingga terlihat lebih dewasa. Namun, tidak mengurangi kadar cantik wanita itu.


"Silahkan mempelai wanita menyalami tangan mempelai pria," ucap Penghulu setelah Zahra duduk di sebelah Kevin.


Zahra menghadap Kenzo yang sudah menatapnya tanpa kedip. Zahra tersenyum dan menyadarkan Kenzo dengan mengambil tangan Kenzo dan menyalaminya.


"Assalamu'alaikum, Suami Zahra," ucap Zahra setelah selesai menyalami tangan Kenzo.


Kenzo tersenyum tampan. "Waalaikumsalam, Istriku. Cup," ucap Kevin membalas salam dari Zahra dengan mencium dahi wanita itu.


Mereka semua yang menyaksikan itu bersorak bahagia melihat Kenzo dan Zahra yang kembali bersama. Setelah banyak rintangan dan cobaan yang mereka lewati, akhirnya dua hati yang sempat berpisah itu kembali bersatu hari ini.


Sela tersenyum senang melihat Ayah dan Bundanya kembali bersama menjadi sepasang suami istri. "Nenek," panggil Sela pada Dee. Sela duduk dipangkuan Dee, sedangkan Shasa duduk di pangkuan Ibra.


"Iya Sayang," jawab Dee lembut.


"Cela cenang punya kelualga lagi. Akhilnya, Cela bica tidul baleng Ayah dan Buna," ucap Sela antusias mengutarakan kesenangan hatinya pada Dee.


Dee mengangguk dan tersenyum. "Bunda dan Ayah Sela akan selalu bersama, Nak," ucap Dee. "Dan kita akan tetap menjadi satu keluarga," lanjut Dee menatap Ibra yang memalingkan wajah ketika mendengar perkataan Dee.


Sela mengangguk senang. "Cela cenang, belada ditengah kelualga ini, Nek," ucap Sela senang.


Dee mengeratkan pelukannya pada gadis kecil itu. "Nenek juga bangga punya cucu kayak Sela," ucap Dee mencium pucuk kepala Sela.


Pernikahan Zahra dan Kenzo dilakukan secara sederhana di taman belakang rumah Dee. Pernikahan hanya dihadiri oleh keluarga dan orang-orang terdekat.


Zahra senang, terbukti dari senyum yang tak luntur dari wajahnya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Zahra menatap Kevin yang duduk di depannya. Lelaki yang tadi telah menjabat tangan Kenzo untuk menikahkan mereka lagi.


Zahra tersenyum tulus menatap Kevin. Sungguh, pertemuannya kemarin dengan Kevin benar-benar membuat haru. Setelah sekian lama tak bertemu, tiba-tiba Kevin datang menemuinya di rumah sakit saat Kenzo akan pulang.


Percayalah, hati Zahra rasanya sangat berbunga bertemu kembali dengan lelaki yang memberikannya kasih sayang layaknya anak kandung. Meskipun kenyataanya, Zahra hanya anak sambungnya.


"Zahra sayang Ayah," gumam Zahra pelan menatap Kevin.


Kevin yang melihat Zahra mengangguk senang. "Ayah juga, Nak. Sayang sekali," jawab Kevin pelan namun tulus.


Zahra menoleh kebelakang menatap Ibra dan Dee yang duduk tepat di belakangnya. Di sana juga ada Sela, Shasa, Kinzi, Melani, Aska, Kina, Al, Bela dan Adam, serta Thomas dan Arman.


Mata Zahra menatap sendu kepada Ibra. Entahlah, saat dia mendengar jika Ibra tidak bisa menikahkannya dengan Kenzo tanpa alasan yang jelas, membuat hati Zahra terasa perih. Namun, Zahra mencoba tersenyum menatap semua keluarganya. Senyum Zahra terasa sangat pedih, diiringi dengan air mata yang menyertai senyum itu.


Sakit, Umi. Batin Zahra ketika pandangannya bertemu dengan Dee yang juga menatap kearahnya.


Dee paham, tapi disaat seperti ini, lebih baik dia menghibur Zahra. Memberikan senyum manis pada Zahra yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri.


Ibra hanya menatap Zahra dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Zahra paham, pandangan yang dulu penuh kasih sayang itu, kini kosong tidak berisi.


Elusan lembut ditangan Zahra membuatnya kembali menoleh dan menatap Kenzo. Zahra tersenyum, dia tidak ingin Kenzo ikut sedih dihari bahagia mereka.


.....


Waktu berlalu begitu saja. Matahari sudah menyelesaikan tugasnya di bumi, kini saatnya Bulan yang memberikan cahaya redupnya menerangi Bumi.


"Sayang," panggil Kenzo yang memasuki kamar mereka. Kenzo menyusul Zahra ke balkon saat melihat wanita yang sudah menjadi istrinya itu berdiri sambil menatap bulan.


Saat ini, mereka masih menginap di rumah Ibra dan Dee. Semua keluarga menginap dirumah Ibra, tidak ada yang pulang setelah acara pernikahan tadi. Tentu saja ini semua atas permintaan si tuan rumah, Dee. Dia benar-benar ingin merasakan kebahagiaan ini bersama seluruh keluarganya. Rumah mewah Ibra benar-benar menampung seluruh keluarga, dan itu masih tersisa beberapa kamar tamu yang tidak terpakai.


Kenzo melingkarkan tangannya di pinggang Zahra. Nyaman, itulah yang dirasakan Zahra. Tapi dia masih merasa sedikit canggung dengan keintiman ini.


"Mas," ucap Zahra hendak melepaskan tangan Kenzo yang melingkar di perutnya.


"Biar seperti ini, Sayang," ucap Kenzo meletakkan dagunya di bahu Zahra.


Tangan Zahra bergerak memegang tangan Kenzo yang ada di perutnya, mencoba menghilangkan kegugupan dan menikmati hubungan halal ini dengan lapang dada.


"Mas," panggil Zahra lembut menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenzo. Mereka berdua sama-sama menatap indahnya langit malam ini.


"Iya Sayang," jawab Kenzo dengan suara beratnya.


"Bintang itu pilih kasih, ya Mas," celetuk Zahra dengan mata yang terus menatap langit.


Dahi Kenzo berkerut mendengar penuturan Zahra. "Mana bisa Bintang pilih kasih, Sayang," jawab Kenzo.


"Bisa, Mas. Buktinya, Bintang tidak menemani Matahari saat siang, dan memilih menemani Bulan yang jelas-jelas tidak seterang Matahari," ucap Zahra yang terdengar konyol di telinga Kenzo.


Kenzo terkekeh pelan. Dia mengeratkan pelukannya di perut Zahra. "Karena Bintang memang bertugas disaat malam, Sayang," ucap Kenzo.


Zahra menggeleng. "Karena Bintang memang tidak menyukai matahari, Mas. Karena Matahari memiliki cahaya besar mengalahkan mereka. Makanya mereka memilih menemani Bulan yang hanya memiliki cahaya redup," jawab Zahra yang membuat Kenzo semakin mengernyit tak mengerti.


"Mana ada rasa iri pada Bulan, Bintang dan Matahari, Sayang. Mereka kan tidak ada perasaan sama seperti kita," ucap Kenzo meladeni pernyataan istrinya yang terdengar konyol.


"Itu artinya Bulan dan Bintang saling melengkapi, Sayang. Dan Matahari itu kuat, makanya tidak butuh bantuan Bintang," lanjut Zahra.


"Tapi aku butuh Abi, Mas," ucap Zahra sambil mendongak menatap Kenzo dari belakang.


"Dan kamu bukan Matahari, Sayang," jawab Kenzo cepat.


Kenzo menunduk menatap Zahra. Dapat Kenzo lihat pandangan sendu Zahra yang memancarkan kesedihan itu.


Zahra berbalik dan memeluk erat Kenzo. Dia tidak menangis, tapi pelukannya yang sangat erat membuktikan bahwa wanita itu benar-benar membutuhkan tempat mengadu saat ini.


"Sayang," panggil Kenzo mengelus lembut punggung Zahra.


"Jangan berubah, ya Mas. Jangan kayak dulu," ucap Zahra pelan. Kenzo mengangguk dan membalas erat pelukan Zahra. Kenzo paham, Zahra seperti ini pasti karena penolakan yang Ibra berikan padanya saat mereka hendak minta izin untuk menikah.


*Flashback On*


Malam hari ketika Kenzo pulang dari rumah sakit, Kenzo dan Zahra langsung pergi kerumah Ibra dan Dee. Kenzo tidak main-main, bahkan dia langsung mengubungi EO langganannya untuk mendekor taman belakang Ibra agar menjadi tempat bukti yang menyaksikan dia mengucap janji suci pernikahan bersama Zahra.


Dan benar saja, dekorasi langsung dilakukan malam itu juga dan selesai pukul delapan pagi. Dan acara pernikahan langsung diadakan pukul sepuluh siang.


"Abi, Umi," panggil Zahra senang melihat Ibra dan Dee yang berada di ruang keluarga.


"Zahra," ucap Dee senang dan berdiri mendekati Zahra. Kedua wanita itu saling berpelukan melepas rindu.


"Akhirnya kamu kembali ke rumah ini, Nak," ucap Dee disela pelukan mereka.


Zahra mengangguk senang. Dia melepaskan pelukan Dee dan beralih menatap Ibra.


"Ab-" panggilan Zahra terputus melihat Ibra yang berdiri mengindari pelukannya.


"Maaf," ucap Ibra berdiri dan menjauh dari Zahra.


Zahra menarik kembali tangannya yang sudah direntangkan tadi. "Abi kenapa?" tanya Zahra sendu.


"Umi," ucap Zahra berbalik menatap Dee.


Dee tersenyum dan mendekati Zahra. "Abi hanya lelah, Sayang," jawab Dee. Kenzo yang melihat itu menatap Ibra tajam. Ibra yang melihat itu hanya menatap datar Kenzo. Memeluk Zahra saat ini adalah dosa baginya, itulah yang ada dipikiran Ibra.


Setelah itu mereka duduk di ruang keluarga. Kenzo dan Zahra menyampaikan maksudnya untuk menikah besok. Dee sangat senang, tapi Ibra hanya diam sedari tadi.


"Zahra minta restu ya, Abi," ucap Zahra dengan harapan Ibra akan melihatnya, sebentar saja.


Diluar harapan Zahra, Ibra hanya mengangguk dengan pandangan entah kemana.


"Nanti Abi yang akan nikahkah Zah-"


"Aku tidak bisa menikahkan mu," potong Ibra cepat ketika dia tahu maksud arah pembicaraan Zahra.


DEG


Jantung Zahra berdetak tak karuan mendengar perkataan Ibra. Apa ini? Kenapa Abinya sendiri menolak untuk menikahkannya. Lalu siapa yang akan menikahkannya nanti?


"Ke-kenapa Abi? Kalau bukan Abi siapa lagi? Zahra tidak mau dengan wali hakim," ucap Zahra sendu menatap Ibra.


Ibra menoleh sebentar dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Sungguh, hatinya sakit sekali saat ini. Dia tidak benci Zahra, tapi emosinya masih belum menerima semua ini.


"Kevin yang akan menikahkan mu," ucap Ibra singkat. Setelah mengatakan itu, Ibra berdiri dan berlalu pergi dari sana.


Air mata Zahra jatuh begitu saja melihat Ibra yang pergi meninggalkan mereka. Tangan Kenzo yang melihat itu semua mengepal erat. Sungguh, bukan reaksi Ibra sepeti ini yang dia harapkan.


"Umi," panggil Zahra sendu pada Dee.


Dee berdiri dan duduk disebelah Zahra. Memeluk tubuh wanita yang sudah bergetar itu memberi pengertian. "Zahra jangan sedih, ya. Abi hanya sedang capek, kesehatan Abi yang membuat dia tidak bisa menjadi wali Zahra," ucap Dee.


"Tapi apa Ayah Kevin bisa, Umi?" ucap Zahra.


"Bisa, Nak. Ayah Kevin sangat bisa menikahkan Zahra nanti," jawab Dee.


"Tapi Umi-"


"Dimata hukum, Ayah Kevin adalah Ayah sah Zahra," jawab Dee.


"Tapi Abi Ayah kandung Zahra, Umi," ucap Zahra sendu.


"Kesehatan Abi tidak mendukung saat ini, Nak. Makanya dia meminta Ayah Kevin untuk menikahkan Zahra," jawab Dee mencoba memberi pengertian.


Zahra melihat hati Abi yang sedang tidak baik-baik saja, Umi. Batin Zahra sedih.


*Flashback Off*


"Apa aku buat kesalahan ya, Mas, sama Abi?" tanya Zahra pada Kenzo.


Kenzo menggeleng. "Tidak Sayang. Daripada memikirkan itu, mending kita buat adik untuk Sela, yuk," ucap Kenzo memandang Zahra dengan tatapan menggodanya.


"Berapa ronde?" tantang Zahra menantang.


"Kamu nantangin aku, Sayang?" tanya Kenzo yang segera dibalas anggukan oleh Zahra.


"Sampai kita berdua pingsan."


......................


Kawal Sela sampai dapat adik ya teman-teman 🤗


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘


Hai teman-teman, bagi kalian yang mau baca karya baru aku (TAKDIR DALAM PERNIKAHAN : MENJADI TEMAN RANJANG SUAMIKU) silahkan lihat di aplikasi yang hijau, ga. Cerita ini ada di aplikasi KaBeeM APPle (baca huruf kapital ga teman-teman). Kalian pasti tahu, kan, aku mau coba cari rezeki di tempat baru teman-teman, semoga kalian suka dan merestui karya aku disana. Karena restu kalian merupakan nyawa bagi seorang penulis amatiran sepertiku, terimakasih 🙏🙏🤗